
Selama hampir satu minggu penuh, Scarlesia mempersiapkan diri untuk menjalani ujian kandidat putri mahkota. Victor mengajari ia mengenai pengetahuan Kekaisaran Evariste, berlatih pedang bersama Andreas, memanah bersama Elios, latihan tembak menembak menggunakan pistol yang ditemani oleh Archie, bertarung dengan tangan kosong bersama Louis, melatih sihir dengan Oliver dan Aldert, serta melatih kemampuan sayapnya agar terbang lebih cepat bersama Zenos.
Sedangkan Xeon, Carlen, dan Lucas berusaha mencari bukti tentang kejahatan Pangeran Rashid. Lalu Kitty dan Cici menjadi mata-mata Abigail, mereka memiliki tugas masing-masing. Jadwal Scarlesia sangat padat sehingga membuat tubuhnya mendapatkan istirahat yang sangat kurang. Namun, Eldrick selalu memerintahkan Hana dan Erin untuk membuatkan makanan penambah stamina untuk Scarlesia.
Dan tibalah hari ini, hari pertama dalam ujian tulis pengetahuan kekaisaran. Ujian diadakan di sebuah ruangan khusus yang terletak tidak jauh dari istana utama.
“SEMANGAT SIA!!”
“SEMANGAT KAKAK!!”
“SEMANGAT YANG MULIA!!”
Semua orang memberikannya semangat, Scarlesia tidak merasa gugup sama sekali tapi yang merasa gugup malah mereka yang tidak mengikuti ujiannya. Apalagi Erin dan Hana, mereka sampai susah fokus karena saking gugupnya.
“Hentikan ekspresi gugup kalian itu. Aku percaya kalau aku bisa melewati ujian ini dengan nilai yang sempurna,” ujar Scarlesia.
Mereka masih tidak bisa mengubah ekspresi gugupnya, Scarlesia tidak menegur mereka lebih lanjut dan memilih untuk segera masuk ke dalam ruangan karena ujian akan segera dimulai. Di ruangan yang cukup kecil ini hanya ada Scarlesia, Abigail, dan seorang pria yang merupakan cendekiawan kekaisaran yang terkenal memiliki wawasan serta pengetahuan yang luas.
“Saya akan membagikan soalnya kepada kalian, silahkan kerjakan dalam waktu 60 menit,”
Pria itu membagikan kertas ujiannya, Scarlesia tersenyum ketika melihat soal-soal yang dia rasa bisa ia tangani dengan sangat baik. Sementara itu, Abigail berada di dalam situasi panik tak tertolongkan dikarenakan dia merasa tidak bisa menjawab satu soal pun yang tertera di kertas ujiannya.
“Bagaimana aku bisa tahu ini semua? Sedangkan aku tidak belajar sedikit pun,” batin Abigail cemas.
Abigail melihat ke arah Scarlesia, sekali lagi dia sebal karena Scarlesia mengerjakan ujiannya dengan lancar tanpa hambatan. Kemudian, cendekiawan tersebut berdiri di samping Abigail dan menyelipkan sebuah kertas di meja Abigail.
“Yang Mulia, saya diperintahkan oleh Yang Mulia Pangeran Rashid untuk membantu anda dalam mengerjakan ujiannya. Di dalam kertas itu saya sudah mencatat semua jawabannya jadi anda bisa menyalinnya ke lembar jawaban anda,” bisik cendekiawan yang bernama Basil.
__ADS_1
Abigail kini tidak lagi perlu khawatir, tanpa menunggu lama ia langsung menyalin habis jawaban yang ada di selembar kerta yang diberikan Basil padanya. Scarlesia mengetahui dan menyaksikan itu semua, dia menyeringai melihat kebodohan orang-orang yang mencoba curang ini. Scarlesia memiliki banyak mata dan telinga di dalam ruang ujian tersebut karena hewan-hewan kecil akan melaporkan hal sedetail mungkin padanya.
“Lihatlah orang-orang bodoh ini, berani sekali berbuat curang. Mereka mungkin berpikir akan lancar sampai akhir dalam melakukan tindakan curangnya tapi itu percuma saja karena aku sudah mempersiapkan kejutan untuk kalian di akhir ujian hari ini,” batin Scarlesia.
“Jalankan rencana sekarang juga,” ucap Scarlesia teramat pelan.
Benda seperti earpiece terpasang di telinganya, benda yang digunakan khusus untuk komunikasi jarak jauh ini diciptakan oleh Archie. Sejak dulu Archie memang dikenal jenius karena keterampilannya dalam menciptakan barang-barang elektronik. Hingga di sini dia bisa kembali mempraktekkan keahliannya tersebut dan berhasil menciptakan alat komunikasi jarak jauh yang terbuat dari batu sihir.
Tak lama kemudian, petugas pengadilan Evariste menerobos masuk ke dalam ruang ujian dan mereka segera membekap Basil.
“Ada apa ini? Kenapa saya malah ditangkap? Apa salah saya?”
Basil memberontak karena ia tidak tahu apa salah dirinya hingga harus ditahan oleh petugas pengadilan.
“Tuan Basil, anda terbukti melakukan penggelapan dana perpustakaan kekaisaran serta terbukti menerima sejumlah suap dari beberapa bangsawan dalam seleksi masuk pegawai kekaisaran,” ujar salah seorang petugas pengadilan.
Tidak ada satu pun dari mereka yang mau mendengarkan penjelasan Basil terlebih dahulu, ia dibawa ke luar ruangan untuk ditindaklanjuti oleh pihak pengadilan. Abigail tegang, ia tidak percaya bahwa Basil akan tertangkap secepat ini.
Disusul setelah itu, seorang wanita bangsawan paruh baya yang juga terkenal dengan kecerdasannya selama beberapa tahun belakangan ini masuk membawakan lembar soal ujian yang baru.
“Mohon maaf, saya terpaksa harus mengganti soal ujian yang telah dibuat oleh Tuan Basil dengan tujuan untuk menghindari kecurangan dalam ujian kali ini. Saya melakukan ini bukan berarti saya tidak mempercayai anda berdua tapi saya melakukannya hanya untuk berjaga-jaga,” ujar Marry.
Braakkk!
Abigail menggebrak meja karena tidak terima dengan keputusan yang telah ditetapkan oleh Marry. Amarahnya terlihat menggebu-gebu keluar, tidak bisa dia tahan karena menurutnya ini sangat tidak adil sekali.
“MENGGANTI SOAL UJIAN? AKU TIDAK MENERIMANYA! BERANI-BERANINYA WANITA TUA SEPERTI KAU INI MENCURIGAIKU BERBUAT CURANG!” bentak Abigail.
__ADS_1
“Yang Mulia, kenapa anda marah? Saya mengganti soal ujiannya bukan berarti soalnya akan berbeda jauh. Seharusnya anda tidak mempermasalahkannya jika memang benar anda belajar untuk ujian ini,” respon Marry terdengar tenang dan berwibawa, bahkan wajahnya tetap datar meski ia merasa kesal sebab Abigail yang membentak seenaknya saja.
“Uppss jangan bilang anda tidak belajar Yang Mulia Abigail? Katanya anda ingin menjadi kaisar, tapi sepertinya anda tidak memiliki pengetahuan tentang Evariste. Saya adalah pendatang di kekaisaran ini tapi saya tidak seperti anda tuh seenaknya menggebrak meja lalu membentak seseorang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi dari anda hanya karena perbedaan sebuah status. Apakah itu adalah sikap yang pantas untuk seorang kaisar?” celetuk Scarlesia menyindir Abigail.
Abigail kembali duduk, hatinya sangat panas karena mendengar sindiran Scarlesia.
“Diam saja kau! Dasar kau pendatang baru tidak tahu diri!” balas Abigail.
Scarlesia mengacungkan jempolnya pada Marry, ia memberi pujian pada Marry karena sudah mau bekerja sama dengannya. Sebenarnya dari beberapa hari yang lalu, Scarlesia sudah memprediksi hal ini akan terjadi sehingga dia membutuhkan kerja sama Marry dalam masalah ini. Akhirnya, mereka berhasil melancarkan rencananya dan membuat Abigail tidak bisa berkata-kata.
“Di kolong meja!” tunjuk Scarlesia berbisik mengarah pada kolong meja Abigail, Marry menganggukkan kepalanya dan segera menggeledah kolong meja Abigail.
“APA LAGI YANG KAU LAKUKAN?! LANCANG!!” teriak Abigail pada Marry.
“Ini apa Yang Mulia? Anda membawa contekan? Apakah anda berniat untuk berbuat curang?” selidik Marry mengeluarkan secara jelas kertas contekan tersebut.
“Tidak! Aku tidak berniat sama sekali untuk berbuat curang!” elak Abigail. “Aku pasti dijebak oleh wanita ini! Aku yakin kau yang menaruh kertas ini di kolong mejaku bukan?” tuding Abigail mengarah pada Scarlesia.
Scarlesia menyerngitkan dahinya, “Kau gila ya?”
“Hah? Aku gila kau bilang?”
Scarlesia berdiri dari tempat duduknya, dia menghampiri Abigail lalu berdiri di depan Abigail sambil bertolak pinggang.
“Anda gila, tau karena apa? Sudah jelas-jelas kau salah tapi malah menuduh orang lain melakukan yang tidak-tidak. Aku bisa menang tanpa harus menjebakmu karena otakku tidak sebodoh otakmu,” sarkas Scarlesia tajam.
“KAU….”
__ADS_1
“SIAPA YANG BERANI BERBUAT CURANG??”