
“Kalau begitu sekarang aku akan mengeluarkan kekuatanku yang sesungguhnya. Aku akan tunjukkan padamu kekuatan mengerikan yang telah aku simpan lama di tubuhku,” ujar Leroux.
Scarlesia mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi setelah ini, dia tahu bahwa tadi Leroux belum mengeluarkan kekuatan sejatinya. Scarlesia merilekskan perasaannya sembari memperhatikan apa lagi yang direncanakan oleh Leroux.
Berselang beberapa detik, Leroux mengeluarkan sebuah kotak dari balik pakaiannya. Kotak berwarna hitam pekat berbentuk seperti kotak harta karun berukuran kecil. Dia tersenyum seketika kotak tersebut berada di atas tangannya. Dia menatap Scarlesia memakai sorotan mata penuh siasat, Scarlesia mulai berfirasat buruk terhadap apa yang ada di balik kotaknya.
“Sudah saatnya aku menggunakan kotak ini, kau akan melihat neraka yang sesungguhnya setelah ini.”
Leroux menyingkap kotak itu, rupanya di dalam kotaknya tersimpan beribu-ribu jiwa jahat berkeluaran dari sana. Leroux menyerap seluruh jiwa-jiwa tersebut, tidak terhitung berapa jumlah jiwa jahat manusia yang dia kumpulkan selama ini. Tidak terhitung berapa banyak manusia yang dia bunuh hanya untuk mewujudkan hasrat gila akan kekuasaan miliknya.
Kelar menyerap seluruh jiwa-jiwa jahat itu, Leroux beralih menyerap jiwa dari bawahannya yang tewas di medan perang. Ternyata para jiwanya telah disimpan oleh Leroux di dalam sebuah botol berukuran kecil. Di sana, terdapat jiwa Vanos, Cyrill, Parnell, Norbert, Zin, serta Aaron, lalu tidak lupa jiwa-jiwa kuat lainnya. Leroux juga mengambil segala jenis senjata kuat yang dipakai oleh para bawahannya, senjata-senjata itu digabungkan menjadi satu termasuk seruling yang sebelumnya digunakan oleh Aaron.
Saat ini penampilan Leroux berubah drastis, rambutnya menjadi hitam panjang, tubuhnya semakin kekar, pakaiannya berganti seperti jubah, dan senjata yang kini dia pegang berupa tongkat perak hitam berkilau. Tekanan yang dikeluarkan oleh Leroux semakin kuat, untungnya Scarlesia memasang pelindung sehingga tekanan ini tidak dirasakan oleh orang lain yang berada di sana.
“Kurang ajar! Beraninya dia menelan jiwa adikku!” gerutu Xeon.
Louis melirik Xeon, dia mendapati tangan Xeon mengepal hingga menampakkan kubu putih jemarinya. Selain itu, tubuh Xeon juga terlihat bergetar, ini bukan karena Leroux menelan jiwa adiknya tapi ada hal lain yang membuatnya takut.
“Xeon, ada apa? Kenapa kau sepertinya takut sekali?” tanya Louis membuka suara untuk menanyakan langsung kepada Xeon.
“Kekuatan Leroux saat ini berbahaya! Dengan begini aku ragu apakah Sia dapat menyelesaikan pertarungan ini secara tepat waktu atau tidak,” ucap Xeon, keringat dingin dari keningnya bercucuran deras menetes dari wajahnya.
__ADS_1
Semua orang di dekat sana terdiam menatap Xeon, mereka tidak paham sebenarnya kenapa Xeon berbicara seperti itu.
“Kenapa kau berbicara begitu? Apa kau tidak percaya pada Sia?” serang Elios.
“Bukan, bukan aku tidak percaya pada Sia. Kalian akan mengerti setelah melihat seberapa kuat Leroux saat menelan jiwa-jiwa itu di tubuhnya.”
Mereka kembali memutar pandangan untuk menyaksikan bagaimana Scarlesia akan menghadapi Leroux. Terlihat dari tempat mereka berpijak, Scarlesia masih membaca situasi dan melihat ke depannya apakah yang akan dilakukan oleh Leroux kepadanya.
“Sial! Dia jauh berbeda dengan yang tadi, aku merasakan hal yang mengerikan dari tubuhnya. Tidak! Aku tidak boleh merasa seperti ini, aku sudah berjanji akan pulang bersama-sama selesai dari perang ini,” batin Scarlesia menampik segala pikiran buruk yang menusuk kepalanya.
Jgerrr!
“Haruskah kita mulai sekarang?” Leroux sudah siap untuk melancarkan serangan lagi kepada Scarlesia.
“Haha siapa takut, aku tidak akan membiarkan kau menang!”
Leroux memulai serangan menggunakan tongkatnya, dari tongkatnya keluar bola-bola hitam mengarah pada Scarlesia. Bola hitam itu melesat kencang pada Scarlesia, dengan sigap Scarlesia sukses menepis serangan itu. Mereka akhirnya bertukar serangan di udara, tidak ada satu pun kekuatan Scarlesia yang sukses mengenai Leroux, begitu pulang sebaliknya. Mereka sama-sama terengah-engah, irama napas mereka tidak teratur keluar, Scarlesia sesaat memberi ruang santai untuk tubuhnya supaya bisa bernapas dengan nyaman.
Kelar itu, Scarlesia mengangkat tangannya tinggi-tinggi menghadap langsung ke atas langit. Dari langit yang tiba-tiba mengeluarkan kilatan halilintar, berjatuhan beribu-ribu pedang yang sudah dibalut oleh petir menghujani tubuh Leroux. Akan tetapi, tubuh Leroux sudah lebih dulu dilapisi oleh baja yang tidak bisa ditembus oleh benda tajam apa pun. Scarlesia melanjutkan ke serangan berikutnya, ia menggerakkan jemari telunjuknya lalu angin besar timbul dari balik tempat Leroux berdiri. Angin itu kemudian berubah menjadi angin yang sangat tajam mengejar Leroux, angin itu nyatanya sanggup menciptakan satu goresan di pipi Leroux meski sudah berusaha dihindari oleh Leroux sendiri.
Leroux menyeka darah yang keluar dari pipinya, kedua alis Leroux bertaut sebal, dia berdecak kesal sebab Scarlesia terus menerus melakukan serangan kejutan untuknya. Leroux membalas dengan serangan beruntun lainnya, dia menghujam Scarlesia tiada henti hingga membuat lengan kiri Scarlesia terluka akibat serangan yang tidak sempat untuk dihindari oleh Scarlesia. Meskipun dia bisa melihat masa depan, tapi serangan Leroux lebih cepat dari perkiraannya.
__ADS_1
“Lenganku terluka, ini tidak akan bisa sembuh begitu saja. Sekarang aku harus mencari jalan lain untuk menyerangnya,” gumam Scarlesia meringis menahan sakit di lengannya.
Melihat Scarlesia yang mendapat torehan luka dari Leroux, menciptakan rasa cemas berlebihan di antara banyak orang.
“SIA, TERIMA INI!”
Louis melemparkan sebuah sapu tangan ke arah Scarlesia, segera saja Scarlesia menangkap sapu tangan tersebut. Scarlesia membalutkan sapu tangannya ke luka di lengan guna untuk menekan banyaknya darah yang mengucur keluar.
“Aku tidak boleh kalah! Aku harus melakukan serangan balasan lain,” tekad Scarlesia.
Leroux menikmati muka Scarlesia yang merintih sakit di lengannya, luka yang ia torehkan memang tidak dalam. Hanya saja tubuh Scarlesia sangat sensitive terhadap luka kegelapan dari Leroux.
“Kau mau lihat pertunjukan bagus tidak?” tanya Leroux.
“Pertunjukan apa yang kau maksud?”
Leroux lalu menghentakkan tongkatnya satu kali ke arah kerumunan orang yang berada di dalam pelindung yang susah payah diciptakan oleh Scarlesia. Beberapa saat kemudian, gerak gerik semua orang yaitu para ksatria, penyihir, hewan buas, serta para peri, malaikat, dan asisten dewa dewi bahkan kedua saudara Scarlesia juga menjadi aneh. Tatapan mereka kosong, ekspresi mereka berubah datar seakan sedang dikendalikan.
“SERANG MEREKA!” Leroux ternyata memang mengendalikan mereka dengan kekuatannya, dia memerintahkan mereka yang berhasil dikendalikannya untuk menyerang Xeon, Andreas, Zenon, Oliver, Louis, dan Elios. Mereka terkepung di tengah-tengah kerumunan orang-orang itu, mereka berenam tidak bisa melawan orang-orang itu karena takut akan melukai mereka.
“HENTIKAN!”
__ADS_1