Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Scarlesia Kembali Bangkit


__ADS_3

“Bukan saatnya bagimu hanyut dan tenggelam lebih jauh lagi, kematian itu bukan salahmu. Kau harus kuat karena akhir dunia semakin dekat, sekarang tundalah rasa sedihmu sementara waktu. CEPAT BANGUN!”


Suara itu menyela masuk ke dalam tidurnya Scarlesia, suaranya terlalu mengejutkan dirinya hingga membuatnya terbangun dalam perasaan kaget. Dia tergagap sambil mengatur irama napasnya, dadanya sesak karena suara itu seakan membentaknya untuk bangun lebih cepat. Eldrick yang tidur di tepi ranjang Scarlesia ikut terkejut saat melihat Scarlesia terbangun dalam keadaan diri sesak napas. Langsung saja Eldrick menggapai segelas air yang terletak di samping meja tempat tidur Scarlesia.


“Astaga, apa kau baru saja mimpi buruk? Minum ini,” suruh Eldrick menyuguhkan air putihnya pada Scarlesia.


Sepasang tangan Scarlesia menerima gelas itu, tangannya gemetar hebat dan Eldrick mengelus punggungnya supaya ia lebih tenang.


“Kenapa Ayah bisa berada di sini?” tanya Scarlesia keheranan.


“Apa kau lupa? Kemarin kau pingsan setelah mengamuk dan membanting seluruh barang yang ada di kamar,” ujar Eldrick.


Scarlesia melihat telapak tangan kanannya, ternyata benar ada perban yang melilit luka di tangannya. Scarlesia mulai mengingat tentang apa yang dikatakan oleh Eldrick memang betul adanya, dia mengamuk setelah mendengar suara jahat itu merasuki pikirannya. Sekarang dia tidak lagi mendengar suara tersebut.


“Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau merasa lebih baik atau masih ada terasa sakit di badanmu?” tanya Eldrick memperlihatkan raut khawatir.


“Aku sekarang baik-baik saja Ayah, tenang saja. Ayah tidak perlu mengkhawatirkan aku,” tutur Scarlesia seraya mengebambangkan senyumnya.


“Jangan paksakan dirimu bersikap baik-baik saja, jangan pernah bohongi perasaanmu sendiri. Jika kau kesulitan menahan rasa sedih di hatimu, Ayah harap kau langsung memberitahu Ayah ya. Jangan tahan rasa pedih sendirian, bagikan juga dengan Ayah sakitmu itu. Aku tidak mau kehilanganmu setelah Larissa, jadi tolong bersikaplah seperti anak-anak pada umumnya. Merengek dan menangislah di depan Ayah sesukamu Sia,” ucap Eldrick.


“Aku hanya takut melangkah lebih jauh lagi, aku takut orang-orang akan meninggalkanku lagi. Ayah, aku sangat takut… apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Aku lelah Ayah,” ungkap Scarlesia berderai air mata.


Eldrick spontan menggenggam kedua tangan Scarlesia, dia tidak ingin putrinya merasa sedih terus menerus.


“Kalau lelah, kau boleh beristirahat. Tapi, jangan pernah berpikir bahwa kau akan ditinggal sendirian sebab Ayah bersama kakakmu akan selalu berada di sampingmu. Tidak peduli dalam kondisi apapun, kami tidak akan meninggalkanmu. Banyak orang yang masih menyayangimu, jadi jangan menganggap kau sendirian di muka bumi ini.”


Eldrick menghapus air mata yang mengalir di pipi Scarlesia, ia menatap Scarlesiah penuh hangat dan perasaan sayang.

__ADS_1


“Sebentar lagi putriku akan menjadi kaisar, kau akan memimpin seluruh rakyat di Evariste. Kekaisaran ini sudah menjadi milikmu Sia, tidak ada waktu bermain lebih lama lagi. Bukannya perang akhir yang selalu kau sebutkan itu semakin dekat? Sekarang mari kita berjuang bersama, tutup dulu lembaran yang terjadi di hari kemarin, aku yakin akan ada bahagia untukmu menunggu di depan sana.”


Nasihat dari Eldrick sanggup meluluhkan hati Scarlesia, kini perasaannya jauh lebih baik daripada sebelumnya. Menunda sejenak kesedihan lalu menggantikannya dengan kebahagiaan di masa depan merupakan bagian dari tugasnya untuk menciptakan kesenangan bagi hidupnya. Dari sini, Scarlesia mulai memantapkan hatinya untuk menatap lurus ke depan.


“Betul, ini bukan waktunya untukku hanyut dalam kesedihan. Aku harus bangkit dan memerangi segala penderitaan ini. Aku akan memenangkan pertempuran akhir dan melenyapkan seluruh kegelapan di dunia ini. Terima kasih Ayah, sekarang aku merasa jauh lebih baik,” ujar Scarlesia mulai bisa tersenyum seperti biasanya.


“Iya, kalau ada apa-apa segera beritahu Ayah atau kakakmu,” pesan Eldrick.


“Baik Ayah.”


Kebangkitan Scarlesia dimulai lagi, ia turun dari tempat tidurnya lalu membuka lebar jendelanya. Senyum manisnya melebar mendongak ke arah langit yang masih menitihkan bulir-bulir air hujan.


“Sekarang aku baik-baik saja, berhentilah langit. Perlihatkan matahari padaku,” titah Scarlesia.


Secara perlahan langit menghentikan turunnya air hujan, langit kelam berubah menjadi cerah dan matahari menampakkan wujudnya. Rasa hangat dari cahaya matahari memberikan sensasi segar untuknya, sekarang ia akan mulai lagi dari awal semuanya.


“Yang Mulia, anda baik-baik saja sekarang?” tanya Cici balik dengan mata yang berkaca-kaca.


“Seperti yang kau lihat, aku sekarang baik-baik saja. Aku merasa jauh lebih baik,” ungkap Scarlesia penuh senyum ramah.


Scarlesia kemudian menempelkan kedua tangannya ke tubuh Cici dan Bely, cahaya hangat menembus tubuh mereka dan menyembuhkan luka-luka mereka.


“Kekuatan anda sudah kembali Yang Mulia?”


Scarlesia mengangguk sumringah, kekuatannya sudah pulih maksimal dan kini dia tidak perlu mengkhawatirkan soal kekuatannya lagi.


“Sudah, kalian berdua telah kembali sehat.”

__ADS_1


“Sia, aku minta maaf karena aku tidak bisa melindungi kaisar. Aku merasa diriku tidak berguna sekali,” ucap Bely tiba-tiba sedih.


“Saya juga Yang Mulia, saya minta maaf karena tidak bisa melindungi raja,” timpal Cici ikut sedih.


“Lupakan sejenak kesedihan kalian, aku tidak apa-apa dan tidak ada yang perlu dimaafkan. Nah sekarang bisakah kalian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu?”


Lalu Cici dan Bely mulai bercerita tentang apa yang membuat istana terbakar. Mereka mengatakan bahwa ada penyerangan mendadak dari Aaron bersama beberapa orang iblis hitam. Mereka membabat habis seluruh istana dan mengacaukannya dalam waktu singkat. Terungkap kala itu Edward, Lucas, Victor, Qirani, Feodor, dan Jessie mencoba menghadapi mereka. Namun, kekuatan mereka berada di atas rata-rata.


Pertempuran pecah di istana, sihir pembatas digunakan oleh Aaron agar Scarlesia tidak bisa mengetahui apa yang tengah terjadi di istana. Hanya dengan beberapa serangan saja, segalanya hancur begitu saja bahkan banyak ksatria dan penyihir yang menjadi korbannya.


“Jadi, itulah kenapa aku menemukan banyak telinga dari para korban berdarah. Semua itu karena suara yang dihasilkan dari serulingnya Aaron,” gumam Scarlesia.


“Mereka sangat kuat, setahuku iblis hitam biasa tidak sekuat itu tapi kenapa tiba-tiba saja mereka bertambah kuat hanya dalam waktu singkat?” bingung Bely.


“Aku yakin dewa kegelapan melakukan sesuatu lagi pada mereka, untuk sekarang kita harus menyusun rencana lagi dari awal untuk menghadapinya. Bisakah kalian membantuku? Kita tidak boleh bersedih lebih lama lagi.”


“Bisa Yang Mulia.”


“Bisa Sia.”


“Sekarang aku minta kau Bely untuk menggantikan Kitty sementara waktu, hingga perang ini selesai. Apa kau bersedia?”


Bely berpikir sejenak, dia juga beranggapan bahwa ia harus ikut serta dalam perang ini.


“Oke, aku bersedia.”


“Bagus, sekarang kalian beristirahatlah lebih lama lagi karena ada beberapa hal yang ingin aku lakukan.”

__ADS_1


__ADS_2