
“Bagaimana kalau aku mengalahkanmu? Jika itu terjadi maka kau harus menyerahkan pria-priamu ini padaku,” tantang Abigail.
“Pfftt hahahaha,” kekeh Scarlesia. “Kau berpikir aku pasti kalah? Baiklah aku akan terima tantanganmu.”
Para pria yang kini berdiri di dekat Scarlesia langsung heboh dan protes pada Scarlesia yang menjadikan mereka sebagai bahan taruhan. Diantara mereka ada yang mengguncang-guncang pundak Scarlesia, ada yang panik setengah mati.
“HAAA?? SIAAA!!”
“Apa yang kau lakukan?”
“Kenapa kau malah menjadikan kami sebagai bahan taruhan?”
“Aku tidak sudi jika harus bersama wanita itu,”
“Ya Sia, kau harus pikirkan baik-baik,”
“Bagaimana jika nanti dia menang dan….”
“Ssttt aku tidak akan kalah,” Scarlesia menutup menyentuh bibir Louis dengan jemarinya agar ia berhenti berbicara.
“Percayakan saja semuanya pada kakak, aku yakin kakak akan membawa kemenangan seperti sebelumnya,” sela Archie mempercayakan semuanya pada Scarlesia.
“Aahh adikku, kau memang yang paling mengerti aku,” ucap Scarlesia memeluk Archie.
Mereka menghembuskan napas masing-masing, mereka memilih pasrah dan mempercayakan semuanya pada Scarlesia.
“Oh iya, bagaimana jika aku yang menang? Kalau aku menang maka kau harus berjalan keliling istana dan pusat ibu kota dengan leher yang dikalungi tulisan ‘aku wanita murahan’. Kau setuju?” Scarlesia mengulurkan tangannya untuk berjabat.
Abigail merasa sangat percaya diri dan menerima jabatan tangan Scarlesia tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
“Setuju!”
Scarlesia dan Abigail segera bersiap-siap, Edward menyediakan mereka ksatria masing-masing 4 orang untuk membantu mereka saat berburu nanti. Seluruh orang sangat antusias menantikan perburuan ini dibanding dengan ujian-ujian sebelumnya.
“Kakak, pakai earpiecenya. Biar kalau ada sesuatu yang buruk terjadi, kami bisalangsung mengetahuinya,” ujar Archie memberikan earpiece kepada Scarlesia.
“Sepertinya earpiece ini agak berbeda dari sebelumnya, apa kau memperbaharuinya?”
“Iya, earpiece ini memiliki versi yang lebih tinggi dibanding sebelumnya. Jadi tolong dipakai untuk berjaga-jaga saja,”
__ADS_1
Scarlesia segera memasang earpiece tersebut di telinganya, Archie sungguh mempersiapkan secara matang sejak 2 hari sebelum diadakannya ujian berburu.
“Terima kasih Archie, setelah ini mari kita membuat hal yang lain lagi dan tentunya lebih berbeda,” kata Scarlesia mengelus puncak kepala Archie.
“Oke kakak, semangat! Semoga kakak bisa mendapatkan hasil buruan yang luar biasa,”
Eldrick menghampiri Scarlesia di kala ia sedang berbincang bersama Archie, tanpa banyak bicara Eldrick langsung memeluk putrinya itu.
“Berhati-hatilah, meski hutannya sudah diperiksa dan terbukti tidak ada apa-apa, tetap saja kau mesti berhati-hati. Sama seperti berburu sebelumnya, mereka bisa mencelakakanmu kapan saja mereka mau. Jangan sampai kalah dan jangan pernah kalah,” amanat Eldrick.
“Baik Ayah, aku mengerti,”
Setelah itu Edward menyuruh mereka untuk segera bersiap-siap masuk ke hutan, suara gong yang menggema menandakan bahwa perburuan sudah dimulai. Scarlesia melambaikan tangannya pada mereka yang berharap keselamatan serta kemenangan untuk Scarlesia.
Pada awal masuk hutan, masih belum ada tanda apa-apa. Semakin dalam menuju hutan, semakin terasa hawa dingin yang mencekam. Para ksatria yang mendampingi Scarlesia juga tidak berbicara apa pun sejak awal masuk hutan ini. Mereka hanya diam dan saling bertatap pandang, tidak ada satu orang pun yang berbicara pada Scarlesia. Di sinilah kejanggalannya, kejanggalan terletak pada para ksatria yang berjumlah empat orang tersebut.
Scarlesia menghentikan kudanya, ia berbalik menghadap mereka sambil menodongkan pistolnya ke arah ksatria itu.
“Katakan! Siapa kalian?”
Mereka semua tertawa miring dan ikut turun dari kuda masing-masing, Scarlesia merasa curiga terhadap gerak gerik mereka yang berbeda dari ksatria biasanya.
“Kalian suruhan Duchess Debora bukan? Haha sudah aku duga semuanya berjalan tidak semulus yang direncanakan,” ucap Scarlesia masih sempat tertawa kecil.
“Benar! Kami memang suruhan Duchess Debora. Anda sungguh pandai dalam menebak Yang Mulia. Kami diperintahkan oleh duchess untuk membunuh anda,”
Mereka tanpa ragu-ragu mengarahkan pedangnya pada Scarlesia tapi berhasil dihindari oleh Scarlesia sendiri. Beberapa kali mereka mencoba menyerangnya, tetap saja itu tidak berpengaruh apa pun.
“Sepertinya tidak ada cara lain lagi, kami akan menunjukkan kepada anda siapa diri kami sebenarnya,”
Para ksatria yang berada di hadapannya berubah menjadi sosok penyihir berjubah hitam pekat, mereka terlihat seperti penyihir hitam yang dulu pernah menjadi bawahannya Ratu Miranda.
“Ahh jadi begitu? Kalian adalah sisa-sisa dari bawahannya Miranda,” kata Scarlesia.
“Benar! Ratu Miranda yang sudah anda bunuh itu adalah atasan yang paling kami hormati tapi kau malah membunuhnya!”
“Ya itu sih salahnya sendiri, siapa suruh mencari gara-gara denganku? Jadinya aku murka kan,”
“KURANG AJAR!”
__ADS_1
Mereka menyerang Scarlesia secara bersamaan, tapi satu serangan sihir pun tidak ada yang bisa mengenai Scarlesia. Mereka semakin lama semakin kesal karena terkesan seperti sedang dipermainkan oleh Scarlesia yang bahkan tidak melancarkan satu serangan pun pada mereka.
“Tidak bisa seperti ini terus! KELUARKAN KOTAK PANDORA! KITA AKAN MENYEGEL WANITA INI DI DALAM KOTAK PANDORA!” titah salah seorang antara mereka.
“Kotak pandora? Menyegel? Apa yang mereka katakan?” batin Scarlesia mengamati apa yang sedang mereka coba lakukan pada Scarlesia.
Salah seorang dari mereka mengeluarkan sebuah kotak berbentuk kubus berwarna cokelat keemasan, di kotak itu juga terdapat ukiran-ukiran berbentuk seperti vignette. Kemudian mereka mengelilingi Scarlesia, salah satunya membaca mantra, tak lama setelah itu kotaknya terbuka dan membuat Scarlesia terserap ke dalam kotak tersebut.
“AARRRHHHH!!!”
Suara pekikan Scarlesia terdengar oleh Archie melalui earpiecenya, ia panik sesaat mendengar suara teriakan sang kakak.
“Kak Sia! Apa yang terjadi? Bisakah kakak menjawabku? Halo kak. KAKAKKK!!!”
Kepanikan Archie menyebabkan keributan di sana, mereka mengerumuni Archie untuk menanyakan apa yang sedang terjadi pada Scarlesia.
“Archie, apa yang terjadi? Apakah terjadi sesuatu yang buruk pada Sia?” tanya Aldert.
“Aku tidak tahu, aku mendengar kakak berbicara dengan beberapa orang. Mereka mengatakan kalau mereka adalah orang suruhan Duchess Debora yang dulunya merupakan bawahannya Ratu Miranda. Tidak lama setelah itu, aku mendengar suara teriakan kakak dan sekarang kakak tidak menjawab panggilanku,” jawab Archie menjelaskan situasinya pada mereka.
“Apa? Sia tidak menjawab panggilanmu? Coba sekali lagi panggil dia,” ujar Eldrick cemas.
Archie mencoba memanggilnya sekali lagi tapi masih tidak ada jawaban dari Scarlesia, pikiran mereka mulai pergi kemana-mana. Mereka khawatir bila terjadi sesuatu yang buruk pada Scarlesia. Sementara itu, Duchess Debora menyaksikan dari kejauhan kepanikan mereka, ia tersenyum penuh kemenangan.
“Aku rasa rencanaku berhasil,” gumam Duchess Debora.
“Apakah rencananya berhasil?” celetuk Rashid baru tiba.
“Ya, aku rasa rencananya berhasil. Wanita itu sudah berhasil disingkirkan,” ucap Duchess Debora.
“Dengan begini penghalang terbesar sudah berhasil tersingkirkan, jadi aku bisa lebih mudah menjalani rencanaku,” batin Duchess Debora.
Andreas dan yang lain menyadari bahwa ini adalah bagian dari rencana Duchess Debora. Mereka tidak bisa menahan hati lagi, mereka ingin segera menerjang masuk ke dalam hutan untuk membantu Scarlesia. Namun, niat mereka malah dihalangi oleh Xeon.
“Kalian diam saja di sini,” cegat Xeon.
“T-tapi Sia….”
“Aku tahu, tapi apa kalian pikir Sia akan mudah dikalahkan? Seharusnya kalian mengenalnya lebih baik kan? Gadis itu tidak akan pernah kalah dari manusia!”
__ADS_1