Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Kekhawatiran Eldrick


__ADS_3

“Cahaya perlindungan dewa pencipta? Jadi dewa pencipta memasang perlindungan sehebat ini untuk Sia? Sial! Dadaku sakit sekali karena dihantam dua kali olehnya, apa yang harus aku lakukan sekarang?”


Cyrill terdiam beberapa saat sebab dia harus memikirkan langkah apa selanjutnya yang harus dia lakukan.


“Sepertinya aku harus menggunakan cincin pengendalian,” gumam Cyrill.


Beberapa saat kemudian, pancaran cahaya perlindungan sudah mulai meredup dari diri Scarlesia. Saat ini ia telah kembali seperti semula, namun berada dalam keadaan tidak sadarkan diri. Cyrill menyadari Scarlesia terbaring pingsan, dia lekas mengambil sebuah kotak kecil berisi sebuah cincin berwarna merah hati. Cyrill melekatkan cincin tersebut ke jemari manis milik Scarlesia, lalu dia memerintahkan pelayannya untuk memakaikan baju pada tubuh polosnya Scarlesia.


“Dengan cincin itu dia akan berada di dalam kendaliku sepenuhnya, ya untung saja aku menemukan cincinnya belum lama ini. Sia, aku akan menjadikanmu istriku, kemudian baru aku bisa bebas menyentuhmu,” batin Cyrill.


Satu minggu pun berlalu, tidak ada yang bisa menemukan keberadaaan Scarlesia. Kekaisaran masih gempar dan memperluas lagi pencarian, namun berapa pun besar usaha mereka mencari Scarlesia, tidak ada yang berhasil dalam pencariannya.


“Ayah, anda harus istirahat. Satu minggu ini anda belum tidur bahkan tidak makan sama sekali,” ujar Carlen pada Eldrick.


Memang benar, selama satu minggu penuh Eldrick tidak tidur karena tidak bisa menghentikan pencarian Scarlesia. Wajahnya pucat serta langkah kakinya terhuyung-huyung, Aldert dan Carlen serentak menghentikan sang Ayah lalu menyuruhnya untuk beristirahat sejenak.


“Tidak bisa, aku harus mencarinya lagi. Aku tidak tahu sampai sekarang bagaimana kabar putriku,”


Eldrick menolak untuk beristirahat atau pun makan, Carlen dan Aldert sangat mengkhawatirkan kondisi Eldrick yang seperti orang sakit. Sekali lagi mereka mencegat Aldert untuk bergerak lebih jauh lagi, mereka menarik Eldrick dan menyuruhnya untuk duduk sejenak di atas kursi.


“Kami mengerti kalau Ayah mengkhawatirkan Sia karena kami juga merasakan hal serupa. Bayangkan nanti jika Sia kembali lalu melihat Ayah tidak sehat seperti ini, kira-kira bagaimana perasaannya? Ayah tahu betul Sia seperti apa orangnya, saya percaya Sia akan baik-baik saja jadi tolong jangan menyiksa diri Ayah sendiri,” kata Carlen.


Biasanya Carlen tidak begitu banyak bicara, tapi khusus kali ini dia harus bisa membuat Eldrick menuruti perkataannya. Aldert berekspresi sendu menatap penuh cemas sang Ayah, dia juga khawatir pada adik perempuan satu-satunya itu.


“Iya Ayah, banyak orang yang membantu kita mencari Sia. Jangan keras kepala lagi dan menurutlah untuk kali ini saja, saya mohon Ayah mendengarkan kami berdua saat ini,” mohon Aldert.


Tangis Eldrick pecah seketika, jujur dari relung hatinya dia kehilangan arah selama beberapa hari ini. Berita hilangnya Scarlesia membuat bangkit rasa trauma akan kehilangan orang tersayangnya lagi, dia kehilangan kedua orangtuanya di usianya yang masih muda lalu kehilangan istri yang dicintainya. Dia bingung bagaimana caranya mengontrol rasa takut itu sendiri, putri yang dia jaga sepenuh hati harus menghilang entah kemana pergi.


“Aku tidak ingin kehilangan lagi,” lirih Eldrick menutupi kedua mata berairnya menggunakan tangannya.

__ADS_1


“Kami tahu betul kalau Ayah takut kehilangan lagi seperti dulu, kami juga merasa takut akan terjadi hal yang sama lagi. Ayah tidak sendiri karena banyak orang yang sayang pada Sia, jangan bebankan semuanya di pundak anda Ayah,” balas Carlen, nada suaranya semakin lama semakin merendah.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bahkan tidak tahu apakah Sia sehat-sehat saja sekarang, apakah dia lapar, apakah dia takut, kita tidak ada untuknya saat ini. Sia, gadis kecilku….”


Eldrick memijit pelan pelipisnya, dia stres berat, dan kedua matanya merah.


“Sudah, sekarang Ayah istirahat. Biar saya dan Aldert yang melanjutkan pencarian,” ujar Carlen.


“Baiklah.”


Setelah beberapa kali dibujuk, akhirnya Eldrick menuruti perkataan kedua putranya. Aldert membantu memapah Eldrick ke tempat tidur, setelah itu baru mereka beranjak pergi dari kamar. Di luar kamar, ada Xeon dan Andreas beserta yang lainnya termasuk Archie juga ada di sana menunggu mereka berdua.


“Bagaimana? Apakah duke mau mendengarkan kalian?” tanya Xeon.


Carlen dan Aldert serentak mengangguk. “Ya, Ayah sedang istirahat sekarang,” jawab Aldert.


“Ya sudah sekarang mari kita pikirkan bersama tentang masal….”


Pekikan seorang pelayan wanita membuat mereka terkejut, mereka bersegera bergegas ke sumber suara pelayan tersebut. Suara pelayannya berasal dari halaman depan istana, di sana sudah berkumpul beberapa orang pelayan sambil mendongakkan kepalanya ke atas langit. Ternyata memang betul, Scarlesia tepat berada di atas langit sekarang.


Di sampingnya, Cyrill berdiri seraya merangkul pinggang Scarlesia. Mereka berdua sama-sama mengenakan pakaian berwarna putih, jika dilihat lebih cermat lagi pakaian yang mereka kenakan adalah pakaian pengantin.


“Pakaian pengantin? Kenapa Sia dan pria itu mengenakan pakaian pengantin?” Elios bertanya-tanya, mereka juga ikut keheranan melihat Scarlesia.


“Pas sekali kalian berkumpul di sini semuanya jadi aku tidak perlu repot-repot berteriak memanggil kalian,” tutur Cyrill tersenyum miring.


Mereka merasa ada yang aneh dari Scarlesia, kedua tatapan matanya terlihat kosong, pandangannya tak berekspresi, dan tidak ada tanda-tanda penolakan dari Scarlesia terhadap sentuhan Cyrill ke tubuhnya.


“Ada apa dengan kakak? Kenapa dia tampak….”

__ADS_1


“Dia sedang dikendalikan!” Oliver memotong kalimat Archie.


“Dikendalikan?”


Oliver mengangguk, kemudian dia menunjuk ke arah cincin yang sedang digunakan oleh Scarlesia.


“Cincin itu adalah cincin pengendalian, siapa saja yang memakai cincinnya maka dia bebas untuk dikendalikan,” jelas Oliver.


“Jadi, apakah itu sama seperti kekuatannya Bely?” tanya Zenon.


“Ya, mirip-mirip kekuatannya Bely,”


Lalu Xeon melangkah lebih maju, dia memberikan sorotan tajam pada Cyrill. Kedua tangannya mengepal hingga kubu-kubu jarinya memutih. Terpancar amarah yang hampir meledak dari kedua mata Xeon.


“Apa yang kau lakukan pada Sia?” tanya Xeon menekan nada bicaranya.


“Aku akan menikah dengan Sia hari ini, jadi aku kemari untuk memberitahukan pada kalian kabar baik ini. Bagaimana? Apa kami berdua terlihat cocok?” balas Cyrill sembari mempererat rangkulan tangannya di pinggang Scarlesia.


“Menikah? JANGAN MEMBUATKU MARAH! AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKAN HAL ITU TERJADI?” sentak Zenon langsung tersulut emosi.


“Aku tidak peduli pendapat kalian, setuju atau tidak setuju aku akan tetap menikahinya,” sinis Cyrill kemudian mencium pipi Scarlesia secara terang-terangan di hadapan mereka semua.


“KURANG AJAR! CARI MATI KAU RUPANYA. AKAN AKU BUN….”


“Hentikan Zenon! Kita tidak bisa bertindak gegabah. Kalau kita menyerangnya secara bersamaan, nanti Sia akan ikut terluka karena serangan kita,” cegat Xeon.


“Pilihan yang bagus! Baiklah, aku akan menunjukkan sesuatu pada kalian,” ucap Cyrill.


Lalu Cyrill melepas rangkulannya dari Scarlesia, ia tampak merencanakan sesuatu.

__ADS_1


“NAH SAYANGKU SEKARANG CEPAT HANCURKAN MEREKA!”


__ADS_2