
Mereka tiba di istana langit dengan tepat waktu, para dewa dan dewi sudah menunggu kedatangan mereka berdua di depan gerbang istana langit. Semua sibuk dalam mempersiapkan penyembuhan dan mengembalikan jiwa Scarlesia. Keamanan serta perlindungan di istana langit semakin diperkuat, akses menuju dunia luar pun ditutup rapat sementara waktu.
Scarlesia dibaringkan di atas sebuah altar emas, ruangan tempat altar ini berdiri terlihat sangat megah sebab di sekelilingnya diwarnai oleh warna emas. Scarlesia tampak seperti seorang tuan putri yang tertidur dan tengah menunggu pangeran untuk membantunya bangun. Di sekitar Scarlesia para dewa dan dewi berdiri mengelilingi altar.
“Anak ini terlihat sangat cantik bila dilihat secara langsung,” puji Tavisha membelai pipi Scarlesia.
“Tapi kan kecantikannya kau sendiri yang memberikannya, Sia cantik karena berkatmu juga,” balas Agatha.
“Aku tahu itu, namun kecantikannya dipenuhi oleh cahaya emas,” ucap Tavisha lagi.
“Ya sudah, nanti saja bahas yang lain. Sekarang sembuhkan dulu Sia sebelum jiwanya makin meredup dalam tubuhnya,” kata Aefar, sang dewa langit memecah suasana.
“Baiklah, aku akan mulai menyembuhkannya sekarang. Bisakah kalian mundur sebentar?” ujar Agatha.
Mereka semua selain Agatha mundur menjauhi Scarlesia, lalu Agatha menempelkan kedua tangannya di dada Scarlesia. Kekuatannya bercahaya terang memasuki tubuh Scarlesia, kekuatannya mengalir kuat menyelubung ke celah tubuh hingga menggapai jiwa Scarlesia.
“AAARGHH!!”
Agatha tiba-tiba saja terpelenting jauh, seolah ada yang menolak kekuatannya untuk merambat lebih jauh ke dalam tubuh Scarlesia. Tavisha dan Xeon bergegas menghampiri Agatha, mereka membantu Agatha untuk bangkit lagi. Agatha berdiri dengan sempoyongan, ia menyeka darah yang keluar dari mulutnya.
“Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Xeon.
“Sepertinya itu bukan darah Leroux yang biasa, efek darahnya terlalu kuat sehingga kekuatanku tidak mampu mengalahkan efek darah yang mematikan itu,” jawab Agatha.
__ADS_1
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Agatha tidak menjawab, dia kembali ke altar dan mencoba hal yang sama lagi. Agatha berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar tidak terlempar seperti sebelumnya.
“Uhukk uhukk.”
Agatha terbatuk dan mengeluarkan banyak darah dari dalam mulutnya, seketika semua orang panik serta cemas melihat Agatha terlalu memaksakan dirinya menyembuhkan Scarlesia. Pandangannya kabur, dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Tavisha mencoba menghentikan Agatha tapi dia menolak untuk berhenti, baginya keselamatan Scarlesia adalah yang utama.
“Tolong berhentilah Agatha! Kau hanya menyakiti dirimu sendiri,” mohon Tavisha mencoba menarik tubuh Agatha agar menjauh dari Scarlesia.
Agatha menepis tangan Tavisha, ia menolak keras untuk berhenti di tengah jalan seperti ini.
“Aku… aku masih bisa melakukannya,” kukuh Agatha.
“Aku akan menyelamatkan Sia apapun yang terjadi. Walaupun aku harus mengorbankan nyawaku untuknya, aku rela melakukannya. Tidak apa-apa, asalkan Sia kembali dari kematiannya,” batin Agatha.
Sekelebat memori masa lalunya bersama Scarlesia muncul dari ingatannya, tampak wajah Scarlesia kecil yang mengekor kemana pun Agatha pergi. Wajah imutnya serta senyum manisnya mendominasi memori Agatha. Caranya meminta tolong pada Agatha, tangan mungilnya yang menggenggam tangan Agatha, lalu ciuman kecil yang diberikan oleh Scarlesia padanya. Sungguh kenangan indah yang tidak bisa ia lupakan begitu saja.
Tanpa terasa bulir-bulir air mata berurai dari kedua mata Agatha, ingatan tentang Scarlesia merupakan biang kesedihan bagi dirinya sendiri. Di masa lalu ia ibarat seorang Ibu yang selalu mengajari Scarlesia berbagai hal baru, menemani Scarlesia kemana pun ia mau, dan memberikan nasehat pada Scarlesia tentang hal yang salah dia lakukan.
“Aku menganggap Sia sebagai anakku, bukankah wajar bila seorang Ibu mengorbankan nyawa demi anaknya? Bertahanlah Sia, aku mohon bertahanlah.”
Batuk darah Agatha semakin menjadi-jadi, penglihatannya nyaris buram dan tidak bisa melihat dengan jelas. Dari belakang, Tavisha dan yang lain melekatkan tangannya untuk memberikan kekuatan lebih pada Agatha supaya bisa berjuang lebih keras lagi. Agatha tersenyum tipis, meski tidak ada pengaruhnya untuknya tapi itu cukup membuatnya lebih baik.
__ADS_1
“Ini tidak berguna sama sekali, jika begini terus aku tidak bisa menyelamatkannya,” ujar Agatha.
“Bagaimana selanjutnya? Kalau kau tidak bisa melakukannya, itu berarti kami juga tidak bisa,” ucap Fritz, dewa laut.
“Aku akan menggunakan cara terakhir, aku yakin dengan itu aku bisa menyelamatkan Sia.”
“Cara terakhir? Jangan bilang kalau kau akan….”
“Ya, aku akan menggunakan setengah daya hidupku untuk menyelamatkan Sia. Hanya cara ini satu-satunya yang tersisa,” ucap Agatha.
Tavisha menarik Agatha untuk berhadapan dengan dirinya secara langsung, tersirat amarah besar dari kedua mata Tavisha.
“Apa kau bodoh? Kalau kau menggunakan setengah daya hidupmu, kau bisa saja mati. Ingat! Dewa pencipta sedang tertidur, hanya beliau yang bisa menyelamatkanmu jika kau akan mati. Sia memang bisa melakukannya tapi kita tidak bisa membiarkan dia melihat atau bertemu kita secara langsung. Sia belum boleh melihat kita sebelum dewa pencipta terbangun, kau tahu itu kan Agatha?” omel Tavisha.
“Aku tahu Tavisha, aku tahu sekali tentang hal itu. Namun, lihat! Lihat Sia sekarang!” Agatha menunjuk ke arah Scarlesia. “Apa kau akan membiarkannya menderita lagi? Aku tidak sanggup lagi-lagi melihatnya kesakitan. Ini semua karena kita! Ini semua karena kita terlalu lemah sehingga kita harus menaruh beban besar pada Sia. Padahal dia hanya mau hidup bahagia.”
Suara Agatha gemetar dan naik turun ketika berbicara dengan Tavisha, matanya tidak bisa berbohong bahwa dirinya merasa sedih serta terpuruk secara bersamaan. Tavisha menundukkan wajahnya, ia menggigit bibir bawahnya seraya menahan sendu hatinya. Benar yang dikatakan Agatha, mereka semua memang merasakan hal yang sama.
“Sia terlahir karena kita yang memintanya untuk lahir, kita yang menciptakannya bersama-sama. Kita yang membawanya masuk dan memaksanya menghadapi kejamnya dunia. Semesta pun tahu kalau kita yang membutuhkan Sia, dia adalah satu-satunya harapan untuk membalikkan semesta seperti semula. Harusnya kalian paham itu.”
Agatha mengusap air matanya yang terlanjur membasahi kedua pipinya, dadanya sesak setiap kali mencoba membayangkan seberapa besarnya derita Scarlesia sejak dulu hingga kala ini. Agatha berbalik untuk melanjutkan kembali tugasnya, sekujur badannya gemetar hebat, rasanya ia tidak mampu lagi berdiri lebih lama.
“Bahkan nyawaku saja tidak sebanding dengan penderitaan Sia selama ini.”
__ADS_1
Agatha menghirup napas dalam-dalam lalu ia buang perlahan, kedua matanya ia pejamkan, kemudian memusatkan fokusnya pada satu titik. Kini dia ingin berkonsentrasi lebih dalam lagi, melupakan sejenak segala masalah. Beberapa saat kemudian, dari tubuh Agatha keluar sebuah cahaya menyilaukan. Cahayanya sangat hangat bak mentari pagi, Agatha membuka matanya dan menggenggam tangan Scarlesia.