Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Dipermainkan


__ADS_3

“Bukan begitu tapi… Ehh tunggu dulu. Sia, dari mana kau mendapatkan benda ini?” tanya Oliver yang fokusnya tiba-tiba teralihkan oleh benda yang semalam dibawa oleh Nieva untuk mengancam Scarlesia.


“Itu? Eumm… Semalam aku mengambilnya dari Nieva. Dia mengancam ingin membunuhku dengan benda kecil itu, sebenarnya semalam dia sudah mencoba menggunakan benda itu padaku tapi yang keluar hanya sekedar cahaya saja dan tidak ada efek apa-apa,” terang Scarlesia.


“Sudah aku duga. Ini adalah alat sihir kuno yang sudah lama menghilang dan kemungkinan besar benda inilah yang membuatmu dalam keadaan seperti sekarang,” ujar Oliver.


“Hahh? Benda sekecil itu ternyata memiliki efek yang cukup kuat ya. Lalu bagaimana caranya agar aku kembali lagi seperti semula?”


“Aku akan meneliti alat ini dulu dan akan mencari tahu bagaimana cara mengembalikanmu seperti sedia kala,” ucap Oliver.


“Oke, baiklah kalau begitu. Aku akan menunggu,”


Scarlesia terus berada di dalam mode anak kecil selama sudah hampir 3 hari dan Oliver masih tidak membawa hasil apa-apa untuk dirinya. Dia merasa sangat kesusahan bergerak dengan tubuh kecil tersebut, ia bahkan tidak bisa mengangkat busur sucinya menggunakan tangan mungilnya. Ini sungguh meresahkan dirinya, untung saja berita mengenai dia berubah menjadi anak kecil tidak sampai ke luar. Jika banyak orang luar yang mengetahuinya maka orang yang ingin membunuhnya akan memanfaatkan momen ini.


“Ayah, apa Ayah sedang sibuk? Bolehkah aku masuk sekarang?” tanya Scarlesia mengintip di pintu masuk ruang kerja Eldrick.


“Tidak. Masuklah kemari,” sahut Eldrick menutup dokumen yang sedang dia kerjakan.


Scarlesia menghampiri sang Ayah dengan langkah yang sangat menggemaskan, Eldrick sungguh menikmati penampilan Scarlesia yang seperti ini.


“Ada apa Sia?” tanya Eldrick menggendong Scarlesia.


“Aku ada sesuatu untuk Ayah,”


“Oh iya? Apa itu?”


Eldrick menurunkan Scarlesia, lalu ia mengambil satu dari 3 kotak yang dibawa oleh Hana.


“Ini hadiah untuk Ayah, aku sudah menyiapkannya dari 2 minggu lalu dan hadiahnya baru sampai sekarang,” kata Scarlesia memberikan kotak hadiahnya pada Eldrick.


“Ayah! Apa Ayah sedang sibuk?”


Aldert dan Carlen masuk bersamaan untuk menemui Eldrick, mata mereka langsung menangkap keberadaan Scarlesia di ruang kerja sang Ayah.

__ADS_1


“ADIKKU YANG IMUT!! Kenapa kau ada di sini?”


Aldert girang melihat Scarlesia, dia berlari dan mengangkat Scarlesia lalu mengecup pipinya beberapa kali. Berlanjut dengan Carlen yang juga melakukan hal yang sama pada Scarlesia, meski ia terlihat risih tapi dia tidak bisa menghindarinya.


“Kenapa kalian sepertinya senang sekali melihatku menjadi anak kecil?” celetuk Scarlesia.


“Haha tidak, hanya saja kau terlalu imut. Aku tidak tahan melihatnya,” jawab Aldert diangguki Carlen.


“Sia, kotak apa yang kau berikan pada Ayah?” tanya Carlen menunjuk ke arah kotak hadiahnya Eldrick.


“Kotak hadiah,”


Seketika ekspresi Carlen dan Aldert berubah, wajah mereka memelas seolah berharap Scarlesia juga memberi mereka hadiah yang sama.


“Baiklah baiklah. Untuk kalian juga ada,”


Scarlesia menjangkau dua kotak hadiah yang ada di tangan Hana kemudian memberikannya pada Carlen dan Aldert.


“Bolehkah aku membuka hadiahnya Sia?” tanya Eldrick yang penasaran dengan isi dari kotak hadiahnya.


Mereka bertiga membuka hadiahnya bersamaan, di dalam kotak tersebut terdapat sebuah jam tangan yang didesain langsung olehnya. Di zaman ini tidak ada yang namanya jam tangan, itulah kenapa Scarlesia ingin menghadiahkan jam tangan tersebut untuk Ayah dan dua kakak laki-lakinya.


“Apa ini sebuah jam? Tapi kenapa kecil sekali?” bingung Carlen.


“Ini namanya jam tangan, aku memperhatikan Ayah dan kakak selalu bekerja setiap waktu. Jadi, aku membuatkan jam tangan ini agar memudahkan kalian untuk melihat waktu yang sedang berjalan,” jelas Scarlesia.


“Tapi bagaimana cara memasangnya?”


Lalu Scarlesia memperagakan cara memasangkannya pada tangan Eldrick, tapi dia terlihat kesulitan karena tangannya yang kecil namun ia masih terus berusaha memasangkannya. Carlen dan Aldert tertawa melihat Scarlesia yang kesusahan karena jemari mungilnya.


“Jangan tertawakan aku! HUWAAAAAAA,”


Scarlesia tiba-tiba saja menangis oleh ulah Carlen dan Aldert yang menertawakannya. Dia menangis sangat kencang layaknya seorang anak kecil pada umumnya. Padahal sebenarnya ia tidak ingin menangis tapi dirinya tidak bisa menahan air matanya untuk keluar. Eldrick sontak kaget karena Scarlesia yang mendadak menangis, ia langsung menggendong dan menghiburnya agar tidak menangis lagi.

__ADS_1


“Kalian berdua ini, kenapa malah membuat Sia menangis? Semenjak menjadi anak kecil, mentalnya juga seperti anak kecil,” omel Eldrick.


“Kami tidak tahu sama sekali soal itu,” jawab Aldert.


“Maaf Sia, kamu jangan nangis ya,” bujuk Carlen mengelus rambut Scarlesia.


Scarlesia yang menangis sesegukan langsung menghentikan tangisannya begitu Carlen meminta maaf padanya, dia benar-benar menjadi seperti anak kecil sungguhan. Tidak lama setelah itu, Scarlesia tertidur di dalam pelukan Eldrick dengan matanya yang sembab karena menangis.


“Yang Mulia, biar saya saja yang bawa Nona ke dalam kamar. Nona memang suka tidur siang sejak berubah menjadi anak kecil,” ujar Hana.


“Tidak usah, biar aku saja yang mengantarnya ke kamar,”


Eldrick membawa putri kecilnya kembali ke paviliun, Scarlesia terlelap dengan nyenyak di dalam pelukan Eldrick. Ia pun diletakkan pelan-pelan ke atas tempat tidur biar tidak membangunkannya dan tidak mengganggu tidurnya. Scarlesia hanya tidur selama 2 jam, pada sore harinya ia bangun lagi dari tidurnya.


“Kapan aku akan kembali lagi seperti semula? Aku sangat tidak menyukai penampilan kecilku ini,” gerutu Scarlesia dari atas tempat tidurnya.


Kemudian Scarlesia memutuskan untuk masuk ke dunia cermin, dia ingin menanyakan mengenai sihir yang mengikat dirinya pada Shou.


“Shou, katakan padaku bagaimana caranya agar aku kembali ke wujud semulaku?” tanya Scarlesia to the point.


“Ehh? Bukannya Oliver bisa menangani hal sekecil ini?”


Scarlesia sontak kaget dengan perkataan Shou karena Oliver mengatakan kalau dia tidak tahu apa-apa mengenai sihir ini tapi setelah ditanyakan pada Shou jawabannya malah lain lagi.


“Apakah aku sedang dipermainkan? Oliver, pria itu membuatku jengkel saja. Awas saja kalau dia bertemu denganku nanti,” gumam Scarlesia menggerutu menahan marah.


Lalu Scarlesia keluar lagi dari dunia cermin, saat ini dia sedang menyimpan amarah yang besar. Ketika Oliver dan yang lainnya tiba di kamarnya untuk melihat dirinya, ia segera bersiap-siap untuk marah.


“Hei kalian. Apa kalian sedang mempermainkanku? Terutama Oliver! Beraninya kau menipuku dan mengatakan kalau kau tidak bisa mengembalikanku seperti semula! Coba cepat jelaskan apa alasan kalian tidak mau membantuku?!” oceh Scarlesia memelototkan matanya.


“I-i-itu… MAAF SIA BIAR OLIVER SAJA YANG BEBRICARA!” kata Zenon mendorong Oliver untuk maju dan berbicara dengan Scarlesia.


“O-KE O-LI-VER! CE-PAT JE-LAS-KAN PA-DA-KU!” tekan Scarlesia.

__ADS_1


“S-sia, a-aku… MAAFKAN AKU! TIDAK! MAAFKAN HAMBA KANJENG RATU!”


__ADS_2