Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Cyrill Kembali Datang


__ADS_3

“Oke, kami sudah paham sekarang mengenai masalah pria bernama Cyrill ini. Sekarang kita harus meningkatkan keamanan untuk menjaga Sia. Tapi bagaimana caranya?” tanya Oliver.


“Aku punya satu cara,”


Kemudian mereka bersama-sama pergi ke kamarnya Scarlesia, masih sama seperti sebelumnya Scarlesia masih tertidur pulas dan tidak bangun meski terdengar langkah kaki mereka masuk ke dalam kamarnya.


“Kenapa kita ke kamar Sia?” bisik Carlen bertanya.


Mereka berdiri mengelilingi tempat tidur Scarlesia, lalu Xeon menyuruh mereka untuk mengulurkan tangan masing-masing. Masih tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh Xeon, tapi mereka memilih untuk mempercayainya. Tak lama setelah itu, banyak benang merah yang keluar dari jantung Scarlesia, satu-satu benang merahnya melilit erat tangan mereka.


“Untuk apa ini?” heran mereka.


“Dengan begini kita akan tahu jika Sia berada di dalam bahaya, benangnya akan berubah menjadi gelap bila Sia masuk ke dalam bahaya yang sulit dia tangani,” jelas Xeon.


Mereka manggut-manggut mengerti, selepas itu mereka beranjak pergi meninggalkan kamar Scarlesia dengan langkah kaki berhati-hati supaya tidak membangunkan Scarlesia.


Sudah lewat 2 hari semenjak kejadian di malam penobatannya, kini saatnya menyaksikan proses eksekusi Duchess Debora, Pangeran Rashid, dan beberapa antek-antek mereka. Eksekusi akan dilaksanakan di hadapan seluruh rakyat, mereka sangat antusias menunggu datangnya hari ini. Penampilan mereka sangat berantakan, raut wajah mereka tampak pasrah akan nasib yang mereka terima, Scarlesia duduk di sebelah kursi permaisuri untuk menonton jalannya eksekusi dari atas sejajar panggung eksekusi.


Hukuman yang mereka terima berupa hukuman pancung, kejahatan mereka sudah terlalu banyak jadi hanya hukuman pancung yang pantas untuk mereka.


“Yang Mulia, bisakah kita memulai eksekusinya sekarang?” tanya salah seorang pekerja pengadilan pada Edward.


“Ya, lakukan sekarang,” titah Edward.


Rakyat yang datang sudah mulai ribut, mereka berteriak-teriak agar eksekusi segera dilaksanakan. Alun-alun kota sungguh ramai orang saat ini, suara gaduh dari teriakan mereka membuat jadwal eksekusi sedikit dimajukan. Scarlesia menikmati tontonan seperti ini, dia tak berhenti menyeringai ke arah Duchess Debora.


“Ini adalah hukuman yang setimpal untuk kalian, setelah mati nerakalah yang menunggu kedatangan kalian,” batin Scarlesia.


Duchess Debora dan Pangeran Rashid tidak diberi kesempatan untuk mengucapkan beberapa kata sebelum mereka dieksekusi. Alat pancung yang tajam langsung bertindang memutuskan kepala mereka dari badan masing-masing. Semua orang bersorak gembira seketika melihat mereka mati tepat di hadapan mereka semua.


“Sudah Erin, Hana, ayo kita pulang sekarang,” ajak Scarlesia.


Scarlesia kembali masuk ke dalam istananya, dia duduk santai di atas meja riasnya sembari memperhatikan wajahnya di pantulan cermin di depannya. Tangannya sebelah merogoh laci kecil di meja riasnya, sebuah kotak berwarna merah muda ia keluarkan dari sana. Dia membuka kotaknya dan ternyata berisi kotak kecil di dalamnya ada kalung permata terukir namanya. Lalu ada perhiasan-perhiasan keyangan Ibunya dulu, kotak ini diberikan oleh Eldrick kemarin karena dia menemukan kotaknya di lemari milik Ibunya.

__ADS_1


“Ayah bilang ini adalah barang berharga milik Ibu, kemudian kalung ini adalah kalung yang dipersiapkan Ibu untuk ulang tahunku tapi baru sampai ke tanganku hari ini,” batin Scarlesia.


“Yang Mulia, apakah kotak itu milik Ibu anda?” tanya Erin.


“Iya, di dalamnya ada perhiasan kesayangan Ibu dan sebuah kalung permata yang disiapkan oleh Ibu untukku,” jawab Scarlesia.


“Jadi, itu adalah barang berharga untuk anda ya Yang Mulia?”


“Ya, ini adalah milik Ibu jadi aku harus menjaganya dengan baik,” tutur Scarlesia seraya tersenyum tipis.


Saat ia tengah berbicara dengan Erin, seorang ksatria penjaga datang untuk melapor pada Scarlesia bahwa mereka baru saja menemukan adanya perdagangan manusia di tempat tersembunyi di Evariste. Langsung saja Scarlesia bergerak memberantas perdagangan manusia tersebut, ia bergerak ditemani oleh beberapa orang ksatria berpedang.


Lokasinya tepat berada di pinggiran Kekaisaran Evariste, dari luar lokasinya tampak seperti rumah tua biasa tapi setelah masuk ke dalam dia tercengang sesaat melihat tempat pelelangannya sangat mewah.


“Kalian kepung mereka di sekeliling tempat ini,” perintah Scarlesia.


“Baik Yang Mulia,”


Dor!


Suara tembakan pistol Scarlesia bergaung di gedung pelelangan tersebut, sejumlah bangsawan terperanjat kaget nampak Scarlesia berada di dalam gedung tersebut. Mereka memanfaatkan momen eksekusi di tengah kota untuk melakukan pelelangan ini. Perbuatan mereka memancing amarah Scarlesia, untung saja para bawahannya segera mengetahui tempatnya. Sedari awal dia sudah berfirasat akan ada orang yang memanfaatkan kesempatan selagi adanya eksekusi.


“I-itu Yang Mulia Putri Mahkota,”


“ADA YANG MULIA PUTRI MAHKOTA! CEPAT SELAMATKAN DIRI KALIAN!”


“AKU TIDAK MAU TERTANGKAP!”


“CEPAT KABUR LEWAT PINTU BELAKANG!”


Mereka sibuk kabur sana sini menyelamatkan diri sendiri agar tidak tertangkap oleh Scarlesia.


Dor!

__ADS_1


“KALIAN TIDAK AKAN BISA KABUR KEMANA-MANA LAGI! JANGAN BUAT AKU MARAH DAN MENGHANCURKAN KALIAN DI SINI. DIAM SAJA DAN TERIMA NASIB KALIAN SELANJUTNYA!” seru Scarlesia memasang wajah marah.


Melihat Scarlesia yang marah ditambah dia membawa pistolnya, membuat mereka tidak mampu bergerak lebih jauh lagi. Mereka diam di tempat menunggu para ksatria membawa mereka keluar, Scarlesia pergi ke belakang panggung pelelangan dan menemukan banyak orang yang terkurung di dalam kurungan besi. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa ada di sana semuanya, Scarlesia pun membantu mereka untuk bebas. Dia memberi perintah beberapa ksatria untuk membawa mereka ke istana agar dipulangkan segera.


“Oke saatnya pulang,”


Saat Scarlesia keluar dari gedung pelelangan, tiba-tiba jalannya dihadang oleh Cyrill. Scarlesia kaget bukan main mendapati Cyrill ada di depannya, rasa sakit dua hari lalu kembali dia rasakan. Dadanya sesak dan terbakar, irama napasnya terputus-putus melihat Cyrill semakin dekat dengannya.


“Stop! Jangan dekati aku lagi,” cegat Scarlesia.


“Kenapa? Seharusnya kau senang melihatku di sini. Ayolah jangan takut, aku hanya mau membawamu pergi dari sini,” ucap Cyrill.


“Aku tidak mau pergi denganmu!” tekan Scarlesia menolak ajakan Cyrill.


Scarlesia beringsut mundur ke belakang sedangkan Cyrill terus melangkah maju ke depan. Lalu Cyrill menarik tangan Scarlesia dan merengkuh pinggangnya, rasa sakit di dadanya mendadak lenyap seketika.


“Ehh kenapa sakitnya menghilang?” pikir Scarlesia.


“Bagaimana? Tidak sakit lagi kan?” tanya Cyrill menyunggingkan senyumnya.


“Lepas! Jangan sentuh aku!” ronta Scarlesia, memberontak ingin segera dilepaskan.


“Kenapa? Apa kau tidak sudi disentuh olehku?” rayu Cyrill.


Scarlesia menyerngitkan keningnya, dia tidak paham isi otak Cyrill saat ini.


“Ya, aku tidak sudi. Karena itu cepat lepaskan aku!” ketus Scarlesia.


“Haha beraninya kau menolakku lagi! Oke aku akan membawamu ke istanaku,”


Kemudian Cyrill menjentikkan jarinya, Scarlesia merasakan rasa kantuk yang luar biasa.


“Tiba-tiba aku… mengan… tuk….”

__ADS_1


__ADS_2