
“JANGAN SENTUH KAKAKKU SIALAN!”
Sebelum Venos melancarkan serangannya, Archie datang menghantam Venos untuk menjauh dari Scarlesia. Muka Archie penuh oleh luka dari pertarungannya dengan Venos, Scarlesia begitu sedih melihat sang adik terluka demi melindunginya. Scarlesia mendekati Archie lalu menyentuh luka di wajahnya.
“Archie, apa sakit? Kita sudahi saja atau aku panggil yang lain kemari. Jangan paksakan dirimu lagi,” tutur Scarlesia menatap sendu Archie.
“Tidak apa-apa kak, ini bukan luka besar jadi aku masih bisa menahannya. Kakak jangan khawatirkan aku,” ucap Archie menurunkan tangan Scarlesia dari wajahnya.
Venos berada di seberang mereka bangkit dari jatuhnya, emosinya tampak memburu keluar dan menggebu-gebu. Archie dan Scarlesia masih berbincang, lalu mereka menyadari Venos mencoba menyerang lagi.
“AKAN AKU BUNUH KALIAN BERDUA!” teriak Venos.
Dari tangannya, Venos mengeluarkan gumpalan hitam yang sangat besar kemudian dia melemparkannya ke arah Scarlesia dan Archie. Dengan cepat Archie memeluk Scarlesia, gumpalan hitam tersebut mengenai punggung Archie. Serangan itu membuat punggung Archie terluka dan berdarah, saking sakitnya Archie sampai bersimpuh di tanah menahan perih dari luka yang dia dapatkan.
“Archie, sudah cukup! Jangan lakukan hal membahayakan lagi. Sekarang kita ke dunia cermin saja, Shou ayo….”
“Tidak kak, jika aku tidak menyelesaikan pertarungan ini maka dia akan menargetkan orang lain. Bagaimana pun pemilik tubuh ini adalah adiknya, aku harus menyelesaikan masalah antara pemilik tubuh ini dan kakaknya. Dengan begitu, aku bisa memutus tali persaudaraan diantara mereka,” kukuh Archie.
Dia memaksakan dirinya untuk berdiri, meski rasa sakit luar biasa dia rasakan sekarang. Archie mulai melangkah pelan menjauhi Scarlesia dan Shou, entah kenapa Scarlesia merasa jika dia membiarkan Archie pergi maka dia tidak akan pernah melihat adiknya lagi.
“TIDAK! ARCHIE, KAU TIDAK BOLEH PERGI! ARCHIE!” teriak Scarlesia mencoba mencegat Archie.
Kemudian langkah Archie terhenti, dia berbalik sembari tersenyum pada Scarlesia.
“Maaf kak, sepertinya mulai sekarang aku tidak bisa menjaga kakak.”
“Maksudmu apa? Archie! JAWAB! APA MAKSUDMU MENGATAKAN ITU PADAKU?!”
Archie tidak merespon pertanyaan Scarlesia, dia terus berjalan maju tanpa mempedulikan seberapa kencang teriakan Scarlesia untuk menghentikannya.
“Shou, bawa kakak menjauh dari sini. Aku tidak mau kakak terluka karena ulahku,” titah Archie.
Shou mengangguk, dia mengerti apa maksud Archie sebenarnya lalu ia langsung menarik Scarlesia untuk segera menjauh dari Archie dan Venos.
__ADS_1
“Tidak… aku tidak mau meninggalkan adikku di sini. Aku mohon, biarkan aku tinggal di sini Shou.”
Scarlesia terus memohon, tapi Shou tidak mengizinkannya untuk tinggal di sana lebih lama lagi. Scarlesia meronta beberapa kali namun percuma sebab Shou hanya menjalani perintah dari Archie demi keselamatan Scarlesia.
“Sekarang gadis itu sudah pergi, sebenarnya apa yang kau rencanakan haa?” tanya Venos.
“Tutup mulutmu! Jangan berbicara lagi!” bentak Archie.
“Hahaha kau menyuruhku menutup mulut? Lihat betapa sombongny….”
Archie berlari sangat cepat lalu mencengkram kuat leher Venos, tidak salah lagi kalau sekarang Archie dimakan oleh amarahnya sendiri.
“A-apa… yang i-ingin k-kau lakukan?”
Venos tidak bisa berbicara jelas karena suaranya tercekat oleh kekuatan cengkraman Archie.
“Membunuhmu, aku akan membunuhmu agar kau tidak membahayakan kakakku lagi. Aku akan mengorbankan nyawaku hanya untuk membunuhmu,” tekan Archie.
“Jangan bilang anak ini… tidak! Aku tidak mau mati!”
“Mengeluarkan kekuatan ini sama saja dengan bunuh diri, tapi aku rela melakukannya jika itu demi kakak. Aku rasa perjuanganku sampai di sini saja, aku cukup bahagia tinggal di dunia ini dan membantu kakak dalam setiap masalahnya. Sekarang aku tahu bahwa kakak mempunyai orang-orang yang akan melindunginya, aku tidak perlu cemas kalau aku meninggalkannya,” batin Archie.
Ia memejamkan matanya, cekikan di leher Venos semakin menguat hingga membuat Venos kesulitan untuk bernapas bahkan kekuatannya juga tidak bisa keluar karena ditekan oleh Archie. Lama-lama rasa panas itu menjalar ke tubuh Venos, panas luar biasa mereka rasakan berdua.
Archie membuka matanya kemudian tersenyum ke arah Venos.
“Mari kita mati berdua,” ucap Archie.
“Huh? T-tidak! Aku tidak m-mau m-mati….”
BOOOMMM!!!
Ledakan yang sangat besar terjadi, labirin sudah sepenuhnya hancur lebur akibat ledakan tersebut.
__ADS_1
“Berhenti Shou… aku mohon sekarang kita berhenti ya karena semua sudah berakhir,” lirih Scarlesia.
Shou menurunkan Scarlesia, dengan langkah pelan ia berjalan menuju ledakan itu berasal. Pandangannya sulit diartikan, Scarlesia masuk ke dalam kabut yang tercipta dari ledakan tersebut. Dia menggerak-gerakkan tangannya untuk mengusir kabut serta debu yang mencoba masuk ke dalam penciumannya.
“Archie… di mana dia? Uhukk.”
Setelah kabutnya mereda, Scarlesia syok melihat sang adik kembali menjadi kecil dan tergeletak di atas tanah dalam kondisi mengenaskan dan bersimbah darah. Scarlesia mendekati Archie, dia menarik tubuh Archie yang sudah tidak berdaya itu ke atas pangkuannya.
“Archie, bangun… bisakah kau mendengar suaraku? Bangun! Jangan membuatku takut….” lirih Scarlesia teramat pelan.
Archie menggerakkan kelopak matanya, dia melihat Scarlesia tengah mendekapnya. Rasa hangat dari tubuh Scarlesia membuat kesadarannya sedikit terjaga. Melihat mata Archie yang sedikit terbuka, melegakan ketegangan diri Scarlesia.
“Syukurlah kau masih sadar, jangan membuatku takut Archie. Seharusnya kau jangan berbuat terlalu jauh demi aku, sekarang kita ke istana ya biar aku obati lukamu,” ujar Scarlesia.
“M-maaf kak….” lirih Archie.
“Kau tidak perlu meminta maaf padaku karena aku tidak marah padamu. Sekarang berhentilah berbicara, aku akan mengobatimu. Bertahanlah, aku….”
“Kak, maaf… aku minta maaf….”
Archie hanya melirihkan kata maaf, bulir air mata mulai membasahi luka di wajahnya. Bahkan saat ini tubuhnya tidak dapat bergerak sempurna, serangan terakhir yang ia berikan kepada Venos membuatnya terluka begitu parah.
“Tolong jangan meminta maaf padaku, aku tidak marah padamu. Aku akan merawat lukamu sampai sembuh, jangan khawatirkan apapun. Jangan khawatirkan aku juga sebab aku baik-baik saja,”
Archie mengerjapkan matanya dua kali, bibirnya bergetar mencoba menuturkan beberapa kata lagi untuk Scarlesia.
“Maaf kak… maaf… aku sungg….”
Ucapan Archie terhenti, dia tidak sanggup berbicara lagi pada Scarlesia. Lalu secara perlahan, matanya mulai tertutup.
“Sepertinya hidupku berakhir di sini, sekarang aku harus meninggalkan kakak. Terima kasih dewa dan dewi karena sudah memberiku kesempatan untuk bertemu kakakku lagi. Aku tidak menyesali keputusanku….”
Sepasang mata Archie telah tertutup sempurna, Scarlesia mengguncang-guncang tubuh Archie untuk membangunkannya. Ia juga menepuk-nepuk pipi Archie, tapi tidak ada jawaban dari Archie. Scarlesia mengecek denyut nadi serta detak jantungnya namun nihil, ia tidak merasakan adanya tanda-tanda Archie masih hidup.
__ADS_1
“Archie… kau bercanda bukan?”