Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Ingatan Kehidupan Lalu


__ADS_3

“Ehh kena…pa….”


Brukkk


Tubuh Scarlesia kehilangan kesadarannya dan membuatnya terjatuh ke tanah, Xeon terlambat menangkap tubuhnya yang tiba-tiba melemah ini.


“Sia, bangun Sia,” panik Xeon menepuk-nepuk pipinya tapi tidak ada jawaban sama sekali.


Segera Xeon mengangkat tubuhnya Scarlesia untuk ia bawa kembali ke desa utama. Kedatangan Xeon yang membopong Scarlesia, menghebohkan semua orang termasuk Carlen dan Aldert serta Andreas, Oliver, Zenon, Louis, dan Elios. Mereka langsung menghampiri Xeon nampak ada Scarlesia bersamanya.


“Ada apa ini? Kenapa dengan Sia?” tanya Carlen sangat cemas.


“Sebelum itu bisakah kita kembali dulu ke kediaman? Sia tidak akan bisa beristirahat jika di sini,” ujar Xeon tak berekspresi.


“Jawab dulu Sia kenapa?” tanya Carlen sekali lagi.


“TOLONG! Tolong tanyakan itu nanti. Aura hidup Sia sedang tidak stabil jika dibiarkan seperti ini maka dia akan mati,”


Deg


Aliran darah mereka seolah bergejolak mendengar apa yang baru saja Xeon katakan. Kata ‘mati’ yang diucapkan Xeon seperti jarum yang membuat jantung mereka ikut merasa sakit. Oliver tidak banyak bicara, dia langsung membuat portal sihir menuju ke kediaman Duke Eginhardt. Mereka muncul tepat di hadapan Hana dan Erin yang tengah sibuk mengurusi taman milik Scarlesia.


“YA AMPUN NONA,” pekik Erin histeris melihat Scarlesia tidak sadarkan diri.


Tanpa berlama-lama Xeon bergegas ke kamar Scarlesia lalu membaringkan tubuhnya perlahan di atas tempat tidur.


“Tolong jangan panggil dokter karena manusia biasa tidak akan bisa menolongnya,” pinta Xeon.


Mereka semua berkumpul di satu ruang yang sama, tubuh Scarlesia semakin lama semakin terasa dingin. Xeon berada di samping Scarlesia untuk memeriksa apa yang terjadi dengan tubuhnya sebenarnya.


“Apa yang terjadi dengan tubuhnya? Kenapa semakin dingin? Tidak bisa begini. Kau tidak boleh mati lebih dulu Sia,” batin Xeon mengecek tubuh Scarlesia dengan kekuatannya.


Xeon menggambarkan raut muka cemas, ia sungguh khawatir dengan keadaan Scarlesia. Begitu pula dengan semua pria yang kini hanya bisa diam dan memandang sedih Scarlesia yang terbaring lemah di tempat tidurnya. Secara perlahan suhu tubuh Scarlesia kembali normal, walaupun suhunya kembali normal bukan berarti dia akan segera terbangun.


Kreekk


Saat Xeon hendak memeriksa lebih dalam tubunya Scarlesia, ia mendengar suara yang membuatnya khawatir setengah mati.

__ADS_1


“Huh? Segel neraka utama terbuka. Aku tidak bisa di sini terlalu lama, aku harus kembali sekarang juga,” batinnya segera bangkit dari posisinya.


“Siapa kau sebenarnya? Aku merasa aneh sejak kali pertama melihatmu. Kau bukan berasal dari dunia ini kan?” selidik Zenon.


“Seperti yang diharapkan dari seekor naga, kau mempunyai kepekaan yang cukup tinggi.” seringai Xeon. “Benar. Aku bukan dari dunia ini karena aku adalah dewa yang mengawasi Scarlesia,” ungkapnya.


“D-d-dewa? J-jadi benar Sia adalah anak kesayangan dewa?” tanya Aldert gelagapan.


Saat ini mereka berdiri mematung, tidak menyangka kalau Xeon akan mengaku pada mereka begitu saja.


“Anak kesayangan dewa ya? Entahlah aku juga tidak bisa menjawabnya. Tolong jaga Sia untuk sementara waktu karena permaisuri masih mengincar nyawanya. Dia tadi terjatuh dari jurang yang cukup tinggi jika aku tidak menyelamatkannya maka hari ini dia sudah kehilangan nyawanya,” jelas Xeon.


“Permaisuri? Sia dicelakai oleh permaisuri?” tanya Aldert memastikan.


“Iya, untuk itulah jangan tinggalkan Sia sendirian. Aku harus kembali sekarang karena ada masalah yang harus aku selesaikan,”


Xeon berbalik ke ranjang Scarlesia, sebelum pergi ia mengecup punggung tangannya.


“Maaf karena aku sudah menjatuhkanmu ke dunia manusia. Tolong maafkan kami para dewa dan dewi yang membuatmu kesusahan seperti ini. Kami akan selalu mengawasimu dari istana langit karena marabahaya yang sebenarnya baru akan terjadi,” batin Xeon.


“Jangan sampai salah satu dari kalian mati karena jika kalian mati maka Sia akan ikut mati. Takdir kalian sudah diikat olehku wahai 5 pengantin yang sudah disiapkan oleh dewa pencipta,”


Mereka saling bertukar pandang karena perkataan Xeon terdengar sedikit berbahaya, nyawa mereka adalah nyawa Scarlesia dengan artian lain mereka adalah jantung hidup Scarlesia sendiri.


“Apa dewa itu baru saja becanda?” tanya Zenon.


“Aku rasa itu bukan becanda. Aku sudah merasa sejak awal takdirku memang sudah diikat dengan Sia,” jawab Oliver.


“Apa kalian tidak pernah merasakan sesuatu yang aneh sejak kali pertama berjumpa dengan Sia? Aku merasa hatiku seolah terikat dengan benang merah, jika memang benar yang baru saja dikatakan oleh dewa itu artinya kita adalah hidupnya Sia,” ujar Elios menekuk ekspresinya.


“Kehendak dewa berada di atas kuasa kita semua meski kita adalah yang terkuat di bumi kita tetap tidak bisa menyaingi kekuatan dewa,” kata Oliver.


Sementara mereka berada dalam kebingungan, Scarlesia yang sejak tadi masih belum sadar mulai masuk ke alam mimpinya. Sebuah mimpi yang kembali memperlihatkan ingatan masa lalunya di kehidupan sebelumnya.


Ini kisah disaat Scarlesia masih menjadi Fyrensia dan masih berumur 8 tahun setelah dia kehilangan Ibunya yang meninggal dalam tugasnya sebagai agen rahasia negara. Terlihat sang Ayah yang sedang memukulinya karena dia terus menangisi kematian sang Ibu yang baru saja terjadi.


“Sudah aku bilang jangan menangis lagi! Kalau kau sebegitu sayangnya pada Ibumu seharusnya kau susul saja dia,”

__ADS_1


Bughh


Fyrensia kecil menelungkup di atas lantai, ia terus dipukuli dan ditendang oleh Ayahnya. Meski ia hidup dalam gelimangan harta tapi tidak ada kebahagiaan sedikitpun untuk


“Ayah, sakit! Tolong jangan pukuli aku lagi hikss. Aku akan berhenti menangis jadi aku mohon jangan pukul aku. Ini sangat sakit Ayah,”


Fyrensia merangkak dan memohon sembari memeluk kaki Ayahnya tapi lagi-lagi dia ditendang oleh Ayahnya. Lebih parahnya lagi, ia ditarik keluar rumah yang mana hari itu hujan sangat lebat.


“Malam ini kamu tidur di luar saja. Sudah aku duga tidak ada gunanya mempunyai anak perempuan,”


Tubuh kecilnya meringkuk bersandar ke dinding depan pintu masuk, ia menangis sejadi-jadinya sambil meneriakkan kata ‘Ibu’. Walaupun cuaca sangat dingin namun dia berhasil bertahan hingga pagi harinya. Beralih pada saat dia berumur 12 tahun, sang Ayah menikah lagi dengan seorang selingkuhannya setelah beberapa hari kematian Ibunya lalu dikaruniai seorang anak laki-laki yang lucu. Dua kakak laki-lakinya sangat menyayangi adiknya, tapi tidak dengannya yang hanya mendapat tatapan dingin dari mereka.


Sekujur badannya dipenuhi luka lebam, tidak ada yang peduli dengan itu. Ketika dia demam, dia tidak mendapatkan penanganan khusus dari dokter. Separah apapun sakitnya dia hanya bisa menahannya sendirian, semenjak Ibunya meninggal tidak ada yang melindunginya lagi.


“Aku tidak butuh anak perempuan karena itu sangat tidak berguna,”


“Aku tidak butuh adik perempuan sepertimu. Pergi sana! Aku muak setiap melihat wajahmu yang mirip dengan Ibu,”


“Kenapa kau tidak mati saja? Aku tidak menginginkan adik perempuan sepertimu. Seharusnya waktu itu Ibu tidak usah melahirkanmu karena keberadaanmu di dunia ini hanyalah sebatas penghalang,”


Meski banyak kata cacian yang keluar dari mulut keluarganya, Fyrensia tidak menyerah begitu saja untuk mendapatkan perhatian keluarganya hingga pada suatu hari sang adik yang masih berusia 5 tahun hampir terlibat kecelakaan. Adiknya yang sedang bermain berlari ke tengah jalan, tiba-tiba saja ada mobil yang melaju kencang. Untung saja pada saat itu dirinya menyelamatkan adiknya meski harus mengorbankan nyawanya sendiri.


Dari balik pandangannya yang kabur dan darah yang mengucur di kepalanya, ia melihat Ayah dan Ibu tirinya berlari lalu memangku tubuh Adiknya yang tidak sadarkan diri tanpa mempedulikan dirinya yang terluka sangat parah.


“Sudah aku duga meski aku hampir mati karena menyelamatkannya Ayah tetap tidak mempedulikanmu. Apapun yang aku lakukan tetap salah di matanya, kenapa Ibu tidak membawaku pergi dengannya?”


Jauh di alam bawah sadarnya Scarlesia menangis melihat bayangan masa lalunya, dia masih terjebak di dalam kilas balik yang menyakitkan. Seluruh hatinya runtuh sesaat menyaksikan dirinya yang berkorban banyak demi keluarganya, ia menjadi siswa yang paling jenius, kuliah di kedokteran seperti kakaknya tapi usahanya tidak dinilai sedikit pun. Pada usianya 14 tahun, dia memutuskan bergabung dengan agen rahasia dan di sana lah dia belajar bela diri serta penggunaan senjata.


“Kau tidak akan pernah bahagia! Apapun yang kau lakukan dunia ini tidak akan pernah memihakmu,”


Terdengar suara-suara yang mengutuk dirinya, ini terlalu menyakitkannya. Suara-suara tersebut terus berulang terdengar olehnya.


“Siapa itu? Pergi! PERGIIII!!” teriaknya mencari sumber suara.


Tiba-tiba dari belakangnya dua tangan menutupi telinganya dan suara itupun hilang seketika.


“Sia anakku…”

__ADS_1


__ADS_2