Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Siapa Cyrill Sebenarnya?


__ADS_3

“Siapa pria ini? Kenapa kedatangannya seperti menyiksaku?”


Scarlesia terhuyung-huyung ke samping, Natasha yang berada tepat di sebelahnya segera merangkul bahunya agar tidak terjatuh. Dia terus menyentuh dadanya, rasa panas terus menjalar ke sekujur badannya. Jantungnya seolah dicabik-cabik oleh ribuan jarum, wajahnya berubah menjadi pucat pasi dan terlihat sangat kesakitan.


“Yang Mulia, apa yang terjadi? Apa anda sakit?” cemas Natasha.


Suasana aula mendadak hening sebab suara Natasha yang menanyakan keadaan Scarlesia, para tamu bertanya-tanya perihal apa yang sedang terjadi pada Scarlesia. Cyrill menyeringai menatap Scarlesia tengah melawan rasa sakitnya, Dizon juga ikut cemas dengan Scarlesia yang tiba-tiba saja meringis kesakitan tanpa tahu alasan kenapa ia bisa kesakitan.


“Apa anda baik-baik saja Yang Mulia? Biar saya periksa sebentar denyut nadi anda,” ucap Cyrill.


Di saat dia hendak menyentuh tangan Scarlesia, Xeon baru datang langsung menampik kasar tangan Cyrill.


“JANGAN PERNAH MENYENTUHNYA SIALAN!” sergah Xeon emosinya menggelora.


Atmosfer di aula pesta semakin terasa dingin dan mencekam, sedangkan Scarlesia semakin merintih kesakitan. Elios menarik tubuh Scarlesia ke pelukannya, dia menyuruh Natasha untuk segera menjauh dari sana. Zenon juga merasakan ada sesuatu yang tidak beres dari Cyrill, dia mencium ada bahaya besar yang akan terjadi. Jika tadi Xeon tidak menampik tangannya, tidak tahu apa yang akan terjadi pada Scarlesia.


“Menyesakkan… ini menyesakkan dan membuatku sakit, tolong bawa aku keluar dari sini. Aku tidak mau berada dekat dengan pria itu,” lirih Scarlesia. Sekujur badannya bergetar hebat, mukanya semakin pucat. Karena khawatir, akhirnya Elios membawanya keluar dari aula pesta. Sementara yang lain, tetap berada di aula untuk memperhatikan dan mencari tahu siapa Cyrill sebenarnya.


“Lama tidak bertemu Xeon,” sapa Cyrill tersenyum.


“Kenapa kau bisa ada di sini? Apa kau kemari untuk mencelakai Sia lagi?” curiga Xeon.


“Kau masih sama seperti dulu ya, masih berada di sampingnya untuk melindunginya,” tutur Cyrill.


“JAWAB! JANGAN BICARAKAN YANG LAIN! APA KAU KEMARI UNTUK MENCELAKAI SIA LAGI?” teriak Xeon tersulut emosi.


“Untuk apa aku mencelakai gadis yang paling aku cintai? Aku kemari hanya melihatnya saja,” elak Cyrill.


“Kau dari dulu tidak pernah mau menyerah, berapa kali aku harus mengatakannya padamu? Sia tidak akan pernah menjadi milikmu!” tekan Xeon.


Amarah Xeon bertambah meluap keluar, dia hampir menyerang Cyrill namun keburu ditahan oleh Louis.

__ADS_1


“Tahan amarahmu Xeon, di sini masih banyak orang. Kau tidak mau mencelakai mereka kan?” tahan Louis menepuk pundak Xeon.


Xeon tersadar, ia menghela napasnya dan mencoba merilekskan dirinya sebelum amarahnya membawa petaka bagi orang lain.


“Siapa dia? Kenapa Sia bisa kesakitan saat melihat dia?” tanya Oliver.


“Dia adalah Cyrill, asisten dewa pencipta yang akhirnya berkhianat dan memihak pada dewa kegelapan!” jawab Xeon.


“Asisten dewa pencipta?”


“Woi woi Xeon jangan mengungkapkan identitasku pada mereka sembarangan,” ujar Cyrill.


“Kalau kalian ingin tahu ceritanya lebih lanjut, aku akan menceritakan pada kalian nanti. Sekarang aku harus fokus pada pria ini, jika dibiarkan dia akan membahayakan Sia,” kata Xeon dimengerti oleh Andreas, Zenon, Oliver, dan Louis.


Kemudian, Eldrick bersama Carlen dan Aldert menghampiri mereka untuk memastikan apa yang sedang mereka bicarakan. Sementara itu, Dizon beringsut mundur sebab dia berpikir bahwa ini masalah yang tidak bisa dia ikut campur di dalamnya.


“Ada apa ini? Di mana Sia sekarang?” tanya Eldrick.


Cyrill menghilang dari hadapan mereka secara mendadak, Xeon dilanda kepanikan mengingat Scarlesia sekarang tengah berada di taman istana.


“CEPAT SUSUL SIA! KITA TIDAK TAHU APA YANG AKAN DILAKUKAN OLEH PRIA ITU PADA SIA!” titah Xeon.


Di sisi lain istana, tepatnya di bangku taman istana Scarlesia duduk sambil menghirup udara malam yang segar dan menenangkannya. Setelah menjauh dari Cyrill, rasa sakit di dadanya berangsur pulih. Elios dengan sabar membantu menenangkan Scarlesia, ia sangat khawatir karena Scarlesia tiba-tiba kesakitan tanpa ada yang tahu pemicu pastinya.


“Bagaimana? Apakah dadamu tidak sakit lagi?” tanya Elios.


“Tidak, ini sudah membaik daripada sebelumnya. Aku tidak tahu mengapa rasanya dadaku terbakar melihat pria itu, semacam luka lama ditaburi garam dan terbakar dalam api yang membara,” ucap Scarlesia.


“Coba ingat-ingat, apa sebelumnya kau pernah bertemu dengannya?”


Scarlesia menggelengkan kepalanya, mau berapa kali pun dia mencoba menggali ingatannya tetap tidak dia temukan Cyrill di dalamnya.

__ADS_1


“Ternyata kau ada di sini Sia, aku sudah menantimu selama 2000 tahun tapi kenapa kau malah menghindar dariku?”


Suara yang tidak asing datang menyapa, Scarlesia dan Elios refleks mendongakkan kepalanya ke sumber suara tersebut tiba. Ternyata Cyrill muncul dari langit, dia langsung mencoba mendekati Scarlesia. Elios dengan sigap berdiri di depan untuk melindungi Scarlesia serta menghadang Cyrill agar tidak mendekatinya lebih jauh lagi. Rasa sakit di dada Scarlesia kembali mengoyaknya, semakin dekat Cyrill dengannya semakin besar rasa sakit yang dia terima.


“Arrghhhh aku tidak tahan lagi! Jantungku sakit sekali,” rintih Scarlesia. Elios bergegas menenangkan Scarlesia kembali, dia tidak tahu siapa Cyrill tapi dia merasakan bahaya yang besar dari diri Cyrill.


“Tenanglah, aku hanya ingin menyapamu kemari. Aku tidak akan menyakitimu sayang,” kata Cyrill dengan nada suara yang tajam.


“Sayang? SIAPA KAU SEBENARNYA?” teriak Elios marah.


“Tidak perlu marah begitu padaku, aku benar-benar hanya ingin menyapa Sia saja,”


Cyrill mengeluarkan pedangnya, dia berniat menerjang Scarlesia dengan pedangnya tersebut. Namun, Elios cepat membuat perisai dari kekuatan esnya untuk melindungi Scarlesia dan Cyrill pun tidak bisa menembus perisai esnya karena terlalu kuat.


“Jangan pernah bermimpi untuk mencelakai Sia selagi aku masih ada di sini,” tegas Elios.


“Sia… banyak sekali orang yang menyayangimu di kehidupanmu kali ini,” tutur Cyrill.


Dari tangan kanannya keluar bola api menyerupai apinya Zenon, di tangan kirinya keluar gumpalan es menyerupai es milik Elios. Melihat persamaan kekuatan tersebut, Elios terperangah dan tidak mampu berkata-kata dalam beberapa detik.


“Kenapa kau bisa memiliki kekuatan serupa denganku dan Zenon?” tanya Elios.


“Aku mengcopy kekuatan kalian,” ujar Cyrill.


“Mengcopy? Bohong! Bagaimana mungkin ada kekuatan seperti itu di dunia ini?” bantah Elios.


“Bohong? Kalau begitu kau rasakan sendiri!”


Cyrill membidik Scarlesia lalu melempar bola api yang ada di tangannya. Tapi, sebelum bola api tersebut mengenai Scarlesia, Zenon lebih dulu berhasil menepis bola apinya menggunakan kekuatannnya.


“Walaupun kau mempunyai kekuatan api juga sama sepertiku, tapi kekuatan palsu itu tidak akan pernah bisa menyaingiku!” tekan Zenon.

__ADS_1


“Haha akhirnya kalian datang juga,”


__ADS_2