Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Pesta Kekaisaran Evariste


__ADS_3

Tepat satu hari setelah penobatan, kini diadakan pesta perayaan dalam rangka berhasilnya Scarlesia menduduki tahta kaisar. Undangan pesta tidak hanya ditujukan untuk bangsawan Evariste saja namun untuk kekaisaran lain juga. Malam ini suasana aula pesta sungguh ramai, banyak dari kalangan bangsawan mengucapkan selamat untuk Scarlesia. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang memberi hadiah kepada Scarlesia.


Perwakilan dari masing-masing kekaisaran mulai berdatangan memasuki aula pesta, mereka memberi salam, ucapan selamat, serta hadiah untuk Scarlesia. Tidak henti-hentinya mereka bergumam tentang kecantikan Scarlesia, ini merupakan pembicaraan yang tidak akan pernah menghilang dari topik mereka di saat melihat Scarlesia secara langsung. Suatu kecantikan yang tidak akan pernah lekang oleh waktu, begitulah anggapan dari orang-orang.


Beberapa saat kemudian, perhatian semua orang teralihkan pada kedatangan para pria tampan milik Scarlesia. Mereka hari ini tampil lebih menawan serta gaya rambut yang terlihat berubah, ketampanan maksimal yang mampu membuat setiap wanita meleleh. Pakaian yang mereka kenakan menambah ketampanan mereka. Scarlesia sempat lupa diri sesaat melihat mereka, jantungnya berdebar kencang ketika melihat penampilan mereka berbeda dari biasanya.


“Mereka sangat tampan, apa mungkin mereka adalah calon selir Yang Mulia?”


“Benar, mereka adalah calon selir Yang Mulia. Aku nyaris lupa diri ketika melihatnya.”


“Yang Mulia beruntung sekali. Aku dengar mereka juga begitu menyayangi Yang Mulia.”


“Mereka sama-sama beruntung, Yang Mulia beruntung mendapatkan mereka dan mereka juga beruntung mendapatkan Yang Mulia.”


Cuitan-cuitan kecil sampai ke telinga Scarlesia, para tamu undangan heboh karena kedatang pria-pria tampan. Scarlesia hanya membalasnya dengan senyuman karena ia juga punya pemikiran yang sama dengan mereka. Scarlesia mengamati lelaki tampan itu perlahan melangkah mendekat pada dirinya, dimulai dengan Andreas memberikan kecupan di punggung tangan Scarlesia.


“Yang Mulia, anda sangat cantik malam ini. Tapi, di hari-hari biasa anda tetap cantik bagi saya,” ucap Andreas terdengar seperti rayuan maut.


Scarlesia masih belum terbiasa dengan situasi ini dimana mereka mesti memanggil Scarlesia dengan sebutan ‘Yang Mulia’. Tidak hanya berlaku untuk mereka saja bahkan Ayah dan kakaknya juga mulai memanggilnya ‘Yang Mulia’ semenjak ia dinobatkan sebagai Kaisar Evariste. Meskipun Scarlesia menyuruh mereka untuk memanggilnya ‘Sia’ seperti biasa, tapi mereka tidak bisa melakukannya sebab itu adalah etika dasar kekaisaran.


“Tidak bisakah kalian berbicara santai denganku seperti biasa? Aku tidak terbiasa mendengarnya,” tutur Scarlesia.


“Tidak bisa begitu Yang Mulia, anda kan sudah tahu hal itu. Kami tidak bisa melakukannya kecuali berada di dalam suasana non formal,” jawab Oliver.


“Kita sekarang tengah berada di dalam pesta kekaisaran, kami akan memanggil anda seperti biasa jika tidak berada dalam acara formal seperti ini,” imbuh Louis.


Scarlesia menghembuskan napas kasar, ia tidak dapat memaksakan kepada mereka mengenai masalah ini. Sepertinya dia terpaksa harus mengikutinya dan memaksa diri untuk segera terbiasa dipanggil secara formal oleh mereka.


“Yang Mulia, apa anda punya kakak yang lain?” celetuk salah seorang bangsawan yang berdiri di dekatnya.

__ADS_1


“Kakak yang lain? Tidak, aku tidak punya.”


“Lalu yang bersama kakak anda siapa?”


Scarlesia memutar pandangannya ke arah yang dimaksud oleh wanita bangsawan itu, rupanya yang dia maksud adalah Ayahnya sendiri. Eldrick memiliki wajah yang tampan dan awet muda meskipun usianya hampir mencapai 50 tahun. Scarlesia kerap kali merasa heran dengan ketampanan milik Ayahnya sendiri dan ketampanannya turun kepada dua kakak laki-lakinya. Namun, malam ini Ayahnya tampak lebih bercahaya dan lebih tampan dibanding biasanya. Jadi, wajar saja wanita bangsawan pangling melihatnya dan menyangka bahwa ia adalah kakaknya Scarlesia.


“Apa hidupku memang dikelilingi oleh pria-pria tampan? Aku rasa tidak ada wanita seberuntung diriku di dunia ini. Surganya para wanita ada pada diriku,” batin Scarlesia.


Eldrick menghampiri Scarlesia lalu mengulurkan tangan kanannya kepada dirinya.


“Yang Mulia, maukah anda berdansa bersama saya?” tanya Eldrick.


Tanpa berpikir panjang lagi, Scarlesia langsung menerima ajakan Eldrick untuk berdansa.


“Baiklah.”


“Apakah Ayah saya memang selalu setampan ini?” goda Scarlesia.


“Yang Mulia, Ayah anda ini selalu tampan. Itulah mengapa Ibu anda terpikat oleh saya,” balas Eldrick.


Scarlesia tertawa kecil sembari memperhatikan langkah kakinya agar tidak menginjak kaki Eldrick.


“Jika anda selalu berdandan tampan seperti hari ini, Ibu yang melihat dari atas sana bisa saja cemburu sebab ketampanan anda diinginkan oleh wanita di seluruh dunia ini.”


“Saya tidak akan tergoda karena di hati saya hanya ada Ibu anda. Seharusnya anda tahu pasti itu Yang Mulia.”


Interaksi mereka terdengar lucu apabila menggunakan bahasa formal layaknya hari ini, rasanya sungguh tidak nyaman bagi Scarlesia sendiri jika berbicara formal dengan Ayahnya.


“Bisakah anda berbicara non formal pada saya?” tanya Scarlesia.

__ADS_1


“Tidak bisa Yang Mulia, ini adalah etika yang harus dipatuhi oleh setiap orang. Meskipun saya adalah Ayah anda, tetap saja tidak dibenarkan berbicara non formal di acara formal seperti sekarang,” jawab Eldrick.


Scarlesia sudah pasrah, dia tidak punya cara lain lagi dan harus mengikuti alur yang ada sekarang.


“Baiklah, saya akan mencobanya meski agak sulit.”


Eldrick tersenyum tipis memandang putrinya yang tumbuh dewasa dalam waktu singkat. Di dalam hati kecilnya, ia masih ingin bermain lebih lama dengan Scarlesia tapi itu tidak memungkinkan lagi sekarang sebab status Scarlesia mengemban tanggung jawab besar kepada rakyat.


“Larissa, anak kita sudah besar. Dia telah tumbuh jadi wanita dewasa yang sangat cantik, aku harap kau bisa melihatnya sekarang. Tolong awasi dia selalu,” harap Eldrick dalam hatinya.


“KYAAAAA!!”


Seorang wanita memekik dari arah balkon, suara pekikan tersebut membuat semua orang terkejut. Scarlesia dan Eldrick menghentikan dansanya untuk memeriksa apa gerangan yang terjadi di sana.


“Ada apa? Apa ada masalah di sini?” tanya Scarlesia.


Seorang wanita bangsawan terlihat sangat ketakutan, beberapa temannya langsung menenangkannya.


“I-itu Yang Mulia … a-ada mayat….”


Perempuan itu menunjuk ke arah balkon, Scarlesia segera menoleh ke arah yang dimaksudkannya. Ternyata ada tubuh seorang pria tua yang menelungkup dan bersimbah dengan darah, para ksatria dengan sigap melihat siapa pria itu sebenarnya.


“Bukannya pria tua itu yang suka mencari masalah di alun-alun kota?” sela seorang pria.


“Dia sudah tidak bernapas Yang Mulia,” ucap salah seorang ksatria.


Scarlesia juga ikut mengecek lebih lanjut tubuh pria tua tersebut, ia memeriksa denyut nadinya dan diperkirakan bahwa ia baru saja meninggal. Dia lehernya ada bekas cekikan serta ada bekas tikaman di perutnya, kemungkinan besar pria tua itu dibunuh oleh seseorang.


“Yang Mulia, ada surat di tangan kirinya,”

__ADS_1


__ADS_2