Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Alam Bawah Sadar


__ADS_3

Scarlesia berhasil dikendalikan oleh kutukan itu, dalam keadaan pandangan mata yang menunjukkan kekosongan, ia turun perlahan dari tempat tidur. Melangkah pelan menuju ke arah balkon kamar, dia memandang air hujan yang kian hari kian deras dan tak kunjung berhenti. Kemudian Scarlesia naik ke atas pembatas balkon, dia bisa melihat semuanya dari atas sana sebab istananya kini berada di lantai empat.


“Jika aku melompat dari atas ini, apakah aku akan mati?”


Scarlesia terus bergumam perihal kematian, separuh jiwanya tampak telah pergi meninggalkan badannya. Saat ini para pelayannya sedang tidak ada di kamar, hanya ada dia seorang dengan ide bunuh dirinya. Tidak ada sedikit pun harapan hidup dari dirinya, Scarlesia merasa telah mati di raga yang masih bernapas. Ketika Scarlesia hendak melompat, para pelayan masuk ke dalam kamar untuk memeriksa keadaan Scarlesia.


“KYAAAA YANG MULIA! APA YANG SEDANG ANDA LAKUKAN?”


“CEPAT TURUN YANG MULIA! DI SANA BERBAHAYA!”


“TOLONG! YANG MULIA HENDAK MELOMPAT DARI BALKON!”


Suara teriakan mereka menggapai pendengaran Xeon dan yang lain, tapi belum sempat mereka menghentikan aksi Scarlesia, tubuhnya sudah melayang menuju ke bawah permukaan tanah.


“TIDAKKK! YANG MULIAAAA!!”


“SIAAAAA!!”


Untungnya pada saat itu, Andreas berada di bawah dan berhasil menangkap Scarlesia serta menghentikan percobaan bunuh dirinya. Semua orang merasa lega ketika melihat Scarlesia diselamatkan oleh Andreas, langsung saja Andreas mengantarnya balik ke kamar. Scarlesia benar-benar membuat seluruh orang jantung oleh ulahnya.


“Bagaimana? Apa Sia tidak apa-apa?”


Di saat dokter tengah memeriksa tubuh Scarlesia, Carlen bersama Aldert menerobos masuk ke kamar. Napas mereka tersengal-sengal akibat berlari kencang setelah mendengar Scarlesia melakukan percobaan bunuh diri lagi.


“Tidak apa-apa, tidak ada masalah di tubuh Yang Mulia. Hanya saja lukanya masih belum sembuh sepenuhnya,” ucap sang dokter.

__ADS_1


Mereka serentak menghembuskan napas lega, kekhawatiran mereka setidaknya berkurang walaupun Scarlesia belum menunjukkan tanda-tanda akan membaik. Lalu dokter pun pamit undur diri, tidak lupa ia meresepkan obat herbal untuk Scarlesia. Setelah itu, mereka semua keluar untuk membiarkan Scarlesia beristirahat, kecuali Aldert dia memilih tinggal beberapa menit di kamar Scarlesia sekalian untuk menjaganya agar tidak melakukan hal macam-macam lagi.


Aldert terpaku di tepi ranjang Scarlesia, dia menatap dalam wajah adiknya yang tengah tertidur itu. Aldert meraih tangan Scarlesia, ia menggenggam tangannya erat sembari menciuminya. Tanpa sadar, bulir-bulir air mata Aldert bergulir di kedua pipinya.


“Kapan kau akan membaik Sia? Kapan kau akan kembali seperti sedia kala? Aku tidak ingin kau berlarut di dalam kesedihanmu lagi. Aku tahu dulu aku sering menyakitimu, tapi sekarang aku ingin menebus kesalahan itu dan berjanji pada Ibu akan melindungimu apapun yang terjadi. Oleh karena itu, aku mohon tolong jangan seperti ini lagi. Aku sakit ketika melihatmu sakit, aku terluka ketika melihatmu terluka. Tolong Sia….”


“Aku akan melakukan apapun agar kau bahagia, aku hanya ingin kau kembali pada kesadaranmu. Aku ingin melihatmu tertawa lagi meski tanpa ada Ayah di sisimu, mungkin aku tidak sebaik Ayah tapi aku akan terus berusaha melindungimu seperti Ayah. Sia, jangan sakit lagi, mulai sekarang aku tidak akan membuka jalan bagi siapa pun yang mencoba menyakitimu. Aku hanya… aku hanya butuh kau bahagia meski aku harus mengorbankan nyawaku demimu.”


Aldert menundukkan kepalanya dengan kedua tangan masih menggenggam tangan Scarlesia. Dia menangis terisak, ia tidak sanggup lagi menyaksikan adiknya terbenam dalam luka.


“Ayah… Ibu… aku janji akan menjaga Sia baik-baik. Jadi, aku mohon jangan bawa dia bersama kalian. Aku janji… aku janji akan menjamin kebahagiaannya dan mengantarkannya pada akhir hidup yang bahagia. Tolong awasi Sia dan jangan bawa dia bersama kalian, tolong….”


Sementara itu, Scarlesia kini tengah berada di alam mimpinya, dia dibawa masuk ke bawah alam sadarnya. Di sekitarnya dipenuhi oleh warna putih, dia kebingungan dan tidak tahu sedang berada dimana sekarang. Scarlesia mencoba berjalan mencari jalan keluar, namun tak kunjung ia temui. Pada akhirnya Scarlesia hanya bisa meringkuk memeluk erat lututnya seraya menangis sesenggukan.


“Sia….”


Terdengar suara pria dan wanita secara bersamaan memanggil nama Scarlesia, kepalanya ia tegakkan untuk melihat siapa gerangan orang yang memanggil dirinya.


“Ayah, Ibu….”


Dua orang itu adalah Eldrick dan Larissa, mereka berdiri cukup jauh dari Scarlesia. Mereka tersenyum ke arah Scarlesia, melihat mereka membuat hati Scarlesia kian sesak.


“Kenapa menangis Sia? Ini Ayah dan Ibu,” kata Larissa.


“Kenapa kalian bisa ada di sini? Apa kalian datang menjemputku?” tanya Scarlesia berkaca-kaca, terselip kerinduan besar pada Ibunya yang sudah sejak lama meninggalkan dirinya.

__ADS_1


“Iya, kami berdua ingin menjemputmu. Sekarang kemarilah, ayo kita pergi bersama,” ajak Larissa.


“Aku akan pergi bersama kalian, tunggu aku di sana.”


Scarlesia melangkahkan kakinya mendekat kepada mereka berdua, tapi tiba-tiba saja pergelangan tangannya ditahan oleh seseorang.


“Tunggu! Kau tidak boleh ke sana!”


Scarlesia membalikkan badannya, ia kaget di hadapannya ada seorang gadis menyerupai dirinya. Akan tetapi, kulit gadis itu tampak lebih putih pucat ditambah tubuhnya dibalut oleh gaun pendek berwarna putih.


“Siapa kau? Kenapa kau melarangku untuk ikut dengan orang tuaku? Lalu apa-apaan wajahmu yang sama denganku? Sudahlah! Aku ingin ikut Ayah dan Ibu.”


Scarlesia memutar tubuhnya bersiap untuk segera pergi bersama Eldrick dan Larissa, lagi-lagi tangannya dicegal oleh gadis tak dikenal tersebut.


“TUNGGU! KAU TIDAK BOLEH PERGI! MEREKA BUKAN ORANG TUAMU!” teriak gadis itu meneriaki Scarlesia.


“Memangnya kau siapa berani-beraninya menahanku? Aku paling tidak suka dengan orang yang suka ikut campur masalahku!” bentak Scarlesia murka.


“Aku adalah kau dan kau adalah aku. Sekarang coba kau perhatikan ke depan sana,” tunjuk gadis itu ke arah belakang Eldrick dan Larissa.


Tiba-tiba saja muncul tempat yang sangat gelap di sana, padahal tadi tidak ada tempat kelam di sana. Kemudian perlahan-lahan tubuh Eldrick dan Larissa lenyap seperti debu berwarna hitam, Scarlesia terkaget melihat kedua orang tua yang mendadak muncul lalu hilang bak debu diterbangkan oleh angin.


“Jadi, mereka sungguh bukan orang tuaku? Lalu tempat apa itu? Kenapa di sana sangat gelap dan di sini terang serba putih?” tanya Scarlesia.


“Kalau saja tadi kau tetap kukuh mengikuti mereka, maka aku yakin kau tidak akan pernah bisa kembali lagi. Sekarang dengarkan aku, aku akan menceritakan beberapa hal padamu dan aku berharap setelah ini kau bisa sadar dari keterpurukanmu yang tak bertepi itu.”

__ADS_1


__ADS_2