Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Saya Bukan Milik Anda


__ADS_3

“Sudah lama tidak bertemu Scarlesia,”


Seorang pria yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Vincent, sang putra mahkota yang tak lain adalah tunangannya sendiri.


“Salam kepada Yang Mulia Putra Mahkota,” ucap Scarlesia.


“Wah apa ini? Dia sungguh sangat cantik bahkan Nieva saja tidak sebanding dengannya. Kenapa dia menyembunyikan wajah cantiknya selama ini? Kalau dia dari dulu seperti ini maka aku tidak akan mengencani Nieva,” batin Vincent terkesima dengan kecantikan Scarlesia.


“Sudah aku duga, pria ini tidak baik. Bisa-bisanya dia menatapku dengan mata penuh hasrat kalau dia bukan putra mahkota sudah aku tendang anunya sejak tadi,” pikir Scarlesia.


“Maukah kau berdansa denganku?” tanya Vincent mengulurkan tangannya.


Sebelum menerima tawaran berdansanya Vincent, Scarlesia terlebih dahulu melirik Nieva yang bahkan tidak ditatap oleh Vincent sedikit pun. Dia terlihat kesal seraya menggigit bibir bagian bawahnya, tentu saja ini adalah pemandangan yang luar biasa bagi Scarlesia.


“Baiklah kalau begitu,”


Scarlesia menerima uluran tangan Vincent, ia menyeringai ke arah Nieva sambil mengucapkan, “Aku menang.” Yang benar saja Nieva langsung kabur dari pesta, dia tidak tahan dengan tatapan aneh orang-orang padanya.


Vincent pun membawa Scarlesia ke tengah para tamu, musik mulai mengalun indah. Scarlesia meletakkan sebelah tangannya di pundak Vincent sedangkan Vincent merengkuh pinggul Scarlesia. Sebelah lagi tangan mereka saling menggenggam, gerakan mereka yang anggun berputar di lantai. Seluruh tamu menyaksikan betapa indahnya dansa mereka berdua dan banyak diantara mereka yang beranggapan bahwa mereka berdua sangat cocok.


Bibir Scarlesia serasa kaku karena terus berpura-pura tersenyum sejak tadi, dia tidak tahan jika harus bersikap seperti ini.


“Sia, bagaimana kalau pernikahan kita dipercepat saja?” anjur Vincent.


“Haha apa yang anda bicarakan Yang Mulia? Kenapa harus dipercepat?” tanya Scarlesia.


“Kamu sangat cantik, jika aku membiarkanmu terlalu lama bisa-bisa semua pria di kekaisaran ini menginginkanmu,” ujar Vincent.


“Tidak akan, bukankah mereka tahu kalau saya adalah tunangan putra mahkota? Tapi apa yang akan anda lakukan dengan Nieva?”


“Aku akan menjadikannya sebagai selirku dan kau akan menjadi permaisurinya. Bukankah seperti itu lebih baik?”

__ADS_1


Rasanya dia ingin mengumpat sesaat mendengar jawaban dari Vincent. Pria ini sungguh tidak tahu malu sama sekali mengatakan hal seperti itu di hadapan Scarlesia.


“Lebih baik matamu! Oh ya ampun tolong berilah aku kesabaran lebih hanya untuk saat ini,” batin Scarlesia geram.


“Ya sudah, terserah Yang Mulia saja. Saya hanya akan mengikuti apa yang anda inginkan,” balas Scarlesia kembali memaksa dirinya tersenyum.


Tidak lama setelah itu, musik berhenti menandakan dansa mereka telah berakhir. Vincent meninggalkan Scarlesia karena dia ingin menyapa beberapa tamu penting. Saat ini gadis-gadis bangsawan mulai mengerumuninya, banyak diantara mereka menanyakan tentang gaun yang saat ini dipakai oleh Scarlesia. Mereka semua tampak tertarik dengan gaunnya yang unik dan tidak perlu memakai korset yang menyesakkan. Akhirnya Scarlesia mengatakan bahwa dia membeli gaun ini di butik milik Ellie. Pesta kali ini sukses besar dalam mempromosikan gaun yang dibuat oleh Ellie.


Scarlesia mencoba menengok Zenon dan Andreas karena dia sendiri penasaran apa yang saat ini sedang dilakukan oleh mereka berdua. Ternyata Zenon dan Andreas tengah dikerumuni oleh banyak wanita-wanita bangsawan, tidak sedikit diantara mereka yang meminta untuk berdansa bersama namun mereka berdua menolaknya mentah-mentah.


Tidak sengaja mata Zenon dan Scarlesia bertemu, ia melambai-lambai pada Scarlesia kemudian dia keluar dari kerumunan yang menyesakkannya dan pergi ke tempat Scarlesia. Begitu pula dengan Andreas yang mengikuti Zenon dari belakang, ya mereka akhir-akhir ini tampak lebih akrab.


“Sia, maukah kau berdansa denganku?”


Zenon dan Andreas serentak mengajak Scarlesia berdansa, mereka juga sama-sama mengulurkan tangannya. Scarlesia tertawa kecil melihat mereka yang saling berebutan tentang siapa yang akan berdansa lebih dulu dengannya.


“Hei Zenon, aku dulu yang berdansa dengan Sia,” kata Andreas.


Lalu Scarlesia meletakkan kedua tangannya di atas telapak tangan mereka berdua.


“Bukankah berdansa bisa untuk bertiga?”


Akhirnya Andreas dan Zenon setuju untuk berdansa bertiga, mereka menarik tangan Scarlesia menuju ke tengah ruangan. Mereka berdansa dengan riang, sambil tertawa, bahkan sambil becanda. Scarlesia terlihat lebih bahagia berdansa dengan mereka dibanding bersama putra mahkota. Vincent yang di sudut ruangan sungguh kesal terhadap apa yang sekarang dia saksikan.


Usai berdansa dengan mereka berdua, kini Carlen dan Eldrick pun juga mengajaknya untuk berdansa. Scarlesia dengan senang hati menerima tawaran berdansanya, meski kakinya terasa pegal saat ini karena dia mengenakan high heels yang cukup tinggi dan tajam. Selesai berdansa dengan Carlen dan Eldrick, Scarlesia beristirahat sejenak agar rasa pegalnya berkurang. Rasa haus menyerangnya jadi dia memutuskan untuk pergi ke meja yang berisi deretan makanan dan minuman.


Ketika dia sedang meneguk minumannya, Vincent datang menghampirinya dengan wajah masam.


“Sia, siapa dua pria yang sebelumnya berdansa denganmu?” selidik Vincent.


“Ayah dan kakak saya,”

__ADS_1


“Bukan, yang sebelumnya,”


“Kenapa Yang Mulia terlihat penasaran? Apakah anda cemburu?”


Scarlesia melontarkan balik pertanyaan pada Vincent, sesuai dugaannya Vincent memang cemburu.


“Aku tidak suka kau berdansa selain denganku dan aku tidak suka kau lebih dekat dengan pria lain selain diriku,”


Scarlesia mengerutkan keningnya, dia semakin yakin bahwasanya putra mahkota Kekaisaran Roosevelt tidak waras.


“Yang Mulia anda tidak waras ya? Atau urat malu anda putus?”


Vincent tercengang sesaat Scarlesia bertanya hal yang tidak masuk akal menurutnya.


“Ya?  Apa maksudmu?”


“Saya bukan milik Yang Mulia jadi terserah saya mau dekat dengan siapa, mau berdansa dengan siapa, ya itu hak saya dan Yang Mulia tidak punya hak untuk melarang saya,” tegas Scarlesia.


“Apa yang kau katakan? Kau adalah tunanganku, bukannya itu berarti kau adalah milikku?”


Melihat perdebatan antara Scarlesia dan Vincent, mengundang rasa penasaran semua tamu di ruangan tersebut bahkan mereka mengerumuni mereka berdua demi ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Ternyata anda sudah pikun ya. Anda lupa dengan apa yang anda lakukan pada saya dulunya? Lalu hari ini anda datang kepada saya dengan muka tebal anda itu sambil mengatakan kalau anda ingin pernikahan kita dipercepat? Sebaiknya anda bermimpi saja dulu,” ketus Scarlesia.


“Kau mengatakan tadi mau mengikuti apapun yang aku mau lalu kenapa sekarang tiba-tiba berubah haluan?”


Scarlesia menghela napasnya, sebenarnya dia ingin membatalkan pertunangannya dengan Vincent saat pesta berakhir tapi nyatanya sekarang Vincent malah mencari masalah dengannya.


“Yang Mulia saya tidak akan pernah melupakan penghinaan yang selama ini anda berikan kepada saya. Anda secara terang-terangan mengencani Nieva di hadapan saya dan anda mengatakan bahwa anda tidak sudi menikah dengan saya. Apa yang terjadi sekarang Yang Mulia? Anda bahkan berniat menikahi kami berdua? Sepertinya anda sangat menyukai wanita cantik ya,” oceh Scarlesia.


“Lalu apa mau mu sekarang? Apakah kau mau aku memutuskan Nieva?”

__ADS_1


“Mau saya? Baiklah, saya ingin mengumumkan bahwasanya pertunangan saya dengan Yang Mulia Putra Mahkota dibatalkan!”


__ADS_2