
“Halo kak, apa kakak bisa mendengar suaraku?”
Scarlesia termangu mendengar suara Archie dari alat perekam tersebut, sekujur badannya mendadak lemas. Dia memilih untuk duduk di kursi dekat meja itu, menahan dirinya untuk mendengar sampai akhir apa yang terekam di dalam benda kecilnya.
“Sepertinya suaraku jelas ya, sebenarnya aku merekam ini hanya iseng saja. Jika terjadi sesuatu padaku, setidaknya suaraku masih bisa kakak dengar walaupun ragaku sudah berada di tempat lain. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih pada kakak, terima kasih sudah menemaniku baik di kehidupan pertamaku hingga kehidupan keduaku.”
“Terima kasih sudah mau menerimaku sebagai adik lagi, tiada hal yang lebih membahagiakan selain menjadi bagian dari cerita hidup kakak. Aku sungguh beruntung memiliki seseorang seperti kakak, merelakan segala waktunya hanya untuk merawatku, tidak peduli bagaimana kejamnya dunia padamu tapi kakak tetap berada di sampingku.”
“Apa kakak bahagia memiliki adik sepertiku? Apa kakak merasa bahwa aku hanyalah beban? Apabila ada kehidupan lain untukku, apa kakak bersedia menjadi kakakku lagi? Apa aku tidak apa-apa menjadi adik kakak lagi? Aku ingin mendengar jawaban dari kakak langsung. Bila kakak mendengar rekaman suaraku, tolong katakan sejujurnya apa aku boleh menjadi adik kakak lagi? Semoga aku bisa mendengar jawabannya dari kakak.”
“Aku menyayangi kakak, terima kasih selama ini kakak sudah mau mengurus dan mengkhawatirkanku. Kelak aku akan menjadi adik yang lebih baik lagi, jaga diri kakak baik-baik ya. Semoga takdir mempertemukan kita kembali.”
Begitulah isi dari rekaman tersebut, Scarlesia tertunduk lemah. Kedua matanya panas menahan air matanya untuk keluar, dia tidak ingin menangis lagi karena sudah cukup baginya hari kemarin dan tidak ingin mengulangi tangisnya hari ini. Dadanya sesak disertai sakit, bibirnya bergetar sebab tak mampu menyuarakan rasa sedihnya.
Jderrrr!
Suara petir menggelegar di langit dibarengi oleh rintik-rintik air hujan berjatuhan semakin deras. Scarlesia menegakkan kepalanya, dia menoleh ke arah jendela memperhatikan air hujan semakin lama semakin lebat. Scarlesia bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan pelan ke arah jendela dan melihat lebih jelas ke luar jendela.
“Entah kenapa aku merasa langit ikut bersedih untukku, apa langit menggantikanku untuk menangis? Apa kalian sedih melihatku sedih seperti ini? Apa kalian tidak mau aku menangis lagi?” gumam Scarlesia memandang sendu.
Jderrr!
Petir kembali menggelegar disertai kilatan menerjang di luasnya langit, seakan-akan langit menjawab pertanyaan Scarlesia.
“Jika kau merasakan sedih yang tidak tertahankan, cobalah sesekali menari di bawah hujan. Hujan akan menyembunyikan air matamu dan menggantikanmu untuk menangis, hujan akan membasuh rasa sakitmu sejenak. Tenang saja, hujan tidak akan menyakitimu karena dia akan menghapus kesedihanmu. Hujan akan memelukmu, memberimu kehangatan di balik dinginnya air yang diturunkan.”
Kata-kata Ibunya terlintas di benak Scarlesia secara tiba-tiba, kata-kata yang dulu selalu diucapkan oleh Ibunya ketika dia merasakan sedih dan sakit yang amat luar biasa. Begitu mengingatnya, Scarlesia langsung berlari keluar dari kamar. Ini masih pukul 6 pagi, udara dingin menusuk kulit, tapi dia tidak peduli dan terus berlari ke halaman depan istananya lalu berhenti di bawah hujan.
Air hujan mengguyur Scarlesia, membasahi sekujur tubuhnya. Rasa dingin tidak bisa dirasakan oleh Scarlesia, kesedihan menyelimuti dirinya dan menutup akses rasa lain di luar rasa sakitnya.
__ADS_1
“Aku akan mencoba menari lagi, dulu aku sering menari di bawah hujan seperti ini karena terlalu banyak rasa sakit menyerang hatiku.”
Jemari lentik Scarlesia mulai mengalun, kakinya membentuk langkah kecil lalu berputar perlahan. Matanya terpejam, gerakannya pelan namun tampak sangat indah. Rambutnya berurai panjang seolah bersinar terkena air hujan, kaki jenjangnya melompat kesana kemari mengikuti irama musik yang ada di kepalanya. Kupu-kupu nan cantik mengerumuni Scarlesia satu persatu, mengikuti gerakan tari Scarlesia.
Sementara itu, di kamar Scarlesia beberapa orang tengah ribut karena hilangnya Scarlesia dari kamar. Mereka tidak menemukan Scarlesia di dalam istananya, rasa panik serta cemas mendera seketika.
“Apa Sia tidak bisa ditemukan di mana pun?” tanya Carlen panik.
“Tidak, kami tidak bisa menemukannya. Tapi….”
“HEY ITU SIA!” teriak Zenon menemukan keberadaan Scarlesia di halaman depan istana.
Mereka semua bergegas untuk memastikannya, mereka terpaku sesaat menyaksikan Scarlesia menari begitu indah di bawah hujan dan ditemani oleh kupu-kupu. Semua orang seolah tersihir oleh tariannya, gerakan tubuhnya semakin lama semakin kuat dan lembut.
“Kenapa Sia menari?” tanya Andreas terheran.
Kemudian tiba-tiba saja saat Scarlesia mengangkat kedua tangannya menghadap langit, cahaya emas berkilauan keluar menyebar ke penjuru Kekaisaran Evariste. Cahaya emas itu seolah terbang masuk ke dalam tubuh masing-masing orang. Mendadak wajah seluruh orang berubah sendu, mereka menyentuh dada mereka.
“Cahaya apa itu?” tanya Elios.
“Entah kenapa rasanya hatiku jadi damai dan tenang, tapi aku tidak tahu kenapa aku juga merasakan sedih luar biasa,” tutur Aldert menekuk ekspresi wajahnya.
“Ini adalah perasaannya Sia, perasaannya tersampaikan pada kita melalui tarian dan cahaya itu. Dengan begini, semua orang akan mengetahui perasaan Sia yang sesungguhnya,” ucap Zenon.
“Ya, kau benar Zenon. Ini adalah perasaannya Sia, perasaannya diantarkan melalui tariannya dan melalui air hujan,” timpal Xeon.
Lalu hal yang tidak kalah mengejutkannya lagi, ketika Scarlesia melompat dan tangannya bergerak bak sayap yang mengepak lebar bayangan luar biasa kembali tampak di mata. Sebuah bayangan sayap emas serta rambut panjang emas di badan Scarlesia, fenomena ini membuat kaget mereka yang menyaksikannya langsung.
“Apa tadi aku salah lihat? Rambut emas dan sayap emas di badan Sia. Aku yakin kalian juga melihatnya bukan?” kata Louis mengucek matanya.
__ADS_1
“Aku melihatnya, tidak hanya kau saja. Aku juga melihatnya dengan jelas, ada sayap emas dan rambut emas juga,” ujar Oliver menatap tak percaya.
“Kenapa begitu? Apa jangan-jangan….”
“Benar, hari kebangkitan Sia semakin dekat,” ucap Xeon memotong kalimat Elios.
“Hari kebangkitan?”
Mereka bertanya-tanya, beberapa pasang mata spontan memandang Xeon dengan tatapan nanar.
“Hari kebangkitan Sia ke wujud sejatinya,” pungkas Xeon.
Scarlesia menghentikan tariannya, dia rasa ini sudah cukup untuknya dan saatnya dia beristirahat. Scarlesia menjatuhkan tubuhnya pelan ke permukaan tanah, dia duduk bersimpuh sembari mengatur irama napasnya. Menari seperti tadi membuat napasnya sesak, namun perasaannya kini sudah sangat lega.
“Aku rasa sudah cukup,” gumamnya.
Melihat Scarlesia berhenti menari, mereka menghampiri Scarlesia bersama-sama. Kedatangan mereka disambut dengan senyuman lebar milik Scarlesia.
“Apa kalian melihatku menari tadi?” tanya Scarlesia.
“Tentu saja kami melihatmu, bagaimana perasaanmu sekarang?” jawab Andreas sekaligus bertanya balik.
“Aku sudah lebih baik.”
“Syukurlah kalau begitu, sekarang ayo kita masuk. Kau membuat orang lain khawatir saja,” omel Aldert.
Scarlesia dibantu berdiri oleh Carlen, mereka kembali masuk ke istana bersama-sama.
“Hari kebangkitan Sia semakin dekat, itu artinya dewa pencipta dalam waktu dekat akan terbangun,” batin Xeon.
__ADS_1