
“Seharusnya aku lah yang berterima kasih padamu sebab berkat dirimu aku ada sampai saat ini,” ujar Kitty.
Scarlesia mengungkit memori lamanya, dia pertama kali menemukan Kitty saat itu. Kitty masih bayi dan Ibunya mati ketika melahirkannya. Scarlesia merawatnya dengan sangat hati-hati dan menyayanginya setulus hatinya. Kitty merasa bahagia ketika bersama Scarlesia, maka pada saat Scarlesia mati Kitty pun rela menunggunya entah berapa tahun lamanya itu.
“Tapi berkatmu juga aku bisa bertahan sejauh ini, aku hanya ingin berterima kasih pada mereka yang memiliki kontribusi besar di hidupku. Terutama saat aku berada di kondisi terpuruk kalian lah yang setia berada di sampingku termasuk kamu Kitty. Kamu sudah membantuku sejauh ini, aku sungguh-sungguh berterima kasih padamu.”
Rambut Scarlesia dihembus oleh angin malam, rambutnya mengibar menampakkan wajah cantiknya tersenyum menatap Kitty.
“Aku sangat senang berada di samping Sia, terima kasih karena sudah memberiku hidup selama ini. Terima kasih sudah mau kembali lagi padaku,” ucap Kitty.
Scarlesia membalas ucapan terima kasihnya dengan elusan tangan di kepalanya lalu sebuah ciuman di keningnya Kitty. Mereka berdua tertawa bersama sembari menikmati langit malam kian indah bertabur bintang yang bersinar menemani gelapnya malam.
Pada esok harinya, Scarlesia bangun lebih awal karena hari ini dia mempersiapkan dirinya untuk ikut serta dalam pemilihan dokter kekaisaran. Beberapa waktu lalu dia membasmi hampir seluruh dokter di Evariste ini, jadi hari ini dia menjadwalkan untuk memilih dokter atas pengawasan langsung darinya.
Cuaca hari ini begitu cerah, tampaknya cuaca juga mendukung kegiatan Scarlesia sekarang. Scarlesia mengenakan gaun yang simpel namun tetap terlihat indah di badannya.
“Yang Mulia, semua persiapan sudah selesai,” ucap salah seorang ksatria penjaga.
“Oh sudah selesai? Baiklah aku akan segera ke aula.”
Scarlesia pergi ke aula didampingi oleh Hana dan Erin melewati beberapa lorong istana. Setibanya di aula istana, Scarlesia cukup terkejut sebab ruang aula istana yang sangat besar dipenuhi oleh banyak orang. Scarlesia memberi kesempatan kepada rakyat biasa untuk menjadi dokter juga, jadi tidak hanya kepada bangsawan saja bahkan rakyat biasa tidak menutup kemungkinan untuk menjadi seorang dokter kekaisaran.
Melihat Scarlesia yang memasuki aula, suasana ribut menjadi tenang seketika. Mereka tidak berhenti menatap takjub melihat kecantikan Scarlesia. Banyak diantara mereka yang belum pernah melihat Scarlesia sedekat ini. Mata-mata yang berbinar tidak bisa dibohongi, memang inilah pesona Scarlesia sebagai wanita paling cantik sejagat raya ini.
__ADS_1
“Terima kasih sebelumnya atas rasa antusias kalian untuk mengikuti seleksi pemilihan dokter kekaisaran ini. Aku tidak membedakan antara rakyat biasa dan bangsawan serta aku tidak peduli kalian pria atau wanita, kalian semua akan aku perlakukan sama rata. Di dalam kedokteran, kita semua sejajar tidak ada yang namanya kasta tinggi atau pun rendah,”
“Kita sebagai dokter berhadapan langsung dengan nyawa manusia, meskipun aku memiliki kekuatan penyembuhan yang luar biasa hebatnya tapi aku tetap butuh kalian sebagai dokter. Kenapa? Itu karena aku tidak bisa menangani banyak orang sendirian, tidak ada yang tahu ke depannya akan terjadi masalah seperti apa, maka dari itulah aku membutuhkan kalian di sini. Aku tidak butuh dokter yang bekerja hanya demi uang saja, aku menginginkan dokter yang telaten dan mengetahui pentingnya nyawa orang lain. Apa kalian paham?”
Pidato Scarlesia membuat mereka tertegun, suaranya lembut dan terdengar tulus sehingga mampu menghipnotis siapa pun.
“KAMI PAHAM YANG MULIA,” jawab mereka serentak.
Semangat yang terpancar dari suara mereka bergaung di aula istana dan membuat lantai bergetar. Setelah itu, langsung dimulai saja ujian untuk mereka semuanya, Scarlesia dibantu oleh beberapa dokter terpercaya yang tersisa dari pembasmian beberapa waktu lalu. Ujian pertama yang diadakan adalah ujian tulis untuk menguji seberapa jauh pengetahuan mereka tentang ilmu kedokteran. Ujian kedua yaitu ujian meracik obat sendiri dari beberapa tanaman herbal yang sudah disediakan di ruang ujian masing-masing.
Ujian untuk seleksi dokter ini ada 3 ujian, lalu ujian terakhirnya adalah praktek langsung dalam menangani seorang pasien. Ujian berlangsung selama hampir 5 hari, di hari kelima semua ujian akhirnya selesai juga. Dia sungguh sibuk bukan main selama seleksi ini berlangsung, pada hari keenam Scarlesia pergi mengamati alat-alat medis kekaisaran.
“Archie, sepertinya kau akan bekerja lebih maksimal sekarang sebab banyak yang mesti kita kerjakan untuk membuat alat-alat medis yang canggih,” ujar Scarlesia pada Archie.
“Tidak masalah, aku akan membuat berapa pun yang kakak perlukan jadi serahkan masalah ini padaku dan kakak tinggal terima hasilnya saja,” balas Archie penuh keyakinan.
“Hehe karena dulunya aku tidak pernah sempat mempraktekkan bakat alamiku, Ibu selalu memaksa untuk belajar agar menjadikanku sebaagai seorang ahli waris tapi di sini berbeda. Kakak terus mendorongku melakukan hal-hal yang aku suka, kakak menyediakan semuanya untukku, makanya aku senang sekali melakukan pekerjaan sesuai bakatku,” ucap Archie mengembangkan senyumnya.
“Adikku sekarang sudah dewasa ya, aku turut senang jika kau juga senang,”
Scarlesia mengacak-acak gemas rambut Archie, mereka berdua tertawa riang sambil melanjutkan kembali pekerjaan masing-masing. Selepas seluruh pekerjaan terselesaikan, Scarlesia balik ke istananya dan langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur empuk miliknya.
“Aahh aku lelah sekali, akhirnya semua pekerjaanku selesai juga,” gumam Scarlesia.
__ADS_1
“Yang Mulia, anda harus mandi dulu sebelum tidur,” ujar Erin.
Terpaksa Scarlesia mengakhiri sejenak posisi nyamannya, Erin dan Hana membawanya ke kamar mandi untuk menyegarkan kembali tubuhnya yang letih. Kesibukannya tidak berhenti di hari ini saja, esok harinya dia harus menghadiri pesta minum teh yang diadakan khusus oleh Duchess Freya.
“Yang Mulia, anda akan pergi bersama siapa ke pesta minum teh hari ini?” tanya Hana.
“Sepertinya aku akan pergi sendiri karena orang-orang sibuk semua,” jawab Scarlesia.
Sesampainya ia di kediaman Duchess Freya, tidak ada habisnya dia mendapat sapaan langsung dari beberapa bangsawan berpengaruh di Kekaisaran Evariste. Jumlah orang yang diundang oleh Duchess Freya juga tidak sedikit jumlahnya. Mereka menyambut ramah kedatangan Scarlesia, apalagi Duchess Freya terlampau bahagia karena Scarlesia mau menghadiri undangannya.
“Terima kasih Yang Mulia sudah mau memenuhi undangan saya, silakan masuk Yang Mulia. Saya telah menyediakan tempat duduk langsung untuk anda,” kata Duchess Freya menuntun Scarlesia ke tempat duduk yang berada di tengah-tengah tamu undangan.
Mereka menyuguhkan banyak makanan di atas meja, teh yang disuguhkan oleh Duchess Freya sangat menggugah selera Scarlesia sebagai seseorang pecinta teh.
“Wah sepertinya tehnya enak, apakah aku boleh mencicipinya sedikit?” tanya Scarlesia tergiur oleh aroma enak tehnya.
“Silakan Yang Mulia cicipi saja,” jawab Duchess Freya.
Scarlesia sangat riang, ia segera mengangkat cangkir tehnya lalu meneguknya selayang. Namun, di sini lah keanehan mulai terjadi pada Scarlesia, dia tampak pusing setelah meminum tehnya. Dia memegangi kepalanya yang terasa pusing tak tertahankan.
“Kenapa kepalaku mendadak pusing? Aku terlam...bat....”
Pranggg!
__ADS_1
Brukk!
“YANG MULIA!!”