
“Apakah kau pemilik asli tubuh ini?” tanya Scarlesia.
“Fufu sepertinya kau mengerti maksud tujuanku datang. Aku kemari untuk meminta kembali tubuhku, aku ingin kau mengembalikan semuanya kepadaku entah itu keluarga, uang, bahkan pria-pria yang kini bersamamu. Itu semua adalah milikku dan kau hanyalah jiwa dunia lain yang diundang masuk ke dunia ini untuk menggantikanku sementara waktu,”
Yang berdiri tepat di hadapannya kini adalah jiwa asli dari pemilik tubuh yang ia tempati sekarang. Terbesit keinginan diri ingin membawa kabur tubuhnya, tidak peduli berapa kalipun dia menepis rasa tersebut tetap saja ia disadarkan oleh fakta bahwa dia bukanlah siapa-siapa selain jiwa yang berasal dari dunia serta dimensi lain.
“Sebelum aku memberikan tubuh ini padamu, aku ingin bertanya apakah aku sudah berhasil menciptakan ending bahagia untukmu?”
Jiwa dari Scarlesia yang asli tertawa begitu mendengar kata ‘bahagia’, ia berjalan mengelilingi Scarlesia lalu ia berhenti tepat di belakangnya.
“Aku sudah bahagia sejak awal. Hanya saja para dewa dan dewi itu terlalu menyayangimu lalu mereka memberikan kesempatan kedua untuk menebus segala penderitaanmu pada kehidupan sebelumnya dengan cara memberikan tubuhku padamu. Seharusnya kau mengerti sejak awal, tidak ada yang namanya tugas dari dewa takdir untuk sebuah jiwa yang mati bunuh diri,”
Deg!
Suara jiwa asli Scarlesia yang berbisik di belakang telinganya terdengar tajam dan membuat bulu kuduknya merinding, Scarlesia mematung dalam waktu yang cukup lama, mencoba mencerna apa maksud dari perkataannya.
“Lalu bagaimana dengan ingatan dari kekuatan yang dewa dewi berikan untukku?” tanyanya sekali lagi.
“Tentu saja mulai sekarang semua itu adalah ingatan milikku. Ingat! kau hanya menumpang di tubuhku dan sekarang kembalikan semuanya padaku,” pintanya agak menekan bicaranya.
“Baiklah. Kalau begitu bisakah kau menggantikanku untuk melindungi semua orang di kediaman ini? Tidak hanya di kediaman bahkan orang-orang di kekaisaran ini juga. Kau harus menggantikanku dan melanjutkan tanggung jawabku,” ujar Scarlesia.
“Untuk apa? Bukannya pria-pria itu bisa melakukannya? Aku tidak akan mengerjakan hal yang merepotkanku,” jawabnya merendahkan.
“Kalau kau tidak bisa melakukannya, maka jangan harap kau bisa mendapatkan tubuh ini kembali,” ancam Scarlesia.
“AHHH KAU BANYAK OMONG!”
Jiwa asli Scarlesia tersebut meletakkan tangannya di dada tubuh Scarlesia hingga membuat jiwanya terlempar keluar.
__ADS_1
“Awww,” rintihnya tersungkur ke dinginnya lantai. Dia segera bangkit dan berbalik menghadap cermin, dari pantulan cermin dia bisa melihat sendiri rambut pirang panjangnya serta mata birunya. Penampilannya yang dulu kini ia pakai kembali, Fyrensia itulah namanya sekarang dan dia bukan lagi Scarlesia.
“Fyrensia, tugasmu sudah selesai jadi sekarang kau boleh pergi kemana pun yang kau mau,” ucap Scarlesia kepada Fyrensia.
Ada secercah perasaan tidak rela tapi dia tetap harus melakukannya, Fyrensia membuka jendela kamar kemudian melompat ke bawah tanpa ragu-ragu. Dia tidak punya alasan apapun lagi untuk berada di sini, di tengah angin kencang dia berjalan tanpa menggunakan alas kaki.
“Harus kemana lagi aku sekarang? Aku hanyalah sebuah jiwa yang tidak akan bisa dilihat oleh mata telanjang manusia,” gumamnya.
Fyrensia terus berjalan tanpa tahu arah dan tujuan pasti, meskipun dia hanyalah sebuah jiwa tanpa wadah tetap saja dia merasakan kedinginan karena terpaan angin.
“Jujur saja ini menyakitkan untukku, dipanggil ke dunia yang asing bagiku lalu berusaha mengubah nasib seorang gadis dan setelah semua itu aku lakukan, aku yang menjadi terbuang. Sebenarnya apa tujuan dewa dan dewi melakukan ini padaku? Anak kesayangan? Hahh sepertinya itu hanya omong kosong belaka,”
Ketika di pagi harinya, Paviliun Kirin dikagetkan oleh sikap Scarlesia yang berubah total. Seluruh barang-barang, tataan pajangan serta hiasan semuanya dihempaskan oleh Scarlesia ke lantai. Keadaan kamarnya menjadi kacau, beling-beling berserakan dimana-mana, bahkan kosmetik yang rutin digunakan pun juga turut dihancurkan.
“Ada apa dengan Nona? Kenapa hari ini Nona terlihat sangat berbeda?” bisik Erin kepada Hana.
“HARIMAU PUTIH INI KENAPA BISA ADA DI SINI? USIR DIA KELUAR!” bentak Scarlesia menyuruh Erin dan Hana untuk mengusir Kitty.
“Tapi Nona, Kitty….”
“AKU TIDAK MAU MENDENGAR PENJELASAN APAPUN! CEPAT BAWA HARIMAU PUTIH INI KELUAR! MENJIJIKKAN,”
Erin sontak kaget mendengar Scarlesia membentaknya padahal sebelumnya dia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh majikan yang selama ini dia layani. Dengan air mata yang tertahan keluar, Erin membawa Kitty untuk segera keluar dari kamar. Kitty pun juga merasa heran dengan perubahan drastis Scarlesia.
“Aku merasa asing dengannya bahkan dia tidak bisa mengerti ucapanku. Apa dia bukan Sia yang asli? Tidak bisa dibiarkan! Aku harus mencari tahu sendiri karena saat ini aku tidak bisa menghubungi dewa hewan dan juga Xeon. Aku harus menyelidikinya segera,” batin Kitty berlari cepat menuju luar kediaman.
Saat Erin kembali lagi masuk ke dalam kamar Scarlesia, dia menyaksikan Scarlesia tengah menampar Hana dan memarahinya.
“Apa yang kau lakukan selama ini? Apa yang sebenarnya kau kerjakan? Kenapa kamarku bisa didesain dengan warna cerah begini? Aku tidak mau tahu ya, kalian berdua harus mendekor ulang kamar ini dengan warna yang agak gelap! Awas saja kalau kalian tidak becus mengerjakannya,” marah Scarlesia menunjuk-nunjuk Erin dan Hana lalu dia beranjak keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Erin pun segera membantu Hana untuk berdiri, sekujur badannya bergetar karena takut pada kemarahan Scarlesia.
“Erin, aku merasakan kalau dia bukanlah Nona kita,” ungkap Hana.
“Aku juga, entah kenapa aku melihat wajahnya tidak secantik biasanya. Sikapnya juga berubah drastis, apa jangan-jangan dia bukan Nona?” terka Erin.
“Aku tidak tahu, dia lebih mengerikan dan aura yang dikeluarkannya sangat kelam,”
“Lalu tatapan matanya kejam seperti bukan seorang manusia,” tambah Erin.
“Kita harus cari tahu soal ini, kalau memang benar dia bukan Nona lalu kemana perginya Nona kita?” ujar Hana bertanya-tanya.
“Apa mungkin….”
“HEI! APA YANG SEDANG KALIAN OBROLKAN? CEPAT KERJA SANA!” perintah Scarlesia membentak mereka berdua sekali lagi.
“BAIK NONA!”
Scarlesia melanjutkan kembali langkahnya yang tadi terhenti, dia berencana untuk mengunjungi Oliver, Andreas, Louis, Elios, serta Zenon. Pertama-tama dia merapikan rambutnya sebelum mengetuk masuk pintu kamarnya Oliver.
“Oliver, apa kau ada di dalam? Bolehkah aku masuk?” tanya Scarlesia.
“Sia ya? Ya sudah masuk saja,” sahut Oliver dari dalam.
Scarlesia membuka pintu kamar Oliver, dia menemukan Oliver tengah sibuk dengan beberapa dokumen sihir di meja kerjanya. Scarlesia langsung memeluk Oliver dari belakang, hal ini membuat Oliver sedikit terkejut karena Scarlesia sebelumnya tidak pernah melakukan yang seperti ini padanya.
“Ada apa Sia? Apa ada yang ingin kau katakan padaku?” tanya Oliver.
“Tidak ada. Hanya saja sekarang aku menginginkan tubuhmu,”
__ADS_1