
“Tidak ada cara lain lagi, memang batu inilah yang menyebabkan lautnya mengamuk,”
Scarlesia menahan dirinya agar tidak tenggelam lebih jauh lagi, ia menekan aliran air yang perlahan berpusat di sekitarnya. Scarlesia mengangkat sebelah tangan kanannya, kekuatan dewa laut pada dirinya bereaksi lebih cepat. Ia meledakkan air laut yang mencoba menenggelamkannya hingga ia berhasil keluar dari laut yang berupaya mengikat dirinya.
Dia terbang tinggi agak menjauh dari laut, ketika dia sudah keluar bersama batunya akhirnya laut berubah menjadi tenang dan tidak ada lagi amukan. Scarlesia menghela napas lega karena berhasil melepaskan dirinya dari laut yang menargetkan dirinya.
“Apa kau baik-baik saja Sia?” tanya Zenon menghampiri Scarlesia.
“Aku baik-baik saja. Sekarang lautnya sudah tenang,”
“Sekarang ayo kita ke daratan,” ajak Zenon.
“Oke, apa kalian sudah selesai membantu orang-orang mengungsi?” tanya Scarlesia.
“Sudah, sekarang mereka sedang menunggumu,”
Scarlesia pergi bersama Zenon untuk menepi, badai malam ini masih belum membaik. Meski laut telah tenang, tapi badai semakin menjadi-jadi.
“Astaga Sia, apa kamu tadi menyelam?” tanya Xeon.
“Iya, aku menemukan batu ini. Sepertinya batu inilah yang membuat lautnya mengamuk,” ucap Scarlesia memperlihatkan batu biru seukuran telapak tangannya.
“Bisakah kau memperlihatkannya padaku?”
Oliver terlihat mengetahui batu apa itu sebenarnya, ia meminta batunya pada Scarlesia untuk dia pastikan perihal dugaannya salah atau benar. Scarlesia pun menyerahkan batu tersebut pada Oliver.
“Pantas saja lautnya mengamuk, ini adalah jenis batu sihir yang paling dibenci oleh laut,” jelas Oliver.
__ADS_1
“Kenapa batu sihir ini sampai dibenci oleh laut?” tanya Scarlesia penasaran.
“Karena aku dengar dulunya ada seseorang yang mencoba menguasai lautan menggunakan batu ini, itulah kenapa laut marah dan menolak keberadaan batu sihir ini,” terang Oliver.
“Tapi tadi ombak lautnya malah menargetkanku. Apa ada seseorang yang memberikan perintah pada batu sihirnya?” duga Scarlesia.
“Kemungkinannya memang seperti itu,”
Di sela obrolan mereka, tiba-tiba badai semakin menerpa. Kekuatan terjangan badai juga semakin kuat bahkan berhasil merubuhkan rumah-rumah yang berdiri tegak lumayan jauh dari laut.
“Kalian tunggu di sini, aku akan menghentikan badainya,”
Scarlesia melangkah melawan arah badai, ia berdiri sedikit lebih dekat dengan laut. Kemudian ia mengeluarkan busur suci yang sudah dia ubah menjadi tongkat.
“AKU SCARLESIA! ATAS KEHENDAK DEWA LANGIT DENGAN INI MEMBERI PERINTAH PADA ANGIN DAN HUJAN TENGAH BERSATU MENGHANCURKAN DARATAN MANUSIA, TUNDUKLAH DI DALAM RASA BERSALAH! PATUHI AKU SEBAGAI PERWAKILAN DEWA LANGIT! DENGAN INI AKU MEMERINTAHKAN KALIAN UNTUK BERHENTI!”
“Apa kau mengamuk lagi? Sekarang apa kau menentangku lagi?”
Laut tidak mengindahkan apa pun perkataan dan perintah Scarlesia, mereka bisu dan tak menjawab pertanyaan yang terlontarkan dari mulut penguasanya. Riak ombak bergelombang semakin tinggi dan hampir menggapai langit. Awan hitam berselimut mengelilingi ombak-ombak tersebut, kemarahan laut adalah bencana bagi manusia yang menempati daerah utara.
Suara seruling terdengar dari kejauhan, seorang pria berjubah hitam berdiri tegak di sisi kanan laut. Seluruh tubuhnya dibalut dengan pakaian hitam sehingga Scarlesia tidak bisa melihat jelas wajah pria tersebut. Dia memainkan serulingnya, suaranya mengalun dan bereaksi pada air lautnya. Seolah laut saat ini menerima perintah dari pria tersebut, Scarlesia masih mengamati pergerakannya.
“Kau kalah,” ucap pria itu dari kejauhan seraya menyeringai, lalu secara perlahan dia menghilang begitu saja.
“Siapa dia? Kenapa laut seakan mengikuti perintah dari suara serulingnya?”
Scarlesia segera menghalau pikiran yang mengganggu fokusnya sekarang. Amarah yang terpancar dari laut semakin lama semakin terasa mencekik, suara kemarahan dari laut bisa ia dengarkan dengan sangat jelas.
__ADS_1
“MANUSIA! AKU MEMBENCI MANUSIA! MEREKA HANYA BISA MERUSAK TANPA BISA MERAWAT. KESERAKAHAN MEREKA MEMBUATKU MARAH! AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNI MANUSIA,”
Laut memancarkan emosinya yang tak tertahankan pada manusia, kebencian mengalir di dalam gelombang lautnya. Scarlesia menggenggam erat tongkatnya, ia tidak bisa menyangkal apa yang dibicarakan oleh sang laut karena pada kenyataannya memang manusia selalu merusak laut. Keserakahan manusia membuat laut muak, kerusakan yang diciptakan manusia, serta tidak adanya rasa tanggung jawab manusia terhadap apa yang mereka lakukan padanya semakin menyulut emosi laut.
Tidak hanya laut daerah utara saja yang mengamuk tiba-tiba, seluruh laut di seluruh kekaisaran juga ikut mengamuk. Bahana dari makhluk laut saling berhimpitan terdengar, mereka meminta tolong pada Scarlesia untuk segera menghentikan kemarahan laut. Banyak ikan-ikan serta hewan lainnya yang terombang-ambing tak bernyawa di laut. Semua suara bercampur menjadi satu di pendengarannya, rasanya sesak mendengar isak tangis dari makhluk laut yang menjerit karena kehilangan teman dan keluarganya.
“Yang Mulia, tolong hamba. Hamba tidak mempunyai niat untuk menyakiti manusia, hamba tidak marah pada manusia tapi suara seruling itu membuat hamba kehilangan kendali. Saya terjerat dan tak bisa bergerak, tolong hamba Yang Mulia. Ini sangat sakit, kerangka yang memenjarakan hamba dan memaksa hamba untuk marah. Sungguh ini menyakitkan,”
Samar-samar terdengar suara seorang gadis berasal dari dalam laut, suaranya merintih kesakitan meminta tolong pada Scarlesia.
“Suara ini… tidak salah lagi! Ini adalah suara laut itu sendiri, ini adalah suara perwujudan dari laut. Aku harus menyelamatkannya lebih dulu,” gumam Scarlesia.
“KALIAN TOLONG TETAPLAH DI SINI! AKU MOHON LINDUNGI ORANG-ORANG. AKU AKAN MENYELAM KE DALAM LAUT,” teriak Scarlesia.
Seusai mengatakan hal itu, Scarlesia bergegas menyelam ke dalam laut.
“Kemana Sia? Apa yang dia lakukan? Dia tidak bisa pergi sendiri begitu saja,” ujar Louis hendak menghampiri Scarlesia.
“Louis! Dan juga kalian jangan kemana-mana. Sia memerintahkan kita untuk tetap di sini,” larang Xeon.
“Xeon! Kenapa kau terus melarang kita mengikuti Sia? Aku hanya takut terjadi sesuatu yang buruk padanya seperti sebelumnya. Aku takut kehilangannya sekali lagi,” protes Elios.
“AKU TAHU! Aku tahu kalian takut kehilangannya lagi. Aku tahu itu karena aku juga merasakan hal yang sama dengan kalian tapi Sia harus melakukan tugasnya sebagai pelindung alam semesta. Dia bisa mendengar apa yang tidak bisa kita dengar, dia bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat. Aku sudah bersamanya selama lebih 2000 tahun, aku setiap saat melihatnya mati mengenaskan tanpa bisa berbuat apa-apa. Namun, sekarang tolong percayalah padanya….” lirih Xeon.
“A-aku….”
“Percayalah padanya, walaupun hatiku sakit ketika melihatnya terus berusaha sendirian tapi aku harus membiarkannya melakukannya sendiri. Kalian tahu kenapa? Nasib alam semesta ini ada di tangannya, dia harus bertambah kuat, itulah kenapa aku terus melarang kalian ikut campur di dalam masalah seperti ini….” kalimat Xeon terhenti sejenak.
__ADS_1
“Hanya dia satu-satunya yang bisa mengalahkan dewa kegelapan, tugas kalian dan tugasku adalah membantu mendorongnya dari belakang. Jika sewaktu-waktu dia tenggelam ke dalam kegelapan, kalian lah yang akan menariknya keluar. Itulah alasan dewa pencipta menciptakan kalian….”