Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Keterpurukan Scarlesia


__ADS_3

“Archie… kau bercanda bukan?”


Tangis Scarlesia terpecah, ia memeluk tubuh Archie yang perlahan mendingin dan kaku. Adik satu-satunya telah pergi meninggalkannya, mengorbankan nyawanya untuk melindungi dirinya.


“Archie bangun! Jangan tinggalkan aku! Aku mohon bukalah matamu Archie. Jangan bercanda denganku, tolong bukalah matamu….”


Teriakan dan isakan tangis berbarengan terdengar dari mulut Scarlesia, dia sangat histeris. Hatinya terasa teriris, jantungnya tertikam oleh ribuan anak panah, betapa sakitnya dia hari ini. Betapa terlukanya hati kecilnya ditinggalkan oleh adik yang ia jaga sepenuh hati.


“AAARRHHHHH!!! SIAPAPUN TOLONG SELAMATKAN ADIKKU!” teriak Scarlesia terdengar menyakitkan.


Bersamaan kala itu, Xeon bersama Andreas dan yang lain datang. Mereka terkejut melihat kondisi Archie dan Scarlesia, serta keadaan sekitar yang luluh lantak akibat pertempuran antara Archie dengan Venos.


“Sia, kenapa….”


“Xeon… Archie sudah mati… bisakah kau kembalikan dia lagi? Adikku sudah mati… aku… aku….”


Suara Scarlesia terputus-putus, Oliver dengan cepat langsung memeluk Scarlesia. Isakannya semakin kencang, tangisnya terdengar begitu mengoyak hati.


“Kembalikan adikku… aku mohon kembalikan dia padaku…” lirih Scarlesia.


Tidak ada yang berkomentar, sekujur badan lemas tak bertenaga melihat Archie tak lagi bernyawa. Padahal mereka baru berjumpa dengan Archie tadi pagi, dia dengan bangganya mengatakan pada mereka bahwa hari ini ia akan berkencan dengan Scarlesia lalu mereka diminta untuk tidak mengganggu waktunya.


“Maaf Sia, maaf kami terlambat,” ucap Oliver.


“Jangan ambil adikku… jangan ambil dia dariku….”


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” gumam Zenon bertanya-tanya.

__ADS_1


Xeon terdiam, dia memandangi Scarlesia penuh kesedihan. Hatinya ikut terluka melihat Scarlesia tersakiti lagi. Archie meledakkan dirinya untuk menyelamatkan Scarlesia, namun itu tidak berjalan sempurna karena Venos berhasil kabur memasuki portal menuju istana kegelapan. Di sini hanya Archie yang menjadi korban, Scarlesia mendapat pukulan hebat dari kejadian ini.


Selang beberapa menit setelah itu, mereka mencoba membujuk dan menenangkan Scarlesia supaya dia mau dibawa kembali ke istana. Jasad Archie juga ikut mereka bawa, jenazahnya direncanakan akan dikuburkan seusai ini. Seluruh penghuni istana dikejutkan oleh kematian Archie, tidak ada yang menduga hal ini akan terjadi.


Scarlesia dengan langkah terhuyung-huyung dan pandangan mata yang kosong pergi mengantarkan jasad Archie untuk segera dikubur di pemakaman khusus kekaisaran. Scarlesia hanya diam memandangi sang adik dimasukkan ke dalam peti untuk segera dimakamkan. Kondisi Scarlesia yang seperti ini membuat khawatir banyak orang. Selama di pemakaman, Scarlesia dirangkul oleh Eldrick agar ia tidak terjatuh atau tumbang di pemakaman tersebut.


“Apa ini salahku?”


Pertanyaan Scarlesia memecah keheningan dalam perasaan duka, beberapa pasang mata refleks menghadap Scarlesia.


“Tidak Sia, ini bukan salahmu. Kamu tidak salah apa-apa,” ujar Eldrick meyakinkan Scarlesia kalau ini bukanlah kesalahannya.


“Tapi Archie mati karena melindungiku, berarti itu salahku kan? Aku yang membuat Archie kesulitan, aku membuatnya terpaksa meledakkan dirinya demi menyelamatkanku, itu semua salahku. Andai saja… andai saja kekuatanku tidak terkunci, andai saja aku tidak lemah, semua ini tidak akan terjadi. Aku salah, aku yang salah… aku yang membunuh Archie. Ini salahku Ayah… putrimu pembunuh! Aku salah….”


Scarlesia menjatuhkan dirinya, dia histeris kembali dan mengatakan kalau kematian Archie merupakan bagian dari kesalahannya. Dirinya bak terhempas dari langit yang tinggi, dirinya kacau sesaat karena kematian Archie. Kali ini dia sungguh tidak berdaya sama sekali, menganggap dirinya tidak berguna di detik-detik kematian adiknya.


“Tidak Sia, ini bukan salahmu. Putriku bukanlah pembunuh, putriku anak baik, kematian Archie bukan salahmu. Berhentilah berpikir bahwa semua ini terjadi karena dirimu, Archie memilih untuk mengorbankan dirinya untukmu. Jadi, ini bukan salahmu,” ujar Eldrick menahan tangis melihat putrinya merasakan kesakitan batin luar biasa.


Scarlesia terdiam lagi, pandangannya kosong kembali sebab rasa sakit yang dia terima membuat hatinya tidak mampu menampung rasa perih di dada. Selepas itu, mereka bersama-sama balik ke istana dan Scarlesia masuk ke kamarnya tanpa menuturkan sepatah kata pun pada mereka. Eldrick berpesan pada Erin dan Hana untuk membiarkan Scarlesia sendiri dulu tapi mereka harus tetap mengawasinya diam-diam.


Pada malam harinya, Scarlesia keluar dari kamar dan meminta Hana untuk membawakan alkohol untuknya. Ia pergi ke rumah kaca untuk merenungkan apa yang terjadi hari ini, perasaan kacau tidak terkontrol.


“Ini pertama kalinya aku minum alkohol semenjak datang ke dunia ini,” gumamnya menuangkan alkohol ke gelasnya.


Scarlesia meneguk habis alkohol di gelas itu, lalu menuangkannya lagi ke gelasnya. Begitu seterusnya sampai dia merasa mabuk oleh alkohol tersebut. Scarlesia merebahkan kepalanya di atas meja sambil melihat bulan sabit di langit malam.


“Bulannya indah sekali, tapi kenapa hatiku tidak? Ahh aku kacau….”

__ADS_1


Di saat ia sedang sibuk bergumam sendiri, Oliver datang menghampiri dirinya. Scarlesia mengangkat kepalanya begitu mendengar suara derap kaki mendekat ke arahnya.


“Oh Oliver, aku kira tadi siapa,” kata Scarlesia seraya menghabiskan alkohol yang tersisa di gelas kecilnya.


“Ini pertama kalinya aku melihatmu minum alkohol. Sebaiknya kau tidak memaksakan dirimu untuk meneguk alkoholnya lebih banyak,” ucap Oliver, ia menarik kursi yang berhadapan dengan Scarlesia lalu duduk di meja yang sama.


“Dulu kala aku masih di dunia modern, aku sering minum alkohol. Tidak terhitung berapa kali Archie memarahiku karena terlampau sering pulang ke rumah dalam kondisi mabuk. Ya, itu hanya masa laluku.”


“Sudah, jangan minum lagi. Tidak baik untuk kesehatanmu,” larang Oliver merebut gelas alkohol milik Scarlesia.


“Hahh ya sudahlah, ambil saja gelasku. Aku sudah lelah….”


Scarlesia menghempaskan kepalanya ke atas meja, ekspresi wajahnya terlihat putus asa. Oliver menekuk mimik mukanya yang turut murung melihat gadis tercintanya terluka begitu dalam.


“Sia….”


“Aku membenci hidupku, aku merasa semua orang akan meninggalkanku sendirian. Aku selalu takut semua orang akan mati karena aku,” ujar Scarlesia tiba-tiba.


Oliver menghela napasnya, ia menggenggam punggung tangan Scarlesia yang dingin karena angin malam.


“Jangan berbicara seperti itu, kehadiranmu selalu ditunggu oleh semua orang. Yang terjadi hari ini bukan salahmu, berhentilah berbicara seolah kehadiranmu membawa malapetaka untuk semuanya. Kau menyakitiku karena mengucapkan kata-kata itu,” kata Oliver.


“Aku merasa putus asa, entah kenapa hidupku tidak pernah berakhir sempurna. Sebenarnya sampai kapan aku harus menanggung semuanya? Sampai kapan aku harus berjuang mati-matian?”


“Aku di sampingmu, tidak hanya aku bahkan banyak orang yang bersedia berdiri di sampingmu. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam kondisi sesulit apapun itu. Aku mencintaimu, mencintai seluruh duniamu, jika dunia menyakitimu maka aku akan melindungimu. Meskipun kau mati, aku akan menunggumu lagi seperti sebelumnya. Aku mencintaimu, aku hanya butuh kamu, apa itu saja tidak cukup menggambarkan betapa berharganya kamu untukku?”


Kedua mata Oliver berkaca-kaca meluapkan seluruh isi hatinya pada Scarlesia, selama ini dia selalu menahan dirinya tapi hari ini dia mengatakannya.

__ADS_1


“Jadi, berjuanglah sedikit lagi. Aku akan menemani jalan panjangmu hingga kau berhasil menemukan ending bahagia untuk hidupmu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu sendirian menanggung beban berat ini Sia.”


__ADS_2