
“Lalu apakah kau punya rencana untuk mempersiapkan perang akhir ini? Jika kita tidak bersiap-siap, maka akan besar kemungkinan kita akan kalah nantinya,” ujar Victor.
“Tapi bukannya mereka terlalu kuat? Kita menghadapi mereka beberapa hari yang lalu, kekuatan mereka berbeda jauh dari kita,” imbuh Lucas.
Scarlesia menyeringai, ia meneguk sedikit teh yang disajikan oleh Hana.
“Aku akan membawa umat manusia pada kemenangan, sekarang yang aku butuhkan hanyalah dukungan. Aku akan mengumpulkan setiap perwakilan dari kekaisaran untuk mendiskusikan hal ini, memang akan cukup rumit karena bisa saja korban yang akan ditimbulkan juga tidak sedikit. Kita perlu banyak latihan dan persiapan, jadi aku minta tolong pada kakak berdua untuk membantuku.”
Scarlesia terlihat sangat serius, ketegasannya membuat Lucas dan Victor tidak bisa berkata-kata. Aura kepemimpinan yang dikeluarkannya sungguh tiada tara, dengan ini mereka menjadi yakin untuk mempercayakan segalanya kepada Scarlesia.
“Baiklah, katakan pada kami berdua sekiranya apa saja yang kau butuhkan nanti. Kami akan membantumu semaksimal mungkin,” kata Lucas.
“Oke, terima kasih kak. Aku pasti akan memberitahu kalian sesegeranya.”
Mereka tidak berbincang terlalu lama karena Lucas dan Victor memiliki pekerjaan lain yang mesti mereka selesaikan. Kini Scarlesia melanjutkan aktivitasnya kembali, sebelum itu ia tidak lupa menghabiskan sarapan yang dibawakan tadi oleh Hana. Ketika Scarlesia menyelesaikan sarapan, seseorang mengetuk pintu kamar lagi. Hana lekas membukakan pintu kamar untuk memastikan siapa gerangan yang datang. Hana tidak mengatakan apa-apa, ia langsung saja membukakan pintu lalu dari balik pintu itu ada kepala pelayan membawa masuk tiga orang pelayan wanita.
“Yang Mulia, saya mohon maaf karena mengganggu waktu anda. Saya kemari berdasarkan perintah dari Yang Mulia Pangeran Victor. Perkenalkan, mereka akan menjadi pelayan anda mulai hari ini Yang Mulia,” ujar si kepala pelayan.
Scarlesia mengamati satu persatu pelayan tersebut, ada salah satu pelayan yang cukup berumur menatap Scarlesia dengan air mata berlinang. Scarlesia tidak mengetahui siapa dia dan Victor tampaknya lupa memberitahu dirinya tentang kedatangan pelayan baru.
“Baiklah, kau boleh keluar sekarang,” suruh Scarlesia ke kepala pelayan.
Kepala pelayan langsung keluar begitu disuruh oleh Scarlesia, tiga orang pelayan itu masih berdiri di tempat yang sama.
“Perkenalkan nama kalian satu persatu,” perintah Scarlesia.
“Saya Tia Yang Mulia.”
“Saya Dinar Yang Mulia.”
__ADS_1
“Saya… saya Liz….”
Wanita paruh baya tersebut terlihat tidak bisa menahan air matanya dan akhirnya tumpah begitu saja. Scarlesia keheranan melihatnya, ia mencoba menanyakan kepada Liz apa yang sesungguhnya terjadi kepada dia.
“Kenapa? Apa….”
“Yang Mulia, maaf jika saya lancang. Bolehkah saya memeluk anda?” pinta Liz.
“Oke, aku akan memelukmu.”
Seusai diizinkan, Liz langsung menghambur ke pelukan Scarlesia. Tersirat kerinduang yang amat besar di pelukan serta cara Liz menatap Scarlesia.
“Saya Liz Yang Mulia, saya dulu adalah pelayan pribadi Ibu anda,” kata Liz melepas pelukannya.
“Pelayan pribadi Ibuku? Jadi maksudnya….”
“Ya Yang Mulia, sebenarnya saya sudah lama mengundurkan diri menjadi pelayan. Tapi, beberapa hari yang lalu saya mendengar kabar mengejutkan tentang kematian Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri serta kaisar terdahulu bersama pangeran. Di saat anda diperkenalkan sebagai putri mahkota, itu cukup mengejutkan saya dan saya ingin sekali kembali menjadi pelayan. Lalu sekitar tiga hari yang lalu Pangeran Victor memanggil saya untuk menjadi pelayan pribadi anda Yang Mulia,” jelas Liz.
Liz menganggukkan kepalanya.
“Anda sangat mirip dengan Ibu anda, saya pikir beliau hidup lagi. Jadi, bolehkah saya menjadi pelayan pribadi anda Yang Mulia? Meskipun umur saya tidak lagi muda, tapi saya tidak akan menyusahkan anda,” tutur Liz penuh harap.
“Tentu saja boleh, aku tidak akan melarangnya,” jawab Scarlesia tersenyum lebar.
Liz sumringah sesaat Scarlesia membolehkannya untuk menjadi pelayan pribadi Scarlesia.
“Terima kasih Yang Mulia.”
Sekarang pekerjaan Hana akan semakin ringan sebab kini Scarlesia memiliki tiga orang pelayan baru. Mereka semua akan membantu Scarlesia dan menggantikan tugas Erin sebelumnya, jujur masih terasa menyesakkan bagi Scarlesia menyerahkan tugas yang biasanya dilakukan oleh Erin karena sedari kecil Scarlesia selalu diurus oleh Erin. Namun, ia berusaha untuk mengikhlaskan hal buruk yang telah menimpa dirinya.
__ADS_1
Semenjak hari itu, pelayan baru bekerja di bawah perintah langsung dari Scarlesia. Yang lebih mengejutkannya, Liz ternyata sangat cerewet dan sama persis seperti sifatnya Erin. Liz tidak segan-segan memarahi Scarlesia apabila melakukan sesuatu di luar batas kendalinya.
“Yang Mulia bangun!” seru Liz menyingkap selimut Scarlesia.
Terlihat Scarlesia masih nyaman dalam tidurnya, ia masih sangat pulas tapi seruan Liz membuatnya terpaksa terjaga. Scarlesia menyipitkan matanya, langit pagi sudah mulai menampakkan dirinya.
“Aduhh sebentar lagi aku bangun, semalam aku tidur larut malam,” balas Scarlesia.
“Tidak bisa Yang Mulia! Hari ini adalah hari penobatan anda sebagai kaisar. Kalau diundur lagi bangunnya, bisa-bisa anda telat,” oceh Liz.
Liz menarik paksa tangan Scarlesia untuk bangun dari posisi tidurnya, meski rasa kantuk masih bersarang di badannya, tetap saja ia mesti bangun untuk segera bersiap-siap karena hari ini adalah hari penobatannya sebagai kaisar.
Tia, Dinar, dan Hana sudah selesai menyiapkan air hangat untuk Scarlesia mandi. Scarlesia masih belum selesai mengumpulkan kesadarannya, kedua matanya belum terbuka penuh. Dengan hati-hati, Liz membantu Scarlesia turun dari tempat tidurnya. Ia dituntun menuju kamar mandi dan membuka seluruh pakaiannya lalu membantunya berendam di bath up.
“Astaga Yang Mulia, anda masih terlalu mengantuk ya?” ujar Tia.
“Wajar saja Yang Mulia mengantuk, semalam beliau bersama calon selirnya mengadakan rapat yang kelarnya entah pukul berapa,” imbuh Dinar.
“Kalian bantu Yang Mulia untuk mandi, aku akan menyiapkan sarapan untuk Yang Mulia,” ucap Hana berlalu pergi ke dapur.
Mereka semua bergegas melakukan pekerjaannya masing-masing sebab istana disibukkan oleh acara penobatan tersebut. Dari jam 3 dini hari, seluruh penghuni istana mulai sibuk mempersiapkan acara penobatannya sebaik mungkin. Istana bising sejak tadi pagi, tapi itu tidak membuat tidur Scarlesia terganggu.
“Aku harap acara penobatan hari ini bisa selesai lebih cepat,” batin Scarlesia.
Selesai mandi, Scarlesia langsung dibantu berdandan oleh Tia dan Dinar, sedangkan Liz menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Scarlesia hari ini. Liz menyiapkan gaun super mewah yang berwarna emas, gaun tersebut sangat berkilau dan bersinar. Scarlesia tidak protes apapun yang mereka pilihkan untuk dirinya, yang dia tahu sekarang tubuhnya sangat lelah.
“Ayo cepat! Kita tidak boleh telat!” seru Liz menyuruh mereka untuk mempercepat gerak tangan masing-masing.
Memakan waktu sekiranya tiga jam untuk menyelesaikan riasan serta memakaikan gaunnya yang cukup rumit tersebut.
__ADS_1
“Hufftt akhirnya selesai.”