Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Amukan Air Laut


__ADS_3

“Astaga cuaca di sini memang cepat sekali berubahnya. Hana tutup rapat jendela sebelah sana,” ujar Erin.


Malam ini terjadi badai hujan, badai tersebut menghempas semua barang-barang di kamar Scarlesia. Walaupun jendelanya sudah terkunci rapat, itu tidak cukup untuk menahan dorongan badai itu yang ingin memporak-porandakan seisi ruangan.


“Sini biar aku bantu,” tawar Scarlesia ingin membantu Erin dan Hana yang sedang kesulitan menutup jendelanya.


“Tidak usah Yang Mulia, lebih baik anda kembali lagi ke tempat tidur. Urusan jendela ini biar kami yang mengurusnya,” tolak Erin.


“Jangan menolak! Kalian tidak kuat menahan terjangan badai malam ini. Aku akan mengunci jendela ini agar lebih kuat dan rapat,”


Scarlesia mendorong jendela tersebut menggunakan sedikit kekuatannya, alhasil jendelanya berhasil tertutup rapat dan tidak dihempaskan lagi oleh badai. Kemudian Scarlesia beralih ke tempat tidurnya, di tengah badai seperti memang enaknya selimutan di atas ranjang.


“Yang Mulia, jika ada apa-apa panggil saja kami berdua,” ucap Erin.


“Baiklah, selamat tidur kalian berdua,”


“Selamat tidur yang mulia,”


Scarlesia masuk ke alam tidurnya, ia benar-benar terlelap. Namun, ketika tengah malam di saat semua orang sudah tidur di sinilah mulai terjadi keanehan. Jendela kamar Scarlesia terbuka lebar padahal ia sudah memastikan bahwa jendelanya terkunci rapat. Scarlesia segera terbangun begitu tahu jendelanya tersingkap lagi, mulanya ia berpikir ini karena badai. Akan tetapi, saat ia hendak melangkah berniat menutupi jendelanya kembali seorang pria berpakaian serba hitam masuk melompat ke dalam kamar Scarlesia melewati jendela yang terbuka lebar.


“Siapa kau?” tanya Scarlesia waspada.


Pria itu memainkan jemarinya untuk memberi kode komplotannya agar masuk segera ke kamar Scarlesia. Beberapa orang berpenampilan sama juga ikut melompat melewati pintu jendelanya.


“Siapa kalian? Apa kalian dikirim oleh Duchess Debora kemari?” selidik Scarlesia.


“Diam! Kami akan membunuhmu sekarang juga!”


“Oh ya? Kalau begitu kalian salah orang,”


Di tangannya muncul pistolnya secara tiba-tiba, pria tak dikenal tersebut langsung menyerang Scarlesia menggunakan pedang tapi bisa dihentikan olehnya secara cepat sebelum pedang tersebut menggores kulit mulusnya.


Dorr!


Satu peluru ditembakkan, kecepatan peluru yang setara dengan kecepatan cahaya tidak dapat dihindarkan dan pada akhirnya merenggut salah satu nyawa diantara pembunuh suruhan tersebut.


“Senjata apa yang digunakan wanita ini? Sial! Mereka tidak memberitahuku kalau dia sekuat itu,” gumam salah satu pembunuhnya.


“Kemana

__ADS_1


kau melihat?”


Dorr!


Dorr!


Dorr!


Sampai tembakan kelima seluruh pembunuh tersebut sudah terkapar meregang nyawa di atas lantai. Darah memercik kemana-mana sampai mengotori piyama tidur putihnya, ekspesi datarnya terkesan menakutkan. Suara tembakan pistolnya menciptakan suara gaduh sehingga membuat pelayannya, seluruh prianya, serta sang adik buru-buru memeriksa ke kamar Scarlesia.


“KYAAA YANG MULIA! APA YANG TERJADI DI SINI?” pekik Erin ketakutan melihat mayat bergelimpangan di lantai kamarnya.


“Pembunuh,”


“Ya?”


“Mereka adalah pembunuh,” ujar Scarlesia.


“Kau baik-baik saja kan Sia?” tanya Andreas cemas.


“Tidak apa-apa, aku tidak terluka. Ck tapi berani sekali mereka mengirimkan pembunuh tidak kompeten seperti mereka,” decak Scarlesia kesal.


Scarlesia penasaran dan bergegas ke tepian jendela untuk memeriksa apa yang dimaksud oleh Archie.


“ASTAGA! AIR LAUTNYA NAIK TINGGI SEKALI,” teriak Hana.


“Tidak bisa dibiarkan! Jika begini seluruh desa akan hancur dan banyak orang-orang yang mati,”


Scarlesia refleks melompat lewat jendelanya, ia mengambangkan sayapnya hendak terbang menuju laut.


“Hana! Erin! Kalian berdua tunggu di sini dan jangan pergi kemana-mana!” perintah Scarlesia.


“Baiklah Yang Mulia,” sahut Erin dan Hana.


“CEPAT IKUTI SIA!”


Di bawah badai hujan ini, Scarlesia memaksakan kedua sayapnya untuk terbang menerjang masuk ke dalam tekanan badai yang sangat kuat. Untungnya sebelumnya dia sudah melatih kekuatan sayapnya jadi menghadapi badai bukan masalah yang besar untuknya. Di belakangnya seluruh pria-pria mengekorinya sebab mereka khawatir jika Scarlesia pergi sendirian saja.


Air semakin naik, dari atas bisa tampak nyata seluruh warga berlarian mencari tempat perlindungan tapi jika dilihat sekilas air laut tersebut akan tetap menyapu mereka meskipun mereka sudah mencari tempat yang menurutnya aman.

__ADS_1


“KALIAN TOLONG BANTU EVAKUASI SELURUH ORANG! AKU AKAN MENGHENTIKAN AIR LAUTNYA AGAR TIDAK MENGHANTAM PERMUKAAN!”


“OKE SIA!!”


“OKE KAK!”


Mereka berpencar melakukan tugas masing-masing, sedangkan Scarlesia melaju menuju laut. Dia melihat pergerakan air laut yang tidak biasa, Scarlesia mencurigai ada yang salah dengan air laut ini. Seakan ada gelombang aneh berasal dari tengah laut sehingga membuat laut mengamuk dan melampiaskan kemarahannya pada manusia yang tinggal di tepinya.


“Ini tidak wajar sama sekali! Bagaimana bisa air laut bisa naik setinggi ini? Aku harus memeriksa ke tengahnya,”


Scarlesia mencoba terus terbang ke tengah laut, dari atas dia melihat ada sebuah cahaya berwarna biru dari dalam laut tersebut.


“Cahaya apa itu?”


Scarlesia semakin mendekatkan dirinya, dari sisi lain laut kawanan ikan dan lumba-lumba menghampirinya.


“YANG MULIA, BISAKAH ANDA MENDENGAR KAMI DARI BAWAH INI?” teriak seekor lumba-lumba.


“YA? AKU TIDAK BISA MENDENGAR KALIAN! TOLONG TUNGGU SEBENTAR AKU AKAN MENDEKAT,” sahut Scarlesia mendekati mereka.


“Nahh sekarang bicaralah,”


“Sepertinya ada yang salah dengan laut kawasan ini Yang Mulia, banyak kawan-kawan kami yang mati karena laut menghantam terlalu keras. Laut di kawasan daerah utara Evariste tidak pernah seperti ini sebelumnya, kami menemui anda karena ingin membicarakan ini Yang Mulia. Jika tidak diatasi dengan cepat maka akan menelan banyak korban jiwa,” terang lumba-lumba tersebut.


“AWAS YANG MULIA!” seekor ikan meneriaki Scarlesia akan ombak yang mengarah padanya.


Scarlesia menepis ombak tersebut dengan kekuatannya, jadi dia tidak jadi terkena hantaman ombaknya.


“KALIAN CEPAT PERGI KE TEMPAT YANG AMAN! AKU AKAN MENGATASI MASALAH INI SEGERA!” titah Scarlesia langsung dipatuhi oleh mereka.


Ombak-ombak tersebut terus mengejar Scarlesia seolah incaran mereka sejak awal adalah Scarlesia sendiri. Ia terus terbang ke tengah-tengah laut seraya menggunakan kekuatannya untuk menampik segala serangan ombak yang mengarah pada dirinya.


“BERANI SEKALI KAU MENYERANGKU! AKU ADALAH PENGUASAMU! PATUH DAN TUNDUKLAH TERHADAP PERINTAHKU!!”


Seruan jelas dari suara Scarlesia membuat laut menjadi tenang sementara, Scarlesia bergegas ke lokasi cahaya yang dia lihat tadi. Dia menyelam ke dalam laut, sebuah batu berwarna biru langit memancarkan sinarnya.


“Jangan-jangan batu ini yang membuat lautnya mengamuk,” duga Scarlesia.


Dia berenang lagi menuju permukaan, ia akan memikirkannya lagi nanti masalah batu yang ia temui tersebut. Namun, pada saat ia berenang ke atas batu tersebut mengeluarkan cahaya terang dan menyilaukan mata. Seketika saat itu juga riak gelombang laut semakin menjadi-jadi, ia ditarik masuk ke dasar lautan oleh aliran air yang sangat kuat.

__ADS_1


“Tidak ada cara lain lagi, memang batu inilah yang menyebabkan lautnya mengamuk,”


__ADS_2