
“Malah saya yang heran pada anda Yang Mulia, kenapa orang luar seperti anda merasa tidak malu untuk menjabat menjadi kaisar di Evariste? Seharusnya anda tahu bahwa Ayah anda bukan berasal dari Evariste lalu Ibu anda melarikan diri dan menghilang selama lebih dari 20 tahun,” balas Duchess Debora tidak mau kalah.
Scarlesia lagi-lagi menyeringai, dia sesungguhnya ingin menertawakan wanita yang duduk di hadapannya kini. Lalu Scarlesia meletakkan tangan kanannya di dagunya, ia menumpu dagunya menggunakan tangannya.
“Duchess, anda lucu sekali ya. Sepertinya anda berbakat membuat orang tertawa, jadi anda datang kemari hanya untuk mengatakan omong kosong ini kepada saya? Sebenarnya tujuan anda apa? Apa anda berpikir saya bodoh? Apa anda berpikir saya lemah? Bagaimana pun juga di tubuh saya mengalir darah Evariste. Saya akan menjadi kaisar, apa pun yang terjadi,” tekan Scarlesia serius menyorot tajam Duchess Debora.
Duchess Debora tersurut ketika menatap balik mata Scarlesia, dia bisa merasakan dengan nyata tekanan yang Scarlesia berikan padanya.
“Yang Mulia, harusnya anda sadar diri mengenai siapa anda. Gadis yang bukan berdarah murni Evariste seperti anda tidak seharusnya menjadi kaisar. Putri Abigail memiliki darah murni Evariste jadi dia lebih cocok menjadi kaisar, lalu apakah anda tahu? Banyak bangsawan yang tidak mendukung anda untuk naik ke posisi kaisar. Dengan begini seharusnya anda sadar,”
Duchess Debora mencoba menekan Scarlesia, tapi apa pun yang dia katakan tidak berhasil membuat Scarlesia takut. Yang ada Scarlesia malah semakin berani menatapnya bahkan menantangnya dengan tatapan yang sangat tajam.
“Saya sih tidak peduli dengan bangsawan, saya lebih mementingkan posisi saya. Saya akan naik ke tahta kaisar dan menjadikan Evariste sebagai kekaisaran yang berada di dalam kepemimpinan saya. Anda pikir saya tidak sanggup? Hmph! Saya sangat sanggup bahkan memerintahkan seluruh dunia ini sekaligus,”
Duar!
Pernyataan Scarlesia dibarengi oleh bahana petir yang menggelegar di langit cerah, seluruh penghuni istana terkejut karena suara petir tersebut. Tidak ada angin, tidak ada hujan, petir menyambar tanpa ada tanda-tanda lain.
“Memerintah seluruh dunia? Perasaan apa ini? Kenapa aku merinding ketika dia mengatakan itu?” pikir Duchess Debora.
“Anda gila ya Yang Mulia? Bagaimana bisa seorang manusia memerintah seluruh dunia? Anda sepertinya terlalu banyak tidur dan bermimpi,” sinis Duchess Debora.
“Saya tidak mengatakan itu tanpa bukti, saya memang punya kekuatan besar sehingga menggenggam dunia ini bukan sesuatu yang mustahil bagi saya. Sebaiknya anda kendalikan perasaan tidak terkendali anda duchess. Singkirkan pandangan serakah anda itu karena selama saya masih hidup maka tidak akan ada yang bisa menghentikan langkah saya,” tegas Scarlesia beranjak dari tempat duduknya.
“Oh iya, jika anda memiliki keinginan menjadi kaisar sebaiknya anda hentikan itu sekarang sebelum anda menyesal,” peringat Scarlesia kemudian berlalu pergi meninggalkan Duchess Debora sendirian.
__ADS_1
“Sialan! Memangnya apa yang diketahui gadis itu? Dia adalah penghambat besar! Aku akan menyingkirkannya ketika perburuan dilaksanakan nantinya. Lihat saja, aku akan menyaksikan wajah cantiknya tercabik-cabik nantinya,” gerutu Duchess Debora dalam hatinya.
Scarlesia sungguh puas melihat mimik wajah Duchess Debora, dia nampak sangat kesal sekali dengan Scarlesia tapi dia tidak bisa melawan lebih jauh lagi.
“Mata yang penuh keserakahan, untung saja tadi aku mendengar kupu-kupu mengatakan bahwa Duchess Debora berencana menjadi kaisar dengan memanfaatkan Abigail. Betapa tidak tahu malunya dia, bukan keturunan kaisar langsung tapi bermimpi menjadi kaisar. Satu-satunya penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan kekuatan dewi di dunia ini adalah kebodohan,” batin Scarlesia.
Ketika Scarlesia berniat kembali ke kamarnya, di persimpangan lorong ia tidak sengaja berpapasan dengan Duchess Freya yang sepertinya baru selesai menemui Edward.
“Salam kepada Yang Mulia Putri Scarlesia,” sapa Duchess Freya.
“Duchess, apa anda baru saja bertemu dengan Yang Mulia?” tanya Scarlesia.
“Iya, saya baru selesai membicarakan beberapa hal dengan Yang Mulia Kaisar,” jawab Duchess Freya mengangkat kepalanya yang semulanya tertunduk.
“Jadi anda punya waktu luang sekarang? Apa anda bisa berbicara dengan saya sebentar? Ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dengan anda duchess,”
Scarlesia membawa Duchess Freya ke ruang minum tehnya untuk berbicara secara pribadi, mereka di ruangan ini hanya berdua saja karena Scarlesia menyuruh para pelayannya untuk menunggu di luar saja.
“Duchess, apa anda mengenal Duchess Debora dengan baik?” tanya Scarlesia.
“Saya mengenalnya sejak zaman saya masih gadis Yang Mulia, apakah ada yang ingin anda ketahui masalah Duchess Debora?”
“Ceritakan semua mengenai dia dari yang anda tahu duchess, karena ada beberapa hal yang cukup janggal dari diri Duchess Debora,”
“Baik, saya akan memberitahu anda. Debora dikenal sebagai salah satu bangsawan yang cukup disegani di Evariste karena keluarganya sejak turun temurun mengelola pertambangan terbesar di Evariste. Akan tetapi, suatu insiden terjadi ketika Ibu anda dulu menjabat dan beliau berhasil mengungkap rencana pemberontakan serta kasus korupsi yang dilakukan oleh duchess sebelumnya yaitu Ibunya Debora sendiri bersama Ayahnya,” jelas Duchess Freya.
__ADS_1
“Lalu apa yang terjadi selanjutnya?”
“Ayah dan Ibunya dieksekusi, sebagian tambangnya diambil alih oleh kekaisaran. Debora tidak ikut dieksekusi karena dia dianggap masih kecil serta tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang sama layaknya orangtuanya. Debora diam selama beberapa waktu dan tidak pernah menghadiri pergaulan para bangsawan lagi,” lanjut Duchess Freya menjelaskan.
Scarlesia manggut-manggut mengerti, ia mulai memahami apa yang sebenarnya melatar belakangi Duchess Debora bertindak seenaknya saja.
“Jadi tidak heran jika dia memiliki keserakahan besar,” gumam Scarlesia.
“Apa yang anda katakan Yang Mulia?” tanya Duchess Freya.
“Ahh tidak ada, terima kasih atas penjelasannya duchess. Saya hanya ingin mengetahui itu saja,” ucap Scarlesia.
“Oh iya bagaimana persiapan berburu anda besok Yang Mulia? Apa ada yang harus saya lakukan untuk anda?”
“Tidak ada duchess, saya sudah menyiapkan semuanya. Saya akan mendapatkan tahta kaisar, tenang saja,” kata Scarlesia penuh keyakinan.
“Baiklah kalau begitu, saya izin undur diri dulu Yang Mulia. Semoga ujian perburuan anda besok berjalan dengan lancar,” pamit Duchess Freya sekalian mendo’akan Scarlesia.
Scarlesia menghela napasnya, sejujurnya dia lelah menghadapi berbagai macam jenis orang yang menghalanginya tapi tetap harus ia lewati mereka semua untuk sampai pada puncak kepemimpinannya.
“Haruskah sekarang aku beristirahat sejenak?”
Pada hari berikutnya yaitu hari dimana dilaksanakannya ujian berburu yang diadakan di hutan awan yang terletak di tepi Kekaisaran Evariste. Scarlesia mengenakan pakaian pria sehingga membuatnya terlihat begitu menawan. Banyak orang yang berkumpul untuk menyaksikan perburuan antara Scarlesia dan Abigail.
“Hei kau wanita tidak tahu diri, aku tidak akan kalah hari ini,” ketus Abigail menghampiri Scarlesia.
__ADS_1
“Kau akan kalah hari ini, aku percaya itu karena kau tidak akan pernah mampu mengalahkanku,”
“Bagaimana kalau aku mengalahkanmu? Jika itu terjadi maka kau harus menyerahkan pria-priamu ini padaku,”