
“Sudah aku lenyapkan,” jawab Scarlesia enteng.
“APA?? BAGAIMANA BISA KAU MELENYAPKAN ASAP PENGHISAP JIWA? ITU ADALAH KEKUATANNYA DEWA KEGELAPAN!”
“Lalu kau pikir aku tidak bisa melakukan apapun terhadap kekuatan itu? Aku ini lebih kuat dari yang kau bayangkan,”
Saat ini kondisi medan perang mengalami kekacauan besar oleh ulah raja monster, sebagian orang tidak sadarkan diri lalu sebagiannya lagi kekuatannya melemah akibat asap penghisap jiwa tersebut. Yang berdiri tegak hanyalah Xeon dan Scarlesia, sedangkan Andreas, Oliver, Louis, dan Elios sudah terlihat teramat lelah.
“Xeon, bisakah kau mengurus tongkat itu untukku?” tunjuk Scarlesia ke arah tongkatnya.
“Bisa, tapi apa yang akan kau lakukan? Aku bisa melawannya untukmu jadi kau tidak perlu buang kekuatanmu untuk melawan dia,” ucap Xeon.
“Benar itu Sia. Kau bisa mengandalkan kami kalau kau mau,” sambung Elios.
“Kau istirahat saja dulu, menggunakan kekuatan dewa waktu cukup menguras tenagamu kan?” lanjut Louis.
Scarlesia menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin melibatkan siapapun sekarang karena dirinya tidak tega melihat raut muka lelah dari pria-prianya. Scarlesia mengeluarkan kekuatan penyembuhannya untuk menambah stamina seluruh orang yang masih sadarkan diri.
“Kalian mundurlah ke belakang. KALIAN JUGA SEMUANYA MENJAUH DARI SINI! BAWA SEMUA ORANG YANG TIDAK SADARKAN DIRI!” perintah Scarlesia.
Ekspresi Scarlesia kian serius, tanpa banyak bicara semua orang menuruti perintahnya. Scarlesia tiba di puncak kemurkannya, melihat Zenon serta keluarganya tergeletak tidak sadarkan diri. Pandangan intimidasi Scarlesia membuat gemetar tubuh raja monster tersebut. Tekanan yang keluar dari Scarlesia juga membuatnya tidak bisa melarikan diri kemana-mana seolah-olah kakinya tertancap di atas tanah.
Xeon yang melihat adanya celah yang diciptakan oleh raja monster lekas beraksi untuk merebut tongkatnya. Benar saja raja monster itu tidak bisa bergerak sedikit pun sehingga ini mempermudah Xeon dalam merebut tongkatnya.
“Emosi Sia sekarang sedang tidak stabil. Semoga saja dia bisa mengendalikan amarahnya,” harap Xeon segera membawa kabur tongkat tersebut.
“K-k-kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan? Tekanan macam apa ini? Bahkan tekanan yang diberikannya setara dengan tekanan milik dewa kegelapan. Uuuhh tongkatku dibawa kabur oleh dewa takdir sialan itu,” gumam raja monster berusaha melepaskan diri tapi usahanya tidak berarti apa pun.
“Kau tidak akan bisa lari kemana pun sekarang!”
Scarlesia mengangkat tinggi-tinggi tangannya menghadap langit, warna langit berubah sesaat menjadi gelap. Petir menggelegar di atas langit, pusaran angin kencang menyapu habis hamparan tanah. Petir dan angin kencang tersebut menyerang raja monster hingga membuat tubuhnya semakin lemah. Tidak hanya sampai di situ saja, sekali lagi Scarlesia mengangkat tangannya. Dari balik awan muncul ribuan pedang-pedang yang berbalur cahaya.
“Gadis itu, apa kekuatannya benar-benar sebesar ini? Aku tidak mau mati di sini!”
Raja monster ketakutan kemudian merangkak mundur ke belakang, sekuju badannya gemetar.
__ADS_1
“KAU TIDAK AKAN BISA KABUR DARIKU SETELAH MELAKUKAN SEMUA INI!”
Scarlesia mengayunkan tangannya, ribuan pedang tersebut turun dari langit secara bersamaan. Pedang-pedangnya menghujani habis medan perang, raja monster terjebak di dalam hujan pedang itu. Tidak terhitung berapa jumlah pedangnya, dengan rasa murka yang tidak tertahankan, pedang-pedangnya berhasil menghujam dan menghunus tepat di tubuh raja monster.
Karena tubuh monster lemah terhadap cahaya, akhirnya tubuh si raja monster perlahan melebur menjadi abu. Scarlesia merasa tenang setelah dia membunuh raja monster dengan tangannya sendiri. Langit gelap pun segera kembali menjadi seperti semula, Scarlesia menatap menghadap ke arah matahari tenggelam dengan mimik muka lega.
“Jadi, sudah selesai ya? Syukurlah, aku berhasil menyelamatkan umat manusia. Syukurlah,”
“B-berhasil….”
“NONA BERHASIL MENGALAHKANNYA!”
“WOOOOO KITA MENANG!”
“TIDAK SALAH LAGI, KITA MEMENANGI PERANG INI!”
“HOREEE HIDUP NONA SCARLESIA! HIDUP NONA SCARLESIA! HIDUP NONA SCARLESIA!”
Sorak sorai bahagia bergemuruh di medan perang, sorakannya tertuju kepada Scarlesia yang masih berdiam diri di udara. Scarlesia memutar tubuhnya, dia memandang wajah bahagia serta lega seluruh orang. Melihat wajah bahagia mereka, membuat rasa letih di tubuhnya menghilang.
Di samping itu, Xeon mencoba mengeluarkan jiwa-jiwa yang terjebak di dalam tongkat tersebut. Orang-orang yang tidak sadarkan diri, kini sudah kembali ke kesadaran masing-masing termasuk Eldrick, Carlen, dan Aldert. Scarlesia segera turun dan langsung menghambur di pelukan sang Ayah, Carlen serta Aldert turut mendekapnya juga.
“Bagaimana ini? Jiwa Zenon tidak bisa kembali!” panik Xeon.
Scarlesia begitu mendengarnya langsung bergegas ke tempat Xeon, ia tengah panik bukan kepalang karena jiwa Zenon tidak bisa dia kembalikan.
“Kenapa Xeon? Kenapa jiwa Zenon tidak bisa dikembalikan? Bukannya tongkatnya sudah ada di tanganmu? Katanya kau bisa mengurusnya,” cerca Scarlesia cemas.
“Sia, aku lupa mengatakannya padamu. Zenon adalah jiwa yang kesepian,”
“Jiwa yang kesepian? LALU APA HUBUNGANNYA? TINGGAL KEMBALIKAN SAJA JIWANYA. APA SUSAHNYA?” teriak Scarlesia.
Xeon menggeleng pelan.
“Tongkat ini akan membuat jiwa yang kesepian tertahan lebih lama di dalamnya dikarenakan dia dibuat tersesat di dalam tongkat tersebut. Jiwa yang kesepian adalah jiwa yang paling mudah untuk ditahan serta dipengaruhi, aku tidak bisa melakukan apa pun untuk mengembalikannya,” jelas Xeon.
__ADS_1
“Tidak… tidak mungkin. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” lirih Scarlesia. Kedua tungkainya sudah lunglai tak bertenaga dan ia menjatuhkan tubuhnya perlahan di atas tanah.
Kemudian penjelasan Xeon terdengar oleh Andreas, Oliver, Louis, serta Elios dan segera mendekat. Scarlesia sudah tidak berdaya lagi, wajahnya pucat pasi karena efek kelelahan selama peperangan yang berlangsung selama hampir 8 jam.
“Apakah tidak ada cara lain untuk membawa jiwanya kembali?” tanya Oliver.
“Ada, ada satu cara untuk membawa jiwanya kembali,”
Scarlesia refleks menegakkan kepalanya, rasa lemasnya menghilang sekejap dan dia langsung menarik tubuhnya berdiri.
“Apa? Bagaimana caranya? Cepat beritahu aku Xeon!” desak Scarlesia.
“Masuk ke dalam tongkat ini, jemput jiwanya yang saat ini tersesat di dalamnya,” jawab Xeon.
“Kalau begitu… Kalau begitu biarkan aku yang melakukannya!” aju Scarlesia.
“Kau masih kelelahan setelah berperang. Kau tidak bisa melakukannya, kau butuh istirahat Sia! Tolong jangan paksakan dirimu,” larang Andreas menarik tangan Scarlesia.
“Lepas! LEPASKAN TANGANKU! JANGAN CEGAH AKU UNTUK MELAKUKANNYA!” bentak Scarlesia meminta Andreas melepaskan tangannya.
Air mata Scarlesia tidak lagi terbendung, melihat Scarlesia yang menangis akhirnya Andreas melepaskan pegangan tangannya.
“Sia….”
“Aku… Aku tidak mau lagi kehilangan salah satu dari kalian,” lirih Scarlesia.
Mereka semua tertegun mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Scarlesia.
“Apa… kau sudah ingat semuanya?” tanya Louis.
Scarlesia mengangguk pelan, kepalanya tertunduk dan air matanya menetes mencapai tanah. Mereka saling beradu pandang, satu hal yang mereka sadari bahwa mereka sama-sama pernah bertemu dengan Scarlesia di masa lalu.
“Hei kalian pernah bertemu Sia di masa lalu?” tanya Elios berbisik.
Mereka bertiga mengangguk serentak.
__ADS_1
“APA AKU SALAH MELAKUKANNYA? AKU HANYA INGIN MEMBAWA ZENON KEMBALI! BAGAIMANA BISA AKU MEMBIARKAN PRIA YANG SUDAH LAMA MENUNGGUKU MATI BEGITU SAJA?” sekali lagi Scarlesia berteriak histeris.
“Tolong Xeon… Mereka adalah pria yang aku cintai, aku tidak bisa membiarkan salah satunya menghilang begitu saja dari hidupku,”