Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Bertemu Sang Ibu


__ADS_3

“Sia anakku…”


Scarlesia tersentak mendengar suara yang sudah begitu lama dia dirindukan yang akhirnya bisa dia dengarkan kembali. Ia memutar tubuhnya dan mendapati sosok wanita berambut pirang di hadapannya tengah tersenyum padanya.


“Ibuuuu!!”


Ya, dia adalah Ibunya Scarlesia di kehidupan lalunya. Ia menghambur ke pelukan sang Ibu dengan tangisan harunya. Kerinduannya yang tidak terbendungkan akhirnya bisa tersalurkan, Ibunya mendekap erat putrinya.


“Ibu, kenapa Ibu meninggalkanku? Apa Ibu tahu bagaimana sulitnya aku berjuang sendirian? Aku takut sekali. Aku takuttt…” lirihnya.


“Ibu tahu, Ibu tahu kamu sudah berjuang begitu keras. Kamu menahan banyak penderitaan dalam perjalanan menuju dewasa tapi Ibu bangga karena Sia sudah mau bertahan walau sebenarnya kamu tidak mampu lagi untuk menahannya. Maafkan Ibu karena membiarkanmu tumbuh sendiri ya sayang,”


“Aku tidak pernah menyalahkan Ibu jadi Ibu tidak perlu minta maaf padaku. Aku hanya merindukan Ibu,”


“Ibu juga merindukanmu tapi kamu harus pergi dari sini segera Sia,”


Ibunya melepaskan dekapannya, ia memegang kedua pundak Scarlesia dan dengan tegas mengatakan bahwa dia harus pergi dari sini sekarang juga.


“Tapi Ibu…”


“Kamu harus tahu satu hal. Kehadiranmu ke duniamu yang baru ini bukan tanpa alasan, kamu akan tahu semuanya secara perlahan tentang siapa kamu dan siapa musuhmu. Xeon memintaku untuk menjemputmu dan ternyata benar kutukan jiwamu masih ada. Sekarang cepat pergi! Jangan biarkan kegelapan melahap jiwamu!”


Ibunya mendorong Scarlesia untuk pergi, asap yang sangat gelap mendekat ke arahnya.


“Bagaimana Ibu bisa kenal dengan Xeon? Tolong jawab pertanyaanku dulu Ibu,”


“Ibu tidak bisa menjawabnya sekarang. Kamu akan tahu seiring berjalannya waktu. Sekarang cepat lari!”


Scarlesia menurut, ia berlari sekencang mungkin tanpa melihat ke belakang. Dia tidak tahu alasannya tapi yang jelas saat ini Ibunya berusaha untuk menyelamatkannya.


Pada saat yang bersamaan di kamar Scarlesia, dia ditemani oleh dua pelayannya. Sedangkan para prianya, kakak, ataupun Ayahnya tengah berjaga di luar karena para pelayan pribadinya ingin mengganti pakaian Scarlesia.


“Nona menangis, apakah Nona bermimpi buruk?” tanya Hana mengusap air matanya.


Jemari Scarlesia tiba-tiba bergerak, kedua matanya yang terpejam terbuka dengan pelan. Hana dan Erin langsung mengabari Eldrick bahwa Scarlesia sudah siuman.


“YANG MULIA! YANG MULIA! NONA SUDAH SADAR,” teriak Erin.


Dalam sekejap semua orang berkumpul di kamar Scarlesia, Eldrick langsung menggenggam tangan putrinya.

__ADS_1


“Syukurlah. Syukurlah akhirnya kamu sadar Sia,” ujar Eldrick menangis haru.


“Ayah… Kenapa semua orang berkumpul di sini? Aku kan baru tidak sadarkan diri selama satu hari,” lirih Scarlesia teramat pelan.


“Satu hari apanya? Anda sudah tidak sadarkan diri selama satu minggu Nona! Anda tidak tahu bagaimana khawatirnya kami melihat anda tidak kunjung bangun,” omel Erin.


“EHHHH? SATU MINGGU? L-LALU BAGAIMANA DENGAN DAERAH BARAT?”


Scarlesia tersentak kaget, ia refleks duduk dan terbangun dari posisi tidurnya.


“Sudah Nona anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi karena semuanya sudah selesai. Berkat anda daerah barat selamat dan tidak ada korban jiwa,” ucap Erin mendorong tubuh Scarlesia untuk tidur kembali.


“Syukurlah…”


“APANYA YANG SYUKURLAH? INI KARENA ANDA TERLALU MEMAKSAKAN DIRI. SAYA SUDAH MENYURUH ANDA UNTUK ISTIRAHAT TAPI ANDA SEND….”


“Sudah Erin, sekarang kita keluar dulu. Kau tidak boleh memarahi Nona,” kata Hana membekap mulut Erin yang tengah memarahi Scarlesia serta mendorong Erin untuk pergi keluar.


“Erin semakin hari semakin cerewet,” gumamnya.


Scarlesia kemudian melirik semua orang yang tertinggal, suasana kamarnya sungguh muram dan tidak ada gelak tawa ataupun ceria.


“Sia, kamu tidak merasakan apa-apa di tubuhmu kan? Aku dengar dari dewa yang membawamu kemari….”


“Dewa? Tunggu tunggu. Kalian bertemu dengan Xeon?” tanya Scarlesia memotong perkataan Carlen.


Mereka semua mengangguk serentak.


“Aku hanya kelelahan karena kurang istirahat tapi sekarang aku sudah membaik. Aku yakin ini ulah permaisuri lagi yang ingin mencelakaiku,”


“Permaisuri semakin dibiarkan dia semakin terang-terangan melawan keluarga kita. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi,” geram Eldrick.


“Dia harus dilenyapkan secepatnya sebelum semakin membahayakan Sia,” ujar Zenon ikut geram.


“Tenang saja, aku sudah menduga permaisuri akan melakukan hal seperti ini. Aku tidak akan membunuh permaisuri secara langsung tapi aku akan menggunakan kaisar untuk membunuhnya,” seringai Scarlesia.


“Menggunakan kaisar? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Eldrick.


“Aku akan memberitahukannya nanti tapi apa tubuh Ayah baik-baik saja sekarang?”

__ADS_1


“Iya, aku sudah jauh lebih baik,” jawab Eldrick seraya tersenyum.


“Syukurlah, lalu dimana….”


Scarlesia mengedarkan pandangannya, dia seperti sedang mencari seseorang.


“Apa kamu mencari Aldert? Dia sekarang sedang menjalankan beberapa tugas. Mungkin nanti dia akan kembali,”


“Oh begitu…”


Tok tok tok


“Yang Mulia Duke dan Tuan Muda, anda berdua mendapat panggilan dari kaisar untuk segera menuju istana,”


Wilson mengetuk pintu kamar Scarlesia, ia datang memanggil Eldrick dan Carlen untuk segera berangkat ke istana karena kaisar memanggil mereka berdua. Akhirnya kini hanya tinggal Scarlesia bersama Louis, Andreas, Elios, Oliver, dan Zenon.


“Jadi, apa ada yang ingin kalian bicarakan denganku?” tanya Scarlesia bangun dari tidurnya.


“Hikss huwaaa Siaaa aku khawatir kamu tidak akan bangun lagi,” Louis menangis memeluk Scarlesia seperti seorang anak kecil.


“Aku juga khawatir Sia,”


Entah kenapa mereka semua menangis di hadapan Scarlesia, ia bingung melihat tingkah para pria yang tidak dia mengerti sama sekali.


“Hahh ya ampun aku sudah baik-baik saja. Kalian jangan menangis lagi, aku kan jadi bingung melihat kalian yang tiba-tiba seperti anak kecil begini,” ujar Scarlesia menghela napasnya.


“Iya Siaaa,”


Butuh waktu beberapa saat agar mereka tidak menangis lagi, karena wajah mereka terlihat lelah Scarlesia menyuruh mereka untuk beristirahat sebentar. Mereka menurut dan segera pergi ke kamar masing-masing, sekarang hanya tinggal Scarlesia sendiri di kamarnya.


“Sebenarnya bagaimana Ibu bisa kenal dengan Xeon? Lalu Ibu juga mengatakan mengenai kutukan. Jadi, kutukan apa yang dimaksud Ibu? Kemudian musuh yang sebenarnya itu siapa? Kalau bukan permaisuri ataupun kaisar apakah ada seseorang yang lebih kuat lagi di belakangnya?” pikir Scarlesia serius.


Scarlesia hanya berdiam diri di kamarnya karena dia tidak diizinkan keluar dari kamar sampai kondisinya benar-benar pulih kembali. Rasa bosan menyerangnya karena dia hanya bisa membaca buku sembari memikirkan langkah apa yang harus dia ambil selanjutnya. Pada malam harinya, mendadak mansion menjadi heboh.


“NONA, ANDA HARUS KELUAR SEKARANG!” seru Hana menggebrak pintu masuk kamar dan mengejutkan Scarlesia.


“Ya, tapi ada apa?” tanya Scarlesia bingung.


“Cepat Nona. Anda harus cepat karena Tuan Muda Aldert sedang terluka parah dan beliau ingin bertemu dengan Nona,”

__ADS_1


__ADS_2