
“Mau saya? Baiklah, saya ingin mengumumkan bahwasanya pertunangan saya dengan Yang Mulia Putra Mahkota dibatalkan!”
Scarlesia membuka cincin pertunangan yang melekat di jemari manisnya kemudian membuangnya jauh-jauh.
“Tapi kenapa?”
“Karena saya ingin mendirikan harem, wanita cantik seperti saya ini tidak cukup satu laki-laki tampan saja,”
Pernyataan Scarlesia membuat gaduh seisi ruangan, ia dengan sengaja ingin mempermalukan Vincent di kalangan bangsawan yang hadir.
“Puas? Kalau begitu saya pergi dulu,”
Scarlesia membalikkan badannya, dia ingin segera meninggalkan ruang pesta yang sudah sangat ribut ini.
“Tunggu!” Vincent mencekal pergelangan tangan Scarlesia. “Kalau aku meminta maaf padamu, apakah kau tidak akan membatalkan pertunangan kita?”
Byurrrr
Scarlesia menyiram muka Vincent dengan segelas jus yang sedari tadi dia pegang.
“Bagaimana lagi ya saya menjelaskannya pada anda? Apakah anda pikir luka di hati saya akan hilang saat anda meminta maaf? Tidak! Anda jangan berpikir saya melupakan semua sikap kurang ajar anda kepada saya. Anda tahu? Saya membenci pria seperti anda ini, oh anda pikir jika anda putra mahkota anda bisa melakukan apa saja? Saya tidak tertarik menjadi permaisuri berikan saja itu pada Nieva si gadis yang anda cintai,”
“Sialan! kau…”
Vincent melayangkan tangannya hendak menampar Scarlesia, tapi buru-buru ditahan oleh Zenon dan Andreas.
“Kau ingin mati?” tanya Zenon dan Andreas serentak.
Zenon menahan tangannya, sedangkan Andreas merangkul pundak Scarlesia agar lebih menjauh dari Vincent.
“Siapa kalian? Lancang sekali kalian padaku!” bentak Vincent.
“Kau mau membanggakan gelar putra mahkotamu itu? Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Sia meski hanya sejengkal, kau itu tidak ada apa-apanya bagiku. Aku bahkan bisa menjadikan kekaisaran ini menjadi lautan api jika aku mau,” gertak Zenon.
Vincent terdiam, dia pun menurunkan tangannya. Scarlesia menepuk pundak Zenon memintanya untuk mundur sebentar.
“Yang Mulia Putra Mahkota, apakah anda tahu kalau saya adalah spesialisasi dalam menampar orang? Kalau begitu izinkan saya untuk mencoba bakat terpendam saya pada anda,”
Plakkk
Scarlesia menampar Vincent dengan sekuat tenaganya, harga diri Vincent terluka oleh ulahnya. Setelah menampar, ia tersenyum penuh kemenangan karena dia berhasil melampiaskan amarah yang sedari tadi dia tahan.
“Wanita itu gila! Dia bahkan berani menampar putra mahkota,”
“Apakah dia tidak takut nyawanya akan hilang setelah berani mengusik anggota kekaisaran?”
__ADS_1
“Otaknya mungkin sedikit tergeser waktu sakit,”
“Padahal dia cantik tapi kenapa nyalinya begitu besar?”
“Dia terlalu kuat! Aku tidak akan tahan jika punya pasangan sepertinya,”
Scarlesia melirik ke arah kerumunan bangsawan yang membicarakan dirinya.
“Apakah kalian juga mau merasakan tamparan superku?” gertak Scarlesia.
Para bangsawan melangkah mundur dan menggelengkan kepalanya. Lalu Scarlesia meraih gelas yang berisi minuman yang terletak di atas meja di sisi kirinya.
Praangggg
Ia melemparkan gelas tersebut ke atas ubin hingga pecahan belingnya berhamburan kemana-mana.
“Oh ya ampun tangan saya tergelincir, maaf ya Yang Mulia,”
Praanggg
Sekali lagi dia melakukan hal yang sama, Zenon dan Andreas terkekeh melihat aksi Scarlesia yang di luar dugaan mereka.
“Ahh kenapa tangan saya licin begini ya?”
Ini sudah gelas ketiga yang dia pecahkan, ia sengaja melakukannya karena jengkel dengan para tamu dan putra mahkota.
“Uuppss sepertinya saya sengaja. Tidak apa-apa, bukankah anda banyak uang? Berarti tiga gelas tidak masalah lah ya,”
Seluruh tamu sangat kaget dengan tingkah gilanya Scarlesia, tidak satupun dari mereka yang berani menghentikannya bahkan Eldrick dan Carlen pun hanya menonton dari kejauhan. Vincent sudah tidak bisa bersabar lalu dia memanggil para penjaga.
“PENJAGA! USIR WANITA GILA INI KELUAR!” teriaknya memberi perintah.
Para penjaga segera melaksanakan perintah dari Vincent, mereka mengepung Scarlesia.
“Aku bisa keluar sendiri jadi jangan sentuh aku! Kalau kalian berani menyentuhku akan aku patahkan leher kalian,” ancam Scarlesia.
Scarlesia berbalik, ia mengajak Zenon dan Andreas untuk pulang ke mansion.
“Oh iya Yang Mulia, saya akan berubah menjadi gila jika saya dihadapkan dengan orang gila. Anda mengerti maksud saya bukan? Jadi jangan pernah ganggu hidup saya lagi jika tidak ingin hidup anda berakhir,”
Muka Vincent memerah sempurna, Scarlesia berhasil membuat dirinya malu dan harga dirinya terjatuh, Dia menundukkan kepalanya, tangannya mengepal keras sambil mengutuk Scarlesia di dalam hati.
“Lihat saja aku akan membuat wanita sombong sepertimu bertekuk lutut di hadapanku!” gerutunya.
Scarlesia pulang dengan perasaan puas di hatinya, Sampainya di paviliun, Zenon masih saja terkekeh mengingat apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
“Hahaha aku tidak bisa berhenti tertawa mengingat wajah si putra mahkota itu,” kekehnya.
“Apa kau tidak lelah sejak tadi terus tertawa?” tanya Scarlesia melepas aksesoris yang melekat di kepalanya.
Hana dan Erin juga penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di pesta istana. Mereka kemudian bertanya pada Andreas lalu ia menceritakan semua yang terjadi pada mereka berdua.
“Kenapa tadi tidak anda patahkan saja tangannya Nona?” tanya Erin geram.
“Sebenarnya tadi aku ingin menendang anunya tapi aku mengurungkan niatku karena aku cukup khawatir jika nanti dia tidak bisa memiliki anak karena anunya hilang oleh ulahku,” jelas Scarlesia.
Mereka semua terkekeh oleh ucapan Scarlesia, mereka membayangkan jika hal itu benar terjadi maka tamatlah riwayat Scarlesia karena menghancurkan masa depan putra mahkota.
“Aku jadi semakin penasaran apa yang akan terjadi di hari esok,” batinnya menghadap ke luar jendela.
Esoknya, terjadi keributan besar di depan paviliun, Hana berlari menaiki anak tangga menuju kamar Scarlesia.
“NONA GAWAT! ZENON DAN ANDREAS BERTENGKAR DENGAN SESEORANG YANG MENGAKU SEBAGAI PACAR NONA!” lapor Hana.
“WHAT??”
Scarlesia yang sedang asik membaca buku bersama Erin terpaksa menghentikan aktivitasnya., dia lalu bergegas turun ke bawah untuk memastikan apa yang tengah terjadi.
“Hei kau kenapa kau kemari? Aku tidak akan membiarkanmu mendekati Sia!” ujar Zenon yang bersiap untuk menyerang.
“Aku sudah bilang aku ingin menemui Sia,” jawab Oliver, ia membawa satu buket bunga mawar untuk Scarlesia.
“Aku tidak akan membiarkanmu lewat!”
Andreas menghadang jalan Oliver agar dia tidak melangkah lebih jauh lagi. Oliver akhirnya memutuskan untuk terbang ke atas, Zenon dan Andreas juga mengikutinya sampai ke atas. Mereka memulai pertengkarannya di atas langit dengan sengit, api milik Zenon yang berbenturan dengan sihir Oliver lalu pedang Andreas yang terus menerjang maju untuk menebas kepala Oliver.
“AKU SUDAH BILANG JANGAN MERUSAK BUNGANYA!” teriak Oliver pada Zenon yang hampir membakar bunganya.
Sesampainya Scarlesia di depan paviliun, dia tidak menemukan mereka dimanapun. Ia mencoba menengok ke atas langit, dia menyipitkan matanya dan mendapati tiga orang pria yang sedang bertarung di atas.
“HEI KALIAN TURUNLAH! JANGAN MEMBUAT KERIBUTAN LAGI!” teriak Scarlesia.
Suara Scarlesia sampai pada mereka, Oliver yang girang langsung turun untuk menemuinya.
“Aahhh sayangku Siaaaaa! Aku segera datang,” sahut Oliver.
“WOI JANGAN SENTUH SIA!!” cegat Zenon mengamuk.
Tapi ternyata kecepatan terbang Oliver jauh lebih kencang dari mereka berdua, Oliver sampai lebih dulu di bawah.
“Oliver? Kenapa kau bisa di sini?”
__ADS_1