
“N-nona… NONAAAA!!!”
Hana berlari dan menghambur ke pelukan Scarlesia, Hana menangis sesenggukan di pelukan Scarlesia.
“Ada apa? Kenapa kau menangis?”
“HUWAAHH NONAAAA!!” Erin yang baru datang juga ikut menghambur ke pelukan Scarlesia.
Scarlesia menggeleng-geleng melihat mereka berdua yang menangis entah karena alasan apa, ia juga tidak tahu.
“ADA APA? APA TERJADI SESUATU PADA SIA?”
Xeon dan yang lain masuk ke dalam kamar Scarlesia karena mereka mendengar suara gelas yang pecah serta suara teriakan Hana dan Erin. Scarlesia menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang merekah di bibirnya.
“Kenapa kalian berteriak-teriak saat tengah malam seperti ini?”
“Sia… akhirnya kau siuman,” ucap Louis
Raut wajah mereka yang lelah dan terlihat kurang tidur seketika merasa lega saat melihat Scarlesia sudah siuman.
“Apakah kalian tidak tidur? Wajah kalian terlihat sangat lelah,” tanya Scarlesia khawatir.
“Ini….”
“Nona, anda tidak bangun selama 1 minggu. Tidak ada dari kami yang tertidur nyenyak karena khawatir pada Nona,” beber Erin.
“Dasar Erin ember!” batin Xeon dan yang lain.
“1 minggu? Aku tidak sadarkan diri selama 1 minggu? Aku kira hanya 2 hari,” ujar Scarlesia membulatkan matanya.
“Itu hanya perasaan Nona saja yang 2 hari,” balas Erin.
“Sayapmu, apakah kau baru saja mendapatkan sayapmu?” celetuk Xeon.
“Ahh ini?” Scarlesia memperlihatkan sayapnya dengan jelas kepada mereka semua. “Ya, aku baru saja mendapatkan sayap ini,” lanjutnya tersenyum.
“Begitu ya? Sayap sejatimu telah muncul. Syukurlah, mulai sekarang kau bisa terbang sendiri karena kamu terlalu berat untuk aku bopong,” canda Xeon.
“HAAAHH? KAU MAU BILANG AKU GEMUK?” amuk Scarlesia mengerucutkan bibirnya.
“Tidak tidak. Aku hanya bercanda, kau sangat menakutkan ketika kau marah,” dalih Xeon beringsut mundur.
__ADS_1
“Hahaha,” mereka menertawakan Xeon yang takut dengan Scarlesia yang marah padanya.
“Aku tidak melihat Oliver. Ada dimana dia sekarang?” tanya Scarlesia mencari keberadaan Oliver yang tidak dia temukan.
Mereka saling bertukar pandang, ekspresi mereka masing-masing tampak enggan memberitahukan Scarlesia mengenai apa yang terjadi dengan Oliver.
“Ada apa? Kenapa kalian tidak menjawabnya? Aku hanya menanyakan Oliver ada dimana. Itu tidak sulit bukan?”
“Sebenarnya Oliver terus menyalahkan dirinya karena kau tidak kunjung sadarkan diri. Dia menganggap kejadian 1 minggu yang lalu itu adalah kesalahannya,” kata Elios.
“Benar. Selama beberapa hari ini dia menunggumu sampai sadar, kami sudah mengatakan padanya kalau itu bukan kesalahannya tapi dia tidak mendengarkannya,” tambah Zenon.
“Sekarang dia ada dimana?”
“Sepertinya dia sedang ada di kamarnya,” jawab Andreas.
Begitu Andreas memberitahu Scarlesia tentang keberadaan Oliver, Scarlesia langsung pergi keluar dari kamar dan menghampiri Oliver ke kamarnya.
Ceklek
Pintu kamar Oliver tidak terkunci, Scarlesia membuka pintunya dan melihat Oliver tengah duduk di tepi tempat tidurnya dengan menekuk kepalanya serta mimik wajahnya sendu. Tidak ada rasa senang saat Scarlesia melihat wajahnya, hanya ada rasa lelah yang terlihat jelas bahkan dia tidak menyadari kedatangan Scarlesia.
“Oliver, kenapa? Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Scarlesia cemas.
“Sia, kau sudah siuman? Sejak kapan?”
“Baru saja. Aku tidak melihatmu datang bersama Xeon, jadi aku mencarimu kemari,”
Oliver kembali menekuk wajahnya, ia meremas jemarinya.
“Aku minta maaf Sia. Aku tidak bisa melindungimu, maafkan aku,” ungkap Oliver berlinang air mata.
“Apa yang sedang kau katakan? Hari itu kau melindungiku dari serangan Zin. Kau tidak perlu meminta maaf, justru aku ingin bertanya. Apa inti sihirmu sudah membaik?”
“Jadi kau yang menyembuhkan inti sihirku?” tanya Oliver menegakkan kembali kepalanya.
“Ya, pada saat kau sedang tidak sadarkan diri aku menyembuhkan inti sihirmu. Bagaimana? Apakah sekarang kau merasa lebih baik?”
Wajah tersenyum polos Scarlesia membuat Oliver semakin terpuruk di dalam rasa bersalah yang mendalam. Dia menyalahkan dirinya atas ketidakmampuannya dalam melindungi Scarlesia, meski pada hari itu dia hampir mati karena melindungi Scarlesia.
“Kenapa kau menyelamatkanku?”
__ADS_1
“Apa yang baru saja kau katakan?”
“Kenapa kau menyelamatkanku? Aku tidak berguna karena tidak bisa menyelamatkanmu. Maafkan aku,”
Plakkk
Scarlesia sengaja menampar Oliver untuk menyadarkannya dari semua omong kosong yang dia katakan padanya.
“CUKUP! JANGAN SALAHKAN DIRIMU LAGI! SEJAK TADI KAU HANYA MEMINTA MAAF DAN MENYALAHKAN DIRIMU SENDIRI ATAS APA YANG MENIMPAKU. APA KAU PIKIR DENGAN MENGORBANKAN NYAWAMU AKU AKAN MERASA SENANG? TIDAK!” teriak Scarlesia marah.
“Sia, aku….”
“APA KAU TAHU BETAPA KHAWATIRNYA AKU KETIKA KAU TIDAK SADARKAN DIRI KARENA MENYELAMATKANKU? TIDAK TAHU KAN? INI SEMUA BUKAN SALAHMU! AKU TIDAK BUTUH MAAFMU DAN TIDAK BUTUH NYAWAMU! AKU HANYA TIDAK INGIN KEHILANGANMU. APA KAU MENGERTI?” lanjutnya berteriak.
Perasaan Scarlesia campur aduk, dia merasa kesal dan marah sekaligus kepada Oliver yang terus menerus menyalahkan dirinya sendiri. Napasnya sesak karena berteriak tanpa henti ke Oliver, dia berharap Oliver bisa sadar dengan kata-katanya.
“Apa kau sungguh tidak ingin kehilanganku?”
“Tentu saja. Aku tidak mau kehilanganmu, kau selama ini sudah banyak membantuku. Aku tidak pernah menyalahkanmu atas semua yang menimpaku. Oliver, kau benar-benar berarti untukku,” ujar Scarlesia tersenyum lembut.
Suara dan kata-kata lembut Scarlesia mampu menenangkan Oliver, dia tidak lagi merasa bersalah pada Scarlesia. Gadis yang berdiri di hadapannya kini adalah gadis yang dia cintai dan dia tunggu kedatangannya selama 300 tahun lamanya lalu ia sekarang sudah ada di sini sembari menampakkan senyumnya yang hangat. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaga gadis ini agar tidak kehilangan dirinya lagi.
Oliver terdiam mendengarkan kata-kata Scarlesia, dia tidak baru sadar ternyata Scarlesia tidak suka ia mengorbankan dirinya sendiri.
“Sia. Aku pasti akan melindungimu,” ucap Oliver menarik Scarlesia agar lebih dekat dengannya lalu ia mendekapnya.
“Jangan bahayakan nyawamu demi aku lagi. Apa kau mengerti sekarang?”
“Iya Sia. Aku mengerti,”
Karena Oliver sudah merasa lebih baik, Scarlesia mengumpulkan mereka di satu ruang termasuk Hana dan Erin. Eldrick dan Carlen beserta Aldert juga bergegas melihat Scarlesia di paviliun ketika mendengar Scarlesia sudah siuman.
“Apa tidak ada diantara kalian yang tidur dalam seminggu ini? Lihatlah wajah lelah kalian dan kantong mata kalian. Lain kali tidak perlu terlalu mencemaskanku karena aku akan baik-baik saja,” omel Scarlesia.
“Tapi kami khawatir karena kau tidak kunjung sadarkan diri. Kami pikir luka yang kau terima cukup serius,” jawab Louis.
“Kami juga tidak ingin musuh menyerangmu disaat kami semua sedang tertidur, makanya kami menjagamu agar tidak ada yang menyakitimu,” tambah Elios.
“Astaga kalian ini, tidak perlu sampai segitunya. Jangan paksakan diri kalian untuk menjagaku,” balas Scarlesia menepuk keningnya. “Ya sudah, aku akan menggunakan kekuatan penyembuhanku agar kalian tidak lagi merasa lelah. Jangan ulangi hal yang serupa lagi!” lanjut Scarlesia mengoceh.
“Baik Nona,”
__ADS_1
“Baiklah Sia,”