Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Ksatria Pemanah


__ADS_3

“Sia, apa yang kau lakukan di istana?” tanya Eldrick langsung pada Scarlesia yang baru turun dari kereta.


“Apa mereka menyakitimu di sana?” tanya Carlen ikut bertanya.


“Ayah, kakak ternyata kalian menungguku. Aku hanya menabur koin emas di istana, lalu menghancurkan halaman depannya dan juga aku mengancam kaisar,” jawab Scarlesia.


“Kau serius melakukan semua itu Sia?” tanya Carlen tidak percaya.


“Tentu saja. Oh iya Ayah dua minggu lagi akan ada lomba berburu, kaisar bilang jika aku memenangkan perburuan kali ini maka dia akan mengabulkan semua permintaanku termasuk pembatalan pertunangan,” jelas Scarlesia.


“Lomba berburu? Kau akan ikut lomba berburu? Tapi bukankah itu berbahaya untukmu apalagi aku dengar tahun ini kaisar ingin mengadakan lomba berburu di Hutan Senjana. Hutan itu terkenal banyak hewan buas jadi…”


“Ayah, bukankah aku sudah bilang? Biar aku yang mengurus semuanya. Ayah dan kakak tolong jangan ikut campur karena ini pertarunganku dengan kaisar dan permaisuri,” potong Scarlesia mencoba meyakinkan sang Ayah.


Eldrick tersenyum tipis, dia menghela napas setelah sang putri berkata seperti itu padanya.


“Baiklah, jangan melakukannya terlalu berlebihan,” pesan Eldrick.


“Oke Ayah,”


“Sia, siapa pria yang tidak sadarkan diri itu?” tanya Carlen menunjuk pria yang digendong oleh Andreas.


“Dia? Aku merampas eh bukan maksudnya aku membelinya dari putra mahkota. Katanya pria ini adalah manusia serigala yang dia bawa dari medan perang. Mulai hari ini dia akan tinggal di sini,” jawab Scarlesia membuat Eldrick dan Carlen tercengang.


“Kalau begitu aku masuk dulu,” lanjutnya melangkah masuk. “Aku lupa satu hal, aku tadi juga menabur ranjau antara permaisuri dan kaisar,” ujar Scarlesia berlalu pergi.


Eldrick dan Carlen menggeleng-geleng, mereka tidak tahu apa maksud Scarlesia ‘menabur ranjau’.


“Ayah, apa hanya saya yang merasa Sia semakin berbahaya dari hari ke hari?” ucap Carlen.


“Ya, sebenarnya aku juga merasakannya. Berbahaya dalam artian dia akan memburu semua manusia yang berani menyakitinya dan menyiksanya tanpa ampun ditambah dia dikelilingi oleh pria-pria yang sangat kuat,”


“Walau begitu kita tetap harus mengawasinya dari jauh,”


Setibanya di Paviliun Kirin, Scarlesia menyuruh Andreas untuk membaringkan manusia serigala tersebut di dalam kamar yang masih kosong.


“Eh Oliver tadi kemana?” tanya Scarlesia yang tiba-tiba sadar tidak ada Oliver di dekatnya.


“Katanya dia pergi ke menara sihir, ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan,” jawab Andreas.


“Jadi, apa yang harus kita lakukan pada pria ini?” sela Zenon.


“Erin, sediakan pakaian untuknya lalu kalian berdua bantu membersihkan tubuhnya. Aku akan mengobati lukanya,” perintah Scarlesia.


Mereka langsung melakukan pekerjaannya masing-masing sedangkan Scarlesia bersama Hana pergi memetik beberapa tumbuhan obat yang tumbuh di tamannya. Lalu Scarlesia menggiling semua tumbuhan yang dia kumpulkan tadi untuk dioleskan di luka-luka tubuh pria manusia serigala itu.

__ADS_1


Setelah dia dibersihkan lalu pakaiannya juga diganti, Scarlesia terperangah melihat wajahnya.


“Woahh aku tidak menyangka wajahnya soft dan manis ditambah rambutnya berwarna jingga seperti langit senja, kulitnya yang putih dan halus, aku penasaran jika dia membuka mata nanti bagaimana warna pupilnya? Lalu suaranya juga terdengar bagaimana ya,” gumam Scarlesia, ia pun mulai mengobatinya.


Scarlesia mengoleskan obatnya ke setiap inci lukanya, tidak ada satupun luka yang dia lewatkan. Setelah itu baru dia memakaikan perban di lukanya agar lukanya cepat sembuh dan dia cepat sadarkan diri. Usai mengobatinya, Scarlesia kembali ke kamarnya sedangkan Zenon melanjutkan tidurnya dan Andreas melanjutkan latihannya.


“Sangat membosankan jika hanya berdiam diri seperti ini,” ucap Scarlesia menutup buku yang dia baca.


Ia melihat ke luar jendela, ini belum terlalu sore untuknya jalan-jalan jadi dia memutuskan untuk keluar sebentar.


“Hana, Erin, aku pergi jalan-jalan dulu sebentar. Kalian diam saja di sini,” ujar Scarlesia.


“Baik Nona,”


Scarlesia berjalan-jalan di samping paviliun menikmati waktu kosongnya sebelum dia bertempur kembali. Karena dia penasaran apa yang ada di balik semak-semak yang ada di samping paviliun, dia pun mencoba melihatnya dengan menerobos semak-semak tersebut. Ternyata di balik semak itu adalah jalan tembus ke dekat mansion, meski ini terlihat seperti hutan kecil.


Kemudian dia melanjutkan jalannya, di pertengahan jalan-jalannya dia mendengar suara orang-orang memanah. Penasaran dengan suara tersebut, dia mencoba mengikuti sumber suara itu datang. Ternyata tidak jauh darinya, di sana ada lapangan memanah dan dia juga melihat ksatria pemanah yang sedang latihan. Scarlesia bersembunyi di balik semak untuk memperhatikan para ksatria pemanah tersebut.


“Kemampuan mereka buruk sekali,” komentar Scarlesia dalam hati.


Ketika dia sedang asik memperhatikannya sebuah anak panah melaju ke arahnya. Namun, sebelum anak panah itu mengenainya Scarlesia langsung menangkap dan menahan laju anak panahnya.


“Huh aku kira aku akan terluka,” gumamnya.


“Ehh d-dewi bukan maksud saya Nona Scarlesia. Apa yang Nona lakukan di sini?” tanya seorang ksatria pemanah yang terkejut dengan keberadaan Scarlesia.


“Apakah beliau kemari?”


“Benarkah itu?”


Dalam sekejap para ksatria pemanah yang jumlahnya tidak terhitung terlalu banyak itu mengerumuni Scarlesia.


“Salam kepada Nona Scarlesia,” ucap mereka serentak memberi salam.


“Hei apa yang kalian lakukan di sana? Cepat lanjutkan latihan kalian,” tegur seorang pria berumur 30 tahunan.


“I-itu ketua, ada Nona Scarlesia,” sahut salah seorang dari mereka.


“NONA? NONA KEMARI?”


Pria tersebut bergegas dan memberi salam pada Scarlesia.


“Siapa namamu?” tanya Scarlesia pada pria itu.


“Saya Robert, ketua dari ksatria pemanah Nona. Tapi apa yang Nona lakukan di tempat ini?” tanya Robert balik.

__ADS_1


“Tadi aku jalan-jalan dan tidak sengaja kemari, apa kalian sedang latihan?”


“Iya Nona,”


“Kalau begitu bolehkah aku bergabung?”


“Huh? Tidak boleh Nona! Nanti anda terluka bagaimana?”


“Tidak akan, aku ini pandai dalam memanah. Aku akan tunjukkan pada kalian bagaimana cara memanah yang benar itu,”


Scarlesia mengambil sebuah busur, dia berencana menembakkan dua anak panah sekaligus. Lalu ia menarik anak panahnya menghadap targetnya.


Wushhh


Dia melepas anak panahnya dan dua anak panah tersebut tepat pada bidikannya. Seluruh ksatria pemanah yang memperhatikannya terlihat kaget sekaligus kagum dengan kemampuan Scarlesia.


“Bagaimana Robert?”


Robert tercengang, dia tidak menyangka bahwa Scarlesia sangat luar biasa dalam memanah.


“Luar biasa Nona, anda sungguh luar biasa,” sanjung Robert.


“Tapi kenapa lapangan latihan kalian terpencil seperti ini? Dan juga terlihat lebih kecil jika dibandingkan dengan lapangan latihan ksatria berpedang,”


Ekspresi mereka berubah suram sesaat Scarlesia melontarkan pertanyaan tersebut kepada mereka.


“Ini karena ksatria pemanah dinilai lebih rendah dibanding ksatria berpedang Nona,” jawab salah seorang ksatria.


“DION DIAM!” sergah Robert pada pria yang bernama Dion yaitu pria yang pertama kali menemukan Scarlesia tadi.


“Namamu Dion? Coba jelaskan padaku Dion,”


“Ksatria pemanah dianggap tidak berguna Nona, oleh karena itulah Yang Mulia Duchess tidak terlalu memperhatikan kami. Beliau hanya mempedulikan ksatria berpedang dan mengabaikan keberadaan kami bahkan sudah banyak ksatria pemanah yang keluar lalu belajar berpedang,” jelas Dion.


“Hmm ternyata begitu. Kalian yang memilih untuk tinggal sebagai ksatria pemanah berarti ini karena kalian menyukai memanah bukan?”


“Ya, kami menyukainya Nona,” jawab mereka bersamaan.


“Baiklah, itu sudah cukup,”


“Apa maksud anda?”


“Mulai sekarang aku yang akan melatih kalian,”


“APAAA?”

__ADS_1


“Kenapa? Apa kalian tidak senang? Dalam dua minggu akan kaisar akan mengadakan lomba berburu. Aku akan membawa beberapa dari kalian bersamaku dalam perburuan tersebut,”


__ADS_2