Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Tindakan Gila Permaisuri


__ADS_3

Malam ini hujan badai menerjang kekaisaran, suara angin yang menerbangkan pepohonan, suara-suara angin bertubrukan dengan atap berhasil menciptakan kebisingan yang sangat mengganggu sehingga membuat Scarlesia tidak bisa memejamkan matanya untuk tidur. Scarlesia yang sejak tadi merasa bosan hanya berdiam diri di kamarnya, kini ia memutuskan untuk keluar menuju ke perpustakaan pribadinya.


Scarlesia menapaki anak tangga dengan hati-hati karena suasananya gelap dan tidak ada pengcahayaan, di tangannya membawa sebuah lentera yang cukup terang untuk sekedar menerangi jalannya. Suasana paviliun sangat sepi, hanya terdengar suara derap langkahnya saja di tengah lorong yang panjang. Angin yang kencang menghempaskan jendela-jendela paviliun, ini membuatnya sedikit terkaget ketika berjalan seorang diri.


“Kenapa harus hujan badai sih? Aku jadi tidak bisa tidur karena terlalu berisik,” gerutunya.


Ceklek


Scarlesia membuka pintu perpustakaannya, dulunya ini adalah perpustakaan milik Ibunya tapi sekarang sudah menjadi miliknya. Saat awal datang kemari, tidak banyak buku di dalam perpustakaan tersebut tapi sekarang sudah diisi dengan berbagai buku yang bagus berjejer di raknya. Scarlesia mencari buku yang ingin dia baca, ia mengelilingi setiap raknya demi mencari buku apa yang sekiranya menarik untuk dibaca.


Ketika dia sedang asik berjalan ke setiap rak, buku yang berada di rak tengah mengeluarkan sebuah sinar berwarna biru. Scarlesia sontak kaget dengan cahaya itu tapi pada akhirnya dia penasaran dan mencoba mengambil buku tersebut. Di sampul bukunya tidak ada judul apapun, hanya sebuah sambul kosong tanpa huruf bahkan di halaman pertamanya pun tidak ada tulisan.


“Buku apa ini?” tanyanya membalikkan lembar demi lembar buku tersebut tapi ternyata sampai halaman terakhir pun dia hanya melihat kertas kosong.


“Awwh,”


Jemari telunjuk Scarlesia tidak sengaja tergores oleh sudut buku yang runcing hingga membuat jemari telunjuknya berdarah. Darah yang keluar itu tidak sengaja menetes ke atas kertas buku yang kosong itu. Kemudian lembar-lembar kertas yang kosong mulai bermunculan tulisan-tulisan, ini memang aneh tapi hal ini adalah kejadian nyata.


Scarlesia mulai membaca buku tersebut dari halaman pertama, isi bukunya tidak dimengerti sama sekali olehnya.


Dunia sedang menuju kehancuran, daya dan upaya apa lagi yang harus dilakukan? Cahaya dan kegelapan saling bertolak belakang dan tidak pernah menemukan titik temunya. Pada akhirnya pertempuran akan terjadi, dimana pertempuran ini akan menentukan siapa yang berhak berdiri di atasnya. Apakah itu cahaya ataukah kegelapan?


Dunia sedang menuju akhirnya, sebuah ending seperti apa yang akan tercipta? 2000 tahun bukan waktu yang sebentar, peperangan demi peperangan masih saja berjalan. Namun, setelah ini akan ada perang akhir yang bergulir di tengah hamparan luasnya daratan. Berapa banyak korban yang ditimbulkan? Dapatkah cahaya memenangkannya dan menyingkirkan kegelapan yang merajalela di kehidupan manusia?

__ADS_1


“Aku tidak mengerti apa yang tertulis di buku ini,” ucap Scarlesia beralih ke halaman berikutnya.


Kegelapan diciptakan untuk mengendalikan kegelapan namun kegelapan itu sendiri berbalik berkhianat. Ambisi besar ingin menguasai dunia, ingin menjadi satu-satunya eksistensi yang berdiri di singgasananya puncak semesta. Kegelapan menenggelamkan mata dan hati semua makhluk hidup, mereka dipaksa tunduk di bawah kakinya. Jantung dan jiwa mereka dipaksa untuk menjadi sebuah persembahan agar kegelapan bertumbuh menjadi semakin besar.


“Arrhh ini buku apa? Kenapa aku tidak bisa mengerti isinya?”


Ketika Scarlesia ingin membalikkan ke halaman berikutnya, seseorang membuka pintu perpustakaan. Scarlesia refleks menutup bukunya lalu ia menoleh ke arah pintu dan ternyata yang datang adalah Zenon.


“Zenon! Kenapa kau kemari? Aku pikir kau sudah tidur,” ujar Scarlesia.


“Aku tadi tidak sengaja melihatmu berjalan ke perpustakaan, jadi aku ingin memeriksa apa yang sedang kau lakukan tengah malam seperti ini di perpustakaan,” kata Zenon menghampiri Scarlesia lalu ikut duduk berhadapan dengannya.


“Apa kau juga tidak bisa tidur karena hujan badai ini?”


“Ini buku… Ehh kenapa bukunya berbeda? Tadi aku tidak membaca buku yang ini,”


Buku yang dipegang oleh Scarlesia berubah menjadi buku yang berbeda, ia mencoba melihat setiap halaman buku yang ia pegang saat ini ternyata itu memang buku yang berbeda dari sebelumnya.


“Apa yang salah? Bagaimana bisa bukunya berubah begitu saja,” ucap Zenon ikut bingung.


“Ahh tidak, mungkin hanya perasaanku saja,”


Pada saat yang bersamaan di istana berduri, permaisuri kini tengah mengamuk dengan memecahkan semua barang-barang yang ada di sana. Tidak ada seorang pun yang mengawasinya di istana berduri sehingga di sini ia hanya tinggal sendirian. Tampaknya permaisuri mulai kehilangan kewarasannya, sedari tadi dia hanya tertawa dan menangis.

__ADS_1


“Aku akan membunuhnya!”


Kemudian permaisuri memungut sebuah pecahan beling di depan kakinya, lalu dia bergegas keluar dari istana berduri. Permisuri seperti bukan dirinya, ia seolah dikendalikan oleh berbagai halusinasi, Entah bagaimana caranya permaisuri keluar dari istana berduri, saat ini ia sedang berjalan di lorong menuju ke kamar kaisar. Permaisuri menyelinap masuk ke dalam kamar kaisar, ia mengendap-endap agar kaisar tidak terbangun dari tidurnya.


“Kau membuatku menderita sejauh ini, kau mengabaikanku selama bertahun-tahun lamanya padahal aku sudah mengerahkan segalanya hanya untuk menarik perhatianmu. Tapi kenapa aku tidak pernah terlihat di matamu? Seolah keberadaanku adalah sebuah dosa untukmu. Aku mencintaimu dan sangat mencintaimu, namun apa yang aku dapatkan? Hanya sebuah penghinaan,” ucap permaisuri dengan suara pelan namun tajam terdengar.


Tangan permaisuri bergerak menyentuh leher sang kaisar, rasa sakit di kepalanya semakin menjadi serta suara-suara yang menyuruhnya untuk membunuh kaisar semakin terdengar jelas olehnya.


“Bunuh dia… Bunuh dia yang membuatmu menderita,”


Kata-kata itulah yang menembus pendengarannya, suara yang tidak ia kenal namun menyakitkan.


“Seharusnya kau mencintaiku! Seharusnya kau tidak mengabaikanku! Aku membencimu, aku sangat membencimu yang membuatku menderita. Aku sudah membunuh Larissa tapi kenapa kau tetap tidak menyadari perasaanku? Kau kejam! Kau sangat jahat. Jika kau masih tidak bisa mencintaiku, baiklah aku akan membunuhmu saja. Nahh nikmatilah kematianmu sayang,”


Permaisuri menekan tangannya di leher kaisar yang sedang terlelap pulas, secara perlahan kekuatan cengkraman tangannya bertambah. Dia mencekik leher kaisar sehingga membuat kaisar sulit untuk bernapas. Kaisar membuka matanya, ia memelotot saat melihat permaisuri yang mencoba membunuhnya.


“Aahh heukkk… uhukk, le-paskan…”


Permaisuri tertawa melihat ekspresi tersiksa kaisar, ia semakin menambah kekuatan cengkramannya. Lalu tangannya yang sebelah lagi, menghunuskan beling kaca di dada kaisar. Ia menusuk dada kaisar hingga berulang kali sampai kaisar menghembuskan napas terakhirnya. Akhirnya sang kaisar terbunuh di tangan permaisuri sendiri, dia tertawa sesaat melihat suaminya tidak lagi bernyawa.


“HAHAHA AKHIRNYA! AKHIRNYA AKU BEBAS!” teriaknya tertawa lepas dan tak merasa berdosa setelah membunuh kaisar.


“KYYAAAAAAA!! T-TOLONG! YANG MULIA PERMAISURI TELAH MEMBUNUH KAISAR!”

__ADS_1


__ADS_2