
“Haha kalau ini sih gara-gara aku,” jawab Scarlesia seraya tertawa dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Astaga, aku pikir ada penyusup lagi. Kamu pintar sekali membuat orang serangan jantung,” ujar Edward menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah itu Edward memerintahkan para penyihir untuk memperbaiki istananya Scarlesia kembali seperti semula. Mereka bubar begitu tahu bahwa Scarlesia baik-baik saja dan tidak ada penyerangan dari pihak penyusup.
“Bisakah aku melihat busur suci itu?” tanya Xeon.
“Oke, lihat saja.”
Scarlesia menyerahkan busur suci tersebut kepada Xeon, namun saat Xeon mencoba memegang busur sucinya tiba-tiba keluar sengatan listrik dari dalam. Xeon yang terkejut secara tidak sengaja nyaris menjatuhkan busur suci itu. Dengan lekas Scarlesia menangkap busurnya agar tidak terjatuh mengenai permukaan lantai.
“Kenapa malah kau jatuhkan? Nanti kalau mencapai lantai kan bisa berbahaya,” omel Scarlesia.
“Sepertinya busur suci itu sudah mendapatkan kekuatannya lagi, dia tidak akan mau disentuh oleh orang lain selain Sia,” ujar Xeon.
“Iya Yang Mulia, anda tidak boleh membiarkan orang lain menyentuh busur suci ini sembarang. Kalau yang menyentuhnya adalah manusia biasa, bisa-bisa nyawanya langsung melayang ketika menyentuh busur sucinya. Sebab busur suci sudah mendapatkan kekuatannya kembali, jadi dia hanya mengenali anda sebagai pemiliknya,” jelas Shou.
“Kalau tadi bukan Xeon yang menyentuhnya, mungkin satu nyawa sudah dibuat melayang olehnya,” ucap Zenon.
“Ahh oke, aku mengerti. Aku juga harus bisa mengontrol kekuatannya, hanya satu tembakan peluru saja sudah membuat hancur istana. Padahal tadi aku hanya menggunakan sekitar 2% kekuatanku saja,” kata Scarlesia.
“Oh iya Sia, bagaimana kekuatanmu sekarang? Apakah sudah ada kemajuan?” tanya Andreas.
“Belum pulih sepenuhnya, tapi sudah ada kemajuan dibanding beberapa hari yang lalu.”
“Syukurlah kalau begitu.”
__ADS_1
Di sisi yang lain di waktu yang bersamaan, istana kegelapan sempat geger beberapa waktu ini sebab kondisi Vanos sang raja iblis hitam terluka sangat parah akibat pertarungannya dengan Archie sebelumnya. Vanos dibawa oleh Aaron ke istana kegelapan, di sana dia mendapat perawatan ekstra untuk pengembalian kondisinya seperti semula.
Leroux sang dewa kegelapan mengukir ekspresi kesal di wajahnya karena Vanos, akan tetapi ia juga tidak terlalu memarahi Vanos karena ia berhasil membunuh satu orang terdekatnya Scarlesia. Kini ia tengah mengamati kondisi Vanos yang masih belum sadarkan diri, dia berdiri di sisi ranjangnya Vanos sambil menatap datar tubuh Vanos yang penuh luka.
“Dasar! Sama saja semuanya tidak berguna. Tapi aku masih menghargai usahamu sebab kau berhasil membunuh satu orang terdekatnya gadis itu,” gumam Leroux.
Kemudian Leroux mengeluarkan sebuah botol kecil, ia melemparkan botol tersebut ke arah Zin. Untungnya Zin cepat menyadarinya dan menangkap botol tersebut.
“Berikan botol itu padanya nanti, botolnya berisi darahku yang bercampur sedikit kekuatanku. Setelah dia meminum habis semuanya maka tubuhny akan pulih dan kekuatannya akan meningkat drastic,” titah Leroux.
“Baik Yang Mulia,” jawab Zin.
Lalu Leroux memanggil Aaron untuk ikut ke ruangannya sebentar, tampaknya ada hal serius yang ingin dia bicarakan dengan Aaron. Mereka berdua jalan beriringan melewati lorong istana yang sangat gelap dan suram, Aaron sedari tadi hanya diam dan tidak mengeluarkan suara.
“Kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?” tanya Leroux duduk di salah satu kursi.
“Aku memanggilmu kemari karena ingin memberimu tugas penting, aku yakin kau bisa menyelesaikan tugas ini. Aku ingin mengurangi kekuatan yang berada di sekitar gadis itu dan mengaktifkan kutukannya. Kau mengerti maksudku?”
“Apa anda menyuruh saya untuk membunuh lagi Yang Mulia?”
“Benar, pergilah ke Istana Evariste. Injak-injak mereka hingga tak bersisa, aku akan membuat gadis itu hancur dan itu akan memudahkanku untuk mengalahkannya nanti,” ucap Leroux.
“Baik, saya akan segera melaksanakannya.”
Setelah itu, Aaron segera berbalik badan keluar dari ruangan. Kini tinggallah Leroux sendiri di dalam sana, ia bangkit dari tempat duduknya menuju jendela besar di ruangannya. Kemeja hitam yang ia kenakan membentuk jelas dada bidangnya, tiga kancing paling atas di kemeja itu ia buka sehingga menampakkan dada mulusnya. Tangannya meraih rokok di atas mejanya, kemudian ia menyalakan pemantik untuk membakar rokok tersebut.
“Aku penasaran, sampai kapan gadis itu akan bertahan. Jika aku berhasil mengaktifkan kutukannya maka aku lebih mudah untuk membunuhnya. Kutukan tingkat tinggi yang aku pasang di jiwanya memakan banyak energiku, seharusnya aku berhasil kali ini. Jika aku tidak membunuhnya, haruskah aku jadikan dia sebagai mainanku? Hahaha yang jelas sekarang aku harus memenangkan peperangan ini apapun yang terjadi.”
__ADS_1
Esoknya, di istana disibukkan oleh beberapa hal lain sebab hari ini para dokter baru yang terpilih pada seleksi sebelumnya akan menjalani pelatihan pertamanya. Scarlesia akan pergi ke pusat pelatihan di alun-alun kota, tempat ini baru saja selesai dibangun beberapa waktu yang lalu. Tempat pelatihannya sangat besar serta fasilitas dan sarana medis juga mendukung, sebab Scarlesia telah merancang ini bersama Archie.
Alat-alat medis yang tersedia juga lumayan canggih, ini semua berkat kerja keras Archie dalam membantu Scarlesia meringankan pekerjaannya. Kini tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi karena dokter-dokter terpilih ini dipilih langsung oleh Scarlesia. Jadi, tidak akan ada pengulangan kejadian membahayakan nyawa banyak orang seperti yang terjadi sebelumnya.
Pada pelatihan pertama ini, Scarlesia akan turun langsung melatih para dokter dalam tata cara penggunaan alat-alat medis serta memberikan ilmu mengenai tanaman-tanaman herbal serta mengajarkan beberapa teknik pengobatan yang tidak pernah ditemui di dunia ini.
Ini adalah langkah pertama bagi Scarlesia untuk menghadapi perang akhir, ia membutuhkan dokter yang telaten dalam pengobatan untuk membantu mengobati korban perang nanti. Dia sudah mempertimbangkan segala hal buruk yang akan terjadi ke depannya, dokter adalah hal pertama yang memiliki peran penting menuju keberhasilan perang ini.
“Selamat pagi Yang Mulia.”
Seluruh dokter menyapa dan menyambut kedatangan Scarlesia bersama para prianya. Scarlesia digandeng masuk oleh Zenon ke dalam ruang pelatihan, terlihat betapa bersemangatnya para dokter mengikuti pelatihan ini.
“Sia, kami menunggumu di luar. Panggil saja kalau kau sudah selesai,” bisik Zenon.
“Baiklah, jangan pergi jauh-jauh ya,” pesan Scarlesia.
Zenon pun pergi ke luar bersama yang lainnya kecuali Andreas yang ingin berada di samping Scarlesia untuk mengawasinya langsung.
“Apa kau tidak pergi bersama mereka?” tanya Scarlesia.
“Tidak, aku akan di sini bersamamu. Bagaimana kalau ada….”
“Sudah! Kau jangan mengganggu Sia. Kemarilah bersama kami, tenang saja karena tidak akan ada yang berani menyakiti Sia,” ujar Louis menarik paksa Andreas untuk pergi bersama mereka.
Scarlesia tertawa kecil melihat tingkah mereka, lalu ia melanjutkan tugasnya memberi materi kepada dokter-dokter tersebut. Kegiatan pelatihan ini berlangsung hingga pukul 3 sore, kini Scarlesia mengajak para dokter untuk memeriksa kesehatan masyarakat seraya menerapkan ilmu yang tadi ia ajarkan. Ketika dia sedang asik berinteraksi dengan beberapa orang rakyat biasa, seekor capung terbang dan hinggap di pundaknya.
“Yang Mulia, anda harus pulang ke istana sekarang juga! Istana kebakaran dan keadaan di sana sangat menggentingkan!”
__ADS_1