
“K-k-kekuatan macam apa itu?”
Tubuh Zin seketika gemetar, langit bergemuruh seolah menjawab rasa amarah Scarlesia. Sedangkan Scarlesia saat ini tengah mencoba menyadarkan Oliver, luka yang diterima Oliver dari serangan Zin sangat dalam.
“Oliver… Apa kau bisa mendengar suaraku? Sadarlah!” ujar Scarlesia menepuk-nepuk pelan pipi Oliver, tapi tidak ada respon dari Oliver.
Kemudian Scarlesia mencoba memeriksa tubuhnya menggunakan kekuatannya, ia menaruh tangannya di atas dada Oliver dan dia menemukan inti sihir Oliver yang sudah sangat hancur.
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Aku… AKU AKAN MEMBUNUHMU!
Kedua mata Scarlesia melotot emosi menatap Zin, darahnya serasa mendidih karena keadaan Oliver yang terbilang buruk. Zin berusaha menenangkan dirinya, meski rasa takut menderanya tapi misinya untuk membunuh Scarlesia harus dia tuntaskan bagaimana pun itu.
“Kau mau membunuhku? Sepertinya kau duluan yang akan mati di tanganku,” kata Zin.
Scarlesia mengangkat tangannya menghadap langit lalu ia menurunkan tangannya, sebelum Zin melancarkan serangannya kembali, ratusan pedang cahaya berjatuhan mengenai tubuhnya lagi. Tidak ada ampun untuknya, Scarlesia sudah kehilangan kendali dirinya. Wajah Scarlesia yang menatap dingin tak berekspresi, sorot matanya yang tajam membuat Zin tidak bisa melawannya lebih jauh.
“Aku tidak boleh mati di sini! Pedang-pedang ini menghunus tubuhku. Aku tidak bisa melawannya dalam keadaan terluka parah,”
Zin berbalik, ia membuka portal menuju istana kegelapan dan menghilang sekejap dari hadapan Scarlesia.
“Dia kabur? Aku tidak bisa membunuhnya. Aku…. Tidak! Tidak ada waktu untuk memikirkannya. Sekarang aku harus menyelamatkan Oliver,”
Scarlesia memangku tubuh Oliver yang semakin melemah lalu ia mencium bibir Oliver, dia tidak punya cara lain untuk menyelamatkan Oliver selain memakai cara ini. Dia berbagi energi kehidupannya untuk memperbaiki inti sihir Oliver yang sudah rusak parah.
“Tolong jangan tinggalkan aku dulu…” batin Scarlesia menitihkan air mata.
Pembagian energi kehidupannya pada Oliver hanya berlangsung selama beberapa detik, kemudian Scarlesia melepas ciumannya sesaat merasakan tubuh Oliver kembali hangat.
“Syukurlah tubuhnya sudah kembali hangat. Aku sekarang sudah bisa tenang…”
Brukk
Scarlesia kehilangan banyak darah karena luka yang ada di punggungnya, dan juga memperbaiki inti sihir Oliver yang rusak membuatnya semakin tidak punya kesadaran lebih. Pada akhirnya ia terjatuh tidak sadarkan diri tepat di samping Oliver.
Tidak lama kemudian, Oliver mulai siuman dan mendapati Scarlesia yang pingsan di sampingnya.
“Sia, bangun Sia! SIAAA!!”
“Oliver, ada apa ini?” tanya Xeon yang baru datang bersama Andreas dan Louis, lalu diikuti oleh kedatangan Zenon dan Elios.
__ADS_1
“Loh Sia! Apa yang terjadi dengan Sia?” tanya Andreas khawatir.
Oliver menggelengkan kepalanya.
“Ini salahku.. Ini salahku tidak bisa melindunginya,” ucap Oliver menangis dengan tangan yang gemetar mendekap Scarlesia.
“Sebaiknya kita bawa Sia pulang dulu. Semua urusan sudah selesai, jika Sia dibiarkan terluka lebih lama lagi ini akan memperburuk keadaannya,” usul Xeon.
Setibanya di paviliun, Scarlesia langsung ditangani oleh dokter dan Xeon juga membantu untuk menutup lukanya agar tidak semakin parah. Meski lukanya sudah sembuh, Scarlesia masih tidak menunjukkan tanda-tanda dia akan sadarkan diri. Oliver yang tenggelam di dalam rasa bersalah, tidak beranjak pergi dari kamar Scarlesia, setiap waktu dia menunggu Scarlesia siuman tapi sudah hampir 5 hari tidak ada kemajuan sedikit pun.
“Jangan buat aku takut, aku yang tidak mampu melindungimu. Maaf Sia, maaf… Aku tidak ingin kejadian 300 tahun lalu terjadi lagi. Maaf Sia… Maafkan aku,”
310 tahun yang lalu
Ini adalah masa dimana sihir merajalela, orang yang memiliki kekuatan sihir dianggap mempunyai derajat yang lebih tinggi dari orang biasa. Salah satu tempat yang paling terkenal dengan kemampuan sihirnya adalah di Kerajaan Midland, tidak ada orang yang tidak tahu mengenai seberapa hebat kemampuan para penyihir di kerajaan ini.
Pada saat itu, Oliver masih berumur 12 tahun dan belum menjadi seperti sekarang. Oliver seorang anak yatim piatu yang hidup terlunta-lunta di jalanan, ia hidup sebagai seorang pencuri demi memenuhi kebutuhan perutnya. Suatu hari, dia tertangkap oleh penjaga toko karena kedapatan mencuri. Oliver dihakimi oleh banyak orang tapi seorang gadis cantik menyelamatkannya agar tidak dipukuli lagi oleh orang lain.
“BERHENTI! KALIAN TIDAK BOLEH MEMUKULINYA LAGI!” cegah gadis itu.
“Gadis kecil, kau tahu apa? Anak ini sudah sering mencuri, kami ingin memberinya pelajaran agar tidak mencuri lagi,” ucap salah seorang penjaga toko.
Gadis tersebut melemparkan sekantong koin emas pada mereka dan membuat mereka melongo karena koin emas itu.
“Itu sebagai ganti rugi. Sekarang aku akan membawanya bersamaku jadi kalian tidak boleh menghakiminya lagi,” tegasnya membantu memapah Oliver yang terluka.
Dia membawa Oliver ke rumahnya yang terbilang mewah, ia mengobati semua luka Oliver.
“Kau siapa? Kenapa kau menolongku?” tanya Oliver menatap curiga.
“Jangan menatapku curiga seperti itu. Aku hanya ingin menolongmu dan tidak akan mengharapkan apa-apa darimu,” jawab gadis itu sambil membalut luka Oliver dengan perban.
“Kau anak orang kaya, apa tidak masalah membawa gelandangan sepertiku ke rumah mewahmu ini?”
Oliver mengedarkan pandangannya, kamar gadis yang baru saja menolongnya itu sangat mewah dan banyak barang-barang mahal terpajang di sana.
“Tidak masalah karena tidak akan ada yang mempedulikannya. Sudah selesai! Sekarang lukamu sudah aku obati semuanya,”
Oliver melihat luka-luka di tangannya dibalut dengan sempurna, gadis yang di depannya kini masih sangat kecil tapi dia bisa membalutkan perban ke lukanya serapi itu.
__ADS_1
“Berapa umurmu?” tanya Oliver sekali lagi.
“Hmm 11 tahun,” jawabnya.
“Berarti kau satu tahun lebih muda dariku. Siapa namamu?”
“Sia, kalau kau sendiri?” tanya balik si gadis bernama Sia.
“Aku? Aku Oliver,”
“Wow namamu bagus sekali,” sanjung Sia memasang mata berbinar.
Mendengar Sia menyanjungnya, Oliver tersipu malu dan salah tingkah.
“J-jangan menyanjungku!”
“Kenapa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja,”
“Ya sudah terserah kau saja,”
Sia tertawa melihat raut malu Oliver, wajahnya tampak lucu saat merona seperti ini.
“Oliver, apakah kau mau tinggal bersamaku? Aku ingin kau menjadi temanku karena aku merasa kesepian,” ujarnya menawari Oliver untuk tinggal bersamanya.
“Jangan bodoh! Kenapa kau mengajak gelandangan sepertiku tinggal bersama orang kaya sepertimu?” tolak Oliver langsung.
“Aku mohon, kamu tinggal bersamaku saja. Di sini kamu tidak akan kelaparan, kamu tidak perlu lagi memikirkan uang, kamu cukup menjadi temanku saja. Mau ya?” mohon Sia dengan wajah memelas seraya menggenggam tangan Oliver.
Oliver tidak punya alasan untuk menolaknya, ia pun akhirnya setuju dengan tawaran Sia.
“Baiklah, aku akan tinggal bersamamu,”
“Benarkah? Kalau begitu kau juga sepakat menjadi temanku?”
“Iya, aku akan menjadi temanmu,”
“YEAYYYY! AKHIRNYA AKU PUNYA TEMAN! AKU TIDAK PERLU KESEPIAN LAGI,”
Sia melompat-lompat kegirangan, lengan bajunya yang panjang tidak sengaja tersingkap dan memperlihatkan betapa banyaknya bekas luka di tangannya.
__ADS_1
“Sia, tanganmu kenapa?”