
Di kala semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, benang merah yang menjadi penghubung dengan Scarlesia tiba-tiba berubah warna menjadi gelap. Sontak hal itu membuat kaget semua orang, mereka langsung menghentikan pekerjaan mereka lalu berkumpul pada satu titik.
“Di mana Sia?” tanya Xeon pada Erin dan Hana.
“Tadi Yang Mulia pamit pergi ke luar untuk menyelesaikan masalah perdagangan manusia, tapi sampai sekarang Yang Mulia masih belum balik,” jawab Erin.
Tiba-tiba saja suara derap kaki dari para ksatria membuat heboh istana, mereka panik setengah mati karena hilangnya Scarlesia dari pengawasan mereka. Zenon menghentikan salah satu dari mereka untuk menanyakan perihal masalah yang tengah terjadi.
“Ada apa ini? Kenapa kalian panik begini?” tanya Zenon.
“I-itu… Yang Mulia Putri Mahkota menghilang!”
“APAAA???”
Pada saat yang bersamaan, Scarlesia terjaga dan menemukan dirinya di atas sebuah kasur dimana di sekeliling tempat tidurnya gelap, hanya ada cahaya rembulan yang masuk di sela-sela jendela ruangannya.
“Di mana aku sekarang?”
Scarlesia bangkit dari tidurnya, ia mengamati kamar yang sangat luas tersebut serta barang-barang mewah terpajang di sekitarnya. Dia tidak tahu dimana dia berada saat ini, ingatan terakhirnya sebelum sampai di sini adalah pertemuannya dengan Cyrill di gedung pelelangan.
“Sayang, kau sudah bangun?”
Cyrill datang dari luar kamar, dia menyapa Scarlesia yang masih mempertanyakan keberadaannya saat ini. Kedatangan Cyrill membuat Scarlesia merasakan hal yang sama seperti sebelumnya, saking sakitnya dia tidak bisa mengeluarkan kekuatannya.
“Kau… kenapa kau membawaku kemari?”
Scarlesia melangkah mundur, dia tidak ingin terlalu dekat dengan Cyrill karena ini menyakitinya. Cyrill tersenyum miring melihat ekspresi Scarlesia yang merintih sakit, ia semakin senang bila dia melihat Scarlesia kesakitan. Oleh sebab itu, makin dilarang dia makin mendekat ke arah Scarlesia.
“Kau milikku sekarang,” Cyrill menyentakkan tangan Scarlesia ke atas tempat tidurnya. Dia menekan tubuh Scarlesia ke permukaan kasur menggunakan tubuhnya, ini membuat ruang gerak Scarlesia menjadi terbatas.
__ADS_1
“Lepaskan aku!” rontak Scarlesia.
“Tidak, aku tidak akan melepaskanmu. Aku kan sudah bilang tadi kalau kau mulai sekarang adalah milikku,” tekan Cyrill.
“Aku bukan milikmu! Dan aku tidak sudi untuk menjadi milikmu,” Scarlesia menolak Cyrill dengan tegas.
“Terserah! Aku tidak menerima penolakanmu. Kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini, tahu kenapa? Karena akses menuju ke kastilku ini sudah aku tutup bahkan Xeon saja tidak akan pernah bisa menemukannya. Jadi, sekarang kau diam saja di sini melayaniku,”
Jemari Cyrill mulai beraksi menjamah paha Scarlesia, perasaan risih dan marah Scarlesia tidak terbendungkan lagi. Dia melihat celah di kaki kanannya untuk bergerak, dengan sekuat tenaga ia gerakkan kakinya lalu menendang Cyrill hingga membuatnya terpental sangat jauh ke dinding kamarnya. Tubuhnya terhempas kuat menghantam dinding, Scarlesia memanfaatkan situasi itu untuk segera kabur.
Meskipun rasa sakit di dadanya menggeroti tubuhnya, dia memaksakan dirinya untuk bergerak menjauh dari Cyrill. Namun, ketika dia hendak melompat ke luar dari jendela kamar tersebut Cyrill dengan cepat menariknya untuk masuk kembali.
“Beraninya… BERANINYA KAU MENOLAKKU LAGI! KAU KIRA KAU BISA LARI DARIKU HAA? AKU AKAN MEMBUATMU MENGERTI TENTANG PERASAANKU PADAMU,” bentak Cyrill.
Semakin emosi Cyrill, semakin besar rasa sakit yang dirasakan Scarlesia. Kini dia tidak mampu menekan kutukannya, jiwanya serasa akan keluar dari tubuhnya. Melihat Scarlesia yang tidak bisa melawan lebih jauh lagi, Cyrill memanfaatkan hal ini untuk membopong Scarlesia ke atas tempat tidurnya.
“Sudah aku bilang, nikmati saja permainanku maka kau akan aman bersamaku,”
“Tuan, maaf tapi anda mendapatkan panggilan dari dewa kegelapan,” ujar pelayan tersebut.
“Cih sialan! Menggangguku saja. Ya sudah dilanjutkan nanti saja,” decak Cyrill keluar dari kamar.
Scarlesia menghela napas lega, pikirnya dia akan tidak akan selamat dari aksi bejat Cyrill. Kata syukur tidak berhenti keluar dari mulutnya, rasanya dia terbebas dari jeratan Cyrill untuk sementara waktu.
“Haruskah aku kabur sekarang?”
Scarlesia membuka jendelanya, dia mengedarkan pandangannya untuk melihat situasi sekitar kastil tersebut. Di luar kastil terdapat banyak penjaga di sana, walaupun begitu Scarlesia tidak takut. Sayapnya ia kepakkan kemudian melaju keluar dari kamar, tidak ada satu penjaga pun yang menyadari bahwa dia kabur.
Sementara itu, Cyrill kini sedang menghadap dewa kegelapan sebab ada hal penting yang mau dibicarakan oleh dewa kegelapan padanya. Tatapan tajam dari Leroux sang dewa kegelapan membuat Cyrill mengerti tanpa dikatakan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Leroux darinya.
__ADS_1
“Saya menghadap kepada sang dewa kegelapan,” ucap Cyrill.
“Cyrill, aku dengar wanita itu sedang bersamamu sekarang. Aku tahu sejak dulu kau menginginkannya tapi kau tahu bukan kalau aku sangat membencinya? Jika kau serius menunjukkan kesetiaanmu padaku, kau harus membunuh dia. Kau mengerti?” tekan Leroux.
“Baik, akan segera saya laksanakan,” patuh Cyrill.
“Kau memutuskan untuk berkhianat, aku menerimamu sebagai bawahanku bukan karena aku mempercayaimu tapi karena aku ingin membuktikan apakah kau benar-benar memihak padaku atau tidak,” ujar Leroux.
“Ya, saya mengerti Yang Mulia. Anda tidak perlu khawatir soal itu sebab saya akan segera membereskan Scarlesia setelah saya bermain-main dengannya,” balas Cyrill.
“Bagus! Aku tunggu kabar baik darimu. Sekarang kau boleh pergi,”
Cyrill langsung pamit undur diri dari hadapan Leroux.
“Kau pikir aku akan menuruti perintahmu? Aku hanya memanfaatkanmu untuk mendapatkan Sia dan menjadikannya sebagai milikku selamanya,” batin Cyrill menyeringai.
Lalu Zin, si siluman ular mendekat ke Leroux sebab dia menaruh curiga yang besar pada Cyrill.
“Yang Mulia, sebaiknya anda jangan terlalu mempercayai Cyrill. Anda tahu sendiri kan kalau dia itu terobsesi pada Scarlesia sejak dulu? Jangan terlalu banyak berharap padanya Yang Mulia,” bisik Zin mencoba menghasut Leroux untuk tidak mempercayai Cyrill.
“Tenang saja, aku tidak terlalu mempercayainya karena aku sudah tahu apa yang sedang dipikirkannya sekarang,”
“Saya hanya khawatir anda mempercayainya Yang Mulia,”
“Hahaha kau pikir aku bodoh? Lihat saja nanti kalau dia berani macam-macam denganku, aku akan membunuhnya dalam satu pukulan saja,”
Di sisi lainnya, setelah beberapa jam Scarlesia terbang mengitari daerah sekitar kastil, dia tidak bisa menemukan jalan keluar dari tempat itu. Sejauh mana pun dia terbang dia akan kembali ke tempat yang semula seolah Cyrill sudah menyiapkan hal ini secara matang.
“Ada di mana jalan keluarnya sekarang? Sejak tadi aku berjalan tapi aku tidak menemukan pintu keluar dari tempat ini,” gumam Scarlesia terus mencari jalan keluar dari sana.
__ADS_1
Scarlesia mencoba terbang satu kali lagi ke arah yang berlawanan sembari berharap dia akan menemukan jalan keluarnya setelah ini. Akan tetapi, hasilnya nihil karena dia masih berputar di tempat yang sama.
“Apakah kau mencari jalan keluarnya? Aku kan sudah bilang kau tidak akan bisa keluar dari sini tanpa persetujuanku,”