
“Apa kau juga memasukkan Xeon ke dalam haremmu?” tanya Elios.
Scarlesia menoleh ke arah Xeon, tampaknya Xeon juga ingin tahu jawaban Scarlesia.
“Aku ingin memasukkannya, tapi apa Xeon mau? Dia kan dewa, masa aku menikahi dewa. Apakah boleh?”
Mereka menatap Xeon serentak, muka Xeon merah padam sesaat Scarlesia melontarkan pertanyaan tersebut. Dia menutupi wajahnya menggunakan kertas daftar kandidat selir yang sedari tadi ia pegang. Mereka butuh jawaban, Scarlesia juga lebih butuh jawaban pasti agar dia bisa tahu juga isi hati Xeon sebenarnya.
Xeon tidak kunjung menjawabnya, dia sangat tersipu malu hingga suaranya tidak bisa keluar. Lalu tiba-tiba Xeon berlari ke luar kamar tanpa merespon pertanyaan Scarlesia.
“Kenapa Xeon keluar? Apa mungkin dia tersinggung karena pertanyaanku?” tanya Scarlesia terheran-heran.
“Sepertinya bukan karena itu.”
Sedangkan kini Xeon pergi ke kamarnya, wajahnya memerah sempurna bak sebuah tomat matang. Xeon langsung merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, rasa malunya belum berkurang sedikit pun. Di kepalanya terngiang-ngiang suara dan wajah Scarlesia, pertanyaan Scarlesia meracuni dirinya serta membuatnya gila.
“Menjadi selir katanya? Apa-apaan gadis itu? Kenapa dia mengatakannya dengan enteng? Apa dia tidak mempertimbangkan hatiku yang hampir meledak karenanya?” gumam Xeon.
Sebuah gambaran tentang ia dulu berciuman dengan Scarlesia terlintas masuk ke pikirannya. Xeon segera menghalau pikiran itu, dia tidak ingin terhanyut terlalu lama di pikiran yang menurutnya kotor.
“Dasar gadis tidak punya hati! Sejak dulu dia memang suka begitu, aku juga tidak bisa menyangkalnya. Sebenarnya aku juga penasaran apakah aku boleh menikahi Sia? Pengantin yang ditetapkan oleh dewa pencipta hanya lima orang. Apa aku boleh menjadi bagian dari mereka? Aku selalu ingin mengetahuinya.”
Beberapa jam setelah itu, langit siang menuju senja dan ini saatnya bagi mereka untuk beraksi sesuai rencana yang sebelumnya sudah mereka susun. Untuk aksi kali ini Scarlesia menyerahkan sepenuhnya kepada mereka, ia disuruh berdiam diri saja di kamar dan menunggu hasilnya. Kini mereka terbagi dalam tiga kelompok, yang pertama Andreas dan Zenon, kedua Oliver dan Louis, lalu ketiga Elios dan Xeon. Masing-masing mereka mendatangi kurang lebih 15 orang calon kandidat selir Scarlesia.
Sekarang di alun-alun kota Andreas dan Zenon mencari target, mereka berkeliling untuk memastikan target pertama mereka yaitu salah satu bangsawan yang cukup terkenal karena sifat buruknya. Mereka berdua berjalan menuju sebuah bar, di sana ramai sekali pria tengah bermabuk-mabuk ria. Di saat mereka tengah mencari targetnya, tiba-tiba saja ada seorang pria yang diperkirakan adalah targetnya sedang membicarakan Scarlesia.
“Hahaha aku sebentar lagi akan masuk ke istana selir Yang Mulia Putri Mahkota.”
“Benarkah? Apa kau yakin akan lolos dalam seleksi pemilihan selir nanti?”
__ADS_1
“Hei apa kau lupa siapa Ibuku? Ibuku adalah Countess Abony yang terkenal karena kekayaannya di Evariste. Ibuku bilang akan membantuku sebisa mungkin untuk masuk ke istana selir.”
“Enaknya jadi kau, kalau berhasil masuk ke istana selir itu akan menguntungkan sekali. Apalagi Yang Mulia Putri Mahkota terkenal oleh kecantikannya tiada tara.”
“Tentu saja aku beruntung, selain itu apa kalian tidak lihat tubuhnya? Jarang ada wanita mempunyai tubuh sebagus dia. Aku ketika melihatnya pertama kali langsung terpesona, bagian dadanya juga membuatku menelan ludah. Ahh semua pria pasti akan berhasrat saat melihat tubuh seksinya itu.”
“Aku juga berpikiran seperti kau, bagian dadanya terlalu menonjol.”
“Nah kan, laki-laki mana yang tidak memiliki pikiran seperti kita? Tidur bersama Yang Mulia Putri Mahkota adalah sebuah anugerah, aku benar-benar tidak sabar menantikannya. Aku ingin segera meraba seluruh tubuhnya.”
Pembicaraan kotor mereka membuat Andreas dan Zenon naik darah, mereka tidak ingin mendengarnya lebih jauh lagi. Tidak menunggu lama, mereka berdua menerjang mereka yang berbicara kotor tentang Scarlesia. Mereka kehilangan kendali diri, bar tersebut langsung berubah menjadi tempat yang berantakan. Zenon mencengkram kuat baju pria itu, Andreas mengarahkan pedangnya pada mereka yang tadi ikut membicarakan Scarlesia.
“S-siapa kalian?” tanya pria itu ketakutan setengah mati.
“Kalian tidak perlu tahu siapa kami, berani-beraninya mulut kalian membicarakan tentang tubuhnya Sia!” tekan Zenon.
“Apa kalian sudah bosan hidup? Lidah kalian seharusnya aku potong saja lalu mata kalian aku congkel biar tidak bisa melihat dan membicarakan tentang Sia lagi!” gertak Andreas.
Pria itu masih sempat-sempatnya berbangga diri di hadapan Zenon dan Andreas, dia tidak tahu bahwa sekarang nyawanya lah yang terancam hilang akibat berani membuat mereka marah.
“Aku tidak peduli kau anak siapa! Tapi yang jelas mulai sekarang kau tidak akan pernah menjadi selirnya Sia. Kubur saja dalam-dalam mimpimu itu!” balas Zenon memperkuat daya cengkramannya.
“Heukkk. Lepaskan aku sialan!” ronta pria itu.
“Aku akan melepaskanmu kalau kau sudah mati.”
Pria itu mulai merasakan panas di tubuhnya, panas itu berasal dari kekuatan naga milik Zenon. Panasnya sungguh tak tertahankan, pria tersebut segera minta dilepaskan namun Zenon tidak mendengarkannya.
“Maafkan aku! Aku sungguh minta maaf. Sekarang katakan apa yang kau inginkan. Aku akan mengabulkannya asalkan kau melepaskanku.”
__ADS_1
“Mengundurkan diri dari seleksi pemilihan selir,” ujar Andreas.
“Apa?”
“Kau dengar kata temanku ini? Kau harus mengundurkan diri dari seleksi pemilihan selir. Dengan begitu aku akan melepaskanmu, tapi kalau kau menolak untuk mengundurkan diri maka jangan harap kau bisa hidup,” ancam Zenon.
“B-baiklah! Aku a-akan mengundurkan diri dari seleksi pemilihan selir.”
Zenon melempar tubuh pria itu ke lantai begitu dia menyetujui kesepakatannya, pria itu akhirnya bisa lolos dari maut. Kemarahan Andreas dan Zenon mereda seketika satu targetnya berhasil mereka buat mundur.
“Pilihan yang bagus. Kalau kau tidak menyetujuinya mungkin tubuhmu sudah aku bakar sedari tadi. Sudah Andreas, ayo kita pergi sekarang,” ajak Zenon berjalan keluar dari bar.
“Awas saja kalau kalian berbicara tidak senonoh tentang Sia lagi, aku akan potong tubuh kalian dengan pedang ini,” ancam Andreas seraya menodongkan pedangnya.
“Y-ya, k-kami mengerti.”
Satu target tersingkirkan, kini mereka beralih pada target selanjutnya. Begitu pula dengan yang lain juga melakukan hal yang sama seperti Andreas dan Zenon. Aksi mereka pun selesai tepat di tengah malam, semua kandidat selir berhasil mereka buat mundur hanya dalam waktu beberapa jam saja. Sekarang mereka kembali ke istana bersama-sama, namun sebelum itu mereka berbagi cerita terlebih dahulu.
“Kalian tahu? Semua kandidat selir yang aku temui tadi memiliki niat yang tidak baik pada Sia,” gerutu Louis.
“Aku juga sama, rata-rata mereka menginginkan tubuhnya Sia. Mereka mengatakan tubuh Sia terlalu bagus dan membuat mereka berhasrat,” ucap Elios ikut menggerutu.
“Sepertinya mereka dibutakan oleh hasrat, pikiran kotor mereka itu membuatku jijik. Bagaimana bisa mereka menjadi selir hanya mau tubuhnya Sia saja?” sambung Oliver.
“Mungkin itu karena selama ini Sia memakai pakaian yang cukup terbuka di bagian dada dan ketat di bagian pinggang. Banyak pria akan tergoda oleh itu semua,” ujar Xeon.
“Berarti mulai sekarang kita harus melarang Sia mengenakan pakaian yang terbuka, aku tidak bisa membiarkan hal ini berlangsung lebih lama lagi,” kata Zenon.
“Kalau aku mendengar mereka berbicara seperti itu lagi, aku pastikan tubuh mereka terpotong-potong tanpa ampun,” tekan Andreas.
__ADS_1
“Ya benar, mulai sekarang kita memang harus melarang Sia memakai pakaian yang terbuka dan mengundang perhatian. Tidak ada yang boleh melihat tubuh indah Sia selain kita.”