
“Iya, tapi pedang ini sedikit berbahaya. Namun, aku percaya kakak bisa menjinakkannya karena jika dibiarkan begitu saja maka pedang ini akan jatuh ke tangan yang salah dan pada akhirnya akan membahayakan nyawa orang lain. Jika kakak menjalin kontrak dengan pedang ini maka aku yakin dia akan sangat berguna untuk kakak,” Scarlesia menjelaskan pada Carlen supaya bisa meyakinkan Carlen untuk mengikat kontrak dengan pedang killer sun.
Carlen mencoba berpikir sebentar sebelum menjawabnya, Scarlesia dengan penuh harap menunggu jawaban apa yang akan dilontarkan oleh Carlen.
“Baiklah, aku akan mengikat kontrak dengan pedang ini,”
“Syukurlah kakak menyetujuinya,”
Kemudian Carlen mengikuti instruksi dari Scarlesia, dari dalam pedangnya keluar roh berupa gumpalan api seperti matahari dalam versi kecil.
“Kenapa kau memanggilku keluar?” tanyanya kaget melihat Scarlesia berada di hadapannya.
“Huh? Kau ini sangat tidak sopan padaku,”
Scarlesia mencubit gumpalan roh itu, dia masih kesal mengingat apa yang dilakukan pedang killer sun sebelumnya di arena duet.
“Aduh! Jauhkan tanganmu dariku. Aku tidak suka dipegang-pegang,” sinisnya.
Carlen juga ikut kesal melihat roh yang berbicara seenaknya pada adiknya, dia hampir menebas roh tersebut namun Scarlesia menahannya.
“Hei kau jalinlah kontrak dengan kakakku. Aku tidak menerima penolakan darimu jadi kau harus menyetujuinya!” tekan Scarlesia memaksanya.
“Hahh? Aku tidak mau mengikat kontrak dengan manusia rendahan seperti kalian,” tolak si roh itu.
“Ohh jadi begitu? Kau tidak mau mengikat kontrak dengan kakakku? Baiklah aku tinggal mengirimmu ke tempat dewa perang. Aku akan menyuruhnya untuk melenyapkanmu dari muka bumi ini. Ahh aku rasa tidak perlu mengantarmu langsung padanya karena di tubuhku juga mengalir kekuatan dewa perang,” gertak Scarlesia membuat roh itu merinding.
“Dewa perang katamu? B-baiklah! Aku akan mengikat kontrak dengan kakakmu jadi aku mohon jangan kirim aku pada dewa perang,” mohonnya seketika merubah sikapnya.
__ADS_1
“Bagus! Seharusnya kau menyetujuinya dari awal,”
“Tapi aku tidak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada kakakmu karena manusia yang mencoba mengikat kontrak denganku selalu berakhir tak bernyawa,”
“Oke oke, aku percaya kakakku tidak akan mati semudah itu,”
Lalu Carlen segera mencoba mengikat kontrak dengan roh pedang killer sun, sama seperti proses ketika Andreas mengikat kontrak dengan Moon. Namun, ini sedikit berbeda karena Carlen adalah manusia sedangkan kekuatan pedang killer sun cukup kuat sehingga Carlen sedikit kesusahan saat mengikat kontraknya. Akan tetapi, Scarlesia membantu supaya Carlen tidak kenapa-kenapa karena kontrak tersebut dengan cara menaruh tangannya sebelah di punggung Carlen kemudian mengaliri sedikit kekuatannya pada Carlen.
Proses menjalin kontrak ini terjadi selama lebih kurang 20 menit, lebih lama memang daripada Andreas tapi tetap berujung berhasil. Carlen kehabisan tenaga hanya karena pengikatan kontrak dengan pedang killer sun.
“Ternyata manusia ini kuat juga, memang pantas menjadi masterku,”
“Siapa namamu? Kau tidak punya nama kan?” tanya Scarlesia.
“Tidak, aku tidak memiliki nama,”
“Sun? Kenapa namaku jelek sekali? Aku menolak!”
“Aku tidak menerima penolakan,”
Begitulah pada akhirnya Sun bisa bersama Carlen yang dianggap sebagai masternya. Scarlesia berhasil mengumpulkan satu kekuatan luar biasa lagi, jadi dia tidak terlalu khawatir karena kakaknya sudah punya pedang yang mampu melindunginya dari bahaya besar.
Di sisi lain di kamar Abigail, ia terbaring di atas ranjangnya dengan ditemani oleh Rashid. Abigail hanya punya Rashid sebagai Ayahnya karena Ibunya sudah meninggal sejak dia bayi. Itulah alasannya mengapa Abigail bertingkah seenaknya saja, dia tidak punya Ibu yang mengajarinya sedangkan Rashid sebagai Ayahnya hanya bisa memanjakannya dengan menuruti segala keinginannya yang macam-macam.
“Ayah! Aku tidak bisa menerima ini. Aku sudah kalah sebanyak dua kali, bagaimana caranya aku bisa menjadi kaisar jika aku juga kalah pada ujian berburu?” keluh Abigail dalam kondisi badan yang masih sakit.
“Tenang saja, Ayah sudah menyiapkan jebakan khusus untuknya, Kau tidak perlu khawatir karena aku akan membunuhnya saat dia berburu nanti,” balas Rashid menenangkan Abigail.
__ADS_1
“Apa yang Ayah rencanakan sebenarnya? Apa rencana kali ini tidak akan gagal seperti sebelumnya? Ayah yakin kalau wanita itu akan mati di dalam perburuan nanti?”
“Ya, kita masih punya Duchess Debora yang menunjang keberhasilan rencana ini. Aku yakin bahwa rencana kali ini tidak akan gagal sama sekali,”
“Kalau begitu baiklah, aku akan mempercayakan semua ini pada Ayah karena aku harus menjadi kaisar. Apapun yang terjadi aku harus duduk di singgasana kaisar!”
“Jangan khawatir karena kau pasti akan menjadi kaisar. Aku akan pastikan kau mendapatkan tahta kaisar,”
Menjelang tengah malam, Scarlesia mengunjungi perpustakaan istana karena dia ingin membaca beberapa buku sebelum beristirahat. Karena ini belum terlalu malam, jadi masih banyak pekerja yang belum tidur. Suasana istana masih cukup ramai, para pelayan atau pekerja lainnya masih sibuk mondar mandir mengerjakan beberapa pekerjaan yang tersisa.
Perpustakaan istana memang besar sekali, ketika pertama kali kemari Scarlesia sempat terkesiap melihat banyak buku yang berjejeran di rak-rak yang menjulang tinggi.
“Sekarang bagusnya aku baca buku apa ya?”
Scarlesia berjalan ke sepanjang rak demi mencari buku yang ingin dia baca saat ini. Akan tetapi, kala ia mencari bukunya di rak tengah ada sebuah buku yang menarik perhatiannya. Lantas Scarlesia langsung menarik bukunya dari rak tersebut. Ternyata buku yang dia ambil itu tidak memiliki judul di covernya, hanya kosong tanpa ada pengantar judulnya.
“Tunggu! Buku ini sangat mirip dengan buku yang aku temui di perpustakaan mansion waktu itu,” tiba-tiba Scarlesia teringat pada buku yang dulu sempat ia baca di perpustakaan kediaman Duke Eginhardt.
Karena masih penasaran, Scarlesia membuka buku itu dan membacanya dengan seksama. Isi bukunya berbeda dengan buku yang sebelumnya pernah ia baca.
“2000 tahun bukanlah waktu yang sebentar, kehancuran dunia semakin terasa nyata di depan mata manusia. Tidak hanya manusia saja bahkan seluruh makhluk hidup dan segala kehidupan di dunia ini akan segera lenyap. Akankah kehancuran dunia terulang kembali? Lantas siapakah yang mampu bertanggung jawab untuk kehancuran ini? Kegelapan dan cahaya akan kembali bertubrukan satu sama lain untuk memastikan siapa yang paling pantas berdiri di atas puncak dunia ini,”
Scarlesia membulatkan kedua matanya, tangannya mulai gemetar membaca setiap kata yang tertulis di dalamnya.
“Ratu alam semesta, kemanakah dia? Apakah dia akan muncul sebagai penyelamat makhluk hidup? Sebenarnya ada dimana dia sekarang? Nasib dunia berada di tangannya. Ratu alam semesta, bisakah tulisan ini tersampaikan padanya? Mengenai kehancuran jagat raya, dapatkah sekali lagi kau hentikan? Dunia semakin mendekati akhirnya, kekuatan kegelapan semakin menelan hidup manusia. Ratu alam semesta, dimana kau sekarang? Semesta membutuhkanmu. Segeralah bersiap-siap menghadapi akhir dari dunia ini,”
Beberapa potongan-potongan bayangan memasuki alam pikirannya, Scarlesia memegangi kepalanya yang mendadak sakit, jantungnya serasa tertusuk oleh jarum, dan napasnya tersendat di tenggorokannya.
__ADS_1
“S-siapa ratu alam semesta? Bayangan apa ini? Kehancuran dunia semakin dekat. Tapi siapa ratu alam semesta? Siapa pun tolong beritahu aku!”