
“Akhirnya sele…sai…”
Laut kembali normal, Scarlesia yang berdiri di atas ombak dengan sayap airnya kini mulai jatuh ke bawah karena staminanya sudah terkuras habis. Zenon dengan cepat terbang ke arah Scarlesia dan langsung menangkapnya, kemudian ia dibawa ke daratan oleh Zenon. Begitu sampai di daratan, tubuhnya yang basah langsung dikeringkan oleh Oliver dengan sihirnya.
Eldrick memeluk Scarlesia, sekujur badannya masih bergetar hebat. Ia meremas pakaian Eldrick dan mulai terisak di dalam pelukannya.
“Aku takut hikss… Di dalam sana dingin dan gelap, aku takut tidak bisa kembali lagi,” lirih Scarlesia.
“Tidak apa-apa Sia, sekarang kamu aman. Ayah sudah di sini, tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi,” ujar Eldrick mengelus kepala Scarlesia.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada Sia?” tanya Aldert.
“Itu… Sepertinya tadi ada sesuatu yang menariknya ke tengah laut dan membuatnya tenggelam,” jawab Louis.
“Jadi, itu yang membuat aura kehidupannya menghilang sejenak? Aku pikir aku benar-benar kehilangannya,” kata Aldert dengan wajah sendu.
“Yang anehnya, kenapa hanya Sia saja yang terseret ke tengah laut oleh ombak itu?” kata Elios berpikir.
“Dalang yang berada di balik kekacauan ini masih belum terungkap, kemungkinan besarnya yang menyeret Sia adalah dalang tersebut karena sejak awal targetnya adalah Sia,” jawab Xeon.
“Ya sudah nanti saja dipikirkan lebih baik bawa Sia ke tempat yang lebih aman dulu,” sela Carlen.
Saat mereka hendak membawa Scarlesia ke tempat yang lebih aman, seorang pria berambut panjang berwarna hijau tua, kulitnya yang gelap, serta di permukaan tubuhnya ada seperti sisik ular muncul dengan sebuah tongkat di tangannya.
“Mau kalian bawa kemana gadis itu? Aku tidak menyangka dia bisa mengalahkan semua monster laut itu dalam sekejap,” ucapnya sambil menjulurkan lidahnya yang seperti lidah ular.
“Kau! Kenapa kau kemari? Jangan katakan kalau semua kekacauan ini adalah ulahmu? Aku tahu satu-satunya yang bisa mengendalikan monster laut itu kau kan?” terka Xeon menatap tajam pria tersebut.
“Hoho kau memang pintar seperti biasanya Xeon,”
“Siapa dia? Kenapa aku merasakan aura tidak mengenakkan darinya?” tanya Zenon yang tidak nyaman dengan kehadiran pria itu.
“Dia adalah Zin, si siluman ular. Dia dalang dari semua kejadian yang menimpa Sia hari ini dan dia juga yang sudah membuat semua monster laut mengamuk,” jawab Xeon.
Scarlesia yang sedang digendong oleh Eldrick, tiba-tiba mengerang kesakitan hebat di dalam kepalanya.
__ADS_1
“AARRRHHH KEPALAKU SAKIT,” teriaknya membuat semua orang terkejut.
“Sia, ada apa? Kenapa dengan kepalamu?” tanya Carlen panik.
Scarlesia kembali mendengar suara-suara yang menangis meminta tolong kepadanya, suara itu menembus pendengaran serta kepalanya.
“Ayah, tolong turunkan aku,” ujar Scarlesia.
“Tapi…”
“Tidak apa-apa, aku hanya mau berbicara dengan pria itu,” kata Scarlesia meyakinkan Eldrick.
Akhirnya Eldrick menurunkan Scarlesia, dengan langkah yang sempoyongan Scarlesia mendekat ke Zin si siluman ular.
“Hei kau pria ular! Lepaskan semua jiwa yang kau tahan di dalam tongkatmu itu!” perintah Scarlesia menunjuk ke arah tongkat yang berwarna coklat tersebut.
Zin menyeringai ketika Scarlesia menyuruhnya untuk melepaskan semua jiwa-jiwa yang ada dia tahan di dalam tongkatnya.
“Kau tahu aku menahan banyak jiwa manusia di dalam tongkatku? Ternyata kau memang luar biasa seperti yang dikatakan oleh raja iblis hitam,” balasnya menggunakan nada meremehkan.
“Hmm tentu saja. Aku dan dia sama-sama bekerja untuk dewa kegelapan, kami memiliki tujuan yang sama yaitu menghancurkan seluruh manusia serta menguasai dunia ini,”
Deg!
Perkataan Zin sontak membuat mereka terperanjak kaget, Zin mengatakannya secara terang-terangan. Scarlesia yang mendengarnya dibuat geram olehnya, kedua tangannya mengepal erat menahan amarahnya.
“Selama aku masih hidup, selama aku masih bernapas dan memiliki kekuatan, aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan dunia ini. Aku tidak peduli dewa kegelapan, iblis hitam, atau siluman jika kalian berani mengusik dan mengganggu makhluk hidup baik itu manusia, hewan, dan tumbuhan maka AKU ATAS NAMA SCARLESIA EGINHARDT AKAN LEBIH DULU MELENYAPKAN KALIAN!” ancam Scarlesia.
“Huh? Apa-apaan tatapan gadis ini? Tatapannya mengintimidasi sekali,” pikir Zin.
“HAHAHA kau gadis kecil, nyali mu sangat besar. Ternyata dewa dan dewi tidak salah memilihmu ya,” ujar Zin tertawa.
“Sekarang lepaskan semua jiwa yang tahan di dalam tongkatmu itu! Aku tidak akan mengucapkan hal yang sama untuk ketiga kalinya jadi sekarang tolong lepaskan mereka,” tekan Scarlesia.
“Aku tidak akan melepaskannya karena mereka adalah sumber kekuatanku. Mereka akan terus aku ikat sampai aku berhasil mencapai ambisiku,” tolak Zin.
__ADS_1
“DASAR KAU ULAR YANG BENTUKNYA ANEH DAN JELEK!” hina Scarlesia tidak bisa menahan emosinya lagi.
“Haa? Apa yang baru saja kau katakan padaku?”
Zin tidak suka dihina fisiknya, jika ada seseorang yang melakukannya maka ia tidak akan segan-segan membunuh orang yang menghinanya itu. Dia melangkah maju bersiap untuk menyerang Scarlesia secara langsung namun ia dihalangi oleh Xeon dan yang lainnya serta oleh Ayah dan kakaknya.
“Kalau kau berani melangkah lebih jauh lagi, aku akan menebas kepalamu itu! Jangan harap kau bisa melukai putriku,” gertak Eldrick menodongkan pedangnya.
Zin menghentikan niatnya untuk membunuh Scarlesia, ia menghela napasnya dan melupakan amarahnya.
“Sepertinya kau mempunyai eksistensi yang menarik di sekitarmu. Baiklah, aku akan melepaskanmu hari ini, aku pergi dulu dan sampai jumpa di perang akhir,” pamit Zin menghilang dari hadapan mereka semua.
Sekujur tubuh Scarlesia masih lemas, ia tidak punya tenaga sama sekali untuk berjalan.
“Hahh akhirnya dia pergi juga,” gumam Scarlesia menghembuskan napas lega, tubuhnya oleng ke samping karena tidak ada lagi kekuatan di kakinya untuk menopang beban tubuhnya. Elios yang berdiri di sampingnya langsung merengkuh tubuh Scarlesia agar tidak terjatuh.
“Terima kasih Elios,” ungkapnya menggunakan suara yang lemah.
“Kau harus istirahat setelah ini,” kata Elios.
“Hmm oke,”
Kemudian, seluruh orang yang berada di ruang evakuasi keluar setelah menyadari ketenangan yang berasal dari tepi laut. Mereka terkejut sekaligus merasa lega bahwa tidak ada lagi monster laut yang mengamuk, lautan sudah kembali seperti sedia kala.
“K-kita selamat! Nona Eginhardt benar-benar mengalahkan semua monster itu!”
“Akhirnya kita bisa kembali ke kehidupan normal lagi,”
Mereka bersorak gembira, kini mereka tidak lagi mengkhawatirkan soal monster laut yang menyerang mereka. Scarlesia ikut merasa senang melihat kegembiraan dan kelegaan hati mereka.
“Nona, terima kasih banyak. Kami sungguh berterima kasih kepada anda,” ungkap mereka membungkukkan tubuh mereka bersamaan.
“Iya, jaga diri kalian baik-baik setelah ini. Jika ada kejadian yang buruk seperti tadi menimpa kalian langsung saja hubungi aku,” balas Scarlesia.
“Baiklah, mulai dari sini segala kerusakan akan ditanggung dan diurus oleh kaisar. Sia, kau harus pulang sekarang agar bisa beristirahat,” ujar Eldrick.
__ADS_1
“Iya Ayah, aku akan pulang sekarang untuk beristirahat dan tidur,”