
“Tuh kan, Yang Mulia tidak menyakitiku. Maaf ya Yang Mulia para pria saya ini sangat sensitif dengan orang yang memiliki niat buruk pada saya,” ujar Scarlesia seraya tersenyum miring.
Kemudian, kaisar bersama selirnya masuk ke ruangan sehingga para tamu undangan terpaksa menghentikan obrolan mereka. Kaisar yang tidak biasanya membawa selirnya dalam acara seperti ini menimbulkan tanda tanya bagi semua orang. Mereka sibuk membicarakan permaisuri yang tidak pernah menampakkan diri selama beberapa waktu belakangan ini.
“Sepertinya keadaan permaisuri semakin memburuk. Ya baguslah itu artinya racunnya bekerja dengan sempurna,” batin Scarlesia menyeringai.
Satu persatu perwakilan dari kekaisaran lain mulai berdatangan masuk, diantaranya juga ada Natasha yang menjadi perwakilan dari Kekaisaran Celosia. Begitu melihat Scarlesia di sana, Natasha segera menghampirinya. Natasha senang bisa bertemu lagi dengan Scarlesia beberapa waktu setelah perburuan berakhir.
“Sepertinya koleksi pria tampanmu bertambah lagi,” bisik Natasha.
“Haha ya begitulah,” jawab Scarlesia.
Lalu perwakilan dari Kekaisaran Evariste yang merupakan kekaisaran yang paling kaya dan makmur juga mulai memasuki ruangan. Yang menjadi perwakilan Kekaisaran Evariste adalah pangeran kedua yaitu Lucas Evariste. Saat dia masuk ke aula pandangan mata semua tertuju padanya karena wajahnya yang begitu tampan, rambutnya yang berwarna silver, lalu matanya yang berwarna violet menyita banyak perhatian.
“Lucas Evariste? Kenapa wajahnya terlihat tidak asing?” pikir Scarlesia.
Scarlesia sibuk memperhatikan Lucas, ia tidak sadar saat ini keenam pria yang ada di sampingnya juga memperhatikan dirinya.
“Sia, apa kau menyukainya? Kenapa kau menatapnya terlalu lama?” tanya Andreas membuyarkan pikiran Scarlesia.
“Bukan begitu hanya saja dia terlihat tidak asing bagiku,” ucap Scarlesia.
“Bukannya dia terlihat mirip dengan Carlen kakakmu?” celetuk Oliver.
“Ahh pantas saja wajahnya tidak asing,” ujar Scarlesia baru sadar.
Setelah semua tamu sudah datang, acara pun dimulai dengan meriah. Penukaran cincin antara Vincent sang putra mahkota dan Nieva berjalan dengan lancar. Kini saatnya para tamu undangan menikmati makanan dan minuman yang sudah disediakan. Sebelum itu, Scarlesia menghampiri Vincent dan Nieva untuk memberikan selamat.
“Salam kepada Yang Mulia Putra Mahkota, selamat atas pertunangan kalian berdua semoga dewa dan dewi memberkati pertunangan kalian,” ujar Scarlesia.
Vincent tercengang melihat Scarlesia yang semakin bertambah cantik sejak terakhir kali mereka bertemu beberapa waktu lalu.
“Ahh iya terima kasih. Tapi apa kau tidak menyesal karena sudah membatalkan pertunangan kita?” tanya Vincent.
Nieva yang berdiri di sampingnya merungut kesal karena pertanyaan yang dilontarkan oleh Vincent pada Scarlesia.
__ADS_1
“Tidak, saya senang karena telah membatalkan pertunangan saya dengan anda Yang Mulia,” balas Scarlesia tersenyum palsu.
“Sia, seperti yang kau lihat sekarang aku sudah resmi menjadi tunangan putra mahkota. Jadi kau harus menghormatiku mulai sekarang,” kata Nieva menggandeng tangan Vincent.
“Haha untuk apa aku menghormati sampah sepertimu? Sampah memang cocok untuk sampah, semoga saja nanti anak kalian berdua bisa didaur ulang,” sarkas Scarlesia langsung undur diri,
“Sepertinya gadis itu semakin kasar saja. Tidak apa-apa aku menyukainya yang seperti ini,” gumam Vincent di samping Nieva yang termakan emosi oleh omongan Scarlesia.
Scarlesia hendak menuju meja yang penuh makanan karena dia merasa cukup lapar setelah berdiri cukup lama sejak tadi. Tapi, tiba-tiba ada seseorang yang mencekal pergelangan tangannya dari belakang.
“Tunggu dulu!”
Scarlesia memutar tubuhnya dan dia melihat ternyata itu adalah Lucas yang menahannya.
“Yang Mulia Pangeran Evariste? Ada apa ya Yang Mulia?” tanya Scarlesia.
“Siapa namamu?” tanya Lucas.
“Scarlesia Eginhardt Yang Mulia, apakah ada yang salah?” bingung Scarlesia melihat ekspresi Lucas yang tidak biasa.
“Baik Yang Mulia,”
“Apa itu maksudnya? Dia menanyakan namaku saja? Tapi kenapa ekspresinya terlihat terkejut?” pikir Scarlesia melanjutkan langkahnya kembali.
Lucas masih memandang punggung Scarlesia yang menjauh darinya, entah kenapa dia terlihat kaget begitu melihat Scarlesia.
“Yang Mulia, bukannya gadis itu sangat mirip dengan Anabela?” tanya ksatria pribadi Lucas.
“Ya dia memang mirip dengan Anabela. Aku harus segera memberitahu Ayah soal hal ini,” jawab Lucas.
Praangggg
Seorang gadis bangsawan tidak sengaja menumpahkan wine ke gaun Miranda, hal ini membuatnya kesal dan melemparkan gelaskan ke atas lantai. Gaunnya yang berwarna biru muda itu kini penuh dengan noda wine, wajar saja jika Miranda sangat marah karenanya.
“M-m-maaf Yang Mulia saya tidak sengaja,” kata gadis bangsawan tersebut yang takut melihat kedua mata Miranda.
__ADS_1
“MAAF? KAU PIKIR MAAF SAJA CUKUP? DASAR KAU WANITA RENDAHAN BERANINYA KAU MENGOTORI GAUNKU!”
Miranda mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi karena ingin menampar gadis yang sudah gemetar di hadapannya kala ini. Namun, Scarlesia menahan tangannya agar ia tidak jadi menampar gadis tersebut.
“Yang Mulia anda jangan memainkan tamparan yang bisa membuat manusia biasa mati, apa anda pikir saya tidak tahu kalau anda memakai sihir hitam untuk menamparnya?” cegat Scarlesia memberikan sorotan mata dingin.
“Haha ternyata matamu bisa menyadarinya. Kau jauh lebih hebat dari kelihatannya,”
Scarlesia melepaskan cekalan tangannya lalu menyuruh gadis yang di dekatnya untuk segera menjauh dari mereka.
“Apa anda sebegitu kesalnya dengan saya? Saya tahu sejak tadi anda menggerutu karena marah dengan saya tapi bukan begini juga caranya. Anda tidak boleh melampiaskan amarah anda pada orang yang tidak bersalah,”
“Apa kau bilang? Kau pikir aku bisa berdiam diri saja melihatmu berdiri di atasku? Kenapa wanita sepertimu bisa merebut posisiku sebagai wanita tercantik di dunia ini?”
“Tapi memang kenyataannya bukan kalau saya ini lebih cantik dari anda? Apa anda tidak punya cermin untuk berkaca dan membandingkan kecantikan kita berdua?”
Perdebatan antara Scarlesia dan Miranda semakin memanas, para bangsawan yang penasaran ikut merapat ke dekat mereka berdua agar bisa mendengar apa yang sedang mereka perdebatkan.
“Kau sudah menghancurkan segala usahaku bahkan merebut para tumbal yang sudah disediakan. Scarlesia, seharusnya kau mati saja! HARI INI AKU AKAN MEMBUNUHMU!”
Seluruh aula berguncang seperti gempa bumi, para tamu semuanya berhamburan panik. Aura hitam menyelimuti ruangan, Miranda mengeluarkan sihirnya untuk membuat aula ini hancur. Scarlesia beringsut mundur ke belakang, saat ini dia terpisah dari para prianya. Apa yang akan dia lakukan? Untuk sekarang dia masih berpikir.
“HAHAHA MATI LAH KALIAN! AKU AKAN MEMBUAT TEMPAT INI MENJADI KUBURANMU SCARLESIA!” teriak Miranda perlahan naik ke atas.
“SIAAAA!!!” panggil enam prianya yang berhasil menemukan Scarlesia.
“Apa yang terjadi di sini?” tanya Xeon.
“Sepertinya ini ulah Miranda,” kata Zenon.
Puing-puing bangunan berjatuhan menimpa banyak orang, saat ini sudah banyak orang yang terluka oleh ulah Miranda.
“OLIVER! TOLONG BUAT SIHIR PELINDUNG AGAR PUING-PUING INI TIDAK MENIMPA LEBIH BANYAK ORANG LAGI!” perintah Scarlesia. “DAN KALIAN TOLONG SELAMATKAN ORANG-ORANG YANG SEDANG TERTIMPA PUING-PUING INI!” lanjutnya memberi perintah.
“Baiklah,”
__ADS_1