Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Menikah??


__ADS_3

“E-eung.. Dimana aku sekarang?” tanya Sia yang baru saja siuman dari pingsannya.


Di sisi kanan ranjang tempat Sia berbaring, ada Vivian dan juga Elios yang sejak tadi menunggu Sia sadar.


“Akhirnya kau sadar,” ucap Vivian.


Sia berusaha untuk bangun dari posisi tidurnya.


“Gadis cantik, kau sudah menyelamatkanku. Terima kasih,” ujar Elios tersenyum pada Sia.


“Tidak, itu bukan apa-apa. Aku hanya berusaha melakukan apa yang bisa aku lakukan, bagaimana keadaan tubuhmu sekarang?” tanya Sia.


Elios tertegun melihat Sia mengkhawatirkannya, gadis cantik yang sudah menyelamatkan hidupnya ternyata memiliki hati sehangat sinar mentari dan hal ini membuat Elios tersentuh.


“Kamu harus istirahat! Baringkan kembali tubuhmu,” perintah Vivian mendorong Sia untuk berbaring kembali.


“Anda….”


“Oh aku lupa, kau pasti tidak tahu siapa aku. Aku adalah Vivian, ratu iblis putih alias Ibunya Elios dan istrinya Hedwig,” kata Vivian memperkenalkan dirinya.


“Yang Mulia, saya….”


“Jangan bangun! Kamu berbaring saja. Kamu sudah menyelamatkan bangsa iblis putih dan mengabaikan rasa lelahmu agar kami semua bisa selamat bahkan kamu juga menyelamatkan Elios dari kekuatan yang hendak memakan hidupnya. Kami berutang budi padamu,” ujar Vivian.


“Tapi kenapa menyelamatkan kami? Bukannya kau adalah rakyat Kekaisaran Sora? Seharusnya kau membantu mereka,” tanya Elios ingin tahu.


Sia menghela napasnya, dia kembali mengingat rasa sakit yang dia rasakan selama tinggal di Kekaisaran Sora. Kedua orangtuanya selalu memperlakukannya seperti alat untuk mendapatkan tahta permaisuri selanjutnya. Kekuatannya digunakan sebagai pemancing kaisar agar kaisar mau mengabulkan permintaan mereka untuk Sia menikah dengan putra mahkota.


Sia hidup tersiksa dari hari ke hari, seperti terjebak di dalam sebuah sangkar emas. Batinnya tersiksa, fisiknya mudah lelah karena dia dipaksa bekerja setiap hari untuk menyembuhkan banyak orang lalu orangtuanya mengambil keuntungan lebih dari ini semua. Sia yang awalnya hanya ingin menggunakan kekuatannya secara gratis tanpa biaya tapi orangtuanya memanfaatkannya untuk memperkaya diri sendiri. Seperti sebuah neraka dan tidak ada senyuman kebahagiaan yang terukir di bibirnya.


“Aku kabur dari rumah,” jawab Sia singkat.

__ADS_1


“Kabur? Kenapa kau malah kabur?” tanya Elios sekali lagi.


Sia menggigit bibir bawahnya, ia menutup matanya dengan tangannya. Rasa perih menjalar di dalam hatinya, kebencian dan kesedihan yang dia rasakan cukup menekannya selama ini.


“Karena aku tidak pernah bahagia di sana. Aku hanya dijadikan sebagai alat oleh orangtuaku bahkan kaisar karena kemampuan penyembuhanku ini, aku kabur karena aku sudah tidak kuat ditekan oleh mereka,” ungkap Sia.


“Begitu ya? Aku tahu kau pasti menjalani hari-hari yang buruk di sana. Karena itulah tinggal saja di sini lalu menikah lah denganku,” ucap Elios enteng.


“Menikah?”


“Iya menikah,”


Elios mengambangkan senyumnya, Sia tidak mengerti jalan pikir Elios dan apa tujuan sebenarnya dia mengajaknya untuk menikah padahal mereka baru saja saling kenal lalu menikah? Itu adalah satu-satunya yang tidak terpikirkan oleh Sia selama hampir 18 tahun dia hidup.


“Aku tidak mau,” tolak Sia memasang ekspresi wajah datar.


“Tidak mau? Kenapa?”


“Aku jatuh cinta pandangan pertama denganmu,”


“Bohong! Aku tidak mau menikah denganmu,” kukuh Sia.


Vivian terkekeh melihat Elios yang tiba-tiba mengajak menikah seorang gadis setelah sekian lama dia tidak sadarkan diri.


“Kau sama saja dengan Ayahmu. Bagaimana bisa kau mengajak seorang gadis menikah di dalam situasi seperti ini? Sekarang kita keluar dulu dan biarkan Sia beristirahat sementara waktu di sini. Jangan ganggu dia sampai rasa lelahnya hilang,” ucap Vivian mendorong Elios untuk keluar dari kamar.


Semenjak Elios mengajak Sia untuk menikah, kian hari dia melancarkan aksinya untuk menggoda Sia. Elios tetap bersikeras ingin menikah dengannya meskipun ia sudah berkali-kali ditolak oleh Sia. Selama beberapa waktu ke depan, Sia memang diizinkan oleh Hedwig serta Vivian untuk tinggal di dunia bawah sementara. Sia melakukan banyak hal di sana, dia membantu seluruh iblis putih yang memiliki tubuh kurang sehat.


“Kau pergilah dari sini! Kenapa kau terus menerus menemuiku dan mendekatiku?” usir Sia.


Kalimat pengusirannya tidak mempan terhadap Elios yang keras kepala, Elios mengikutinya kemana-mana bahkan Elios memindahkan kamarnya ke samping kamar yang ditempati oleh Sia.

__ADS_1


“Aku kan sudah bilang aku mau menikah denganmu,”


Sia menghembuskan napas berat lalu memijit pelipisnya yang tidak terasa sakit.


“Aku tidak mau menikah denganmu!” tegas Sia lagi-lagi menolaknya.


“Kenapa? Apa ada yang kurang dariku?”


“Tidak ada. Hanya saja aku belum siap untuk itu,” jawab Sia menekuk ekspresinya.


“Aku hanya ingin melihatmu tersenyum dengan tulus. Aku tidak menyukai manusia apalagi manusia dari Kekaisaran Sora tapi itu tidak berlaku untukmu. Sejak awal aku melihatmu aku tahu bahwa kau berbeda dari manusia yang aku temui pada umumnya. Sia, aku sungguh mencintaimu dan aku merasakan ikatan yang tidak terlepas darimu,” ungkap Elios dengan tatapan mata tulus.


Sia terenyuh oleh kata-kata yang diucapkan Elios padanya, kata yang tidak pernah dia dengarkan dari mulut orang-orang yang biasa dia temui. Hatinya mulai tergerak dan terbuka karena Elios berhasil menerobos masuk ke dalamnya.


“Aku akan memikirkannya kembali,” kata Sia.


“Benarkah?”


Sia mengangguk, mimik wajah Elios berubah saat tahu hati Sia mulai terbuka untuk dirinya. Lalu waktu demi waktu hati Sia berhasil ditaklukkan oleh Elios, hati yang awalnya tertutup rapat akhirnya terbuka lebar untuk Elios seorang. Hedwig dan Vivian mengetahui hubungan mereka berdua kemudian Hedwig menyuruh mereka untuk segera bertunangan. Pada awalnya Elios ingin mereka langsung menikah tapi Sia ingin mereka bertunangan lebih dulu dan Elios pun menurutinya.


Acara pertunangan dilangsungkan dengan meriah, para iblis putih lainnya menerima Sia dengan senang hati dan mereka tidak lagi melihat Sia menggunakan tatapan kebencian. Sia merasa sudah begitu nyaman tinggal di sini dan tidak lagi ingin pulang ke rumah. Semuanya memperlakukan Sia seperti keluarga sendiri, tidak ada tempat yang lebih membahagiakan selain dunia bawah baginya.


“Elios! Kenapa kau menikahi manusia hina seperti dia ini?!” bentak Naria yang baru saja datang masuk ke pesta pertunangan Elios dan Sia.


“Apa yang kau katakan? Apa baru saja kau menghina Sia?”


“Memang dia hina bukan? Aku yang pantas menikah denganmu dan bukan wanita ini. Aku sudah sabar menunggumu bangun tapi apa balasannya? Kau malah bertunangan dengan manusia ini!”


“Aku tidak pernah memintamu untuk menungguku,” ketus Elios.


“Elios! Aku mohon menikahlah denganku, hatiku tersiksa karena rasa cinta ini. Kau hanya pantas untukku dan buang saja wanita ini. Ya?”

__ADS_1


Plakkk


__ADS_2