
“Yang Mulia, apa besok kita akan kembali?” tanya Erin seraya menyisir rambut Scarlesia.
“Iya, karena waktu ujian sudah hampir habis dan masalah daerah utara semuanya sudah teratasi,” jawab Scarlesia.
Ini sudah terlalu malam, malam ini Scarlesia tidur lebih larut dibanding biasanya dikarenakan ia menyelesaikan pekerjaan yang masih tersisa. Dan waktu menunjukkan pukul 00.30, Erin mengantarkan Scarlesia ke tempat tidurnya untuk segera tidur. Tidak butuh waktu lama bagi Scarlesia untuk terlelap sepenuhnya.
“YANG MULIA! YANG MULIA! TOLONG BANGUN!”
Suara teriakan Hana dan Erin mengganggu tidur Scarlesia, mereka terlihat sangat panik. Scarlesia membuka matanya perlahan, cahaya matahari samar-samar terlihat dari jendela kamarnya. Suara bising langkah kaki di tempatnya tinggal sementara waktu agak mengganggunya.
“Ada apa? Kenapa kalian teriak-teriak?” tanya Scarlesia masih mengumpulkan niatnya untuk bangun.
“Yang Mulia, anda harus lihat keluar! Cepat Yang Mulia!” desak Hana menarik tangan Scarlesia.
“Iya iya, ada apa sih? Aku masih ngantuk,”
Hana membawa Scarlesia ke tepi jendela yang masih tertutup, betapa terkejutnya ia ketika melihat keluar ternyata gas beracun berwarna hijau menyelimuti daerah utara.
“Apa yang terjadi di sini?”
Braakkk
Louis mendobrak pintu masuk kamar Scarlesia, napasnya tersengal-sengal dan hendak memberitahu Scarlesia perihal masalah gas beracun tersebut.
“Sia, kau sudah melihatnya? Bisakah kau menanganinya? Hampir seluruh penduduk sekarat karena gas beracun ini,” lapor Louis.
“SEKARAT? AKU AKAN SEGERA KE SANA! KALIAN JANGAN ADA YANG KELUAR DARI PENGINAPAN INI! TUNGGU AKU JIKA MEMANG INGIN KELUAR!”
Scarlesia panik bukan main, dia bergegas keluar hanya mengenakan piyamanya. Saat menginjakkan kakinya di luar dari penginapannya, dia menggunakan kekuatan penyembuhannya untuk melindungi dirinya serta prianya dan adiknya dari paparan gas beracun tersebut.
“K-kenapa bisa seperti ini?”
Scarlesia memeriksa setiap rumah penduduk di Desa Macra, tidak ada satu pun dari mereka yang sadar. Seluruh tubuh penduduk yang terkontaminasi oleh gas beracun tersebut dipenuhi oleh ruam, suhu tubuh yang tidak normal, serta darah keluar dari hidung atau mulut mereka.
“Sepertinya kita tidak akan bisa pulang hari ini, aku akan menyembuhkan mereka terlebih dahulu. Mungkin akan memakan banyak waktu,” ucap Scarlesia.
“Bukannya waktu ujian sudah hampir berakhir? Bagaimana jika nanti kau terlambat?” balas Elios.
“Nyawa mereka lebih penting dari sekedar menjadi kaisar, percuma saja jika aku menjadi kaisar tapi tidak bisa menyelamatkan nyawa mereka,” jawab Scarlesia.
__ADS_1
“Apa yang harus kita lakukan pertama?” tanya Andreas.
“Pertama, aku akan menghilangkan gas ini menggunakan kekuatanku. Lalu kalian tolong halangi orang-orang dari luar yang ingin masuk. Jangan izinkan mereka masuk sebelum masalah ini selesai ditangani,” perintah Scarlesia.
Tanpa berlama-lama, Scarlesia mengeluarkan kekuatannya untuk menyapu habis seluruh gas beracun di daerah utara ini. Hanya dalam beberapa detik seluruh gas beracunnya menghilang, Andreas, Xeon, dan yang lain segera melaksanakan tugas yang diberikan oleh Scarlesia. Beberapa diantaranya tetap bersama Scarlesia untuk membantunya dalam menangani penduduk secara langsung.
“Aku yakin ini adalah siasat buruk Duchess Debora, kabar mengenai daerah utara yang membaik pasti sudah tersebar di ibu kota. Mereka menggunakan gas beracun agar aku bisa disalahkan oleh penduduk utara dan dihakimi sebagai orang yang tidak pantas menjadi kaisar. Kalau aku terlambat menyadarinya sedikit saja, sudah pasti reputasiku hancur tak bersisa,” pikir Scarlesia.
“Yang Mulia, apa ada yang bisa kami bantu?” tanya Erin sedih melihat Scarlesia harus bekerja lagi.
“Eumm kalian berdua tolong bantu mengelap darah yang keluar dari tubuh orang-orang ini, bisa kan?”
“Bisa Yang Mulia! Serahkan saja pada kami,”
Mereka semua bekerja membantu Scarlesia, jumlah penduduk yang harus disembuhkan oleh Scarlesia berjumlah sekiranya hampir mencapai 1500 orang. Dia tidak bisa menggunakan kekuatan penyembuhannya seperti sebelumnya karena masing-masing kondisi mereka sangat berbeda dan ini bukanlah racun yang ringan seperti sebelumnya. Jika ia menggunakan kekuatan penyembuhannya sekaligus itu akan menyerap staminanya lebih banyak.
“Anda harus segera istirahat Yang Mulia!” ujar Hana cemas karena Scarlesia sudah bekerja lebih dari 12 jam tanpa istirahat dan makan.
“Iya Sia! Kau harus berhenti sekarang. Jangan paksakan dirimu terlalu jauh,” timpal Elios.
“Tidak, aku harus menyelesaikan masalah ini sebelum bertambah parah. Jika racun ini dibiarkan selama 3x24 jam maka nyawa mereka tidak akan terselamatkan. Aku hanya punya kekuatan penyembuhan, aku tak punya kekuatan menghidupkan orang mati,” jawab Scarlesia.
“Akhirnya selesai,” lega Scarlesia.
“Y-yang Mulia! Hidung anda berdarah,” kata Hana panik.
“Hmm? Ehh….”
Brukkk
“YANG MULIA!!”
“SIAAAA!!!”
Sementara itu, sekarang di istana kekaisaran semua bangsawan telah berkumpul menunggu pengumuman dari kaisar. Abigail sudah berada di lokasi bersama Rashid dan Duchess Debora, mereka berdiri tegak serta yakin bahwa mereka lah yang akan memenangi ujian kandidat putri mahkota. Scarlesia yang belum terlihat di istana menjadi sebuah tanda tanya besar bagi seluruh orang yang hadir.
“Kenapa Yang Mulia Putri Scarlesia belum hadir?”
“Entahlah, apa mungkin beliau berhalangan hadir?”
__ADS_1
“Kemungkinannya beliau masih berada di daerah utara, dari yang aku dengar daerah utara sedang menutup diri dari orang luar,”
“Kemarin temanku ingin pergi ke sana tapi dihadang di perbatasan daerah, jadi mereka tidak bisa masuk ke sana,”
“Apa jangan-jangan terjadi masalah serius di sana?”
Opini dan dugaan-dugaan tentang tidak hadirnya Scarlesia mulai bermunculan, orang yang berada di pihak Abigail menambahkan bumbu-bumbu di atas dugaan mereka masing-masing.
“Kalau menurutku sih beliau pasti takut untuk hadir,”
“Ehh kenapa? Bukannya masalah daerah utara sudah ditangani?”
“Aku dengar penduduk daerah utara terjangkit penyakit misterius beberapa hari belakangan ini,”
“Huh? Darimana kau mendapatkan beritanya?”
“Aku punya seseorang kepercayaanku yang berada di daerah utara,”
Dari sinilah opini buruk mengenai Scarlesia mulai menyebar ke telinga bangsawan yang hadir di aula pengumuman. Mereka menuding Scarlesia tidak becus melakukan pekerjaannya, lalu mereka berpikir bahwa Abigail melakukan pekerjaannya dengan baik dan tidak merugikan orang lain.
“Sepertinya rencanaku kali ini berhasil,” ujar Duchess Debora tersenyum penuh kemenangan.
“Apa itu artinya aku akan naik menjadi kaisar?” tanya Abigail girang.
“Tentu saja kau akan menjadi kaisar sebab nama gadis itu kini sudah tercoreng di mata bangsawan,” balas Duchess Debora.
Kemudian Edward masuk ke dalam aula, dia tidak menemukan Scarlesia dimana pun. Dia juga mendapatkan laporan dari bawahannya bahwa Scarlesia ditimpa masalah serius dan namanya juga buruk diantara para bangsawan yang hadir sekarang.
“Yang Mulia, anda sudah mendengar masalah Yang Mulia Putri Scarlesia bukan?”
“Kalau begitu, beliau tidak bisa naik ke tahta kaisar karena masalah daerah utara semakin parah karenanya,”
“Iya Yang Mulia, anda harus realistis. Yang Mulia Putri Abigail telah melaksanakan tugasnya tanpa kekurangan sedikit pun,”
Edward memijit pelipisnya, ia menghembuskan napas berat karena desakan bangsawan membuatnya sakit kepala.
“Baiklah, sekarang aku ak….”
“TUNGGU SEBENTAR!”
__ADS_1