Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Kekuatan Cahaya Dewa


__ADS_3

“Berkonsentrasilah! Fokuskan pikiran kalian pada satu tujuan yaitu menghancurkan pengaruh seruling itu,” titah Fritz.


Mereka memejamkan matanya bersamaan, tidak lupa sebelum itu mereka menarik napas dulu dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan. Fokus pikiran mereka dipusatkan pada satu tujuan untuk menghancurkan pengaruh kegelapan dari serulingnya Aaron.


Sementara itu, Aaron kini mencoba menghentikan apa saja upaya mereka demi menggagalkan tindakannya ini. Aaron semakin memperkencang suara serulingnya, kini seluruh rekannya telah berada di bawah kendalinya. Pasukan kegelapan mencoba menyerang mereka satu bersatu dengan serangan beruntun. Akan tetapi, serangan mereka digagalkan oleh Carlen, Aldert, serta mereka yang masih tersisa di sana.


Para dewa mulai meminjamkan kekuatannya, beberapa saat kemudian tubuh mereka bercahaya terang. Cahaya yang dipancarkan dari tubuh mereka menyilaukan mata pihak lawan, cahaya tersebut perlahan saling menyatu ke satu titik tengah di antara pihak lawan. Ekspresi Aaron tampak tidak baik-baik saja ketika menyaksikan cahaya itu secara langsung, dia ingin menghindar dari cahaya itu. Namun, cahaya tersebut lebih dulu menembak ke arahnya hingga membuatnya terlempar jauh serta serulingnya dibuat hancur berkeping-keping.


“Serungliku… tidak! Mustahil! Serulingku hancur, tubuhku tidak bisa digerakkan. Apa aku akan mati sekarang? Haha bukankah itu yang aku inginkan selama ini?”


Akibat terpental jauh ditambah cahaya kekuatan dewa mengenai tepat di jantungnya, ini membuat dirinya tidak bisa bergerak karena luka dalam yang dia terima terbilang parah. Aaron tergeletak lemah di atas kerasnya permukaan tanah, bagian belakang kepalanya mengeluarkan cairan merah segar, penglihatannya perlahan sayup sembari menatap luasnya langit yang hampir menuju gelap.


 Rekan-rekan Aaron telah mati seluruhnya, jasad dari rekannya satu persatu berjatuhan ke bawah. Saat ini, hanya Aaron yang tersisa dengan separuh kesadaran dirinya, dari sudut mata Aaron terlihat bulir air mata mulai turun membasahi lukanya.


“Akhirnya sekarang aku tidak mendengar suara itu lagi, aku tidak ingin hidup lebih lama dari ini. Aku sudah terlalu banyak membunuh orang-orang tidak bersalah, bahkan di akhir hidupku kini aku akan mati dengan cara menggenaskan seperti saat ini.”


Andreas membuka matanya, dia terkejut melihat lawan mereka telah tewas tanpa mereka sadari.


“Buka mata kalian, kita sudah mengalahkan mereka,” ujar Andreas.

__ADS_1


Mereka membuka mata pelan, rasanya seperti sebuah kemustahilan, kekuatan dewa yang masuk ke tubuh mereka masih bersisa sedikit. Perasaan tidak menyangka serta merinding bercampur menjadi satu, sebab mereka tidak pernah berpikir bahwa kekuatan dewa akan masuk ke dalam tubuh mereka walau hanya sebentar.


“Apa itu tadi kekuatan dewa? Kekuatannya kuat sekali,” ucap Louis.


“Walau mereka sekuat ini, tapi mereka masih bisa dikalahkan oleh dewa kegelapan. Itu artinya kekuatan dewa kegelapan bukan main kuatnya,” kata Elios.


Kemudian mereka bersama-sama turun ke bawah, sungguh medan perang kala ini dipenuhi oleh tumpukan mayat. Bau darah menyeruak ke penciuman mereka, suasana di sana juga terasa berbeda sebab tidak ada yang hidup selain mereka kini. Tubuh mereka lemas sebab pertempuran yang berlangsung selama kurang lebih 8 jam menguras terlalu banyak energi, saat ini langit senja perlahan berganti warna menjadi gelap.


“Kita memang sudah mengalahkan mereka, tapi lihatlah kematian dari pihak kita juga terlampau banyak. Apa yang harus kita lakukan nanti jika Sia melihat jasad mereka?” Oliver tertunduk, dia tidak ingin Sia menyaksikan langsung kematian dari ribuan orang tak bersalah ini bahkan di antara serakan mayat tersebut juga ada Shou bersama para peri lain, serta Bely dengan para hewan buas yang sudah bekerja keras membantu jalannya perang ini.


“Tidak usah khawatirkan itu,” celetuk Xeon tampak santai dan tidak memikirkan soal kematian ini.


“Kenapa? Bagaimana kalau Sia tenggelam lagi di dalam rasa bersalah?” khawatir Zenon.


“Apakah Sia akan menjadi sehebat itu? Terdengar seperti dia setingkat dengan dewa pencipta,” ucap Carlen merinding seketika melintas bayangan betapa kuatnya sang adik bila kembali nanti.


“Iya, namun hanya berlaku selama dua jam saja. Kalau lewat dari dua jam, maka kekuatannya akan kembali seperti sedia kala,” balas Xeon lagi.


Lalu mereka berbarengan membersihkan beberapa kekacauan di sana, kemudian mereka mengeluarkan makanan untuk dimakan bersama guna mengisi tenaga mereka kembali. Melelahkan bagi mereka karena selama hampir satu bulan lamanya, tidak ada waktu istirahat bagi mereka semua. Rasa lelah telah mencapai puncaknya, padahal musuh utama dari perang kali ini belum menampakkan batang hidungnya di medan perang.

__ADS_1


“Xeon, lihat kemari! Sepertinya adikmu masih bernapas,” panggil Aldert mendapati tubuh Aaron masih bernapas.


Xeon tersentak, dia segera menuju ke lokasi Aaron terbaring di dalam rasa sakit menggeroti tubuhnya. Aaron bisa mendengar suara Xeon berada dekat dengan dirinya kini, ia mencoba membuka matanya perlahan.


“Kak, kau di sini ternyata.”


Xeon terduduk tepat di samping tubuh Aaron terbaring, dia merasa miris menyaksikan sang adik hampir meregang nyawa di hadapannya. Rasa sakit dikhianati oleh Aaron masih terasa, tapi Xeon tetap merupakan seorang kakak yang baik, dia bahkan merasakan sesak di dada sesaat melihat Aaron kini. Dia memang sangat ingin membunuh Aaron, namun dia masih bisa merasa kasihan pada adiknya.


Aaron tersenyum samar, dia menyadari tatapan iba dari kakaknya yang tertuju pada dirinya kala ini. Dia juga paham bahwa Xeon merasa sakit hati mendalam karena perbuatannya selama ini yang selalu merugikan Xeon.


“Maaf kak …” lirih Aaron.


Xeon terkesiap saat mendengar kata maaf terucap dari mulut Aaron langsung, pasalnya dia tidak pernah mendengar Aaron meminta maaf semenjak pengkhianatan yang dia lakukan dulu.


“Aku selalu ingin menanyakannya, kenapa kau berkhianat? Mengapa kau meninggalkanku? Apa benar karena kau menginginkan dirimu sebagai dewa takdir, padahal aku bisa saja memberikan posisi itu untukmu,” tutur Xeon, akhirnya dia menanyakan hal ini juga kepada Aaron. Dia sebenarnya meragukan tentang alasan Aaron mengkhianatinya.


Aaron kembali mengukir senyum yang samar di bibirnya, sudah lama sekali dia tidak melihat wajah Xeon lekat-lekat seperti sekarang.


“Sejak awal aku tidak pernah berniat mengkhianati kakak apalagi menginginkan posisi sebagai dewa takdir. Aku menyetujui keputusan dewa pencipta untuk menjadikan kakak sebagai dewa takdir karena posisi itu lebih cocok untuk kakak dibandingkan aku,” ungkap Aaron dengan suara teramat pelan.

__ADS_1


Xeon tertegun, dia hening di dalam ribuan kata yang tak sanggup terucap keluar dari mulutnya.


“Lalu mengapa? Mengapa kau mengatakan kalau kau berkhianat dan meninggalkanku sendirian?” Kedua mata Xeon mulai berkaca, dia tetaplah menyayangi adiknya selayaknya di masa lalu.


__ADS_2