Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Pertarungan Tiada Henti


__ADS_3

“Aku tidak pernah sekali pun merendahkanmu.” Elios menyanggah atas apa yang dituduhkan Vanos.


“BOHONG!” sergah Vanos.


Elios mengerutkan alisnya, dia dapat membaca sorot mata Vanos yang menolak apa pun pernyataan yang diberikan olehnya.


“Aku akan mengalahkannya dalam keadaan yang bagaimanapun itu. Aku tidak boleh terhanyut oleh perasaan pertemanan yang tidak berguna ini. Aku telah berjanji akan membantu Sia dan menghabisi para bawahan dewa kegelapan. Demi Sia aku akan melakukan apa pun,” batin Elios.


Tentang perasaannya kepada Scarlesia membawa kekuatan baru mendorong dirinya, Elios menatap tajam Vanos yang berdiri beberapa meter dari hadapannya. Setelah itu, muncul es dari dalam tanah di bawah tempat Elios berpijak lalu membawanya melaju ke tempat paling tinggi. Elios bisa melihat Vanos dari tempat teratas tersebut, berdiri di atas bongkahan es yang menjulang tinggi dan memandang rendah Vanos yang jauh berada di bawahnya. Kemudian Elios mengangkat tangannya, keluarlah ribuan belati es menghujani Vanos.


“Aku tidak pernah menyukai tatapanmu itu sialan! Berhentilah melihatku dengan pandangan merendahmu itu!”


Tangan Venos sibuk menghadang belati es tersebut menggunakan kekuatan kegelapannya agar tidak mengenai dirinya. Laju belati es itu terlalu cepat dan berhasil menorehkan luka goresan di lengan tangan Vanos.


“Kau mengatakan aku melihatmu dengan pandangan merendahkan, jadi sekalian saja aku benar-benar melihatmu rendah,” balas Elios.


“Kurang ajar!”


Duaarrr!

__ADS_1


Sebuah ledakan dahsyat tengah terjadi di angkasa, api dari ledakan tersebut berjatuhan ke bawah. Untungnya tidak ada yang terkena api ledakan itu, para ksatria langsung cepat menghindar dari ledakannya. Setelah dilihat-lihat, ternyata ledakan itu berasal dari ledakan kekuatan antara Zenon dan Parnell. Mereka sedang membuktikan siapa di antara mereka berdua yang berhak menang lalu menjadi satu-satunya naga yang berdiri di atas puncak dunia.


“Sepertinya kekuatanmu meningkat ya Zenon, apa mungkin karena gadis itu? Gadis yang kau cintai hingga membuat kau berani mengorbankan segalanya untuk dia,” ujar Parnell.


“Tutup mulutmu! Aku tidak akan mengizinkanmu berkata apa pun tentang Sia!” bentak Zenon dengan napas menderu-deru.


“Jadi, namanya Sia? Ahh aku ingin sekali bertemu dengan calon menantuku. Aku ingin melihat wajah gadis yang berhasil merebut hati anakku. Haruskah aku memberikannya hadiah?”


Ekspresi wajah Parnell menggambarkan niat buruk, dia cuma ingin mencelakai Scarlesia, dan hal itu bisa diketahui oleh Zenon langsung. Zenon terkenal akan kepekaannya, dia tidak akan terkecoh oleh Parnell begitu saja. Tangan Zenon terkepal kuat, dia ingin mengakhiri pertarungan ini segera lalu membunuh Parnell supaya dia tidak berani macam-macam dengan Scarlesia.


“Jangan pernah menyebut Sia sebagai calon menantumu dan jangan pernah menyebutku sebagai anakmu.”


“Kau akan mati di tanganku lagi, begitu seterusnya. Tidak peduli kau hidup lagi karena kekuatan dewa kegelapan, kau akan aku habisi seperti sebelumnya. Jadi, jangan banyak bermimpi di siang bolong, kau bukan Ayahku sebab sejak awal aku menganggap diriku tidak pernah memiliki Ayah yang keji sepertimu ini.” Ucapan Zenon penuh penekanan.


Mimik wajah Parnell segera berubah mendengar perkataan angkuh dari Zenon, dia tidak mau kalah lagi dari Zenon, dan dia tidak ingin mati lagi sebelum ia berhasil mencapai apa yang dia inginkan selama ini. Sebuah jalan terbuka untuk dirinya setelah Leroux membantunya untuk hidup kembali, dia berutang banyak pada Leroux sehingga dia berjanji akan membunuh Zenon di medan pertempuran ini.


“Mari kita buktikan siapa di antara kita yang lebih kuat!”


Parnell melaju cepat mencoba menghantam tubuh Zenon menggunakan kakinya, namun Zenon berhasil menncengkram dan menghalangi kaki Parnell yang nyaris saja menyentuh wajah tampannya. Zenon meremas pergelangan kaki Parnell dan menghentakkannya dan membuat Parnell terhempas ke permukaan tanah.

__ADS_1


“Kau sama saja seperti dulu, sama-sama lemah!” Zenon menunjukkan sorotan meremehkan ke arah Parnell yang masih berupaya bangkit dari jatuhnya.


“Anak ini… aku tidak akan mati dan kalah di tanganmu lagi!”


Parnell geram, dia kembali melancarkan serangannya ke arah Zenon, pertarungan sengit di antara mereka berdua kembali berlangsung di atas awang-awang. Sementara mereka semua bertarung, riak air laut tampak tidak normal, mendadak saja monster laut muncul dari dasar laut yang jumlahnya tidak sedikit. Akibat kemunculan mereka, air laut melunyah dan menarik masuk beberapa orang ksatria tenggelam di dalamnya.


Sebagian penyihir segera bergerak ke tengah laut, mereka akan menghalangi amukan monster-monster itu yang berniat ikut masuk ke dalam medan perang. Mereka kehilangan kendali atas diri sendiri, mengamuk sesukanya dan melibaskan ekor mereka hingga menghancurkan bebatuan tepi laut. Para penyihir tampak kesulitan menghadapi mereka, akhirnya Victor bersama Dizon masuk untuk membantu mereka. Kekuatan monster tersebut memang berada di luar batas kemampuan penyihir biasa karena para monster laut itu telah diberikan darah dewa kegelapan.


“Kepung monster-monster itu! Jangan biarkan mereka melewati batas laut menuju darat!” perintah Victor.


Para penyihir langsung mengepung para monster tersebut begitu diperintahkan oleh Victor, mereka menggunakan sihir untuk menahan gerakan mereka. Monster itu masih berusaha untuk memberontak supaya lepas dari pengaruh sihir para penyihir. Namun, kekuatan monster itu di luar ekspektasi mereka, bahkan monsternya tidak berhenti menggeliat meminta untuk segera dilepaskan.


“Monster-monster ini tidak mau menyerah rupanya. Keras kepala juga mereka,” ucap Dizon.


“NAIKKAN KEKUATAN KALIAN KE LEVEL BERIKUTNYA!” titah Victor menyeru.


Mereka memaksakan diri untuk menaikkan dan menambah kekuatan sihir mereka menuju level selanjutnya. Semakin lama semakin besar pula kekuatan yang dikeluarkan oleh para monster tersebut. Mereka kehabisan akal untuk mengalahkan mereka dan untuk menahan mereka lebih lama lagi. Tiba-tiba saja, Bely dengan tubuh ular besarnya datang menghampiri mereka, tanpa mereka tahu apa yang akan dilakukan oleh Bely.


Terlihat Bely mengisyaratkan mereka untuk segera berhenti sebab dia akan menangani masalah monster-monster ini. Victor dan Dizon mengangguk, mereka paham apa maksud Bely sekarang dan melepas sihir mereka dari para monsternya. Bely berdiri di hadapan mereka dengan menatap tajam kepada monster yang ukuran tubuhnya jauh lebih besar dari Bely. Tatapan Bely sangat sangar, seketika sebuah sinar berwarna merah berasal dari mata Bely yang layak laser mengenai mata monster itu. Sesaat sinar itu mengenai mereka, akhirnya mereka bisa tenang tanpa ada perlawanan lagi.

__ADS_1


“Kekuatan pengendalianku ini hanya bersifat sementara saja, dan tidak akan bertahan lama. Aku harap semoga pengendalian ini bisa bertahan sampai Sia kembali dari pusat semesta. Monster-monster ini sebenarnya kehilangan pegangan mereka, tidak tahu kepada siapa bersandar akhirnya malah dikendalikan oleh kegelapan. Monster yang malang, apa kalian merasa kehilangan pemimpin kalian sendiri?” gumam Bely kepada monster itu.


__ADS_2