
“Baiklah,”
Di sudut aula, mata Scarlesia menangkap Lucas yang sedang terluka parah. Dia merasa tidak tega dan segera menghampirinya.
“Yang Mulia! Apa yang terjadi dengan kaki anda?” tanyanya melihat kaki Lucas berdarah.
“Tadi kakiku tertimpa puing, jadi….”
“Baiklah saya mengerti. Maaf saya akan menyembuhkan anda,”
Scarlesia memakai kekuatan penyembuhannya pada Lucas, kaki Lucas yang awalnya terluka menjadi sembuh seperti semula.
“YANG MULIA ANDA HARUS KELUAR DARI SINI SEKARANG JUGA!”
Kemudian Scarlesia langsung beranjak meninggalkan Lucas, ia menuju ke tempat Natasha yang juga sedang terluka tertimpa puing-puing bangunan.
“Natasha!” panggilnya.
Natasha kini sedang bersandar di dinding, kepalanya terluka akibat benturan yang cukup kuat dia terima.
“Sia, kepalaku sangat sakit,” keluh Natasha.
“Tunggu sebentar, aku akan menyembuhkanmu,”
Scarlesia sekali lagi memakai kekuatannya pada Natasha. Natasha terlihat tidak percaya dengan apa yang dia saksikan sekarang. Sebuah kekuatan penyembuh yang sudah lama menghilang kini ada di dalam diri Scarlesia sendiri.
“Natasha! Aku sudah selesai menyembuhkanmu tolong pergi dari sini segera sebelum seluruh puing-puingnya hancur,” suruh Scarlesia.
“SIA! Apa kau baik-baik saja?” tanya Eldrick menghampirinya bersama Carlen dan Aldert.
“KENAPA KALIAN MASIH DI SINI? CEPAT KELUAR SEKARANG DARI AULA!” usirnya panik.
“T-tapi…”
“CEPAT! JANGAN MEMBUATKU MENGULANGINYA LAGI!”
Eldrick tidak punya pilihan lain selain mengikuti perkataan Scarlesia, Natasha dan Lucas pun juga begitu. Scarlesia melangkah ke tempat orang-orang yang terluka, aula ini sudah hampir sangat hancur.
“Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa menyembuhkan mereka sekaligus,” gumamnya panik.
“Sia, kau bisa menyembuhkan mereka sekaligus,” sahut Xeon.
__ADS_1
“Xeon! Bagaimana caranya?”
“Pejamkan matamu lalu berkonsentrasi lah, bayangkan kalau kekuatanmu sekarang menyelimuti ruangan ini,”
Scarlesia mengikuti sesuai apa yang dikatakan Xeon kepadanya, ia memejamkan matanya kemudian mulai berkonsentrasi. Secara perlahan aula ini dipenuhi dengan cahaya emas, kekuatan penyembuhannya mengalir lalu mencapai ke setiap titik bahkan orang yang sudah keluar dari aula pun bisa merasakan efek dari kekuatannya. Dalam beberapa detik semua orang yang terluka sudah sembuh dan segera menuju ke luar aula.
“Kekuatan penyembuhan? Gadis itu bisa menggunakannya? Ini tidak bisa dibiarkan! Huh? Getarannya berhenti?”
Miranda melihat ke bawah ternyata sihirnya berhasil dihentikan oleh Oliver, getarannya berhenti dan aula juga tidak sepenuhnya hancur.
“B-bagaimana bisa?”
“TURUN KAU! AKU PALING MEMBENCI ORANG YANG MEMAKAI SIHIR HITAM SEPERTIMU!” teriak Oliver marah dari bawah.
“Siapa pria itu sebenarnya? Dia berhasil menghentikan kekuatanku?” batin Miranda.
Tidak lama kemudian, Miranda memanggil semua bawahannya yang sejak tadi bersembunyi di sisi lain istana. Jumlah mereka cukup banyak hingga dapat mengepung Scarlesia saat ini.
“KALIAN SERANG MEREKA!” perintah Miranda.
Para penyihir hitam langsung menyerang mereka menggunakan sihir, saat ini Scarlesia dilindungi oleh Xeon. Sedangkan mereka yang lain sibuk menangkis berbagai serangan sihir yang menyerang mereka. Scarlesia berdiri di belakang Xeon, sekarang Scarlesia tidak membawa senjata apapun sehigga dia tidak bisa membantu mereka dalam melawan para penyihir hitam tersebut.
“Tetap berada di belakangku Sia!” seru Xeon.
“Iya baiklah,”
Tiba-tiba kabut hitam yang pekat dan lebat menutupi pandangan mereka semua sehingga membuat mereka tidak bisa melihat sekitarnya. Kabut tersebut hanya berlangsung dalam beberapa detik saja, setelah itu semuanya kembali normal seperti semula.
“Loh? Sia mana?” tanya Louis mencari keberadaan Scarlesia yang tidak bisa mereka temui.
Miranda dan para bawahannya juga sudah tidak ada lagi di hadapan mereka, mereka semakin bingung karena Scarlesia menghilang dari pandangannya.
“SIAAAA!! SIAAAA!!!” Mereka memanggil-manggil Scarlesia tapi tidak ada jawaban sama sekali.
“Apa yang terjadi? Dimana Sia?” tanya Eldrick yang masuk bersama Carlen dan Aldert lalu di belakang mereka ada Lucas dan juga Natasha.
“Sepertinya mereka membawa Sia,” ujar Xeon.
Pada saat yang bersamaan, Scarlesia kini dibawa oleh Miranda ke Negara Lothea menggunakan sihir teleportasinya. Sekarang Scarlesia sudah berada di Negara Lothea, setiap sudut negara ini sangat lah suram dan seperti tidak ada kehidupan di dalamnya ditambah dengan langitnya yang super kelam serta tidak ada cahaya matahari yang masuk kemari.
Negara ini seperti sebuah negara yang tidak berpenghuni dan bebas dari jangkauan dunia luar karena dikelilingi oleh sihir pembatas. Selama di perjalanan ke kastil, Scarlesia bahkan tidak melihat satu pun manusia yang hidup di dalamnya. Bangunan-bangunan yang sudah rusak, jalan yang tidak bisa dipakai lagi, serta banyak burung gagak yang berterbangan.
__ADS_1
“Apa ini Negara Lothea? Terlihat lebih buruk dari yang aku bayangkan,” tutur Scarlesia melihat kiri dan kanannya.
“Diam! Kau ini sedang aku culik! Sebentar lagi kau akan aku bunuh lalu jiwamu akan aku makan. Apa kau tidak takut sama sekali?” tanya Miranda, dia heran karena Scarlesia tampak tidak gelisah sama sekali.
“Sudah berapa kali aku diancam akan dibunuh oleh orang lain? Aku mendengar ancaman membunuh seperti sebuah kebiasaan sekarang. Aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu karena aku yakin para priaku akan segera menyelamatkanku,” ucap Scarlesia yang masih bisa tersenyum bangga.
“Hahaha kau terlalu banyak bermimpi! Tidak ada siapapun yang bisa menembus sihir pembatas ini!” angkuh Miranda.
“Kata siapa? Apa kau pikir pria-pria yang bersamaku itu adalah manusia biasa? Diantara mereka ada seorang vampir, naga merah, manusia serigala, penyihir agung, iblis putih, dan juga seorang dewa. Jadi aku yakin kalau mereka mampu menembus sihir pembatasmu yang lemah ini,” ledek Scarlesia.
Miranda ternganga mengetahui identitas sebenarnya para pria itu dari mulut Scarlesia langsung.
“Hahaha itu bagus! Jika kau mati maka aku bisa menguasai para priamu itu dan menjadikan mereka sebagai suamiku,”
“Sepertinya kau jadi gila ya nenek tua,”
“Apa? Nenek tua kau bilang? Aku ini bukan nenek-nenek!” tegas Miranda.
“Tapi di mataku kau terlihat seperti nenek-nenek. Wajahmu yang keriput, rambutmu yang putih, serta tubuhmu yang bungkuk. Aku bisa melihat semuanya kalau kau ini cantik hanya karena sihir dan bukan alami sepertiku,” ejek Scarlesia sengaja memanas-manasi Miranda.
“DIAM!” teriak Miranda emosi. “Cepat sekarang kurung dia di kamar bawah tanah!” perintah Miranda pada para bawahannya untuk mengurung Scarlesia.
Semakin Scarlesia masuk ke dalam kastil milik Miranda, rasanya semakin aneh. Aura gelap dari tempat ini sangat terasa mencekam, bau darah juga ada dimana-mana, sungguh tidak ada yang bagus dari kastil ini. Para bawahan Miranda lalu mendorong Scarlesia masuk ke dalam sebuah kamar yang cukup kecil serta gelap.
“Nona Nona! Bisakah kau mendengarku?”
Suara misterius memanggil-manggil Scarlesia, ia pun mencari dimana sumber suara itu.
“Saya di sini Nona!”
Ternyata suara tersebut adalah milik sebuah cermin yang pecah berderai di atas lantai. Scarlesia terkejut melihat ada sebuah cermin yang bisa berbicara, ia merasa hidup di dalam negeri dongeng.
“Apa kau cermin ajaib?” tanya Scarlesia.
“Iya, tapi sebelum itu bisakah anda menyatukan tubuh saya?” pinta si cermin.
“Baiklah, tunggu sebentar,”
Scarlesia menyatukan semua kepingan cerminnya, selesainya cermin tersebut mengeluarkan sinar dan kini cerminnya kembali utuh seperti semula.
“Nona Scarlesia, saya sudah menunggu kedatangan anda selama ini,”
__ADS_1