
“J-jadi itu kita?”
Gambaran pertama, di sana Scarlesia kecil tengah disiksa oleh kedua orangtuanya hingga membuatnya meninggal. Berlanjut pada ingatan-ingatan selanjutnya, hidupnya selalu berakhir tragis di tangan banyak orang terutama keluarganya. Dia pernah dijual sebagai budak dan mainan untuk memuaskan hasrat laki-laki, dimanafaatkan untuk bisa dinikahkan dengan saudagar kaya nan kejam, dicampakkan karena dirinya cacat, dibunuh karena tidak mau menikahi dengan pria yang melamarnya, serta ada pula ingatannya tentang dirinya yang menjadi subjek penelitian sihir.
Scarlesia bungkam, ia diam dan tidak mau bertutur lebih lanjut. Kekejaman hidupnya dulu memang benar adanya, memang nyatanya ada, ingatan-ingatan itu menyayat hati kecilnya. Rasanya sekarang dia terkikis di dalam gelapnya ingatan masa lalunya, Scarlesia terjatuh duduk dan merenungi kisahnya yang sangat berantakan.
“Kau lihat itu? Kita tidak pernah sekali pun bahagia. Bisa kau saksikan sendiri kan? Ini hanya sebagian kecil memori gelapmu yang terkunci. Masih banyak lagi penderitaan yang membuat kita jatuh dan terpuruk,” ucap wanita itu dengan tegas.
“Lalu apa tujuanmu memperlihatkan memori itu padaku? Sebenarnya kau siapa? Kenapa kau tidak menjelaskan lebih dulu tentang siapa dirimu padaku?” cecar Scarlesia.
Hening. Wanita itu memalingkan wajahnya dari Scarlesia, dia enggan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Scarlesia padanya.
“Hei jawab!” desak Scarlesia.
“Aku sudah mengatakannya, aku adalah dirimu. Apa kau tidak bisa mengerti?” tekannya.
“Jangan bohong! Jawab sejujurnya. Siapa kau sebenarnya?” ulang Scarlesia semakin mempertegas pertanyaannya.
“Aku adalah kau dan kau adalah aku. Kita berdua adalah jiwa yang sama, namun berbeda. Apa kau tahu kenapa kita berbeda?”
Scarlesia menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak tahu sama sekali.”
“Aku merupakan kegelapan yang ada di dalam jiwamu, aku adalah si hitam. Selama ini kita menjalani jenis kehidupan yang berbeda. Kau bingung bukan? Aku….”
Tiba-tiba di sela penjelasannya, ada guncangan hebat yang mengguncang tempat mereka saat ini berada. Wajah wanita tersebut berubah menjadi panik dan cemas, ia mendorong-dorong tubuh Scarlesia untuk segera pergi dari sana.
__ADS_1
“Cepat pergi! Kau harus pergi dari sini!” usirnya.
“Tapi kenapa? Kau belum menjelaskannya padaku.”
“CEPAT PERGI SEKARANG! KAU TIDAK BOLEH BERADA DI SINI TERLALU LAMA! KAU ADALAH JIWA YANG NETRAL, JANGAN SAMPAI KAU TERJEBAK BERSAMAKU DI SINI. KALAU KAU INGIN MENGETAHUINYA, NANTI SI PUTIH AKAN MENJELASKANNYA PADAMU. SEKARANG PERGI DARI SINI!”
Scarlesia tidak mengerti sama sekali apa yang dibicarakannya, dia memilih untuk menurut dan mengikuti perintah wanita itu. Di saat Scarlesia memutar kepalanya ke belakang, tubuh wanita itu seolah sedang ditarik lalu tenggelam oleh ribuan tangan yang menariknya untuk masuk ke dalam tempat yang lebih gelap lagi.
“Apa maksud dari semua ini? Aku sangat ingin mengetahuinya. Tapi, sekarang aku harus keluar dulu dari sini sebelum aku ikut terseret di dalamnya.”
Beberapa saat kemudian, Scarlesia akhirnya kembali ke dunia nyata dan mendapati dirinya telah berada di atas tempat tidur lagi. Irama napasnya tidak teratur, dadanya terlalu sesak, serta keringat bercucuran deras dari tubuhnya sehingga membuat piyama tidurnya menjadi basah.
“Aku kembali….”
“Astaga Yang Mulia! Apa yang terjadi? Kenapa tubuh penuh oleh keringat?” tanya Hana cemas.
Hana segera mengambilkan segelas air putih untuk Scarlesia, ia menyeruput air putih itu sampai habis. Scarlesia memijit pelipisnya, kepalanya pusing akibat mimpi aneh yang baru saja dia alami.
“Mimpi apa itu? Rasanya itu bukan mimpi sama sekali. Apa itu semacam petunjuk baru tentang siapa diriku sebenarnya? Tidak ada gunanya aku memikirkannya sekarang karena logikaku tidak akan pernah sampai ke sana,” pikir Scarlesia serius.
“Yang Mulia, ini sudah saatnya anda bersiap-siap karena rapat akan segera digelar sebentar lagi,” ujar Dinar.
“Oke, sekarang aku akan bersiap-siap. Tolong bantu aku,” pinta Scarlesia.
“Baik Yang Mulia.”
Para pelayan pribadinya, segera membantu Scarlesia untuk bersiap-siap. Sebentar lagi rapat akan dilaksanakan, rasa pusing dari mimpinya tadi masih tersisa tapi masih bisa dia tahan sampai rapat ini selesai.
__ADS_1
“Yang Mulia, para utusan dari masing-masing kekaisaran sudah datang,” lapor salah seorang ksatria dari luar pintu.
“Oke, aku akan segera ke sana sekarang,” sahut Scarlesia.
Scarlesia tidak mengenakan gaun, namun dia meminta agar di rapat kali ini memakai celana untuk mempermudah ia untuk bergerak. Di depan kamar sudah ada Carlen dan Aldert yang menunggu dirinya, sedangkan para prianya dia suruh duluan ke ruang rapat. Scarlesia berangkat ke ruang rapat bersama kedua kakak laki-lakinya, mereka tidak bisa membiarkan Scarlesia seorang diri setelah malam Leroux datang ke istana.
Ruang rapat terisi penuh oleh utusan setiap kekaisaran, rapat kali ini dihadiri oleh empat kekaisaran terbesar serta beberapa kekaisaran kecil yang berada di daerah cukup jauh. Kedatangan Scarlesia di ruang rapat mengubah suasana tegang sebab di antara kekaisaran ini masih ada permusuhan dan perselisihan. Scarlesia seakan membawa rasa damai antara mereka, pada awalnya bersitegang kini terpaksa harus diam dan tidak heboh perihal urusan kekaisaran masing-masing.
Berpuluh pasang mata tidak bisa mengelakkan pandangannya dari Scarlesia, hal ini membuat para prianya Scarlesia menjadi cemburu. Mereka memelototi setiap pria yang berani-beraninya memandang Scarlesia tanpa kedip.
“Aku akan membunuh kalian kalau kalian berani menatap Sia lagi.”
Mereka mengancam semua pria dengan bahasa mulut dan dengan isyarat tangan masing-masing.
“Ehemm.” Scarlesia berdehem sambil menatap tajam mereka agar menghentikan sikap kekanak-kanakkannya.
Mereka langsung menghentikan tingkahnya karena Scarlesia sudah menegur mereka secara tidak langsung.
“Mungkin ada beberapa di antara anda sekalian pertama kali bertemu saya dan ada juga beberapa yang sudah bertemu saya sebelumnya. Saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu, saya Scarlesia Evariste yaitu Kaisar ke 59 Evariste. Terima kasih saya ucapkan kepada anda semua karena sudah mau menghadiri undangan saya,” ucap Scarlesia memperkenalkan dirinya seraya berterima kasih.
Selesai memperkenalkan dirinya, Scarlesia duduk di kursi utama sebagai pemimpin rapat hari ini. Scarlesia memiliki pikiran rumit perihal mimpinya tadi, namun ia mengesampingkan pikiran itu terlebih dahulu sebab rapat ini lebih penting saat ini.
“Saya akan memulai rapat hari ini, saya harap anda semua nyaman berada di satu ruang seperti sekarang. Bagi kekaisaran yang dirasa ada masalah lain, tolong dikesampingkan dulu masalahnya karena topik pembahasan kita saat ini terbilang cukup rumit.”
“Saya dengar dari perwakilan yang saya kirim semalam, anda mengatakan bahwa dunia ini sedang berada di ambang kehancuran. Bukankah begitu?” celetuk Dizon, putra mahkota Kekaisaran Thyme.
“Benar. Alam semesta tengah berada di ambang kehancuran. Saya tidak akan meminta anda semua untuk mempercayai saya, namun saya di sini hanya memperingatkan sekaligus memberitahu anda untuk segera bersiap-siap menghadapi kehancuran ini,” jawab Scarlesia.
__ADS_1
“Apa anda yakin dengan itu? Siapa tahu anda hanya bermimpi saja. Dunia damai-damai saja, bagaimana bisa tiba-tiba berada di ambang kehancuran?”