Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Efek Darah Scarlesia


__ADS_3

Kondisi medan perang semakin mencekam, dari kedua belah pihak sudah banyak menjatuhkan lawan. Saat ini, tampak dari kejauhan Louis tengah berhadapan dengan Cyrill, mereka berdua sama-sama bertarung dengan tangan kosong. Louis memberikan serangan berurut tak berhenti, Cyrill terus menerus menangkis serangan tangan bertubi-tubi dari Louis.


“Mau sampai kapan kau mau menghindar?” tanya Louis menghentikan sejenak serbuan tangannya.


“Haha kau rupanya sangat cepat, tapi aku tidak kalah cepat darimu!”


Cyrill memulai terjangan tangannya yang dilapisi oleh kekuatannya sehingga memberi efek pukulan yang dia hasilkan menjadi lebih kuat dibanding sebelumnya. Louis dapat mengikuti arah pukulan tangan Cyrill, jadi ia dengan mudah menghindar lalu dia memelintir tangan Cyrill.


“Kenapa sepertinya kau lebih lemah daripada sebelumnya?” ucap Louis menyunggingkan senyumnya.


“Lemah katamu? Aku tidak lemah!”


Cyrill menghentakkan tangan Louis, dia berhasil lolos dari cengkramannya. Kemudian Cyrill terbang sedikit lebih tinggi dari Louis, jemari telunjuknya di arahkan kepada Louis. Dari telunjuk tersebut keluar sihir pengikat untuk mengikat tubuh Louis agar tidak bisa bergerak lebih jauh. Saat sihir itu telah bekerja, Cyrill tersenyum puas, dia percaya diri sekali akan menang dari Louis. Walaupun sihirnya berhasil mengikat Louis, tapi nyatanya Louis tidak merasa terancam sama sekali.


“Hanya ini saja kekuatanmu?”


“Apa kau bilang?”


“Terlalu lemah!”


Louis memutus sihir pengikat Cyrill, meski begitu Cyrill tidak menyerah sampai di situ. Cyrill lalu mengeluarkan tongkat sihirnya, dia mengarahkan tongkat sihir itu kepada Louis. Gumpalan cahaya berwarna gelap bertubi-tubi keluar dari tongkat sihirnya, Louis dengan santainya menangkis sihir dari Cyrill.


“Kena kau!” seringai Cyrill.


Ternyata serangan yang ditangkis oleh Louis tidak menghilang, gumpalan cahaya gelap itu berkumpul pada satu titik hingga membentuk bulatan yang sangat besar. Louis tidak memprediksi ternyata sihir Cyrill tidak mudah untuk ditangkis. Bulatan yang terbentuk dari gumpalan cahaya gelap tersebut melaju cepat ke arah Louis.


“Sialan!” umpat Louis.

__ADS_1


Kemudian Louis menjauh beberapa meter ke belakang, namun belum sempat ia melayangkan serangannya, bulatan sihir tersebut sudah sampai di depan matanya.


“Celaka!”


Duaarrr!


Sihir Cyrill meledak mengenai Louis, Cyrill tertawa besar di atas langit menyaksikan kekuatannya berhasil menelan Louis.


“Kau pikir kau bisa membunuhku begitu saja?” Louis muncul secara tiba-tiba dari belakang Cyrill, dia menatap Cyrill penuh kebencian mengingat tentang apa yang telah dia lakukan kepada Scarlesia sebelumnya.


“Apa? Bagaimana kau….”


Bugh!


Louis memukul telak punggung Cyrill, pukulan yang dilayangkannya terlalu kuat sampai membuat Cyrill terjatuh menelungkup ke permukaan tanah. Tidak sampai di situ saja, Louis turun ke bawah lalu menginjak badan Cyrill agar tidak bisa bangun dari posisi telungkupnya.


Mendadak sebuah serangan sihir melaju cepat dari samping kepala Louis, untungnya sihir tersebut tidak mengenai Louis. Hanya saja, Louis terkesiap kaget karena sihir yang tidak tahu dari siapa itu berasal. Louis menyipitkan kedua matanya, dia tahu sekarang sihir dari siapa itu barusan.


“HEI OLIVER! BISA-BISANYA SIHIRMU SALAH SASARAN DAN HAMPIR MENGENAIKU!” teriak Louis kepada Oliver yang sedang melawan Zin.


“BERISIK! APA KAU TIDAK BISA MELIHATKU TENGAH SIBUK SEKARANG?” teriak Oliver balik tidak terima.


Wajah Louis berubah masam sebab teriakan yang dilontarkan Oliver kepadanya, tapi dia mesti menahan kekesalannya kepada Oliver sementara waktu hingga mereka berhasil mengalahkan musuh. Saat ini, Oliver terlihat sangat serius menghadapi Zin, dia sudah lama membenci Zin dan hari inilah saatnya dia menunjukkan kehebatan sihirnya lalu mengalahkan Zin si siluman ular.


“Hehh kau ular busuk! Jangan harap kau bisa kabur lagi dari kematian seperti sebelumnya,” ujar Oliver.


Zin menyerngitkan keningnya, dia tidak menyukai panggilan hinaan yang diberikan Oliver padanya. Rasa jengkelnya nyaris meledak, dia meremas badan tongkatnya, dia telah meningkatkan kekuatannya selama beberapa waktu ini dan ia tidak ingin membawa pulang kekalahan lagi.

__ADS_1


“Akan aku pastikan mulutmu akan aku cabik-cabik hingga membuatmu tidak dapat menghinaku lagi,” tekan Zin.


“Coba saja kalau begitu,” balas Oliver meremehkan.


Pertarungan antara Oliver dengan Zin berlangsung dahsyat, kekuatan di antara keduanya beradu di udara, mereka memperlagakan sihir serta kekuatan dari tongkatnya Zin. Tongkat Zin berbeda dari dulu sebab tongkatnya yang dulu itu sudah hancur dan jiwa-jiwa yang berada di dalamnya telah dibebaskan. Kini tongkatnya memiliki kekuatan lebih hebat, sebab jiwa yang mengisi tongkat tersebut juga bukan jiwa sembarangan.


Zin menggerakkan tongkatnya memutar mengarah pada Oliver, kilatan hijau melesat hebat menuju tubuh Oliver. Namun, kecepatan Oliver dalam menangkal kilatan itu rupanya lebih hebat lagi, serangan Zin tidak berguna untuk Oliver. Rasanya menyenangkan ketika menonton ekspresi Zin yang bertambah kesal dengan Oliver.


“Kenapa seranganku tidak ada yang mempan terhadapmu?” gerutu Zin.


“Kau pikir aku masih sama seperti dulu? Kau salah besar jika menganggap diriku sama dengan yang kau temui dulu.”


Memang benar, tidak hanya Oliver, bahkan Andreas, Zenon, Louis, Elios, serta Xeon mengalami peningkatan drastis pada kekuatannya masing-masing. Selama beberapa waktu belakangan ini, mereka berlatih lebih sering daripada orang lain. Scarlesia terkadang membantu mereka mengembangkan kekuatannya, segala usaha dan upaya mereka akhirnya terbayarkan hari ini. Semua musuh mereka hadapi dengan mudah, kekuatan mereka telah berlipat ganda, apalagi mereka ikut meminum ramuan penambah stamina dari Scarlesia, hal itu memberi dorongan kekuatan lebih besar bagi diri mereka.


“Omong kosong!”


“Oh kau mau coba?”


“AARRGHHH!!!” jerit Zin.


Dia menjerit kesakitan karena tiba-tiba saja Oliver berada di belakang dirinya kemudian menyentuh bagian lehernya. Sentuh dari jemari Oliver menghasilkan sengatan listrik luar biasa sehingga membuat Zin terjatuh duduk oleh ulahnya. Oliver menyeringai melihat Zin yang memberinya pandangan kemarahan.


“Harusnya kau mengerti batasanmu, kau lebih lemah dariku.”


Dari arah tengah medan perang, getaran hebat kembali tercipta berasal dari pertempuran antara Xeon bersama sang adik, Aaron. Mereka tidak banyak bicara, hanya kekuatan saja yang bekerja, mereka berdua saling bertukar serangan dari segala arah. Kecepatan keduanya tidak dapat diikuti oleh gerakan mata, satu persatu laju serangan tidak ada yang berhasil mengenai salah satu di antara mereka.


Aaron mencoba menghantam Xeon menggunakan kekuatan dari serulingnya, namun berkali-kali dipatahkan oleh Xeon. Aaron kembali mencoba melempar serangan dari arah yang berbeda, lagi-lagi Xeon dapat dengan mudah membaca arah serangan Aaron. Karena hal itulah, Aaron berdecak kesal karena dia merasa sia-sia tidak dapat melakukan apa pun terhadap Xeon. Sebaliknya, Xeon merasakan aliran hebat kekuatannya, dia tidak menyangka tubuhnya akan sangat ringan dibawa bergerak ke mana-mana.

__ADS_1


“Ternyata darah Sia memiliki efek sebesar ini, pantas saja mereka terlihat gampang menyiksa lawannya,” gumam Xeon memutar matanya memandang Andreas dan yang lain.


__ADS_2