
“Sia, kami sudah ada di sini. Sekarang saatnya memokuskan pikiranmu, Ayah dan Ibu akan membantumu membunuh dewa kegelapan. Ingatlah, mulai hari ini segala penderitaanmu akan segera berakhir,” ucap Larissa.
“Sedikit lagi, kau akan menemukan ending bahagia untuk hidupmu, Sia. Jangan takut, jangan khawatir, kami berdua selalu berada di sekitarmu.” Eldrick turut menguatkan Scarlesia.
Lalu Scarlesia menarik napas pelan, dirinya seakan terisi oleh banyak energi positif. Jiwa-jiwa tersebut mengirimkan kekuatan mereka kepada busur suci Scarlesia. Saat ini seluruh kekuatan telah terkumpul, mereka mengerahkan segala upaya agar kekuatan busur suci tersebut terisi penuh. Bahkan dewa pencipta bersama para dewa dan dewi juga ikut mengirimkan kekuatan mereka pada Scarlesia. Sungguh besar harap yang ditanggung Scarlesia kala ini, mau tidak mau dia mesti membunuh Leroux dalam satu terjangan anak panah.
Busur suci itu telah membentuk anak panah, Scarlesia merasakan kekuatan melimpah dan terasa berat di tangannya. Kemudian Scarlesia menatap tajam ke arah Leroux, muka penuh serius Scarlesia terlihat cukup menakutkan.
“Kalian mau membunuhku? Hahaha aku tidak akan mati! AKU TIDAK PERNAH MAU MATI! AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SIALAN! AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNI KALIAN!” teriak Leroux histeris, dia meronta-ronta supaya terlepas dari segelannya. Akan tetapi, usahanya tampak sia-sia, sebab kekuatan penyegelan itu tidak bisa dia hancurkan dengan kekuatannya.
“Aku tidak butuh pengampunan darimu! Mati dan kembalilah menjadi debu. Keberadaanmu tidak akan pernah diterima lagi di alam semesta ini.”
Scarlesia melepas tarikan tali busurnya, anak panah yang telah diisi oleh kekuatan dahsyat melesat tajam ke arah Leroux.
DUAARR! BOOOMM!
Bahana ledakan menggema dan menggetarkan seluruh alam semesta bersamaan dengan anak panah yang mencapai tubuh Leroux. Seketika Leroux hancur dengan dentuman tersebut, dia hancur bak debu. Tidak ada celah baginya untuk selamat, dia membawa dirinya kepada kehancuran itu sendiri, lalu sekarang dia menuai segala
keburukan yang telah dia perbuat ke alam semesta ini. Berita kematian Leroux disebarkan oleh angin ke telinga makhluk hidup di dunia ini, semarak sorakan kemenangan diperuntukkan bagi Scarlesia.
“Akhirnya… AKHIRNYA KITA BEBAS!!”
__ADS_1
“KEGELAPAN TELAH MENGHILANG DARI ALAM SEMESTA!”
“HIDUP YANG MULIA KAISAR EVARISTE!”
“HIDUP YANG MULIA RATU ALAM SEMESTA!”
Senyum lega, haru, dan bahagia terukir di wajah keluarga, kekasih, teman, serta rakyat yang bersorak untuk Scarlesia. Akhirnya penderitaan Scarlesia selama lebih 2000 tahun ini terbayarkan dengan kemenangan di perang akhir ini. Nasib alam semesta sudah terselamatkan, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
Tubuh Scarlesia rasanya lemas, dia nyaris jatuh sempoyongan tapi kedua orang tuanya langsung merangkul bahu Scarlesia sebelum dia benar-benar terjatuh. Mereka pun membawa Scarlesia turun ke bawah, di sana sudah ada Carlen dan Aldert yang menanti.
“Perjuanganmu telah berakhir, kini saatnya kau beristirahat memikirkan masalah dunia. Tidak akan ada yang menyakiti putri kecilku lagi,” tutur Larissa, lalu pandangannya beralih pada Carlen dan Aldert. “Kalian berdua juga sudah berjuang dengan baik, terima kasih telah tumbuh menjadi anak sekaligus kakak yang luar biasa. Aku merasa lega kalian bertiga bisa hidup dengan akur dan saling melindungi satu sama lain.”
Larissa mendekap ketiga anaknya, dia begitu merindukan anak-anak yang dibesarkan sepenuh hati. Rasa rindu yang tidak akan pernah terobati, namun hari ini dia bisa menyentuh putra dan putrinya. Carlen, Aldert, dan Scarlesia menangis di dalam pelukan hangat sang Ibu, ketiganya kehilangan kasih sayang Larissa secara bersamaan. Kemudian Eldrick ikut masuk memeluk anak-anak serta istrinya. Sebuah kehangatan keluarga yang telah lama menghilang, tapi saat ini mereka kembali merasakannya.
“Kami berdua selalu memperhatikanmu dari jauh, hanya saja kalian tidak pernah menyadarinya. Dan juga aku sudah memukul Ayahmu yang sengaja mengabaikanmu selama beberapa tahun, walau itu demi kebaikanmu tapi aku tidak bisa membiarkannya.” Tangan Larissa terkepal erat, dia geram sebab selama ini dia tidak dapat melakukan apa-apa untuk Scarlesia.
“Haha itu benar Sia, Ibumu langsung memukul kepalaku begitu aku bertemu dengannya.” Eldrick tertawa kecil saat mengingat bagaimana dia bertemu dengan Larissa di alam akhirat, dia ingat betapa sakitnya pukulan Larissa kala itu. Bukan pelukan atau ciuman kerinduan yang dia dapatkan dari sang istri, melainkan sebuah pukulan serta omelan yang tidak berujung.
“Dan kau juga Aldert.” Larissa tiba-tiba saja memukul kepala Aldert dan membuatnya meringis kesakitan.
“Aduh Ibu, kenapa Ibu memukulku? Ini sakit sekali.” Aldert mengusap kepalanya yang sakit karena pukulan Larissa.
__ADS_1
“Kau masih menanyakan kenapa? Beraninya kau berkata kasar pada adikmu sendiri. Aku menemuimu di mimpi beberapa kali tapi aku menahan diri untuk tidak memukulmu,” oceh Larissa. Dulu Larissa sempat mengamuk di akhirat karena melihat tingkah Aldert yang memusuhi Scarlesia selama beberapa tahun.
“Ampun Bu, aku kan waktu itu tidak tahu kejadian pastinya. Aku sudah meminta maaf pada Sia,” melas Aldert.
Scarlesia, Carlen, dan Eldrick terkekeh menyaksikan Larissa memarahi Aldert habis-habisan. Eldrick pun memalingkan tatapannya ke arah Carlen, sifat mereka berdua terlalu mirip jika diperhatikan lekat.
“Selamat Carlen, sekarang kau sudah menjadi seorang duke. Kau mengemban segala tugasku dulunya, kau hebat menjadi seorang kakak sekaligus pemimpin keluarga.” Eldrick memuji kinerja Carlen serta tanggung jawab yang dia emban selama ini.
“Terima kasih Ayah, ini semua berkat Ayah yang selalu memberikan arahan untukku,” jawab Carlen.
Scarlesia sangat bahagia melihat keluarganya berkumpul setelah sekian lama, senyum girangnya tidak dapat berbohong.
“Kerja bagus juga Sia, sekarang dunia sudah aman terkendali,” sanjung Eldrick mengelus puncak kepala Scarlesia.
“Terima kasih, ini semua karena Ayah, Ibu, dan kakak yang selalu mendukung serta menyayangiku dengan tulus. Terima karena sudah menjadi keluargaku, terima kasih telah mengizinkan aku menjadi bagian dari kalian, dan terima kasih atas limpahan kasih sayang kalian padaku,” ungkap Scarlesia.
Penuturan Scarlesia membuat Ayah, Ibu, dan kedua kakaknya menitihkan air mata haru. Larissa mendekap Scarlesia sekali lagi, aroma khas sang Ibu yang sudah lama dirindukannya tercium kembali di penciumannya.
“Seharusnya aku yang berterima kasih karena sudah mengizinkan aku menjadi Ibumu di kehidupan sebelumnya hingga kehidupan sekarang. Jika nanti aku diminta menjadi Ibumu lagi, aku akan menyanggupinya. Aku bahagia memiliki anak sepertimu,” ujar Larissa.
Tidak tahu seberapa besar rasa syukur serta beruntung yang terucap di hati Scarlesia kala ini. Tidak ada hal lebih bahagia daripada rasa hangat yang dilimpahkan oleh orang terkasih. Setelah itu, Scarlesia beranjak mendekati Archie dan Kitty, mereka berdua memberikan pelukan hangat juga kepada Scarlesia. Erin juga seperti itu, dia menangis sejadi-jadinya meminta maaf sebab telah meninggalkan Scarlesia di dalam kehancuran.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, semua sudah terkendali sekarang.”
Itulah kata-kata yang berulang kali ia sampaikan kepada Erin, Archie, dan Kitty. Pancaran rasa sayang di sepasang manik-manik mereka sungguh membuat Scarlesia merasa bahwa dia telah disayangi oleh banyak orang.