Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Mimpi Buruk Lagi


__ADS_3

“S-sia, a-aku… MAAFKAN AKU! TIDAK! MAAFKAN HAMBA KANJENG RATU!”


Oliver refleks membungkuk di hadapan Scarlesia, dia takut dimarahi oleh Scarlesia karena tingkahnya sendiri.


“Ehh bukan, maksudku baginda ratu! Bukan, bukan itu. Maksudku sayangku,” ralat Oliver.


“Ratu? Aku bukan ratu loh,”


“Tapi kamu adalah ratu di hatiku,”


Scarlesia menghela napasnya mendengar kata-kata gombal keluar langsung dari mulut Oliver.


“AKU BUKAN RATU! JADI BERHENTI MENGGOMBALIKU!” bentak Scarlesia. “Nah kalian berempat, adakah yang bisa menjelaskannya?” lanjutnya menatap tajam Zenon dan yang lainnya.


“MAAFKAN KAMI SIA,” ucap mereka serentak dan membungkuk di hadapan Scarlesia persis dengan yang dilakukan oleh Oliver.


Scarlesia menghembuskan napas kasar, dia terheran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah mereka berlima.


“Fyuhh sudahlah. Cepat angkat kepala kalian, kenapa kalian membungkuk? Memangnya aku sebegitu mengerikannya saat marah? Aku hanya minta penjelasan kalian,” ujar Scarlesia meminta penjelasan sekali lagi.


“Itu karena kami menyukai Sia yang imut dan mungil,” beber Louis disenggol tangannya oleh Elios.


“Bukan begitu Sia. Louis hanya asal bicara saja,” dalih Elios.


“Sepertinya apa yang dikatakan Louis itu jujur. Coba sekarang kamu yang menjawabnya Oliver,”


Oliver meremas jemarinya sembari melirik kiri kanan, rasanya dia ingin menghilang saja ketika Scarlesia marah padanya.


“Sama seperti yang dikatakan Louis. Kami hanya ingin menikmati keimutanmu lebih lama lagi,” jawab Oliver.


“Oke. Sekarang kembalikan aku seperti semula. KEM-BA-LI-KAN SE-KA-RANG JU-GA,” perintah Scarlesia menekan nada bicaranya.


“B-baiklah,”


Oliver menurut, ia menggunakan sihirnya untuk mengembalikan tubuh Scarlesia seperti sedia kala. Tidak butuh waktu lama untuk itu, kini secara perlahan bagian setiap tubuhnya menjadi normal kembali.


“YEAYYY AKHIRNYA AKU KEMBALI!!” teriaknya kegirangan sambil melompat-lompat.

__ADS_1


Andreas dan yang lainnya terdiam memandang aneh Scarlesia, lalu Scarlesia pun menghentikan lompatannya.


“Apa yang kalian lihat? Apa ada yang….” ternyata pakaiannya sudah terkoyak akibat tubuhnya yang membesar sedangkan pakaiannya masih berukuran kecil. Sekarang tubuh polosnya hampir setengahnya kelihatan.


“KYYAAAAAAAA! KELUAR KALIAN! KELUAR!”


Scarlesia mengusir mereka berlima keluar dari kamarnya, betapa besarnya rasa malu yang menerpanya kala ini.


“Rasanya aku ingin bersembunyi saja dari dunia ini,” batinnya.


“Woahh kalian lihat itu? Kerja bagus Oliver! Kau adalah yang terbaik,” puji Zenon senang.


“Apanya yang kerja bagus? Kalian tidak lihat betapa menakutkannya Sia kalau sedang marah? Jantungku serasa ingin copot ketika Sia marah padaku,” balas Oliver jengkel.


“Tapi kau menikmatinya bukan yang terakhir tadi?” goda Elios.


“T-t-t-tidak!! Sudahlah aku mau ke menara sihir dulu,” pamit Oliver tergesa-gesa terbang ke menara sihir dengan wajahnya yang merah.


Usai tubuhnya kembali normal, Scarlesia langsung memberitahukannya pada Eldrick, Carlen, dan Aldert. Entah kenapa mereka terlihat kecewa karena Scarlesia sudah tidak menjadi anak kecil lagi.


“Tidaakkk!! Aku ingin kau menjadi anak kecil saja,” kata Aldert yang masih belum puas menikmati keimutan Scarlesia kecil.


“Tapi tapi aku….”


“Ssssttt sudah diam saja,”


“Bagaimana tubuhmu sekarang? Baik-baik saja kan?” tanya Eldrick.


“Ya, aku baik-baik saja. Ayah tidak perlu khawatir, oh iya bagaimana dengan hadiahnya? Apa kalian suka?”


“Tentu saja kami suka!” jawab mereka bersamaan sambil memamerkan kalau jam tangannya sudah mereka pasang di tangannya masing-masing.


“Baiklah. Kalau begitu aku sekarang akan kembali ke kamar lagi,” ucapnya undur diri dari hadapan mereka semua.


Balik dari tempat Eldrick, Scarlesia langsung merebahkan badannya di tempat tidurnya, matanya menatap langit-langit kamarnya yang kosong, secara perlahan dia memasuki dunia mimpinya. Scarlesia tidur dalam keadaan gelisah dan resah seolah sekarang ia sedang mengalami mimpi buruk.


“Dimana lagi aku sekarang? Tempat ini bahkan lebih buruk dari mimpi sebelumnya,”

__ADS_1


Di sekelilingnya saat ini hanya ada mayat yang bergelimpangan, bau darah menusuk masuk ke dalam hidungnya serta suara gagak yang berterbangan dan menghinggap di atas mayat-mayat manusia. Scarlesia memutar tubuh dan penglihatannya ke depan, ternyata sekarang dia tengah berada di tepi sebuah laut. Kabut tebal menutupi penglihatan jarak jauhnya, ia sungguh tidak bisa melihat apapun selain air laut yang tenang.


“Sebenarnya apa yang terjadi di sini?”


Tiba-tiba saja muncul beberapa ekor monster laut dari dalam laut, tidak hanya satu bahkan lebih dari empat. Alangkah terkejutnya dirinya ketika melihat monster laut itu mulai mengamukkesana kemari. Dari sisi lain laut, terdengar suara para penyihir dan para ksatria sedang bertempur melawan monster-monster tersebut. Lalu Scarlesia mencoba menyusuri tepi laut itu dan kini langkahnya mengarah ke sumber suara orang-orang yang sedang bertempur.


Krakk


Telapak kakinya tidak sengaja menginjak sebuah benda, ia melihat benda apa yang tidak sengaja terinjak olehnya. Scarlesia memungut benda yang terlihat tidak asing baginya itu.


“Bukankah ini adalah jam tangan yang aku berikan pada Kak Carlen? Kenapa bisa di sini? Jangan katakan kalau kakakku sedang ada di sini sekarang,”


Kedua mata Scarlesia mengamati mayat yang tergeletak tepat di sisi kiri dan kanannya, ia memiliki prasangka yang tidak enak soal ini.


“Huh? KAK CARLEEENNNN!!!”


Scarlesia berteriak histeris saat ia tahu bahwa salah satu mayat yang ada di dekatnya kini adalah mayat Carlen. Kondisi tubuhnya sangat parah, luka sobek ada dimana-mana, tubuhnya sudah dingin dan tidak lagi ada aura kehidupan di dirinya. Scarlesia mengguncang-guncang tubuh kakaknya tapi percuma saja karena tidak akan respon darinya.


“Oke Sia. Kamu harus tenang sekarang, ini hanya di dalam mimpi dan bukan di dunia nyata,” ucapnya menenangkan dirinya yang dilanda kepanikan hebat.


“Apakah monster laut itu yang menyebabkan semua ini? Kenapa mereka tiba-tiba mengamuk?” pikirnya.


“TUAN MUDA ALDERT ANDA TIDAK BISA MENYERANGNYA SEPERTI ITU!”


Suara lantang seorang penyihir yang menyebut nama Aldert membuat Scarlesia sontak kaget. Ia segera berlari menuju sumber suara itu berasal, di sana ia menemukan Aldert yang terluka parah dan ditahan oleh para penyihir untuk melawan seekor monster laut.


“LEPASKAN! MONSTER ITU SUDAH MEMBUNUH KAKAKKU. AKU AKAN MEMBALASKAN KEMATIAN KAKAK!”


Di tengah luka parah yang dia dapatkan, Aldert tidak bisa menahan amarahnya. Dia melihat sang kakak terbunuh di hadapannya oleh ulah monster laut. Ia meronta agar segera dilepaskan tapi para penyihir tidak bisa melepaskannya karena kondisi tubuh Aldert sedang terluka parah, jika dia nekat dan memaksakan dirinya untuk membunuh monster lautnya maka hal ini akan membuat nyawanya melayang secara sia-sia.


“Tidak tuan! Anda tidak akan kami lepaskan. Jika anda berakhir di sini, siapa yang akan menjaga Nona Scarlesia? Tuan Muda Carlen sudah mengorbankan dirinya agar anda bisa lari dari sini. Kalau anda berakhir sama dengan kakak anda, bagaimana cara kami menghadap Nona Scarlesia dan Yang Mulia Duke?”


Perkataan dari penyihir tersebut sampai ke hati Aldert, ia pun kini mulai tenang dan tidak meronta lagi. Kedua kakinya lemas, beban tubuhnya tidak lagi mampu ditopang kakinya, dirinya sekarang sangat rapu melihat Carlen yang tidak lagi bernyawa.


“Kakak…” Scarlesia ikut sedih melihat kakaknya yang terlihat begitu putus asa.


Di sela kesedihannya, tanah tempatnya berpijak mendadak berguncang seperti gempa bumi. Scarlesia melihat pergerakan monster laut semakin  tidak normal, mereka mengamuk di tengah laut. Monster-monster tersebut mengeluarkan suara yang membuat pengang telinga yang mendengarkannya. Kemudian suara dan guncangannya berhenti, monster laut itu sekarang melihat ke arah Aldert serta ke arah para penyihir dan ksatria. Monster laut tersebut bersiap untuk menyerang Aldert dan yang lainnya.

__ADS_1


“Tidak! Jangan lagi! KAK ALDERT, AWASSSS!!!”


__ADS_2