
Kedatangan Scarlesia yang dinobatkan sebagai kaisar selanjutnya tentu saja mendatangkan beberapa pertentangan dari beberapa bangsawan Evariste. Rakyat biasa mungkin menyetujuinya tapi para bangsawan banyak yang menentangnya. Seperti hal nya yang terjadi pada rapat kekaisaran malam ini yang diadakan di istana menimbulkan kericuhan di dalam rapat tersebut. Tidak seperti di Kekaisaran Roosevelt, bangsawan dari Kekaisaran Evariste sebagian besarnya dipimpin oleh wanita.
“TIDAK BISA BEGITU YANG MULIA! WALAUPUN DIA ADALAH ANAK DARI KAISAR KE 57, ANDA TIDAK BISA MENJADIKANNYA SEBAGAI PUTRI MAHKOTA!”
“KENAPA TIDAK BISA? BELIAU BISA MENJADI PUTRI MAHKOTA KARENA BELIAU MEMILIKI KECERDASAN DAN KEMAMPUAN DI ATAS RATA-RATA!”
“BAGAIMANA PUN DIA ADALAH ORANG LUAR YANG TIBA-TIBA MASUK KE EVARISTE! KITA TIDAK BISA MENERIMNYA BEGITU SAJA!”
“APA YANG ANDA KATAKAN? SEHARUSNYA ANDA TAHU PRESTASI LUAR BIASA MILIK BELIAU. BAHKAN KEKUATAN YANG TIDAK ADA PADA KITA SEBAGAI MANUSIA BIASA,”
“BETUL! BELIAU BAHKAN MENYELAMATKAN ANAK SAYA YANG HILANG DAN DICULIK OLEH RATU MIRANDA!”
Pro dan kontra saling bertubrukan, sebagian dari mereka menyetujui pengangkatan Scarlesia sebagai putri mahkota dan sebaiannya lagi menentang keras dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal. Edward sebagai pemimpin dari jalannya rapat ini tidak bisa berbuat apa-apa, dia sudah lelah sejak tadi menghentikan perdebatan mereka.
Brakkk
Pintu ruang rapat terbuka lebar, Qirani datang bersama Feodor dengan mendobrak pintu masuk. Seluruh keributan menjadi hilang seketika melihat Qirani, mereka tidak bisa seenaknya berbicara dan berteriak lagi. Ruang rapat hening, Feodor memandu Qirani untuk duduk di samping Edward.
“Kenapa diam? Lanjutkan saja yang kalian ributkan tadi,” ketus Qirani.
“Ibu, kenapa anda kemari?” bisik Edward bertanya.
“Tadi aku mendengar ada yang tidak beres di sini jadi aku putuskan saja untuk masuk,” jawab Qirani kembali berbisik.
__ADS_1
“Ya, saya kesulitan mengendalikan mereka,”
Qirani menatap tajam pada para bangsawan, raut mukanya yang datar tak berekspresi membuat mereka semakin tidak berani untuk berbicara.
“Tadi aku dengar ada diantara kalian yang tidak setuju kalau Scarlesia akan diangkat menjadi putri mahkota. Katakan alasan kenapa kalian tidak menyetujuinya,” tekan Qirani.
“Yang Mulia, dia adalah orang luar. Walaupun Ibunya adalah kaisar ke 57 kita tidak bisa mempercayainya begitu saja,”
“Benar Yang Mulia! Dia sudah lama di Kekaisaran Roosevelt jadi dia tidak mungkin tahu apa-apa mengenai Evariste. Bagaimana jika nanti dia mengendalikan semuanya dan membiarkan rakyat mati menderita? Kita masih belum tahu sifatnya,”
“Apa yang kalian katakan? COBA KATAKAN SEKALI LAGI! BERANI-BERANINYA KALIAN MENGATAKAN OMONG KOSONG MENGENAI CUCUKU! BAGAIMANA PUN ANAKNYA BELA ADALAH BAGIAN DARI EVARISTE! KALIAN PIKIR ADA YANG LEBIH COCOK DARINYA MENJADI KAISAR?!” bentak Qirani marah.
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya bersurai kuning mengacungkan tangannya untuk izin menanggapi apa yang dikatakan oleh Qirani.
“Apakah anda pikir anda hanya punya satu cucu perempuan saja? Anda lupa bahwa anak anda Pangeran Rashid juga memiliki seorang anak perempuan yang bernama Abigail juga bisa dijadikan sebagai kandidat putri mahkota? Anda harus bersikap adil dong Yang Mulia, jangan karena gadis itu merupakan anaknya Kaisar Anabela Evariste anda langsung menajadikannya sebagai putri mahkota,” kritik Duke Debora, yang merupakan bangsawan tingkat tinggi Evariste.
Debora dan Freya sama-sama merupakan bangsawan tingkat tinggi yang menempati posisi duke di Kekaisaran Evariste. Sifat mereka selalu bertentangan seperti air dan minyak yang susah menyatu, sering kali di dalam rapat kekaisaran mereka berakhir pada perdebatan panjang yang tidak ada habisnya.
“Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Duke Freya karena rakyat biasa juga sangat senang begitu mengetahui bahwa Scarlesia lah yang akan menjadi kaisar selanjutnya. Seperti yang kita ketahui, masalah penculikan, bencana kekeringan, hingga gelombang monster yang paling banyak berperan di sini adalah Scarlesia sendiri. Sedangkan Abigail, apa yang sudah dia lakukan untuk Evariste selain bermain dengan laki-laki?” timpal Marquess Liana membela Duke Freya.
Duke Debora terlihat kesal karena dia merasa terpojok oleh mereka berdua, pada akhirnya seorang pria angkat bicara untuk menengahi masalah ini.
“Yang Mulia, jika terus begini maka tidak akan ada titik temunya. Bagaimana jika kita mengadakan beberapa ujian untuk mereka berdua? Jika diantara mereka ada yang menyelesaikan ujiannya dengan sempurna, maka dialah yang akan menjadi putri mahkota selanjutnya,” saran Viscount Gino.
__ADS_1
Qirani, Edward, Feodor mengangguk dan saling bertukar pandang, mereka pikir hal ini juga tidak ada salahnya mereka coba agar pertentangan di dalam rapat kali ini berakhir pada hasil yang adil. Begitu pula para bangsawan yang lain juga setuju tentang usulan dari Viscount Gino.
“Baiklah, mari kita lakukan seperti itu. Kita agar mengadakan ujian untuk dua kandidat putri mahkota,” pungkas Edward sekalian menutupi rapat malam ini.
Sementara itu, saat ini Scarlesia sedang berada di dalam kamarnya untuk bersiap pergi tidur. Dia baru saja selesai mandi lalu mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya. Scarlesia berkali-kali menghela napas berat, dia seperti memikirkan sesuatu yang lumayan rumit.
“Yang Mulia, apa ada yang salah?” tanya Erin.
“Bisakah kalian memanggilku Nona seperti biasanya? Aku masih belum terbiasa dipanggil ‘Yang Mulia’,” pinta Scarlesia.
“Tidak Yang Mulia, kami tidak bisa memanggil anda ‘Nona’ seperti biasanya,” tolak Erin diangguki Hana.
“Ya sudah lah terserah kalian saja,” pasrah Scarlesia.
“Tapi sebenarnya apa yang sedang anda pikirkan? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran anda Yang Mulia?” tanya Hana ingin tahu.
“Bersemangatlah Yang Mulia, sebentar lagi anda akan menjadi kaisar,” ucap Erin memberi semangat.
“Sepertinya menjadi kaisar tidak akan semudah itu karena aku pikir masih banyak masalah yang akan menghadang jalanku,”
“Sebaiknya malam ini anda beristirahat dulu Yang Mulia, besok pikirkan masalah ini lagi,” saran Hana.
“Ya, sebaiknya sekarang aku tidur,”
__ADS_1
Erin dan Hana mengantarkan Scarlesia ke atas ranjangnya, mereka membaringkan Scarlesia lalu menyelimutinya. Setelah itu mereka mematikan lampu kamar dan menggantikannya dengan lampu tidur, kemudian mereka keluar meninggalkan Scarlesia agar bisa tidur dengan nyenyak. Ternyata Scarlesia tidak bisa menutup matanya, dia hanya memandang langit-langit kamar yang masih terasa asing untuknya.
“Aku tidak bisa tidur, kalau begitu aku akan pergi ke luar sebentar,”