
“ARRRGHHHH”
Scarlesia berteriak saat dia merasakan tangan dari jiwa asli tersebut menyentuh lehernya. Namun, sekarang dia sudah terbangun dari mimpi buruknya. Scarlesia menyentuh kepalanya yang sakit karena terbangun tiba-tiba seperti ini. Kemudian dia menoleh ke jendela yang ternyata langit masih gelap dan fajar belum datang.
“Uhh sialan! Kenapa aku bermimpi buruk saat aku tertidur lelap? Menggangguku saja!” umpatnya kesal.
Scarlesia mencoba untuk tidur kembali, tapi matanya sulit untuk ia pejamkan. Akhirnya, Scarlesia membuka jendela kamarnya lebar-lebar untuk menghirup udara malam yang menenangkan.
“Kenapa rasanya hidupku kian hari kian rumit?” gumamnya.
“SIA!!”
Zenon yang berada di bawah memanggil Scarlesia sambil melambai-lambaikan tangannya.
“Zenon! Kenapa kau belum tidur?” tanya Scarlesia.
“Aku tidak bisa tidur, apa kau baru saja bangun?” tanya Zenon balik.
“Iya, aku baru bangun,”
Lalu Zenon melompat tepat ke jendela Scarlesia berdiri.
“Sia, maukah kau jalan-jalan denganku?
“Jalan-jalan?”
“Ya, aku akan membawamu terbang dan mengajakmu ke suatu tempat,”
Scarlesia setuju dengan ajakan Zenon yang ingin mengajaknya jalan-jalan bersama. Zenon menggendong Scarlesia, ia takjub melihat suasana malam di Kekaisaran Roosevelt yang ia saksikan dari atas. Akhirnya, setelah beberapa menit terbang mereka mendarat di sebuah bukit kecil yang lokasinya cukup jauh dari ibukota kekaisaran.
“Woahh aku bisa melihat dengan jelas bintang-bintang,” tunjuk Scarlesia ke arah langit.
“Bukankah di sini sangat bagus untuk menyaksikan bintang secara langsung?”
Scarlesia mengangguk riang, ia segera merebahkan tubuhnya menghadap langit yang indah bertaburan bintang-bintang.
“Sudah lama rasanya aku tidak menikmati langit malam,” ucap Scarlesia.
“Kau boleh mengatakan kepadaku kapanpun kalau kau ingin menikmati langit malam. Aku akan membawamu kapanpun dan kemana pun itu,” ujar Zenon ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Scarlesia.
__ADS_1
“Benarkah begitu?”
“Iya, asal itu membuatmu senang, akan aku lakukan,” jawab Zenon.
Scarlesia tersenyum mendengar jawaban Zenon, ia pun kembali memfokuskan pandangannya ke arah langit berbintang. Dia mencoba memejamkan matanya untuk menikmati semilir angin malam dan pada akhirnya ia tertidur. Zenon yang menyadari kalau Scarlesia terlelap, ia semakin mendekatkan badannya ke Scarlesia.
“Kau sangat cantik walau sedang tertidur seperti ini, alasan kenapa aku tidak bisa tertidur karena hari ini adalah tanggal dimana aku kehilanganmu 183 tahun yang lalu. Gadis kecil yang pertama kali datang kepadaku dan menyelamatkanku dari rasa sepi yang mencekikku. Aku telah menunggumu selama 183 tahun dan aku merasa bahagia ketika kau kembali menemuiku,”
186 tahun yang lalu, 3 tahun sebelum Zenon kehilangan Scarlesia. Mereka bertemu di sebuah hutan terpencil di Negara Luc, negara kecil yang mayoritas penduduknya adalah pedagang. Di tengah musim panas yang terik, seorang gadis kecil masuk ke dalam gua yaitu gua tempat dimana Zenon tidur dalam wujud naganya.
“WOAHH NAGA!” ucap gadis kecil itu dengan mata berbinar.
Zenon membuka matanya, ia mendapati gadis kecil itu tengah menatap dirinya.
“Siapa kau? Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Zenon.
“Halo tuan naga! Aku Sia. Aku tidak sengaja masuk ke gua ini, apakah anda terganggu karena kehadiranku?”
“Kenapa anak ini tidak takut padaku? Biasanya manusia yang aku temui pasti takut padaku,” pikir Zenon.
“Tidak. Aku tidak merasa terganggu,” kata Zenon dengan nada ketus.
“Syukurlah kalau begitu. Apa anda tinggal di gua ini?”
Zenon hanya menanggapi Sia dengan dingin tapi Sia terus mengajaknya berbicara dan tidak menghiraukan tanggapannya yang dingin. Meski begitu, Zenon tidak merasa jengkel sedikit pun padanya dan menganggap kehadirannya tidak penting.
Zenon mengira Sia tidak akan datang lagi setelah hari itu, namun ternyata Sia selalu datang setiap hari untuk mengunjunginya dan membawakannya berbagai macam makanan setiap harinya.
“Apa kau tidak punya kerjaan lain selain mengunjungiku? Ini adalah hutan terpencil, apa jangan-jangan kau tinggal di hutan ini sendirian?” ujar Zenon yang akhirnya bertanya karena penasaran.
“Iya, aku kabur dari rumah setelah orangtuaku mencoba menjualku ke seorang pria tua untuk melunasi utang kakakku,” jawabnya sembari tersenyum lebar.
“Menjualmu? Bukannya seharusnya orangtua itu menyayangi anaknya? Tapi kenapa…”
“Di dunia ini tidak semua orangtua itu baik, aku sudah terbiasa hidup di dalam keluarga yang tidak menyayangiku. Mereka memukuliku, memaksaku untuk bekerja, tidak pernah memberiku makan dengan layak dan inilah yang membuat tubuhku lebih kecil dari wanita seusiaku,” potong Sia menjelaskan.
“Memangnya umurmu berapa?”
“16 tahun,”
__ADS_1
“Aku kira kau masih 11 tahun,”
“Ya, aku sudah menduga tuan naga akan berbicara seperti itu padaku karena ini bukan pertama kalinya aku mendengar hal itu,” ucapnya yang lagi-lagi tersenyum.
Zenon sempat heran dengan Sia, walaupun pengalaman hidupnya pahit tapi dia tidak pernah lupa untuk tersenyum. Wajahnya yang cantik dan hatinya yang seperti malaikat, itu yang membuat Zenon nyaman berada di dekatnya.
“Apa kau tidak takut kepadaku?”
Sia terkekeh begitu mendengar pertanyaan dari Zenon.
“Tidak, malahan aku pikir anda itu naga yang butuh teman. Tidakkah anda merasa sepi karena selama ini hidup sendirian? Untuk itulah aku akan menemani anda tuan naga sampai anda meninggalkan tempat ini dan terbang ke tempat lain,”
Zenon terdiam, dia bahkan tidak pernah terpikirkan bahwa dirinya merasa kesepian. Selama ini dia tidak pernah menghiraukannya tapi hari ini Sia mengatakan secara langsung padanya, tanpa sadar dia memang merasa kesepian karena harus menjalani hidup sendirian.
“Aku tidak kesepian,” sanggah Zenon.
“Anda bohong! Aku bisa membaca dari kedua mata anda kalau anda selama ini memang kesepian,” kukuh Sia.
“Haha sepertinya aku tidak bisa melawanmu berbicara lebih jauh lagi,”
Semenjak hari itulah Zenon mulai membuka hatinya untuk Sia, dia tidak pernah lagi marah karena Sia mengganggu tidurnya, dia tidak pernah lagi bersikap dingin pada Sia. Sampai pada akhirnya, Zenon muncul di hadapan Sia dalam wujud manusianya.
“Anda siapa ya?” tanya Sia pada Zenon yang datang ke rumahnya.
“I-i-ini aku naga yang biasanya,”
Zenon menjawabnya seraya tersipu malu dan mengalihkan wajahnya dari Scarlesia.
“Haahh? HEEEEEEEE,” Sia memekik karena tidak menyangka bahwa pria tampan yang ada di hadapannya kini adalah naga yang biasa ia temui.
“Jangan terkejut begitu. Ini adalah wujud manusiaku jadi mulai sekarang tolong jangan panggil aku ‘tuan naga’ tapi panggil aku Zenon. Kau mengerti?”
“Zenon ya? Baiklah Zenon,”
Setelah itu, Sia mengajak Zenon untuk tinggal dengannya karena dia hanya sendirian tinggal di rumah yang cukup kecil ini, Zenon pun mengiyakan ajakan Sia.
Tidak terasa sudah 3 tahun Zenon dan Sia tinggal bersama, kini usianya sudah genap 19 tahun. Gadis yang berbadan kecil itu sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Banyak momen manis dan bahagia yang mereka jalani bersama-sama hingga tanpa mereka sadari, tumbuh perasaan cinta di hati mereka masing-masing. Tapi, tidak satupun dari mereka yang berani mengungkapkan perasaannya lebih dulu.
“Aku sudah memetik bunga mawar merah sebanyak ini karena aku tidak boleh lagi menunda-nunda untuk mengungkapkan perasaanku. Hari ini aku akan mengatakan pada Sia tentang perasaanku yang sebenarnya,” kata Zenon yang baru balik dari luar.
__ADS_1
Saat ia tiba di rumah, dia tidak menemukan Sia dimana pun. Kondisi rumah pun sangat berantakan seperti baru saja kemalingan. Zenon yang panik berlari keluar dari rumah, dia terus berteriak memanggil-manggil nama Sia tapi tidak ada jawaban.
“Sia, kemana kau sebenarnya?”