Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Keputusan Pengadilan


__ADS_3

“Halo Yang Mulia Permaisuri, bagaimana rasanya tinggal di dalam penjara?” tanya Scarlesia menyapa dengan nada bicara merendahkan.


Permaisuri mendongak melihat kedatangan Scarlesia bersama Stella, ia menggeram marah karena kedatangan mereka berdua.


“Mau apa kalian kemari? Aku seperti ini gara-gara kalian!” tuding permaisuri.


Scarlesia tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh permaisuri padanya.


“Anda akan menuai apa yang anda lakukan, seharusnya anda tahu itu sejak awal Yang Mulia. Anda sudah membunuh Ibu saya dan mencoba membunuh saya juga, jadi itu semua salah anda sendiri bukan salah saya,” jawab Scarlesia tajam.


“Salahkan Ibumu yang dicintai oleh kaisar, seharusnya sejak awal dia tidak ada. Seharusnya aku membunuhnya lebih awal, kau juga anak terkutuk! Kenapa kau kembali hidup ketika racun itu sudah menggerogoti tubuhmu? Dasar kau pembawa sial untukku!” hardik permaisuri.


“Hahaha anda lucu sekali Yang Mulia. Nah, sekarang saya akan katakan pada anda apa yang sebenarnya terjadi. Sejak awal ini semua adalah rencana saya, mulai dari racun yang merusak wajah anda sampai dengan pembunuhan yang anda lakukan kepada kaisar. Saya adalah dalang di balik terkurungnya anda di penjara ini,” ujar Scarlesia tersenyum miring.


Kedua mata permaisuri membulat sempurna, dia tidak menyangka bahwa Scarlesia merencanakan ini secara detail tanpa celah sedikit pun bahkan ia sendiri tidak menyadarinya.


“JANGAN BERCANDA DENGANKU SIALAN! KALAU BEGITU KAU HARUS TANGGUNG JAWAB ATAS SEMUA TERJADI PADAKU SEKARANG!” teriak permaisuri.


“Yang Mulia, anda masih tidak mengerti juga?” sela Stella.


“Apa yang kau katakan? Aku tidak salah, yang salah wanita murahan ini!”


“Anda gila ya Yang Mulia? Saya tidak akan pernah melupakan sedikit pun atas apa yang menimpa anak saya pada hari itu. Saya tahu anda adalah orang yang sudah membunuh anak saya karena anda takut anak saya akan merebut posisi sebagai putra mahkota, bahkan atas apa yang terjadi pada Larissa hingga keluarga saya, Itu semua adalah salah anda jadi jangan bersikap seolah anda yang paling tersakiti di sini!”


Stella mengucapkan kata-kata tersebut dengan air mata yang berlinang, rasa sakit yang dia tahan selama ini dia curahkan dengan kemarahannya pada permaisuri.


“Hahaha itulah kenapa aku peringatkan padamu untuk jangan masuk ke hidupku, anakmu meninggal ya itu bukan salahku tapi salahmu sendiri,”


Sampai akhir, permaisuri tidak mau mengakui bahwa itu adalah kesalahannya. Dia terus mengelak dan mengatakan bahwa ini bukan kesalahannya, kematian Larissa hingga kematian anaknya Stella ia sebut sebagai kesalahan dari pihak korban.


“Kalau begitu sekarang, anda tinggal menunggu kematian anda saja Yang Mulia. Apa anda pikir anda bisa lolos dengan mudah? Seluruh bukti mengenai pembunuhan yang anda lakukan sudah terkumpul. Jadi, saya harap anda bisa menikmati waktu berharga yang tersisa,” ucap Scarlesia.

__ADS_1


“A-APA? APA YANG KAU KATAKAN? AKU TIDAK MELAKUKAN KESALAHAN APAPUN JADI KENAPA AKU YANG MENJADI KORBANNYA?!”


Permaisuri terus berteriak dari balik sel tahanannya, sedangkan Scarlesia berlalu pergi meninggalkan permaisuri bersama dengan Stella. Scarlesia memperhatikan istana yang sangat sibuk, kematian kaisar menyebabkan ketidakseimbangan di dalam istana saat ini. Sebelum kembali ke kediaman, Scarlesia diajak oleh Stella untuk singgah ke istananya terlebih dahulu karena ada beberapa hal yang ingin dibicarakan oleh Stella padanya.


“Sia, ambil ini,”


Stella memberikan beberapa dokumen kepada Scarlesia, dokumen tersebut ditutup begitu rapat sehingga ia tidak tahu dokumen apa yang diberikan Stella padanya.


“Apa ini Yang Mulia?” tanya Scarlesia.


“Ini adalah bukti seluruh kejahatan permaisuri, aku harap kau bisa memberikannya kepada Duke Eginhardt agar Ayahmu bisa segera menyerahkannya pada pengadilan kekaisaran,” jawab Stella.


“Apa di sini juga ada bukti kematian Ibuku?”


Stella mengangguk, Scarlesia memeluk dokumennya sembari menahan air mata harunya.


“Syukurlah, dengan begini aku bisa membuat hukuman permaisuri semakin berat,” batinnya.


“Oh iya Yang Mulia, apa rencana anda setelah ini?” tanya Scarlesia beralih ke topik baru.


“Tapi kenapa? Bukannya sekarang masalah utamanya sudah terselesaikan? Lebih aman untuk anda jika berada di istana Yang Mulia,”


“Tidak, sekarang aku tidak punya alasan untuk tetap di sini. Dan juga aku sekarang…”


Stella melihat sembari mengelus perutnya, Scarlesia langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Stella.


“Jangan bilang kalau sekarang anda hamil?” tebak Scarlesia.


“Tebakanmu benar. Aku sedang hamil 3 bulan, aku tidak ingin anak ini tinggal di istana yang penuh persaingan. Aku ingin dia menjalani hidup yang damai tanpa harus memikirkan perebutan tahta,” kata Stella.


“Baiklah. Saya mengerti sekarang, tapi anda harus selalu bertukar kabar dengan saya Yang Mulia. Saya tidak ingin anda melupakan saya begitu saja,”

__ADS_1


“Iya aku akan mengingat itu, oh iya aku hampir melupakannya, tunggu di sini sebentar. Ada satu hal lagi yang ingin aku berikan padamu,”


Stella bergegas berjalan ke kamarnya untuk mengambil sesuatu yang dia maksudkan, tidak lama ia kembali dengan membawa sebuah kotak kecil berwarna cokelat di tangannya.


“Sia, ini adalah peninggalan Ibumu. Dulu ketika dia mengandungmu, dia ingin aku menyimpannya dan memberikannya padamu ketika kamu dewasa nanti,” ujar Stella menyodorkan kotaknya kepada Scarlesia.


“Peninggalan Ibu?”


Scarlesia segera membuka kotak tersebut dan melihat apa yang ada di dalamnya. Ternyata ia menemukan sebuah kunci di kotak itu.


“Kunci? Kunci apa ini?” bingung Scarlesia.


“Aku juga tidak tahu, tapi aku yakin Larissa tidak memberikannya padamu tanpa alasan yang jelas. Kamu simpan saja dulu karena aku yakin, kunci itu akan berguna untukmu nantinya,”


Selesai berbincang dengan Stella, Scarlesia pamit untuk segera kembali ke kediamannya. Setelah tiba di kediaman sebelum pergi ke paviliun, Scarlesia mengunjungi Eldrick terlebih dahulu untuk menyerahkan bukti-bukti yang diberikan Stella padanya.


“Ayah, aku ingin memberikan ini,” ujar Scarlesia menyerahkan dokumennya pada Eldrick.


“Dokumen apa ini?”


“Dokumen ini berisi seluruh bukti kejahatan permaisuri dan juga bukti kalau permaisuri lah yang membunuh Ibu,” jawab Scarlesia tersenyum lebar.


Eldrick membuka dokumen yang masih tersegel itu, ia melihat helai demi helai dokumennya dan ternyata memang ada bukti pembunuhan istrinya.


“Sia, darimana kau mendapatkan semua ini?”


“Aku mendapatkannya dari Yang Mulia Selir, beliau berada di istana selama ini untuk mengumpulkan semua bukti-bukti kejahatan permaisuri,”


“Begitu ya. Baiklah! Serahkan semuanya padaku. Aku akan menyerahkannya ke pengadilan kekaisaran segera,”


“Oke, aku percayakan semuanya kepada Ayah,”

__ADS_1


Pada hari berikutnya digelar lah persidangan untuk permaisuri, di aula sidang sudah ramai dihadiri oleh para bangsawan. Scarlesia juga ikut menyaksikan jalannya sidang bersama Ayah dan juga kakaknya.


“Yang Mulia Permaisuri terbukti melakukan pembunuhan terhadap kaisar, selir-selir kekaisaran, pangeran kedua, serta pembunuhan terhadap Duchess Larissa Eginhardt. Lalu permaisuri juga terbukti melakukan percobaan pembunuhan terhadap Nona Scarlesia Eginhardt. Dengan ini pengadilan menjatuhkan hukuman mati untuk permaisuri! Eksekusi akan dilaksanakan dalam kurun waktu 3 hari lagi di hadapan seluruh rakyat kekaisaran!”


__ADS_2