
“Bukan pihak kekaisaran yang mengirimku kemari tapi aku yang datang sendiri, pihak kekaisaran belum ada yang tahu mengenai masalah ini,” ungkap Scarlesia sambil mengucap sabar di dalam hatinya.
“Lalu bagaimana cara kami mempercayai anda Nona?”
“Iya, bagaimana caranya? Anda hanya seorang gadis, tidak mungkin anda bisa mengatasinya sendiri,”
Mereka kembali memperdebatkan masalah yang sama, Scarlesia hampir naik darah dibuat oleh mereka.
“AKU PUNYA PENYIHIR AGUNG DI SISIKU! ADA SEORANG NAGA, VAMPIR, MANUSIA SERIGALA, DAN IBLIS PUTIH. KALIAN TAHU KAN KEKUATAN MEREKA MELEBIHI MANUSIA DI KEKAISARAN INI? JADI TOLONG PERCAYALAH PADAKU!” teriak Scarlesia membuatnya sesak napas.
Kalimat yang diucapkan Scarlesia tersebut mempan membuat mereka tidak bisa mengeluarkan suara dan tercengang dalam diamnya. Lalu seorang wanita tua menghampiri Scarlesia dengan mata yang penuh harap, wanita tua itu memegang tangan Scarlesia.
“Tolong selamatkan kami, saya percaya kalau Nona sanggup melakukannya. Sejak awal saya melihat mata anda, saya tahu ada kekuatan besar yang bersarang di dalam diri anda Nona. Untuk itu, tolong selamatkan kami dari bahaya besar ini,” mohonnya penuh harap.
“Baiklah, jangan khawatir. Aku akan memastikan kalian semua aman di sini,”
Tiba-tiba salah seorang pria mulai mengeluarkan suaranya untuk membela Scarlesia.
“APA KALIAN MASIH TIDAK SADAR? APA KALIAN TIDAK MERASA ANEH DENGAN LUKA KALIAN YANG MENDADAK SEMBUH? ITU KARENA NONA EGINHARDT. AKU MELIHAT NONA INI MENGELUARKAN KEKUATANNYA,” ujarnya dengan suara lantang.
“BENAR! AKU JUGA MELIHATNYA. KALIAN JANGAN MERAGUKAN NONA LAGI, KITA SEHARUSNYA DIAM DAN MENURUTI APAPUN PERINTAHNYA. KITA HARUS PERCAYA KEPADA NONA EGINHARDT!”” timpal seorang pria lagi.
Mereka saling bertukar pandang, perlahan hati mereka ikut luluh sekaligus merasa bersalah karena meragukan Scarlesia tapi ia tidak begitu peduli dengan hal semacam itu. Kemudian, Oliver datang memanggil Scarlesia karena ada yang ingin dia bicarakan dengannya.
“Sia, apa kamu sudah selesai di sini?” tanya Oliver.
“Sudah, sebelum itu bisakah kau memasang sihir pembatas di sini? Aku khawatir nanti terjadi sesuatu yang buruk pada mereka,”
“Oke, itu bukan masalah yang besar. Sekarang kau harus keluar dulu dari sini,”
Oliver langsung memasang sihir pembatas untuk melindungi mereka semua dari serangan para monster laut. Tidak lupa sebelum itu Scarlesia mengeluarkan seluruh makanan dan minuman untuk dia berikan kepada semua orang.
“Apa yang terjadi Oliver? Kenapa kau memanggilku?” tanya Scarlesia.
“Ada yang aneh, jumlah monster laut yang muncul semakin banyak. Setelah dibunuh, akan muncul monster laut yang lain lagi, begitu seterusnya sampai sekarang,” jelas Oliver.
“Sebenarnya aku mendapat laporan dari Kitty, dia mengatakan kalau ada orang lain yang mengendalikan monster laut ini untuk mengamuk,”
“Ada yang mengendalikan monster laut ini? Siapa yang punya kekuatan untuk mengendalikannya?”
__ADS_1
Scarlesia mengangkat pundaknya, dia sungguh tidak tahu mengenai hal ini.
“Aku tidak tahu, aku akan mencoba memancing dalangnya untuk keluar nanti,” tukas Scarlesia.
Saat ini ia tengah menuju ke tempat yang lainnya berada dan membantu mereka untuk membereskan para monster laut itu. Scarlesia terkejut melihat ukuran monster lautnya yang lebih besar ketika ia melihatnya lebih dekat, giginya yang tajam, tubuhnya yang berwarna gelap, serta matanya yang merah menyala.
“Apa-apaan ini? ternyata ukurannya sangat besar,” gumamnya mendongak ke arah monster lautnya.
“Sia, kau sudah datang?” tanya Louis menyusuli Scarlesia.
“Ya, apakah jumlahnya semakin banyak?”
“Seperti yang kau lihat,”
“Oke, sekarang aku akan bergabung dengan kalian,”
Scarlesia mengeluarkan busur sucinya, ia membidik ke arah monster lautnya. Anak panahnya menerjang menembus udara dan berakhir tertancap di mata salah satu monsternya, si monster yang terkena panah dari busur suci menggeliat kesakitan lalu secara perlahan tumbang dan lenyap.
Tanah tempat mereka berpijak mendadak berguncang hebat, semua monster laut yang keluar mengamuk dan mengeluarkan suara yang membuat sakit pendengaran. Scarlesia bertumpu pada busur sucinya yang dia ubah bentuknya menjadi pedang agar tidak terjatuh.
“GAWAT! SEMAKIN BANYAK MONSTER LAUT YANG KELUAR!” teriak Zenon.
Semua monster tersebut mengarahkan serangannya pada Scarlesia, serangannya berbentuk seperti bola besar berwarna merah yang keluar mulut monster-monster itu. Oliver dengan cepat membawa Scarlesia menjauh dan menghindar dari serangannya.
“SIA!!”
Andreas dan yang lain menghampiri Scarlesia yang masih terkejut dengan hal yang terjadi barusan.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Elios.
“Aku baik-baik saja, aku hanya sedikit terkejut,”
“Kenapa monster itu tiba-tiba menargetkan Sia?” Zenon bingung dan bertanya-tanya mengenai monster yang beralih fokusnya pada Scarlesia.
“Kalian jangan khawatirkan aku, kita harus menghabisi monster-monster itu sekarang jika tidak kekaisaran ini akan runtuh oleh ulah mereka,” ucap Scarlesia.
Mereka semua kembali berpencar dan melancarkan serangan satu persatu pada monster-monster itu, Scarlesia berdiri di tengah untuk mengamati setiap sudut situasi. Sekarang dia ingin membaca situasi secara keseluruhan, ia butuh itu untuk rencananya lebih lanjut. Sementara ia berpikir, dia tetap menarik tali busurnya untuk membunuh para monster laut itu. Semakin banyak yang mereka bunuh, semakin banyak pula monster laut yang muncul. Ini tidak ada habisnya sama sekali, mereka dibuat lelah oleh monster laut yang merepotkan.
Duarr!
__ADS_1
Salah satu monster laut mengirim serangannya pada Scarlesia sekali lagi, namun kali ini ia bisa menghindarinya dengan sempurna. Kini kondisi setengah tepi laut sudah hancur tak berbentuk, semuanya habis karena serangan monster lautnya.
“Sial! Kenapa mereka malah menargetkanku? Siapa yang ada di belakang ini sebenarnya?” gerutu Scarlesia sambil mengatur irama napasnya yang tak beraturan.
“T-tolong… Tolong aku… Ini menyakitkan, tolong siapapun bebaskan aku dari penderitaan ini,”
Suara-suara yang tidak tahu dari mana asalnya, masuk ke dalam pendengaran Scarlesia. Suaranya menusuk sakit gendang telinga dan kepalanya, tubuh Scarlesia tiba-tiba menjadi lemah dan tidak bisa menahan rasa sakitnya.
“Uhhh sakit! Suara siapa itu? Siapa yang meminta tolong?”
Tidak ada jawaban yang ia dapatkan, yang ada malah telinganya semakin sakit dan suara itu semakin banyak terdengar olehnya.
“AAARRRGHHHH SAKIITTTT!!” jerit Scarlesia bersimpuh di jalan berpasir.
Xeon dan yang lain menyadari ada yang aneh dari Scarlesia, mereka ingin memeriksanya langsung tapi mereka tidak bisa meninggalkan para monster ini begitu saja.
“Tolong… Siapapun tolong aku, aku tidak ingin membunuh siapa-siapa. Aku mohon…”
“SIAPA YANG BERBICARA ITU? NAMPAKKAN WUJUDMU! JANGAN MENYIKSAKU BEGINI!” teriak Scarlesia histeris menahan sakit kepalanya.
Lagi-lagi tidak ada respon dari pertanyaan Scarlesia. Mendadak dari jauh ombak bergulungan lalu menghantam tepian laut dan menarik Scarlesia ke dalamnya. Anehnya, ombak ini hanya menariknya saja sedangkan para pria lainnya masih berada di tempat yang sama.
“SIAAAAAA!!!!!”
Di dalam laut yang dingin, Scarlesia semakin tenggelam, dia tidak bisa menggerakkan badannya. Rasa dingin air laut menembus masuk ke dalam kulitnya,seolah ada sesuatu yang menariknya masuk lebih dalam.
“Dingin, ini sangat dingin. Sekujur badanku sakit, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku, dan leherku serasa dicekik. Aku ingin kembali ke daratan karena di sini sangat dingin,”
Scarlesia tenggelam semakin dalam, ia hampir kehilangan kesadaran dirinya sepenuhnya.
“Apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan mati karena tenggelam lagi? Ini jelas berbeda ketika aku mati bunuh diri, waktu itu di dalam laut begitu hangat tapi kenapa sekarang dinginnya menusuk sekali? Aku tidak mau mati, aku mau hidup. Tolong selamatkan aku…”
Kalung yang diberikan oleh Aldert padanya lepas dari lehernya, permukaan kalung tersebut retak lalu pecah berkeping-keping. Sementara itu, Aldert kini sedang berada di dalam kamarnya dan berencana untuk pergi ke menara sihir untuk meneliti beberapa sihir.
Krekkk
Sebuah kalung yang sama yang terpampang di leher Aldert, mendadak pecah begitu saja.
“Mustahil! Sia… Apa Sia meninggal?”
__ADS_1