
“HENTIKAN!” sergah Scarlesia.
Suara Scarlesia bergema ke setiap titik sudut area perang, semua langkah yang hendak menyerang keenam prianya terhenti begitu saja. Scarlesia saat ini dibalut oleh amarah yang menggebu-gebu, dia geram dengan tindakan Leroux menggunakan mereka yang tidak bersalah ke dalam pertarungan mereka berdua.
“KALIAN LUPA SIAPA PEMIMPIN KALIAN SEBENARNYA? AKU ADALAH PEMIMPIN KALIAN! AKU RATU KALIAN! AKU PENGUASA SEMESTA INI. LALU APA SEKARANG KALIAN MAU BERPALING DARIKU? KALIAN TIDAK INGAT APA YANG DILAKUKAN OLEH PRIA INI PADA KALIAN SEBELUMNYA?”
“KALAU KALIAN TIDAK INGIN HANCUR LAGI, CEPAT KENDALIKAN DIRI KALIAN SENDIRI! JANGAN MAU DIKENDALIKAN OLEH KEGELAPAN YANG AKAN MEMBAWA KALIAN PADA PENDERITAAN. JANGAN SAMPAI AKU MARAH KEPADA KALIAN!”
Seruan dan teriakan Scarlesia sukses mencapai pendengaran mereka, napas Scarlesia menderu-deru sesak akibat teriakannya yang terlampau kencang. Tenggorokan terasa sedikit gatal dan kering setelah berteriak, namun dia tidak terlalu menghiraukannya. Sebab suara Scarlesia, akhirnya satu persatu dari mereka mulai sadar, pengendalian Leroux terlepas dari pikiran mereka masing-masing. Hal ini membuat Leroux semakin jengkel karena Scarlesia selalu punya akal mematahkan setiap serangannya.
“Jadi, sekarang tidak ada seranganku yang tidak bisa kau patahkan? Eberly sepertinya sangat menyayangimu,” ujar Leroux.
“Aku tidak akan pernah membiarkanmu menang!”
Scarlesia bergerak cepat dengan pedangnya mengarah pada Leroux, pada saat itu terjadilah pertarungan antar pengguna pedang. Suara pedang beradu di udara, di antara keduanya tidak ada yang lebih unggul, kekuatan mereka seimbang, dan mereka sama-sama kewalahan satu sama lain. Waktu terus berjalan, jangka waktu yang tersisa untuk Scarlesia mengalahkan Leroux adalah 25 menit lagi. Scarlesia harus mengalahkan Leroux apa pun yang terjadi di sisa waktu yang singkat ini.
Suasana menjadi semakin tegang, entah siapa di antara mereka berdua yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Pertarungan sengit keduanya disaksikan oleh beribu pasang mata, gerakan mereka terlalu cepat sehingga tidak dapat dilihat pergerakannya oleh orang biasa.
“Mereka berdua sangat cepat, aku kesulitan untuk mengikuti pertarungan mereka,” ujar Oscar, Putra Mahkota Kekaisaran Celosia.
“Mereka imbang dalam hal kecepatan, apa Yang Mulia Kaisar Evariste sanggup mengalahkan pria itu dalam waktu 25 menit?” tambah Dizon, Putra Mahkota Kekaisaran Thyme.
“HEI LIHAT! SEPERTINYA ADA YANG SALAH DENGAN YANG MULIA!” seru seorang penyihir menunjuk ke arah Scarlesia.
Pada kala itu, Scarlesia terlihat sangat pucat, bahkan pergerakannya melambat. Irama napas yang dikeluarkannya tidak beraturan, tangannya yang menggenggam gagang pedang juga nampak gemetar. Lalu Scarlesia pun menghentikan serangannya, dia membuat jarak cukup jauh dari Leroux sementara waktu.
__ADS_1
“Tubuhku melemah, jangan-jangan karena luka ini? Kalau begini terus aku tidak akan bisa mengerahkan kekuatanku lebih banyak,” batin Scarlesia, ia memeriksa luka yang diterima di lengan tangannya, rupanya luka tersebut semakin parah dan berubah warna menjadi hitam. Sontak, Scarlesia kaget melihat lukanya yang bertambah parah itu.
Oleh karena itulah Scarlesia menerima banyak tatapan khawatir pada dirinya, semua orang yang menaruh harapan besar pada Scarlesia menjadi takut kalau Scarlesia tidak akan mampu bertahan hingga akhir.
“Xeon, ada apa dengan Sia?” tanya Aldert.
“Nampaknya luka itu menjadi masalahnya,” sela Zenon.
“Ya, luka itu masalahnya. Aku khawatir Sia tidak akan bisa bertahan sampai akhir pertarungan ini,” ucap Xeon yang tenggelam dalam rasa khawatirnya.
“Apa? Kalau begitu kita harus menolong Sia sekarang juga! Aku tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi,” kata Elios berniat pergi menyelamatkan Scarlesia.
“Tidak! Kau tidak boleh ke sana. Walaupun kita mencemaskannya, percayalah Sia akan lebih marah kalau kita ikut campur masuk ke pertarungan penentuan ini,” cegat Xeon.
“Hahaha, apa kau baru saja menyadarinya? Aku menggoreskan luka itu di lenganmu bukan tanpa sebab. Aku memasukkan racun ke dalam seranganku untuk melemahkan kekuatanmu, mulai detik ini kau berada di dalam kendaliku,” ungkap Leroux tertawa puas.
“Rupanya kau memakai trik kotor untuk mengalahkanku? Betapa mirisnya dirimu, mengalahkan gadis kecil sepertiku saja kau tidak mampu sehingga kau harus menggunakan racun untuk melemahkanku. Ini membuktikan bahwa kau mengakui kekuatanku berada jauh di atasmu,” sarkas Scarlesia sembari menyunggingkan senyuman miris di bibirnya.
Sorotan pandang Leroux kian menajam, perkataan yang dilontarkan Scarlesia barusan berhasil membakar diri Leroux di dalam api kemarahan. Mulut Scarlesia memang selalu tajam hingga sanggup mengorek amarah Leroux dan membuatnya meledak kapan saja.
“Apa yang kau katakan?”
“Kau pengecut! Kau lemah! Melawanku saja kau tidak bisa. Katanya kau mau mengambil alih alam semesta ini dari kepemimpinanku. Bagaimana caranya bila kau saja tidak dapat mengalahkanku?” remeh Scarlesia.
“TUTUP MULUTMU!” sergah Leroux marah.
__ADS_1
“Kenapa? Aku mengatakan hal yang jujur bukan?”
“Tampaknya kau tidak bisa dibiarkan hidup lebih lama lagi, kau hanya akan mengganggu ambisiku dalam menguasai semesta ini.”
Leroux menyiapkan diri untuk meluncurkan serangan berikutnya, sementara itu Scarlesia mengambil ancang-ancang untuk menahan serangan dari Leroux. Scarlesia berharap dalam hatinya supaya dia kuat bertahan sampai peperangan ini berakhir.
Kemudian, Leroux langsung menerjang habis Scarlesia, serangan pertamanya mengenai dada Scarlesia hingga membuatnya merintih sakit. Ternyata racun di luka Scarlesia semakin memperlemah dirinya, bahkan saat ini Scarlesia tidak mampu untuk mengeluarkan kekuatannya. Scarlesia terus menerus dihantam dari segala arah oleh Leroux, dia tidak diberi kesempatan untuk memulangkan serangan dari Leroux.
Scarlesia serasa akan mati akibat serangan beruntun yang diterimanya, dia tidak dapat melawan Leroux sedikit pun. Semakin lama Leroux semakin mempercepat arah serangannya menuju Scarlesia, rasa tegang dan khawatir memuncak di hati setiap orang yang menyaksikan pertarungan keduanya.
“Xeon! Kita harus melakukan sesuatu! Jika tidak Sia akan mati sia-sia di tangan pria sialan itu!” ucap Zenon.
Mereka terhanyut oleh perasaan cemas, marah, dan sedih, perasaan semuanya berkecamuk di dalam ketidakjelasan rasa. Xeon tidak dapat melakukan apa pun untuk membantu Scarlesia, jika dia membiarkan orang-orang ini ikut campur di dalam duel mereka berdua maka jumlah korban yang tewas akan terulang lagi. Xeon didera oleh dilema yang tidak berujung, di sisi lain dia tidak tahan melihat Scarlesia menahan diri di dalam hajaran Leroux.
“XEON!” teriak Carlen.
Xeon tersentak dari lamunan panjangnya karena suara Carlen tersebut, dia memperbaiki
ekspresi wajahnya sebelum menjawab perkataan mereka.
“Kita tidak bisa ke sana,” kata Xeon teramat pelan.
“Kita tidak bisa ke sana? Apa yang kau katakan? Tidak bisakah kau melihat Sia nyaris mati oleh ulah dewa kegelapan itu?” marah Lucas.
“Tidak boleh! Kita tidak boleh menambah beban Sia lagi. Percayakan pada Sia, dia pasti akan menang. Lagian kita tidak bisa keluar dari dinding perlindungan yang dibuat oleh Sia ini.”
__ADS_1