
Sorakan rakyat menggema ke setiap sudut Evariste, tanah bergetar karena teriakan dan sorakan tersebut. Besar harapan yang mereka taruh pada Scarlesia, mereka mengharapkan Scarlesia menjadi pemimpin mereka ke depannya. Situasi yang membuat merinding sekujur badan, hewan pun ikut bersorak untuk Scarlesia.
Para bangsawan tidak bisa memberikan komentar, pemandangan yang tidak pernah mereka lihat. Bagaimana riuhnya dan antusiasnya rakyat memilih pemimpin mereka sendiri, mereka menuntut Scarlesia untuk menempati posisi kaisar selanjutnya. Duchess Freya dan Marchioness Liana ikut merasakan perasaan merinding di diri mereka.
“Luar biasa! Rakyat biasanya tidak pernah mempedulikan siapa pemimpinnya asalkan hidup mereka sejahtera tapi lihatlah sekarang. Apa yang mereka pikirkan? Mereka rela meninggalkan pekerjaan mereka hanya untuk bersorak agar kaisar segera memberikan posisi kaisar selanjutnya pada Yang Mulia Scarlesia,” tutur Marchioness Liana.
“Ini adalah pertanda bahwa gadis itu adalah pemimpin yang salama ini mereka nantikan kehadirannya. Kita bisa lihat dengan jelas sekarang kualitas dirinya sebagai pemimpin, aku yakin Evariste akan semakin makmur bila diperintah olehnya. Haha apa-apaan ini? Anabela melahirkan putri yang luar biasa. Masalah daerah utara yang tidak bisa kita selesaikan berhasil diselesaikan olehnya hanya dalam waktu tidak sampai dua bulan,” ucap Duchess Freya.
Edward tertegun sesaat mengamati betapa antusiasnya rakyat dalam pemilihan pemimpin mereka sekarang. Sebuah pemandangan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, rakyat terus mendesaknya memilih Scarlesia sebagai kaisar dan dituntut tidak memberikan ruang untuk Abigail memimpin.
“Aku tidak boleh ragu hanya karena pendapat bangsawan saja, aku harus mementingkan rakyat juga. Mereka begitu menginginkan Sia untuk memimpin mereka, padahal aku sudah tahu sejak awal bahwa Sia adalah orang yang tepat menggantikan posisiku. Aku akan memilihnya menjadi kaisar pembawa kedamaian lebih bagi Evariste,” batin Edward.
Di tengah keributan yang diciptakan oleh rakyat biasa, Qirani bersama Feodor serta Lucas dan Victor datang menghampiri mereka semua.
“Edward, kau tidak boleh memilih Abigail menjadi kaisar. Kau tidak boleh ragu, Sia harus menjadi kaisar!” desak Qirani.
“Jangan pedulikan apa yang dibilang oleh bangsawan, kau membawa Sia kemari untuk menjadi kaisar lalu kenapa sekarang kau malah ragu? Kau hanya perlu menurunkan posisi itu padanya, masalah ke depannya biar Sia yang mengurusnya,” sambung Feodor.
“Tidak bisakah kau melihat wajah rakyat kita? Lihat bagaimana mereka berharap agar Sia menduduki singgasana kaisar. Jangan pernah pilih wanita memalukan dan menjijikkan seperti dia,” sarkas Qirani menatap tajam Abigail.
“Baik Ayah, Ibu,”
Edward menarik napasnya bersiap segera mengumumkan putri mahkota yang memenuhi kriteria menjadi kaisar berdasar pada hasil ujian yang diadakan sebelumnya.
“Tidak! Tidak bisa! Apa aku kalah? Aku kalah sekarang? Wanita itu pemenangnya?” Abigail berdiri dalam perasaan penuh keresahan.
“TERIMA KASIH UNTUK KALIAN YANG SUDAH MENYUARAKAN PENDAPAT SERTA ISI HATI KALIAN SEMUA. DENGAN MEMPERTIMBANGKAN HASIL UJIAN YANG TELAH DIADAKAN, DENGAN INI SAYA RESMI MENYATAKAN DAN MENGANGKAT SCARLESIA SEBAGAI PUTRI MAHKOTA EVARISTE,”
__ADS_1
Mendengar pengumuman dari Edward, Kekaisaran Evarister bergaung meriah diiringi suara tepuk tangan dan suara sorakan gembira dari seluruh rakyat. Ini adalah kemenangan Scarlesia serta kekalahan telak Abigail. Duchess Debora menggeram sakit hati sebab semua rencananya yang ingin menjadi kaisar Evariste pudar dan hancur.
“Sia, kau dengar itu? Sekarang kau resmi menjadi putri mahko….”
Di sela keramaian orang yang ribut berbahagia untuk dirinya, Scarlesia tiba-tiba oleng tak sadarkan diri, Xeon langsung menangkap tubuh Scarlesia agar tidak terjatuh ke tanah.
“Sia! Bangun Sia!”
Semua orang panik seketika, Aldert merebut Scarlesia dari Xeon dan segera menggendongnya.
“PANGGIL DOKTER CEPAT!” perintah Qirani.
Aldert berlari masuk ke dalam istana menuju kamar Scarlesia diikuti oleh Eldrick dan Carlen dari belakang, lalu disusul lagi oleh Archie serta para prianya. Qirani dan Feodor cemas setengah mati, Lucas pergi mencarikan dokter terpercaya, sedangkan Edward bersama Victor tengah mengkondisikan kegaduhan akibat pingsannya Scarlesia yang membuat seluruh rakyat ikut shock.
“Bagaimana keadaan anak saya?” tanya Eldrick pada dokter yang memeriksa Scarlesia.
Mereka semua serentak menghela napas lega, dokter tersebut kemudian memberikan resep ramuan serta memberitahu Hana makanan apa saja yang harus dimakan oleh Scarlesia untuk menambah staminanya.
Scarlesia tumbang karena terlalu memaksakan dirinya menggunakan kekuatannya selama 3 hari tanpa berhenti. Alhasil sekarang dia terkapar di atas tempat tidur dalam kondisi tidak sadarkan diri. Baru saja ia ditetapkan sebagai putri mahkota tapi nasib buruk sudah menimpa dirinya, akibatnya banyak orang yang khawatir padanya. Tidak hanya penghuni istana, rakyat biasa dan para pendukung dari kalangan bangsawan juga turut mengkhawatirkan dirinya.
Selama dua hari berturut-turut, ramai surat berdatangan dengan hadiah untuk Scarlesia. Surat dan Hadiah itu ditujukan sebagai ucapan kekhawatiran pada Scarlesia lalu do’a supaya Scarlesia cepat sembuh dan bisa beraktivitas kembali seperti biasa.
“U-uhh….” Scarlesia mencelikkan matanya perlahan, ia mendapati dirinya terbangun di atas tempat tidur dalam kondisi tubuh terasa lebih fresh dibandingkan dua hari yang lalu. Dia mencoba menggerakkan tangannya sebelah kiri tapi terasa berat, kemudian dia melirik ke tangannya dan menemukan Aldert sedang tertidur pulas karena menjaganya selama dua hari ini. Scarlesia menarik tangannya hati-hati agar Aldert tidak terbangun, namun percuma saja Aldert bangun begitu ia menarik tangannya.
“Sia, kau sudah sadar? Aku panggilkan dokter ya,”
“Tidak usah kak, aku sudah lebih baik dari sebelumnya,” tolak Scarlesia bangun dari posisi tidurnya.
__ADS_1
“Sungguh?”
Scarlesia menganggukkan kepalanya, Aldert lekas mengambilkan minum untuk Scarlesia.
“Ini minumlah,”
Scarlesia menerimanya dan meneguk habis segelas air minumnya. Scarlesia memperhatikan Aldert, terlihat ada yang berbeda darinya, ekspresi wajahnya penuh kegelisahan tak berarti.
“Kak, apakah ada masalah? Kalau ada masalah kakak bisa ceritakan padaku,” tanya Scarlesia.
“Tidak, tidak ada masalah. Hanya saja… hanya saja….”
Aldert menundukkan wajahnya, ia menggenggam tangan Scarlesia erat.
“Apa itu susah untuk dibicarakan?”
“Hanya saja beberapa hari yang lalu aku bermimpi bertemu Ibu. Ibu berpesan agar aku menjagamu dan mengatakan akan terjadi hal besar yang membuatmu terpuruk. Jika itu terjadi aku harus membantumu untuk bangkit lagi, aku tidak tahu apa maksud perkataan Ibu. Aku selalu memikirkannya beberapa hari ini, aku takut karena aku bukanlah kakak yang baik bagimu. Aku sudah banyak melakukan kesalahan dan….”
“Angkat wajahmu kak, lihat mataku sebentar,” potong Scarlesia, Aldert mengangkat wajahnya sesuai pinta Scarlesia.
“Kakak sudah menjadi saudara yang baik untukku, aku sudah melupakan dan memaafkan segala sesuatu yang terjadi di masa lalu. Dulu aku pernah memiliki saudara laki-laki tapi mereka tidak sebaik kakak dan Kak Carlen. Mereka menyakitiku dan membiarkan aku tersiksa sampai rasanya mau mati, di kehidupan dulu aku juga pernah dijual demi harta, tapi di sini berbeda. Aku beruntung memiliki saudara seperti kakak,” ungkap Scarlesia menenangkan hati Aldert.
Air mata Aldert tumpah membasahi kedua pipinya, dia refleks mendekap tubuh Scarlesia.
“Maafkan aku… maaf Sia….” lirihnya.
“Ya, aku sangat beruntung memiliki keluarga seperti kalian. Ibu pasti bahagia mendapatkan suami serta anak-anak yang menyayanginya. Tidak seperti kehidupan dulu Ibu diabaikan dan hanya aku yang mempedulikan, namun kehidupan Ibu di sini berbeda. Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi, aku akan melindungi kalian segenap jiwa, keluargaku tercinta,”
__ADS_1